Untukmu, disana—
Untukmu, yang masih bersembunyi di antara waktu, aku menulis dengan rasa kagum yang tak terukur. Aku mengagumimu karena kelembutan yang merayap pada setiap katamu, untuk kasih yang mengalir dari setiap gerakmu, untuk perhatianmu yang menembus ruangku, dan laku inisiatifmu yang perlahan menyalakan kehangatan duniaku. Aku belum melihatmu, belum mendengar suaramu, namun hadirmu terasa nyata, sungguh nyata. Kau adalah rindu yang ada jauh sebelum perjumpaan menepi, kau cahaya yang menuntun tanganku untuk menulis tanpa melihat, dan aku tahu, tanpa ragu, bahwa kau sungguh ada dalam bayang-bayang hatiku. Entah dari bagian mana dalam jagad raya ini kedatangan-mu, aku merasa hatiku telah lebih dahulu mengenal langkahmu. Barangkali kita masih terpisah oleh hari-hari yang panjang, oleh kota-kota yang belum saling menyebut nama, namun aku menulis kepadamu dengan keyakinan yang sederhana, bahwa di suatu tempat di bawah langit yang sama, kau sedang hidup, bernapas, dan tanpa sadar sedang m...