Postingan

Sembilan Pemuda Berbahaya

Kami menyebut diri sebagai Pemuda Berbahaya. Sebutan itu muncul dari mulut adikku, si-Egi Maulana Damanik di suatu malam ketika kami sedang bercanda² tak jelas.  Tidak ada ancaman apa pun dalam nama itu,  apa lagi maksud untuk mengangkat semangat dan jiwa kriminil para anggotanya, malahan nama itu timbul dari kehangatan, dan dari rasa akrab yang tumbuh perlahan di antara kami.  Pemuda Berbahaya terdiri dari sembilan orang, dan satu orang yang menertibkan langkah kami yaitu teh Tri Masriana Purba, si-manajer kami, begitu kami memanggilnya. Untuk ketua, sebenarnya tak pernah ada. Tapi dalam diam, kami sepakat menunjuk satu orang yang paling tenang sikapnya, paling sabar menampung kegaduhan, dan paling konyol dari semuanya, itu dia Heryadi Sipayung. Aku salah satu dari sembilan orang itu.  Dan, setiap orang datang dari tempat yang berbeda. Seperti Joel Sinaga dari Medan, Rafael Ginting dari Pematang Siantar, Yeremia Albanel Munthe dari Tangerang, dan Jeremy Malvin Sitoh...

Jika waktu tak mampu melunturkan-mu dari ingatanku, lantas dengan cara apa lagi Tuhan menguji kesetiaanku?

Di biara Murti ini, gelapnya malam selalu datang tiba² sekali, seolah membawa beban dari hari-hari yang belum selesai kujalani di masa yang lalu.  Di meja belajar yang baru saja ku rapikan ini,  aku duduk menatap segelas air jahe panas yang asapnya membumbung dan pecah di udara.  Aku dan adikku Egi Dmnk baru saja membelinya dari Ngesrep, tempat air jahe ini dijajalkan oleh seorang pria yang berasal Salatiga. Dia penjual yang ramah dan bersahaja.  Di sini, di-Biara inilah aku sering merenung,  dalam kesunyian yang tak lagi kurasakan sebagai lawan. Malam bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat. Bagi sebagian lain, malam adalah ruang antara, tempat jiwa bertemu dengan dirinya sendiri. Di sana, aku sering melihat kembali diriku yang dulu, seseorang yang pernah diperhitungkan, yang suaranya sangat didengarkan, yang namanya disebut dalam rapat dan kegiatan, yang berdiri di depan banyak orang dengan penuh keyakinan. Aku pernah menjadi Ketua Namaposo GKPS Se...

Miranda: Asmaraku di Suatu Ketika

Aglean memintaku menulis tentang kisah ini. Dia adikku, yang sejak lama senang membaca tulisan-tulisanku, entah karena isi katanya,  atau karena ia memahami bagaimana setiap kalimatku tumbuh dari pergulatan panjang  di dalam diri, dari malam-malam sepi yang kuhabiskan merenung, dari perjalanan batin yang sunyi dan penuh gema. Aku sempat ragu. Sejauh binder ini ada, dari berbagai kisah, catatan, dan kenangan yang pernah kuarsipkan, belum pernah satu pun tentang Miranda Panca yang ku goreskan. Ia selalu hadir dalam diamku, Dia itu seperti bayang di antara cahaya dan senja yang jatuh perlahan, tapi dia tidak pernah menjadi bagian dari tulisan yang kubuat untuk dibaca orang lain.  Menulis tentang perasaan yang pernah hidup  di dada, rasanya seperti membuka lembar yang telah kuletakkan dengan hati-hati di sudut waktu, lembar yang lembut dan rapuh bagai dedaun yang jatuh di permukaan air yang menggenang. Maksudku pun menuliskan ini bukan untuk menghidupkan kembali masa la...