Postingan

nasib sibari-bari

Saat itu aku datang dengan keyakinan bahwa hidup akhirnya membuka satu celah kecil untukku lolos dari nasib yang terlalu lama menahanku ini. Aku berangkat pagi itu dengan bekal yang terlalu mirip dengan harapan, atau mungkin ilusi yang kupelihara terlalu lama supaya aku tak benar-benar mengaku bahwa aku sudah hampir kalah sebelum memulai. Dua puluh lima kilometer ke BKN Semarang, membawa serta tangis dan doa restu Ibu yang terasa sangat berat di punggungku, seolah-olah kalau aku gagal lagi, bukan cuma aku yang jatuh, tapi juga meruntuhkan keyakinan yang Ibu sisipkan diam-diam disetiap air matanya selama ini. Aku bilang ini mungkin jalannya, aku selalu bilang begitu setiap kali ada rekrutmen baru, berharap nasib baik akan menghantarkan untuk menemukan pintu yang tepat, padahal mungkin tak ada pintu yang benar-benar disiapkan untukku.  Orang-orang di sana, ada yang dari Sragen, Jepara, Kendal, Solo, Tegal, Purwokerto dan antero Jawa Tengah lainnya. Kami cepat akrab, terlalu cepat, se...

Diantara dua pasang surut

Gambar
Sepulang dari jalan sore itu, aku tiba di biara dengan kaki yang lelah, tapi bukan itu yang paling terasa. Enam belas kilometer yang kutempuh tak membawa apapun untuk kubawa pulang, selain masih membawa napas yang lebih berat dan pikiran yang tetap penuh. Akupun tak langsung mandi. Tak ada pula yang mendesak untuk disegarkan malam itu. Aku hanya duduk sebentar. Meregangkan otot-otot yang kaku, ya sebagai rutinitas yang harus dilakukan supaya semuanya gak apa kali yakan. Air putih pun kuteguk perlahan. Dingin, lalu hilang. Tidak meninggalkan apa-apa setelahnya.  Lantas, pandanganku jatuh ke meja belajar itu, meja yang paling besar di kamar ini. Bertahun-tahun tak berpindah. Tetap diposisi yang sama. Aku menatapnya cukup lama, sampai akhirnya muncul keinginanku untuk menggesernya. Bukan karena aku sudah punya konsep tata letak yang indah, nggak tahu pulak harus ke mana dibuat, tapi karena sudah muak melihat lalap disitu, jadi kupaksa harus memindahkannya entah kemana.  Langsungl...

Untukmu, disana—

Untukmu, yang masih bersembunyi di antara waktu, aku menulis dengan rasa kagum yang tak terukur.  Aku mengagumimu karena kelembutan yang merayap pada setiap tuturmu, untuk kasih yang mengalir dari setiap gerakmu, untuk perhatianmu yang menembus ruangku, dan laku inisiatifmu yang perlahan menyalakan kehangatan duniaku. Aku belum melihatmu, belum mendengar suaramu, namun hadirmu terasa nyata, sungguh nyata. Kau adalah rindu yang ada jauh sebelum perjumpaan itu menepi, kau cahaya yang menuntun tanganku untuk menulis tanpa melihat, dan aku tahu, tanpa ragu, bahwa kau sungguh ada dalam bayang-bayang hatiku. Entah dari bagian mana dalam jagad raya ini kedatangan-mu, aku merasa hatiku telah lebih dahulu mengenal langkahmu. Barangkali kita masih terpisah oleh hari-hari yang panjang,  oleh kota-kota yang belum saling menyebut nama, namun aku menulis kepadamu dengan keyakinan yang sederhana, bahwa disuatu tempat di bawah langit yang sama, kau sedang hidup, bernapas,  dan tanpa sada...

Tonah untuk masa tua-ku

Wahai diriku yang tua,  aku tak tahu apakah kau benar-benar akan membaca surat ini suatu hari nanti. Mungkin waktu akan membawamu sampai ke sana, mungkin juga tidak. Tapi hari ini aku tetap menuliskannya untukmu, sebagai tanda bahwa kita pernah muda, muda yang mengelana, sambil mencoba memahami jalan yang pernah kutempuh sebelum aku benar-benar menjadi tua bersama-mu.  Aku menulis surat ini bukan karena aku merasa bijaksana dimasa lalu mu. Bukan. Kau tentu tahu, bahkan orang-orang yang dianggap bijak pun sering keliru membaca hidupnya sendiri.  Aku hanya menulisnya karena hari ini aku masih memiliki pertanyaan, dan masa depanmu masih menjadi sesuatu yang belum kuketahui. Barangkali ketika kau membaca surat ini nanti, dunia sudah mengajarkan kepadamu lebih banyak daripada yang dapat kupahami sekarang. Barangkali juga kau akan tersenyum melihat betapa sederhana cara berpikirku hari ini.  Jika itu terjadi, tersenyumlah saja. Karena surat ini bukanlah nasihat dari seoran...