nasib sibari-bari
Saat itu aku datang dengan keyakinan bahwa hidup akhirnya membuka satu celah kecil untukku lolos dari nasib yang terlalu lama menahanku ini. Aku berangkat pagi itu dengan bekal yang terlalu mirip dengan harapan, atau mungkin ilusi yang kupelihara terlalu lama supaya aku tak benar-benar mengaku bahwa aku sudah hampir kalah sebelum memulai. Dua puluh lima kilometer ke BKN Semarang, membawa serta tangis dan doa restu Ibu yang terasa sangat berat di punggungku, seolah-olah kalau aku gagal lagi, bukan cuma aku yang jatuh, tapi juga meruntuhkan keyakinan yang Ibu sisipkan diam-diam disetiap air matanya selama ini. Aku bilang ini mungkin jalannya, aku selalu bilang begitu setiap kali ada rekrutmen baru, berharap nasib baik akan menghantarkan untuk menemukan pintu yang tepat, padahal mungkin tak ada pintu yang benar-benar disiapkan untukku. Orang-orang di sana, ada yang dari Sragen, Jepara, Kendal, Solo, Tegal, Purwokerto dan antero Jawa Tengah lainnya. Kami cepat akrab, terlalu cepat, se...