Tonah untuk masa tua-ku
Wahai diriku yang tua, aku tak tahu apakah kau benar-benar akan membaca surat ini suatu hari nanti. Mungkin waktu akan membawamu sampai ke sana, mungkin juga tidak. Tapi hari ini aku tetap menuliskannya untukmu, sebagai tanda bahwa kita pernah muda, muda yang mengelana, sambil mencoba memahami jalan yang pernah kutempuh sebelum aku benar-benar menjadi tua bersama-mu. Aku menulis surat ini bukan karena aku merasa bijaksana dimasa lalu mu. Bukan. Kau tentu tahu, bahkan orang-orang yang dianggap bijak pun sering keliru membaca hidupnya sendiri. Aku hanya menulisnya karena hari ini aku masih memiliki pertanyaan, dan masa depanmu masih menjadi sesuatu yang belum kuketahui. Barangkali ketika kau membaca surat ini nanti, dunia sudah mengajarkan kepadamu lebih banyak daripada yang dapat kupahami sekarang. Barangkali juga kau akan tersenyum melihat betapa sederhana cara berpikirku hari ini. Jika itu terjadi, tersenyumlah saja. Karena surat ini bukanlah nasihat dari seoran...