Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Romo Wirandus | Kronik Salah Kaprah di Goa Maria

Cerita ini bermula dari ajakan yang terdengar biasa² saja. Akan tetapi, seperti banyak hal dalam hidup, yang sederhana seringkali menyimpan kejutan di dalamnya.  Kami berangkat dengan niat menghadiri misa pembukaan bulan Rosario, tapi pulang dengan membawa kisah yang tak pernah kami duga, kisah tentang panggilan singkat “Mooo” yang menimbulkan salah paham berkepanjangan, hingga temanku Wirandus M Munthe nyaris benar-benar dianggap sebagai seorang pastor.  Yang masih membuatku heran hingga kini adalah bagaimana orang-orang bisa begitu yakin bahwa Romo Wirandus benar-benar seorang pastor. Apakah karena pembawaannya yang tenang dan suaranya yang mantap? Ataukah memang ada semacam aura yang memancar dari dirinya, membuat siapa pun yang melihat percaya begitu saja? Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya kehadirannya memang memantulkan kesan seorang gembala umat, meski sesungguhnya ia hanya awam yang kerap aku panggil singkat, “Mooo.” Mungkin, di situlah letak indahnya sebuah perjal...

Sepucuk Surat dari Tembalang

Suatu waktu dalam hidup seorang pemuda, ketika pena dan kertas menjadi satu-satunya jalan untuk menyampaikan rasa. Malam yang lengang seringkali mengantarkanku pada kenangan itu, saat wajahmu masih terjaga dalam ingatan, seakan engkau baru saja melintas di hadapanku. Di meja kayu yang mulai rapuh ini, kutuliskan kalimat demi kalimat dengan hati yang tak pernah lelah menyimpan namamu. Setiap huruf yang ditorehkan adalah bagian dari diriku, bagian dari hari-hari yang pernah kita lalui bersama di tanah rantau ini. Di sela desir angin yang menyusup melalui jendela, aku menaruh harap agar surat ini dapat menyampaikan betapa dalamnya makna kebersamaan itu bagiku. Inilah caraku menjaga kenangan, menjaga bayanganmu, menjaga segala yang pernah singgah dan tinggal di ruang hidupku. Tembalang, pada suatu sore yang teduh Teruntuk adinda Brigitta br Simbolon yang terkasih, Semoga ketika surat ini tiba, dirimu berada dalam lindungan kasih Tuhan, sehat raga dan tenteram jiwa, serta tiada kekuranga...

Warisan Dendam Oppung Windy Doli

Seperti sedang membuka lembar catatan lama, Setiap huruf adalah pintu kecil menuju pada kenangan yang tidak selalu ingin aku datangi, namun di situlah aku menemukan wajah ayahku yang keras, juga luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Di keluarga kami pernah ada pertengkaran yang begitu panjang, begitu melelahkan, sehingga maut pun tidak mampu mendamaikannya. Aku menulis sebagai anak, yang hanya bisa menyaksikan dari jauh bagaimana seorang ayah dan abangnya saling berpaling. Aku tumbuh dengan perasaan ganjil setiap kali mendengar nama Mula Harapan disebut. Abangkandung ayahku itu bukan sekadar sosok Bapatua diujung marga. Dia adalah bayangan masa lalu, cerita yang selalu hadir dengan nada berat di bibir ayahku. Aku mendengar kisahnya sejak kecil, kadang dengan amarah, kadang dengan diam. Sejak kecil aku mendengar nama itu. Bagiku ia bukan hanya seorang bapatua, juga sebagai bayangan yang jarang hadir dengan ramah. Kisah-kisah yang kuterima lebih banyak tentang pertikaian, bukan pelu...

Mimpi: Terikat pada senyap, Berputar di antara kemungkinan

Saya kerap merasa kisah yang datang lewat mimpi bukanlah sekadar mimpi. Ia hadir tanpa alasan, membawa suasana yang sukar saya letakkan dalam bahasa. Bak sebuah catatan yang diselipkan begitu saja, tanpa pengantar dan tanpa penutup, namun menyisakan jejak yang sulit saya hapus. Dalam mimpi itu saya berada di sebuah desa yang asing sekaligus akrab, rumah-rumah sederhana berdiri di lereng pegunungan, udara tipis menyentuh kulit, dan wajah-wajah yang seakan mengenal saya, padahal saya tidak tahu siapa mereka. Ketika terbangun, bayangan itu tidak hilang. Ia menempel pada kesadaran, membuat saya terus bertanya apakah ada sesuatu yang sedang memanggil saya pulang. Kata “ pulang ” itu sendiri menggantung, tidak menunjuk ke tempat tertentu, tidak mengarah ke masa lalu atau masa depan, hanya berdiri sebagai tanda yang mengusik.  Saya tidak tahu dari mana kisah ini bermula, seolah ia tumbuh begitu saja di antara retakan waktu yang tak bisa saya jamah. Yang tersisa hanyalah perasaan seperti m...