Bukan Aku | Catatan Patah si-Parkandang
Aku tidak terpukul waktu melihatmu bersamanya.
Aku sempat mengira perasaanku sudah selesai, sampai kusadari sesuatu yang lebih sunyi dari patah hati sedang terjadi, tidak ada yang benar-benar hilang, karena sejak awal memang tidak pernah ada apa-apa di antara kita.
Kau masih bisa menyapaku seperti biasa.
Masih bisa tertawa di depanku.
Masih memanggil namaku tanpa ragu, anggap saja aku tak pernah membawa perasaan apa pun.
Karena aku tidak cukup berarti untuk mengubah suasana, tidak cukup penting untuk membuatmu canggung. Aku hanya seseorang yang kebetulan berada di sekeliling hidupmu, seperti kursi kosong di ruang tunggu, bagai pohon di tepi jalan yang tak pernah bisa kau ingat jumlahnya.
Malamnya aku mencoba mengingat kapan aku mulai berharap. Aku mencari satu momen kecil yang bisa kusebut awal, tetapi tidak menemukannya. Harapan itu ternyata tumbuh sendiri, seperti rumput liar di tanah yang tidak pernah kau tanami.
Pedihnya. Yang kau jalani tetap hidupmu.
Yang runtuh hanya milikku. Dan keduanya tidak pernah benar-benar bersinggungan.
Teringat aku sore itu, ketika kita berjalan di tepi pantai. Ombak menabrak tepian, angin mengiring bau asin laut, dan kau tertawa ringan seakan dunia hanya berputar di sekeliling senyummu itu. Lampu-lampu yang redup dan hangat menyinari wajahmu saat kita keliling kota ini, berhenti di sudut-sudut jalan untuk melihat hal-hal sepele yang membuatmu penasaran. Setiap percakapan ringan, dan semua candaan kecil yang kita tukar lewat chat dulu, kupikir tanda kau peduli padaku, kupikir bahwa ada ruang khusus yang hanya kita miliki berdua.
Belakangan aku sadar, semua itu hanyalah keramahanmu, tanpa maksud lebih.
Aku yang terlalu berharap, aku salah menafsirkan setiap pesanmu, mengira senyum dan tawa itu untukku seorang. Ternyata, semua itu hanya caramu menatap dunia, bukan caramu menatapku. Semua momen yang dulu terasa hangat kini menusuk perih. Memang indah, namun tidak pernah menjadi milikku. Aku belajar bahwa perasaan bisa menipu diri sendiri, dan keramahan bisa dibaca sebagai cinta hanya oleh hati yang terlalu berharap.
Aku masih ingat ketika banjir merendam perumahan arion mas di Demak, lumpur dan bau menyatu, aku dan si-dasuha saninaku itu bertemu di selasar musholla, kami duduk berdua, mengambil air bersih dari keran yang mengalir, dan di sanalah aku membuka hati kepadanya, Saninaku Sidasuha yang menurut pengakuannya rela mengalah demi kita yang tak jadi KITA.
Tidak dengan kata-kata yang mengharapkan balasan, tidak pula dengan permintaan atau tuntutan. Aku dan dia bicara apa adanya,
tentang sakit yang kulalui, tentang harapan yang tumbuh sendiri, tentang kebodohanku menafsirkan keramahan baya itu sebagai tanda yang bukan untukku.
Di situ, aku sadar bahwa berbicara dari hati bukan soal didengarkan, tapi juga soal melepaskan.
Setiap kata yang keluar berat, menjadi ringan bagi jiwa yang memendamnya terlalu lama.
Kami duduk di sana sambil melihat air yang kami ambil, ada Juanda Naga, ada abang² yang lain menyaksikannya. Meski luka ini tetap ada dan menusuk, tetapi untuk pertama kali terasa sedikit terangkat, karena aku sudah tidak memendamnya sendirian lagi.
Hari minggunya, aku menunggu sampai ibadah selesai, mencoba menenangkan diri, merapikan langkah agar tetap tampak biasa. Tapi pandangan itu menamparku begitu aku menatap halaman gereja. Dia berjalan ringan, tanpa menoleh, ke arah Indomaret di seberang. Di sana, si Mora Kalang sudah menunggunya, berdiri tenang, bagai orang yang memang ditakdirkan berada di jalannya.
Aku terdiam, tidak bergerak. Tubuhku ada di situ, tapi hatiku terlepas. Semua yang pernah kusangka milikku, tawa kecilnya, tatapannya, kesan hangat yang kusebut cinta, porak poranda dalam sekejap.
Mereka bertemu, menyapa dengan senyum yang biasa, lalu dia naik motor, tangan menyentuh punggung Mora Kalang dengan ringan, seakan itu sudah biasa baginya. Dan aku, yang selama ini berpikir hadirku berarti, hanya bisa menatap dalam diam yang menjerat hati, menatap langkah yang bukan untukku, dan jalan yang bukan jalanku.
Aku berdiri di tepi jalan setelah semuanya selesai. Aku menatap sekeliling, merasakan setiap langkahku, setiap detik yang berlalu,
dan membiarkan hatiku menyesuaikan diri dengan kenyataan. Aku menerima jalannya, menerima pilihannya, dan menerima diriku sendiri dengan segala kekosongan yang kuterima. Hatiku terasa berat, tetapi aku menanggungnya dengan penuh kesadaran. Aku takkan berteriak, tidak akan menuntut apapun, aku tetap hadir dengan rasa hormat pada hidup dan pada diriku.
Kesadaran itu memberi keteguhan, memberi kekuatan untuk tetap berjalan meski kaki terasa letih. Meski perlahan, aku menata setiap langkah dengan kehormatan yang kumiliki, membiarkan luka itu ada, membiarkan dirinya tetap berada di sana, dan membiarkan diriku tetap berdiri di sini.
Di kesempatan lain disudut kota ini, aku, Junda Naga, siDasuha, si-Iman, dan lagi entah si-apapun itu, kami telah pun belajar dan berhenti sejenak, menatap diri sendiri dalam diam.
Tak ada kata yang diperlukan, tertinggal keheningan yang menuntun kami untuk melihat luka masing-masing, dan memahami bahwa patahnya hati tidak selalu menuntut penjelasan, dan kesendirian tidak selalu berarti kekosongan.
Kami duduk bersama, di tepi malam yang lengang, masing-masing membawa luka yang tidak bisa dibicarakan dengan kata-kata biasa.
Juanda menatap jauh ke jalanan yang bersimpangan, si-Iman takluk atas nyalinya,
si-dasuha tegak dengan idealismenya.
Aku berdiri di antara mereka, merasakan jarak dan kesendirian yang sama. Disana ada ketegaran yang timbul dari kesadaran bahwa kita semua gagal dalam hal yang tidak bisa kita paksa, yaitu cinta yang tidak berpihak, dan hati yang tidak bisa dimiliki.
Di dalam kesunyian itu, aku merasakan kedalaman yang tidak pernah kuduga. Luka masing-masing menjadi samudera yang luas, dan kita hanyut di permukaannya tanpa bisa menahan gelombang, hanya menatapnya dengan tenang, seakan setiap retakan hati kita adalah jalan menuju pemahaman yang lebih luas tentang diri dan kehidupan.
Tidak perlu ada kata penghibur, juga pengakuan dari dunia, atau entah dari siapapun.
Cukuplah hanya kesadaran, berat tetapi nyata, bahwa kehormatan hati terletak pada keteguhan menerima, dan keteguhan itu memberi kami ruang untuk tetap berdiri, walau remuk, meski sunyi, bahkan patah.
Hadirnya satu sama lain memberi kekuatan yang sunyi. Seolah dalam sepinya kita, dalam patah dan kecewa, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada cinta yang hilang, itu dia kesadaran, integritas, dan keteguhan yang menolak hancur, sekalipun dunia dan hati kita sendiri telah lama remuk.
Hari-hari terus berjalan, dan aku tetap di sini, membawa luka yang telah lama menjadi bagian dari diriku. Tapi hidup tidak berhenti, dan kami pun tidak akan berhenti. si-Juanda, si-Iman, si-dasuha, dan aku akan tetap berkumpul,
tetap bermain badminton di sore yang hangat, tetap tertawa dan saling mengejek tentang kisah cinta yang gagal dan harapan yang pupus.
Padot-padot hu taon marsiakbagi au holan humongkop hoo
Roynat, Feb 2026
Komentar
Posting Komentar