Wahai diriku yang tua,
aku tak tahu apakah kau benar-benar akan membaca surat ini suatu hari nanti. Mungkin waktu akan membawamu sampai ke sana, mungkin juga tidak.
Tapi hari ini aku tetap menuliskannya untukmu, sebagai tanda bahwa kita pernah muda, muda yang mengelana, sambil mencoba memahami jalan yang pernah kutempuh sebelum aku benar-benar menjadi tua bersama-mu.
Aku menulis surat ini bukan karena aku merasa bijaksana dimasa lalu mu. Bukan. Kau tentu tahu, bahkan orang-orang yang dianggap bijak pun sering keliru membaca hidupnya sendiri.
Aku hanya menulisnya karena hari ini aku masih memiliki pertanyaan, dan masa depanmu masih menjadi sesuatu yang belum kuketahui.
Barangkali ketika kau membaca surat ini nanti, dunia sudah mengajarkan kepadamu lebih banyak daripada yang dapat kupahami sekarang. Barangkali juga kau akan tersenyum melihat betapa sederhana cara berpikirku hari ini.
Jika itu terjadi, tersenyumlah saja.
Karena surat ini bukanlah nasihat dari seorang muda kepada dirinya yang menua, tapi ini semua adalah jejak dari KITA yang masih muda kepada KITA yang kelak menjadi tua. Aku hanya ingin meninggalkan beberapa catatan kecil sebelum waktu membawaku semakin jauh dari hari ketika kata-kata ini ditulis.
Dan kalau suatu hari nanti kau benar-benar sampai pada usia tua itu, dan menemukan kembali surat ini, bacalah dengan tenang. Anggap saja ini sebagai suara lama dari masa lalumu, yang pernah mencoba hidup dengan jujur di jalannya sendiri.
Roy tua,
Jika suatu hari nanti kau membuka surat ini dengan tangan yang lebih keriput dari tanganku hari ini, aku ingin kau mengetahui satu hal sederhana, bahwa KITA pernah belajar menjadi tenang dihidup yang penuh gelombang.
Kita hidup diantara luka. Kita tak berjalan dijalan yang rata. Waktu memberi kita banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak keadaan yang tidak selalu dapat kita pilih sendiri. Namun ditengah semua itu, aku yang masih muda ini mencoba satu hal yang tidak mudah, yaitu menerima setiap titipan waktu tanpa terlalu banyak mengeluh kepada dunia.
Aku sedang belajar ikhlas.
Mungkin bagimu sekarang kata-kata itu terdengar biasa. Tapi bagiku hari ini, kata-kata itu adalah jalan panjang yang harus dilalui dengan kaki telanjang, dengan luka goresan yang mengebal.
Wahai sahabat tua-ku,
ada sesuatu yang juga harus kau ingat tentang aku yang menulis ini. Aku tak pernah berjuang untuk menjadi seseorang yang dikagumi banyak orang. Aku tak pernah merasa perlu menjadi seperti orang lain. Dunia ini sudah cukup penuh dengan orang yang sibuk meniru kehidupan yang bukan miliknya. Yang sedang kuperjuangkan hanyalah satu hal sederhana tetapi justru sering membuatku berdarah-darah, ya menjadi diriku sendiri dengan tenang. Aku ingin hidup tanpa memikul topeng. Aku ingin berjalan dengan identitasku sendiri tanpa merasa harus menyerupai siapa pun.
Di dalam perjuangan itu aku menemukan satu tugas yang terasa paling berat, menjaga kasih dalam kata-kataku, dalam perbuatanku, dan dalam langkah-langkah kecil yang kulakukan setiap hari. Terdengar sederhana. Namun kau pasti tahu Roy tua, bahwa hidup sering menguji kasih manusia lebih keras daripada yang dibayangkannya.
Sementara itu ada hal lain yang sering membuat pikiranku terjaga di malam hari.
Yaa, orangtua kita.
Aku melihat kekhawatiran mereka seperti seseorang yang berdiri di tepi jalan panjang dan mencoba memastikan anaknya tidak tersesat. Mereka memikirkan masa depan kita dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh hati seorang ibu dan seorang ayah. Teringin mengatakan kepada mereka bahwa hidupku baik-baik saja. Bahwa aku berdamai dengan jalan yang kupilih. Bahwa aku percaya setiap hal yang terjadi hanyalah bagian dari perjalanan waktu.
Namun kegelisahan tetap datang.
Aku sering bertanya dalam diam, apakah suatu hari nanti kita benar-benar dapat memuliakan mereka? Apakah kita dapat membuat mereka merasa bahwa kehidupan anak yang mereka besarkan tidak berakhir dalam kesia-siaan?. Tentunya kau sudah memiliki jawaban atas pertanyaan ini-kan.
Aku tahu tak ada orang tua yang benar-benar menuntut balasan. Namun aku juga tahu ada hati orang tua yang diam-diam terluka ketika anaknya tidak mampu memberi kebahagiaan yang mereka harapkan.
Wahai Roy tua,
mungkin kau sekarang telah mengetahui sesuatu yang belum kuketahui hari ini. Aku masih berdiri di jalan yang belum selesai. Aku masih berjalan dengan banyak pertanyaan. Bahkan ada satu pertanyaan yang sering datang ketika malam terlalu senyap.
Jika Tuhan berkata bahwa pada akhirnya semua akan menjadi baik, bagaimana jika hari yang baik itu ternyata tidak pernah datang seperti yang kubayangkan?
Bagaimana jika setelah semua luka, semua jatuh bangun, semua usaha untuk tetap hidup dengan jujur… ternyata tidak ada keindahan yang menunggu didepan sana?
Aku tak tahu jawabannya.
Yang bisa kulakukan hari ini hanyalah terus berjalan.
Belajar tenang.
Belajar ikhlas.
Belajar hidup dengan kasih, meskipun dunia terasa terlalu keras.
Mungkin suatu hari nanti kau akan membaca ini dengan senyum kecil dan berkata bahwa Roy muda ini terlalu banyak khawatir.
Jika itu benar, aku akan senang.
Karena itu berarti perjalanan ini akhirnya menemukan tempatnya.
Roy tua,
Kalau kau membaca bagian ini suatu hari nanti, mungkin kau sudah lupa bagaimana jalan panjang ini sebenarnya dimulai. Maklum saja, waktu memang punya kebiasaan aneh, dia menghapus detail, tetapi meninggalkan bekas didalam diri manusia. Apa kau merasa begitu wahai sahabat tua-ku?
Aku tak dapat menunjuk satu peristiwa yang membentukku. Ada terlalu banyak.
Terlalu banyak kejadian, terlalu banyak luka, terlalu banyak hari ketika hidup terasa seperti memegang batu terlalu lama hingga akhirnya telapak tangan pun jadi kapalan.
Begitulah rasanya hidupku.
Banyak hal yang dulu terasa menyakitkan kini seperti kulit yang menebal. Luka-luka itu tak lagi berdarah, tetapi bekasnya tetap tinggal. Menjadi bagian dari tanganku sendiri, dan tangan mu yang sekarang juga. Aku bahkan sudah lupa satu per satu peristiwanya. Tapi aku tahu bahwa semuanya bekerja diam-diam membentuk diriku, dan membentuk mu yang sekarang.
Disuatu waktu, ada masa-masa ketika aku merasa ditinggalkan.
Dan memang benar, banyak hal benar-benar meninggalkanku.
Waktu pergi.
Orang-orang yang kukasihi pergi.
Beberapa mimpi juga pergi.
Aku kehilangan banyak hal di perjalanan ini.
Tapi sampai hari ketika surat ini kutulis untukmu, ada satu hal yang belum benar-benar hilang dariku, diriku sendiri.
Meskipun aku tahu ada saat-saat ketika aku hampir kehilangan itu juga.
Roy tua,
Kalau kau masih mengingat luka-luka itu nanti, ingatlah satu hal, sebagian dari luka itu datang dari kehilangan seseorang yang pernah kita cintai sebelumnya. Kehilangan seperti itu tak pernah benar-benar selesai-kan, apa kau masih merasakannnya?
Hari ini bahkan ketika aku menulis surat ini, pikiranku masih sempat berjalan ke masa depan, kepada seorang wanita yang mungkin suatu hari akan berjalan di hidupku, dan di hidupmu.
Aku ingin mengatakan sesuatu kepada perempuan yang bahkan belum kukenal itu, biarlah semua yang telah kulalui hari ini menjadi jalan yang membuatku mampu mencintaimu dengan lebih utuh nanti. Luka-luka ini bukan untuk diratapi. Biarlah mereka menjadi tanah tempat cinta yang lebih dewasa nanti bisa tumbuh.
Ada juga luka lain yang tidak kalah pedih.
Luka dari kata-kata.
Aku pernah diremehkan. Pernah dianggap tak akan mampu berdiri tanpa bantuan seseorang itu. Bahkan pernah ada saat ketika aku hanya menanyakan kabar, tetapi dari kejauhan kudengar sebuah kalimat yang sampai hari ini masih tersimpan di dalam hatiku.
“Langsung saja tanya dia butuh uang berapa.”
Padahal aku hanya ingin menanyakan kabar.
Kalimat itu sederhana. Tapi ada kata-kata yang memiliki cara aneh untuk tinggal lama di dalam ingatanku. Mudah mudahan kau sudah lupa.
Aku tak menyimpan dendam kepada siapa pun, tetapi kata-kata seperti itu tetap menjadi pelajaran bagiku. Mengajarkanku bagaimana rasanya jadi manusia yang tidak dimengerti. Dan dari sanalah aku belajar satu hal kecil, bahwa jangan sembarangan melukai hati seseorang dengan prasangka.
Roy sahabat tua-ku,
Aku mau martonah, bahwa ada juga seseorang yang pernah sangat mempengaruhi hidupku dimasa lalu,
Dia tak tinggal lama di dunia ini.
Ketika aku menuliskan surat ini untukmu,
dia telah dipeluk oleh keabadian dan sedang tidur panjang di tempat yang tak dapat kita jangkau. Biarlah dia bermimpi dengan damai di sana.
Orang itu mengubah caraku memandang hidup. Kelembutannya mengajari hatiku yang keras untuk mencari ketenangan. Dia menunjukkan bahwa cinta tidak selalu harus datang dengan peristiwa besar. Dia hadir dalam hal-hal kecil yang tak terlihat oleh dunia. Sejak mengenalnya, aku mulai mengerti bahwa kedamaian sering tinggal ditempat yang sederhana.
Namanya tak perlu kutuliskan disurat ini.
Biarlah dia menjadi rahasia antara ingatanku hari ini dan ingatanmu nanti.
Kalau kau membaca bagian ini dan mencoba mengingat wajahnya, mungkin kau akan menangis pelan. Oh iya mbiaa, pergilah ke tanah seberang sana, taburkan kembang diatas pusaranya ditanah yang tinggi itu, kirimkanlah doa untuk kedamaian jiwanya.
Oppung Roy namatua,
Kau tahu-kan kalau ada banyak orang yang menjalani hidup dengan banyak ketakutan.
Mereka takut gagal, takut menyesal, ataupun takut kehilangan arah. Ketakutan itu seperti bayangan panjang yang selalu mengikuti langkah mereka.
Kau tahu, kalau aku dimasa lalu mencoba hidup dengan cara yang sedikit berbeda.
Kalau suatu hari kau melihat kembali perjalanan hidup ini dari ujung usia, mungkin kau akan bertanya, apakah Roy muda ini pernah takut melihat masa lalunya sendiri?
Sejujurnya, aku tak tahu apa yang harus kutakuti.
Aku tak merasa ada sesuatu di belakangku yang harus kuhindari seperti seseorang yang takut membuka pintu lama. Jika suatu hari aku menoleh ke belakang, biarlah yang kulihat hanyalah kenangan. Kenangan yang mungkin pahit, mungkin hangat, tetapi tetap bagian dari jalan yang pernah kulewati.
Ketakutan sering hanya melahirkan kekhawatiran baru. Dan kekhawatiran sering membuat manusia kehilangan hari yang sedang dijalaninya. Karena itu aku memilih berjalan saja. Menikmati hari yang ada di tanganku.
Ada juga pertanyaan lain yang mungkin suatu hari akan kauingat.
Apakah aku takut menjadi seseorang yang menyesal?
Takut menjadi seseorang yang lelah?
Takut kehilangan arah?
Tidak!!!...
Aku tak pernah takut pada hal-hal itu.
Jika suatu hari aku menyesal, itu berarti aku telah menyadari sesuatu yang sebelumnya tak kupahami. Kesadaran seperti itu adalah langkah kecil menuju kebijaksanaan.
Jika suatu hari aku lelah, itu berarti aku telah berjalan cukup jauh.
Dan jika suatu hari aku kehilangan arah, mungkin sebenarnya aku hanya sedang berjalan di jalan yang belum dikenal oleh banyak orang.
Roy tua, dimasa lalu aku tak pernah hidup dengan peta yang jelas. Aku lebih sering berjalan seperti seorang pengembara. Kakiku melangkah ke mana merasa harus pergi. Kadang jalannya rata, kadang berlumpur, kadang pun penuh batu. Tapi ya disitulah aku menemukan banyak makna.
Orang mungkin berkata bahwa seseorang telah kehilangan arah ketika jalannya tak sama dengan jalan yang mereka tempuh.
Tetapi siapa yang benar-benar dapat memastikan arah hidup manusia?
Siapa yang bisa berkata dengan pasti bahwa jalan seseorang lebih benar daripada jalan orang lain?Bagiku, berjalan lebih jauh dari yang biasa dilalui orang lain bukanlah kehilangan arah. Itu hanya berarti aku sedang menemukan jalan lain yang mungkin memang disediakan untukku.
Mungkin jalan itu tak semulus jalan orang lain. Mungkin lebih banyak lubang dan kubangannya. Lebih banyak tanjakan dan tikungan yang sepi.
Tapi kau tahu, aku menikmati semuanya.
Aku menikmati lumpur di jalanan itu.
Aku menikmati debu yang menempel di kakiku.
Aku menikmati perjalanan yang tidak selalu mudah. Karena di sanalah jiwa kita ditempa, dan itulah yang kau nikmati sekarang kan?
Setiap luka yang datang membuatku kembali menengadah kepada Tuhan. Setiap kesulitan membuatku belajar menyerahkan hatiku kembali kepada sumber yang lebih dalam dari diriku sendiri.
Sering kali aku hanya berkata dalam diam,
“Tuhan, jika hatiku mulai kotor oleh luka dan penyesalan, biarlah kasih-Mu membasuhnya kembali.”
Dan setiap kali aku melakukan itu, ada ketenangan yang datang. Seakan ada tangan tak terlihat yang merangkul jiwa yang lelah.
Wahai Roy si-pendongeng tua,
Kalau suatu hari kau membaca bagian ini, mungkin kau akan mengetahui sesuatu yang belum kuketahui sekarang. Apakah jalan yang kulalui ini benar atau tidak. Namun jika ada satu hal yang kuharap masih kauingat, itu adalah ini,
Aku menjalani hidup ini dengan keberanian untuk berjalan, bahkan ketika jalan itu belum jelas. Karena bagiku hidup bukan hanya tentang sampai ke tujuan. Hidup adalah perjalanan jiwa yang menembus banyak lapisan hati, mengumpulkan ketegaran sedikit demi sedikit.
Sahabat tua-ku,
Kalau kau sampai pada bagian ini suatu hari nanti, mungkin rambut kita sudah memutih seperti kabut di pagi hari. Langkahmu mungkin tak lagi secepat dulu. Tapi, aku ingin tahu seperti apa hidup yang akhirnya kaujalani.
Ketika aku membayangkan dirimu di usia tua, anehnya aku tidak membayangkan banyak hal.
Aku tak memikirkan rumah besar.
Aku tak memikirkan kekayaan yang menumpuk.
Aku juga tak membayangkan dikelilingi banyak orang yang sibuk mengabdi.
Aku hanya membayangkan satu hal yang sederhana.
Aku membayangkan kau duduk bersama seseorang yang mencintaimu. Seorang perempuan yang suatu hari akan berjalan ke dalam hidup kita.
Entah siapa dia sekarang, entah di mana dia sedang menjalani hidupnya, entah bagaimana jalan Tuhan akan mempertemukan. Aku tak tahu.
Namun aku membayangkan kita menua bersama. Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan ketenangan. Hanya Ketenangan.
Aku membayangkan sebuah rumah sederhana.
Di belakang rumah itu ada sungai yang mengalir pelan. Airnya jernih, suaranya seperti doa yang terus diulang oleh alam. Di sekelilingnya terbentang sawah yang hijau. Di depan rumah itu ada pegunungan yang menjulang.
Dan di suatu sore yang tenang, kau duduk berdua sambil menikmati secangkir teh hangat.
Tak ada yang perlu dibicarakan dengan terburu-buru disana,
Kau hanya duduk.
Kadang tertawa kecil.
Kadang diam.
Kadang saling menatap
Itu saja sudah cukup.
Aku tak berharap anak-anak atau keturunan
suatu hari harus hidup untuk membalas jasa kita. Mereka bukan investasi yang harus kembali memberi keuntungan. Biarlah mereka hidup dengan jalan mereka sendiri.
Yang kuharapkan hanyalah satu, aku tidak menua sendirian. Aku menua bersama seseorang yang jiwanya dapat berjalan berdampingan dengan jiwaku. Begitukan, apakah kita masih sepaham soal ini wahai pak tua? ku harap masih.
Roy tua,
Ada satu hal yang sangat kuharapkan tak pernah hilang dari dirimu.
Semangat untuk tetap menjadi manusia yang baik.
Tetap setia pada janji.
Tetap teguh pada komitmen.
Tetap memiliki belas rasa kepada manusia lain.
Aku berharap engkau masih menjadi seseorang yang mudah tersenyum kepada orang lain. Seseorang yang tak pelit menebarkan kebaikan, bahkan kepada orang-orang yang tak mengenalmu.
Tetaplah menjadi manusia yang berintegritas. Biarlah waktu mengubah tubuhmu, tetapi jangan biarkan waktu mengikis jiwamu.
Mungkin hanya inilah tiga hal yang inginku titipkan kepadamu wahai Pendongeng tua;
Pertama.
Kalau kau berkata bahwa kau percaya kepada Tuhan, maka tunjukkanlah itu bukan dengan kata-kata, melainkan dengan cara mu mencintai manusia lain, mencintai alam, dan menghormati kehidupan di sekitarmu.
Kedua.
Mensyukuri hidup tak berarti harus selalu melihat ke bawah, dan keinginan untuk maju tidak selalu harus memandang ke atas. Apa pun yang kau terima dari hidup, terimalah sebagaimana hidup itu datang kepadamu. Tidak perlu terlalu menolak. Tidak perlu terlalu menggenggam.
Ketiga.
Tetaplah menjaga kasih.
Di dalam perkataanmu.
Di dalam perbuatanmu.
Bahkan di dalam pikiranmu yang paling sunyi. Karena pada akhirnya, apa arti semua hal yang kau kumpulkan kalau tak ada kasih di dalamnya?
Dan jika suatu hari nanti hidupmu terasa berat, atau sunyi, atau seperti jalan panjang yang melelahkan, aku hanya ingin mengingatkan satu hal kecil kepadamu.
Tidak ada yang abadi di dunia ini.
Tidak kesedihan.
Tidak kegagalan.
Tidak juga kebahagiaan.
Semuanya datang dan pergi seperti musim.
Karena itu, kalau hari-harimu terasa berat, jangan mencoba memaksakan hidup berjalan seperti yang kau inginkan.
Nikmati saja alurnya.
Ikuti saja ceritanya.
Yang penting hanya satu,
jangan sampai engkau kehilangan dirimu sendiri.
Wahai si-pendongeng na matua,
Kau tau dimasa muda ini, ada banyak orang sering bertanya tentang hidup yang baik. Aku selalu heran mendengar pertanyaan itu.
Seolah-olah manusia tahu apa itu “baik”.
Apakah orang yang bekerja setiap hari pasti hidup dengan baik?
Apakah orang yang menganggur otomatis hidup dengan buruk?
Dunia terlalu cepat memberi nama pada sesuatu yang bahkan belum di pahaminya.
Bagiku hidup yang baik jauh lebih sederhana. Hidup yang baik adalah hidup yang berjalan
di jalannya sendiri.
Seekor anjing tak iri pada burung yang bisa terbang. Seekor burung tak memaksa dirinya menjadi ikan.
Hanya manusia aja yang aneh. Sibuk memainkan peran yang bukan miliknya.
Aku sendiri hari ini hanyalah seorang pendongeng yang tak memiliki pekerjaan tetap. Orang mungkin menyebutnya pengangguran. Dunia memang suka memberi label.
Biarlah.
Aku tidak menolak kerja. Aku bahkan merindukan produktivitas seperti orang lain. Tapi aku juga tak akan menyeret diriku ke dalam kehidupan yang bukan milikku hanya agar terlihat pantas di mata banyak orang. Lebih baik berjalan pelan di jalan sendiri daripada berlari cepat menuju garis akhir yang ternyata milik orang lain. Bukan begitu?, semoga tak ada sesal dihatimu atas keputusan masa muda-ku ini yaa
Hidup tak selalu membutuhkan alasan agar
layak dijalani. Jadi nikmati sajalah.
Kalau Tuhan masih membiarkan napas keluar masuk dari tubuhmu, mungkin itu sudah cukup sebagai alasan.
Besok bisa saja pahit.
Besok juga bisa saja manis.
Tetapi bukankah manusia selalu menyukai kejutan?
Kalau kita sudah mengetahui semua yang akan terjadi, hidup akan terasa seperti membaca buku yang sudah kita hafal.
Jadi berjalanlah saja.
Terus berjalan.
Jangan berhenti hanya karena hari ini terasa berat. Karena mungkin saja besok adalah halaman cerita yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya. Karena ketika aku menulis surat ini, aku juga tak tahu seperti apa hidupmu nanti. Aku tak tahu kesedihan apa yang akan kau alami. Aku tak tahu kegembiraan apa yang akan kau temui.
Tapi di situlah letak keindahan hidup. Hari esok selalu datang sebagai kejutan. Pahit atau manis, kita tak pernah benar-benar tahu. Karena setiap hari yang kau jalani sekarang dulu pernah menjadi masa depan yang sama sekali tidak kita ketahui. Dan mungkin saja, wahai diriku yang tua, kehidupan yang sedang kau jalani saat membaca surat ini adalah salah satu kejutan yang dulu membuatku penasaran.
Wahai diriku yang tua,
ketika kau membaca bagian ini, mungkin sebagian orang yang pernah mengenalmu sudah tak lagi berjalan di jalan yang sama denganmu. Ada yang masih mengingatmu, ada juga yang mungkin sudah lupa.
Dan itu tidak apa-apa.
Hari ini aku ditanya satu pertanyaan yang sering membuat manusia sibuk memikirkannya, bagaimana aku ingin dikenang ketika suatu hari nanti aku sudah tidak ada.
Jawabanku ternyata sederhana.
Aku tak ingin merancang bagaimana orang-orang harus mengenangku. Kalau mereka ingin mengingatku, biarlah mereka mengingatku dari apa yang benar-benar mereka tahu.
Dari pertemuan-pertemuan kecil yang pernah terjadi. Dari percakapan yang mungkin bahkan sudah lama mereka lupakan. Aku tidak ingin mendesain kenangan orang lain tentang diriku. Karena manusia selalu membawa versinya sendiri tentang setiap orang yang dia temui.
Ada yang menyukai kita.
Ada yang tidak.
Ada yang mengingat kita dengan hangat.
Ada juga yang mungkin mengingat kita dengan dingin.
Itu sudah menjadi sifat manusia sejak dahulu. Maka biarlah semuanya berjalan biasa-biasa saja. Biarlah setiap orang mengenang dengan caranya sendiri. Karena pada akhirnya, wahai diriku yang tua, manusia tak pernah benar-benar hidup didalam ingatan orang lain. Ingatan itu hanya hidup sebentar di dunia ini, berjalan di jalannya sendiri, lalu pergi.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Wahai si-pendongeng tua,
Sampai di sini saja surat yang bisa kutitipkan kepadamu. Tak banyak yang ingin kusampaikan lagi. Sebab hidup tak pernah benar-benar selesai dijelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa dijalani, sedikit demi sedikit, seperti seorang darwis yang berjalan jauh tanpa tahu persis di mana jalan itu berakhir.
Jika ketika membaca surat ini hidupmu ternyata tidak persis seperti yang kubayangkan hari ini, janganlah terlalu mempersalahkan dirimu.
Bahkan para filsuf pun sering keliru menebak arah angin. Yang penting hanyalah ini,
Jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri.
Kalau nanti kau duduk di rumah kecilmu itu, meminum tehmu dengan tenang, dan hatimu masih mampu merasa cukup, maka sebenarnya hidup telah memperlakukanmu dengan sangat baik. Dan jika tidak demikian, tetaplah berjalan seperti biasa. Dunia ini terlalu luas untuk disesali hanya dengan duduk diam.
Aku yang menulis ini hanyalah dirimu yang masih muda, yang belum tahu apa-apa tentang masa depanmu. Tapi karena itulah aku menulis dengan ringan hati. Sebab segala sesuatu yang akan kau alami nanti, bagiku hari ini masih berupa misteri.
Sebenarnya surat ini sudah selesai.
Tapi sebelum benar-benar kutinggalkan, ada satu hal kecil yang tiba-tiba terlintas di pikiranku.
Bisa saja surat ini tak pernah sampai kepadamu.
Bisa saja perjalanan kita berhenti sebelum rambut sempat memutih, sebelum tangan kita sempat gemetar memegang cangkir teh di teras rumah yang kita bayangkan itu.
Jika itu terjadi, janganlah menganggapnya sebagai kegagalan. Tidak semua perjalanan diciptakan untuk panjang. Ada yang hanya singkat, tetapi tetap lengkap.
Pohon yang tumbang muda tetap pernah merasakan matahari.
Burung yang terbang sebentar tetap pernah menyentuh langit.
Begitu pula manusia.
Karena hidup tak diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tapi diukur dari apakah kita benar-benar hadir ketika kita hidup.
Kalau pun aku tak pernah sampai menua,
biarlah surat ini menjadi salam kecil yang tertinggal di belakangku.
Tanda bahwa aku pernah lewat di jalan ini.
Dan aku menjalaninya dengan sadar. Dan jika memang demikian akhirnya, aku tak akan merasa terlalu dirugikan oleh waktu.
Sebab selama aku masih sempat hidup dengan jujur, bahkan untuk waktu yang tak terlalu lama, itu sudah lebih dari cukup bagi seorang manusia.
Jagalah dirimu baik-baik. Hiduplah sederhana.
Tetaplah mencinta. Dan jika suatu hari kau lupa semua kata-kata ini, tidak apa-apa.
Sekali lagi, asal kau tidak lupa menjadi manusia.
Salam dari masa lalumu
DcM 2026
Komentar
Posting Komentar