Postingan

Tonah untuk masa tua-ku

Wahai diriku yang tua,  aku tak tahu apakah kau benar-benar akan membaca surat ini suatu hari nanti. Mungkin waktu akan membawamu sampai ke sana, mungkin juga tidak. Tapi hari ini aku tetap menuliskannya untukmu, sebagai tanda bahwa kita pernah muda, muda yang mengelana, sambil mencoba memahami jalan yang pernah kutempuh sebelum aku benar-benar menjadi tua bersama-mu.  Aku menulis surat ini bukan karena aku merasa bijaksana dimasa lalu mu. Bukan. Kau tentu tahu, bahkan orang-orang yang dianggap bijak pun sering keliru membaca hidupnya sendiri.  Aku hanya menulisnya karena hari ini aku masih memiliki pertanyaan, dan masa depanmu masih menjadi sesuatu yang belum kuketahui. Barangkali ketika kau membaca surat ini nanti, dunia sudah mengajarkan kepadamu lebih banyak daripada yang dapat kupahami sekarang. Barangkali juga kau akan tersenyum melihat betapa sederhana cara berpikirku hari ini.  Jika itu terjadi, tersenyumlah saja. Karena surat ini bukanlah nasihat dari seoran...

Hari Jum'at di awal Maret

  Hari berganti seperti biasa. dan jum'at datang lagi.  Pagi tadi sebenarnya aku udah bangun lebih awal, tapi seperti kebiasaanku belakangan ini, aku tidur lagi. Beberapa minggu ini memang kekgitu.  Dimasa prapaskah ini kucoba satu kebiasaan kecil, bangun agak siang dikit supaya aku makan hanya sekali dalam sehari. Sebetulnya dari dulunya awak sering makan sekali sehari, tapi itulah, kadang tengah malam tangan ini suka juga cari jajanan kecil di Maduro depan. Jadi sekarang kucoba dulu menata ulang ritme hari-hariku dengan cara yang sederhana itu. Bangun siang, makan sore.  Siang itu aku sempat lama duduk sambil memegang handphone. Seperti biasa, aku cuma scroll-scroll saja. Kadang buka berita, kadang lihat video, kadang dengar lagu. Entah kenapa hari ini banyak kali berita tentang perang. Berita tentang Israel, Amerika, dan Iran. Hampir semua portal menampilkan hal yang sama. Ada serangan udara, ada balasan rudal, ada kota yang dibom, ada juga orang-orang yang kehila...

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Gambar
April 2022, beberapa hari sebelum Lebaran.  waktu itu ramadhan sedang berada di ujungnya,  Orang-orang tengah sibuk menyiapkan diri menyambut hari yang dinanti-nantikan.  Sementara siang itu, sekitar pukul 11.30,  aku melangkah keluar dari Biara Murti ini tanpa pamit kepada siapa pun. Padahal di biara banyak kawan-kawan akrabku, ada si-Jovi, Ivander, Pahotan, Awan, Yudi, Jawak, dan lainnya.  Mereka tetap tinggal dilorong sunyi itu,  sementara aku memilih berjalan menjauh, membawa keputusanku yang sudah bulat.  Diluar gerbang tidak ada yang menungguku. Lorong biara tetap sama seperti biasanya, panjang, lembab, dan beberapa temboknya mengelupas udah kayak kulit yang kering kerontang.  Tapi tempat itu selama ini menjadi ruangku merenungkan hidup, ruang tempat aku belajar diam, dan belajar arti segalanya. Sebentar aku menoleh, sambil mengingat-ingat barangkali ada yang tertinggal, dan memastikan bahwa langkahku benar-benar sudah dimulai. GoJek yang se...