Postingan

Cerita dari Tanah Tempaan

Gambar
Hampir tiga bulan lamanya binder ini tak kusentuh untuk sebuah catatan baru.  Hari-hari rupanya telah berjalan demikian lekas, bahkan aku belum sempat memilih kata yang kiranya pantas untuk mengawali ceritaku berikutnya. Sebetulnya pun ada banyak hal yang hendak kutuliskan, banyak pula kejadian yang barangkali kelak akan menjadi kenangan, hanya saja tangan ini belum juga menemukan waktu untuk menaruhnya menjadi sepotong kata-kata.  Aku tak ingin mengatakan bahwa kesibukanlah yang menjadi penyebabnya. Rasanya kalimat itu terlalu mudah untuk dijadikan alasan. Mungkin aku hanya terlalu lama membiarkan hari-hari berlalu tanpa sempat duduk sebentar untuk mengambil pena, lantas menuliskan apa yang ada dikepala. Tapi, satu hal kiranya masih tetap sama.  Aku masih ingin menyebut diriku Poltak si pendongeng miskin itu. Gelar pena yang melekat pada nama ini, sebabnya malam ini setelah hampir tiga bulan tak menyapa,  aku kembali duduk dihadapan lembaran guretan ini. Untuk itu k...

A New Day Has Come

  Pagi itu kami lagi sibuk-sibuknya. Aku sama adekku Egi Dmnk dari pagi sudah hessang kesana kemari mengurus banyak hal. Pokoknya ada banyaklah urusan yang harus segera diselesaikan. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba handphoneku berdering. “Roy, posisimu sekarang dimana?” tanya seseorang dari seberang. “Masih di Semarang.” “Kekmana? Ada apa?” “Wah, kukira kau sudah di Sumatra.” Aku cuma menjawab seperlunya. Belum ada firasat apa-apa. Kupikir itu hanya percakapan biasa. Sampe dia ngomong lagi, “Coba kau ngobrol sama Mona Lumban Tobing. Nanti biar kalian aja yang diskusi.” Tak lama kemudian aku menghubungi Kak Mona. Dari situ kami langsung Zoom bersama pihak perusahaan yang katanya sedang membutuhkan tenaga baru itu. Sementara aku sedang berbicara dengan mereka, Egi masih meneruskan urusan kami yang lain. Kalau kuingat lagi, hari itu memang padat sekali. Rasanya hampir tak ada waktu untuk duduk tenang. Anehnya, disituasi seperti itu masih sempat pula awak untuk mengikuti proses...

Catatan Terakhir si-Kuda Liar

Bahkan seonggok besi tua itu pun rupanya tahu kapan waktunya dia berhenti ikut mengiringi perjalananku. Mati dan, dia tak minta diperbaiki lagi.  “Mas, uang kost bulan depan naik ya jadi 625.” “Siap ibu, terimakasih informasinya.” Tau kalau uang kost bulan depan naik jadi 625, aku pun makin mantap untuk meninggalkan biara murti yang sudah hampir 9 tahun kutinggali ini. Sanggup pulak rupanya ibu kepala biara kami ini menaikkan uang sewa ke awak yang penghuni lama. Makanya kuanggap ada dua gondangnya kenapa dinaikkannya uang sewa itu. Pertama, memang karna pengen untung lebih banyak. Kedua, ya mungkin memang ada niat mau mengusir awak pelan-pelan. Soalnya udah terlalu lama juga awak tinggal disini. Kupikirkan matang-matang maksudnya itu. Makanya pelan-pelan mulai kubereskan barang-barangku. Buku-buku, kertas-kertas lama, perabotan, mading, sama barang-barang lain mulai kubongkar satu-satu. Termasuk niat untuk menjual si kuda liarku ini. Langsunglah kutawarkan ke orang-orang dari mark...