Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Frans!! Mekanik Vario 150, dan AMER pembasuh luka!

UJUNG BUMI ITU MASIH ADA – BAGIAN 2 “Kami adalah orang-orang gila yang masih tersisa di muka bumi ini.” Ada masa dihidup saya, ketika satu-satunya alasanku percaya dunia ini layak ditertawakan, adalah Frans Girsang. Aku ingat, dulu kami seperti tidak punya rem hidup. Kalau hidup adalah jalur bebas hambatan, kami adalah dua makhluk liar yang ngebut tanpa helm, tanpa sabuk pengaman, kadang tanpa tujuan. Dan anehnya, kami  BAHAGIA .  Hidup bersama Frans itu seperti naik motor rem blong, menakutkan, tidak masuk akal, tapi sangat berkesan. Dia gak peduli sama IPK, tidak peduli pada teori, dan sangat tidak peduli pada sopan santun akademik. Tapi entah kenapa, hidup bersamanya terasa sangat... hidup. Frans selalu bilang: “Bang, hidup itu kayak motor tua. Selama masih bisa nyala, gas terus. ” Frans memang lebih muda, adik kelas, tapi bukan adik kelas biasa biasa. Dia PARTNER IN CRIME. Kalau Frans nyetir, aku sudah tahu: nyawa harap ditinggal di dashboard. Dari semua mobil yang pernah ...

ndann, suratmu masih ku simpan!

Surat yang Tidak Pernah Kutulis, Tapi Selalu Kubaca  Malam-malam itu terasa seperti perang. Bukan perang dengan orang lain, tapi dengan diriku sendiri. dengan rasa lapar yang terus mengetuk, dengan rasa malu yang pelan-pelan mengikis harga diri. dengan bayangan bapak dan ibu di kampung, yang kukira kuat, tapi sebenarnya juga menahan tangis karena tak bisa mengirim belanja. Aku tidak ingin pulang, tapi juga tidak tahu harus bertahan dengan apa. Kampus terasa jauh, bukan karena jarak, tapi karena aku tahu, aku datang ke kelas tanpa sarapan, dan kadang pulang dengan hanya meneguk air. Mungkin Tuhan sedang menggodaku, pikirku. atau mungkin Dia sedang diam, dan aku sedang dibiarkan belajar mencintai ketiadaan. Lalu, seperti kilas cahaya yang tidak kucari, ada sebuah surat terselip di celah pintu. amplop putih, tidak istimewa. Tidak ada nama. Tidak ada parfum yang biasa disematkan anak gadis. Hanya tulisan sederhana, “ini untukmu!.” Aku membukanya dengan hati yang tidak berharap apa-apa....

Anak tidak pernah MINTA dilahirkan!

 “ Anak Tidak Pernah Minta Dilahirkan”   dari pandangan poltak sipendongeng miskin yang tak berwawasan   Anak tidak pernah mengetuk rahim. tidak pernah mengajukan permohonan resmi kepada dunia agar dia dilahirkan oleh orang tua tertentu, dalam situasi ekonomi tertentu, apalagi dalam rumah yang penuh luka. MEREKA LAHIR, LALU MENANGGUNG SEGALANYA. Termasuk kemiskinan orang tuanya. Termasuk kemarahan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Termasuk TRAUMA yang tak pernah diselesaikan, tapi malah diteruskan. Dan ironisnya, sering kali mereka juga disalahkan. “Kau tuh anak tak tahu diri!” “Kau menyusahkan!” “Kau bikin ibu jadi begini!” Padahal mereka tidak pernah minta ada di dunia. Mereka hanya ingin... DICINTAI . Anak tidak tumbuh dari kata-kata, tapi dari perlakuan.  Dr. Gabor Maté, seorang dokter dan penulis buku, menyebut bahwa perilaku anak adalah CERMIN dari hubungan mereka dengan orang tua. Jika seorang anak sulit diatur, jangan buru-buru labeli mereka...

Gereja 1981: uang, pesta, lelang, dan pidato mingguan. pelayanan? siapa pedulii!

Sebuah ironi menurut sudut pandang Poltak,  “Gereja 1981: Uang, Pesta, lelang, dan Pidato Mingguan – Pelayanan? Siapa Peduli!”. Dalam dunia yang semakin materialistis ini, tampaknya gereja, yang seharusnya menjadi tempat perenungan, pertumbuhan iman, dan pengabdian rohani, kini berubah menjadi institusi yang lebih mirip dengan ahh entahlah..., dengan segala KETIDAKJELASAN dan ABSURDITASNYA . Mari kita telusuri sebuah gereja lokal yang sudah berdiri sejak 1981, namun seolah-olah waktunya terhenti pada tahun tersebut. Sebuah gereja dengan 15 orang majelis, 4 pimpinan majelis, dan 1 full-timer yang tidak memahami kawanan dombanya, dan dombanya tak paham dia, dimana umatnya sebagian besar adalah mahasiswa yang hanya singgah di kota tersebut. Namun, di balik segenap rutinitas yang tidak berujung, gereja ini tetap hidup, berfungsi, tapi apakah itu benar-benar hidup? entahlah..jadi begini:  1. Majelis Lebih Banyak dari Umat: Sebuah Parodi Pelayanan Mungkin kita harus memulai dengan ...

Part 5—angannya parcendol

Part 5: pikuk pesta, canda tawa dan hangatnya persaudaraan.  Pagi itu dimulai dengan suara panci dari dapur. Samar-samar terdengar juga obrolan ringan Inang simatua dan beberapa ibu ibu lainnya. suara ketel yang mulai mendesis, suara gas yang berembus. Udara sejuk masih mengisi tiap sudut rumah, belum sepenuhnya hangat oleh cahaya matahari yang perlahan menyelinap lewat kisi-kisi jendela kayu. Aku terbangun lebih dulu. Ia masih terlelap di sebelahku, wajahnya tenang, napasnya ringan. Beberapa helai rambutnya menutupi pipi. Kupandangi sebentar, lalu turun dari ranjang dengan pelan agar tak mengganggunya. Di ruang makan, amang simatua sudah duduk dengan koran dan secangkir kopi. Ibu mertuaku sedang menyiapkan sarapan—nasi goreng sederhana, tapi wangi bawang putih dan kecapnya menguar sampai ke ruang tamu. Aku menyapa pelan, ikut duduk sambil bantu menuang teh. “Kek mana, capek jalan-jalan semalam?” tanya amang simatua sambil tersenyum. “Sedikit. Tapi senang, amang,” jawabku rama...

Part 4—angannya parcendol

Part 4: Malam, kita dan Kota Itu Kami menghabiskan malam itu dengan motoran keliling kota kecil tempat istriku dibesarkan. Kota ini memang terkenal, apalagi karena danaunya. Banyak turis datang ke sini, tapi buat dia, kota ini bukan tempat wisata, ini rumah. Udara malamnya sejuk, jalannya bersih dan tenang. Lampu-lampu jalan temaram, dan beberapa kedai masih buka. Aku yang bawa motor, dia duduk di belakang. Tangannya memeluk pinggangku santai, sesekali ia bicara, menunjuk ke arah bangunan atau jalan yang kami lewati. “Itu gereja aku dulu. Tempat aku sekolah minggu,” katanya pelan tapi senang. “Dulu aku suka malu-malu kalau disuruh maju ke depan hahaha.” tawanya. Aku menoleh sedikit, melihat gereja yang besar dan kokoh berdiri di ujung jalan. “Di pojokan itu, ada martabak manis paling enak sekota ini. Sampai sekarang pun masih rame. dulu aku sama kakak sering ke sana kalau lagi pengen yang manis-manis.” Kami terus jalan. Kota ini memang nyaman. Ramai tapi nggak berisik. Turis-turis jala...

Part 3—angannya parcendol

Episode 3: Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim Pagi itu sedikit berbeda. Angin membawa bau daun kering dan jejak kayu bakar, menyelinap lewat jendela yang terbuka setengah. Di luar, danau masih berselimut kabut, samar-samar seperti ingatan yang mulai pudar namun belum benar-benar hilang. Dia duduk bersila di lantai kamar, punggungnya bersandar ke lemari tua yang masih disimpan sejak dia remaja. Di pangkuannya, sebuah kotak karton bergambar bunga sakura, agak lembap karena udara kampung yang selalu basah. "Aku dulu sering nulis surat, Bang," katanya pelan. "Tapi gak pernah kukirim ke siapa-siapa. Aku simpan semua di sini." Aku menoleh. Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah kuning di pinggirnya. Tulisan tangannya masih rapi, sedikit membulat, seperti karakter anak bungsu yang tumbuh dalam ketenangan kampung kecil. Surat itu ditulisnya tahun 2013, dari kota kecil yang disebut orang dalam buku-buku geografi karena danaunya yang indah. "Kepada siapa pun yang na...

Part 2—angannya parcendol

part 2: Sarapan, Kenangan, dan Sepiring Arsik Pagi datang perlahan, seperti biasa di kampung ini. Udara masih terasa sejuk, sisa dari embun malam tadi. Dari celah jendela kamar yang tidak tertutup rapat, cahaya matahari masuk pelan-pelan, menyentuh wajahku yang masih tertutup selimut bermotif bunga-bunga klasik. Aku tahu pagi sudah benar-benar datang saat terdengar suara tawa para ibu dari arah dapur, bercampur dengan denting sendok dan bunyi wajan yang digeser. Istriku masih tertidur. Dia terlelap di sisi kanan tempat tidur, rambutnya agak berantakan, wajahnya terlihat damai seperti anak kecil habis minum susu hangat. Aku tersenyum sendiri. Ada ketenangan dalam momen-momen seperti ini. Kupakai kaos oblong dan celana pendek, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Di ruang tengah, ibu mertuaku sudah sibuk di dapur. 🧓: “Etah, sarapan ma jo, unang sanga ngali annon indahan on.” seru inang simatuaku. Aku mengangguk sambil menguap. Kantuk masih sisa, tapi aroma dari dapur membuat langkah ...