Bukan Aku | Catatan Patah si-Parkandang
Aku tidak terpukul waktu melihatmu bersamanya. Aku sempat mengira perasaanku sudah selesai, sampai kusadari sesuatu yang lebih sunyi dari patah hati sedang terjadi, tidak ada yang benar-benar hilang, karena sejak awal memang tidak pernah ada apa-apa di antara kita. Kau masih bisa menyapaku seperti biasa. Masih bisa tertawa di depanku. Masih memanggil namaku tanpa ragu, anggap saja aku tak pernah membawa perasaan apa pun. Karena aku tidak cukup berarti untuk mengubah suasana, tidak cukup penting untuk membuatmu canggung. Aku hanya seseorang yang kebetulan berada di sekeliling hidupmu, seperti kursi kosong di ruang tunggu, bagai pohon di tepi jalan yang tak pernah bisa kau ingat jumlahnya. Malamnya aku mencoba mengingat kapan aku mulai berharap. Aku mencari satu momen kecil yang bisa kusebut awal, tetapi tidak menemukannya. Harapan itu ternyata tumbuh sendiri, seperti rumput liar di tanah yang tidak pernah kau tanami. Pedihnya. Yang kau jalani tetap hidup...