Catatan Terakhir si-Kuda Liar
Bahkan seonggok besi tua itu pun rupanya tahu kapan waktunya dia berhenti ikut mengiringi perjalananku. Mati dan, dia tak minta diperbaiki lagi. “Mas, uang kost bulan depan naik ya jadi 625.” “Siap ibu, terimakasih informasinya.” Tau kalau uang kost bulan depan naik jadi 625, aku pun makin mantap untuk meninggalkan biara murti yang sudah hampir 9 tahun kutinggali ini. Sanggup pulak rupanya ibu kepala biara kami ini menaikkan uang sewa ke awak yang penghuni lama. Makanya kuanggap ada dua gondangnya kenapa dinaikkannya uang sewa itu. Pertama, memang karna pengen untung lebih banyak. Kedua, ya mungkin memang ada niat mau mengusir awak pelan-pelan. Soalnya udah terlalu lama juga awak tinggal disini. Kupikirkan matang-matang maksudnya itu. Makanya pelan-pelan mulai kubereskan barang-barangku. Buku-buku, kertas-kertas lama, perabotan, mading, sama barang-barang lain mulai kubongkar satu-satu. Termasuk niat untuk menjual si kuda liarku ini. Langsunglah kutawarkan ke orang-orang dari mark...