Untukmu, disana—
Untukmu, yang masih bersembunyi diantara waktu, aku menulis dengan rasa kagum yang tak terukur.
Aku mengagumimu karena kelembutan yang merayap pada setiap tuturmu, untuk kasih yang mengalir dari setiap gerakmu, untuk perhatianmu yang menembus ruangku, dan laku inisiatifmu yang perlahan menyalakan kehangatan duniaku. Aku belum melihatmu, belum mendengar suaramu, namun hadirmu terasa nyata, sungguh nyata. Kau adalah rindu yang ada jauh sebelum perjumpaan itu menepi, kau cahaya yang menuntun tanganku untuk menulis tanpa melihat, dan aku tahu, tanpa ragu, bahwa kau sungguh ada dalam bayang-bayang hatiku.
Entah dari bagian mana dalam jagad raya ini kedatangan-mu, aku merasa hatiku telah lebih dahulu mengenal langkahmu. Barangkali kita masih terpisah oleh hari-hari yang panjang,
oleh kota-kota yang belum saling menyebut nama, namun aku menulis kepadamu dengan keyakinan yang sederhana, bahwa disuatu tempat dibawah langit yang sama, kau sedang hidup, bernapas,
dan tanpa sadar sedang menumbuhkan alasan mengapa surat ini harus ada.
Dan aku percaya, kau tak hadir dalam hidupku sebagai kebetulan yang lahir dari perjalanan waktu. Jiwamu telah berjalan lebih dahulu diladang sunyi tempat jiwaku belajar mengenal cahaya. Barangkali kita belum saling menyebut nama, namun roh kita telah lama duduk berhadapan dalam keheningan yang sama.
Dan disanalah aku merasakanmu.
Waktu barangkali sedang merapikan jalan kita dengan caranya yang sunyi.
Hari-hari pun berjalan membawa kemungkinan yang belum menampakkan wujudmu.
Aku memandang waktu sebagai ruang luas tempat setiap kehidupan menemukan arahnya sendiri.
Didalam keluasan itu pertemuan kita sedang bergerak pelan, menempuh jalannya yang tenang. Ketika saatnya tiba, kita akan berdiri pada titik yang sama, dan perjumpaan itu terasa wajar, karna memang sejak awal langkah kita diarahkan menuju kesana.
Aku sering berhenti ditengah malam hanya untuk memikirkanmu. Dalam bayangan yang samar itu aku bertanya-tanya bagaimana alam bekerja dengan kesabaran yang rahasia ketika menyulam alismu, ketika menaruh lengkung pada sudut matamu, ketika mengukir senyum yang mungkin lahir tanpa disadari olehmu sendiri. Bahkan dalam rupa yang masih abu-abu itu, kehadiranmu telah mengguncang batinku dengan cara yang tak dapat kutata kembali. Maka aku bertanya, jika bayanganmu saja mampu mengacaukan seluruh ketenteraman hatiku, bagaimana kiranya hari ketika wujudmu yang sesungguhnya berdiri dihadapanku nanti.
Barangkali alam tak bekerja sendirian ketika merancangmu. Mungkin ada serpihanku yang ikut tercampur didalamnya, dan karenanya aku sering merasa ada ruang kosong didalam diriku, maka benarlah sudah bahwa sebagian dari diriku telah lebih dulu berlayar menuju dirimu dan memilih tinggal disana.
Aku membayangkan tangan waktu mengumpulkan bahan yang membentukmu, lengkung alis yang disusun dari keteduhan senja, sudut mata yang dipahat dari kejernihan embun, dan senyum-mu yang lahir dari cahaya terjatuh di permukaan laut. Diantara semua itu terselip pula sesuatu dariku, yaitu sebutir rindu yang belum pernah menemukan rumahnya.
Maka jika suatu hari kau benar-benar berdiri dihadapanku, mungkin aku akan mengenalmu dengan cara yang aneh, aku akan mengumpamakannya dengan seorang pelaut yang akhirnya berjumpa dengan pulau yang selama ini hanya dilihat di peta hatinya. Maka setiap kali bayanganmu lewat dipikiranku, aku merasa sedang mengingat sesuatu yang belum pernah terjadi. Seolah-olah alam telah lebih dulu mengenalkan kita dalam diam, jauh sebelum langkah kita benar-benar saling menemukan.
Namun sebelum waktu benar-benar mempertemukan kita, izinkan aku mengatakan sesuatu yang sederhana.
Aku bukan lelaki yang datang dengan tubuh yang utuh. Didalam diriku tersimpan banyak bekas perjalanan, juga peristiwa-peristiwa lama yang pernah menampar hidupku bagai gelombang yang datang tanpa peringatan. Lukaku telah menjadi parut. Karena itu kalau suatu hari langkahmu benar-benar berdiri didekatku, bersabarlah sedikit. Aku seorang pelaut yang masih sedang belajar merawat tubuhnya sendiri setelah badai panjang.
Jika kau tetap tinggal disisiku pada hari-hari yang sunyi itu, barangkali laut yang pernah membuatku terluka perlahan akan berubah menjadi tempatku pulang.
Dan justru dari semua kehancuran yang pernah kulewati itu, aku mengerti satu hal yang tak pernah akan kutawar lagi.
Kalau nanti waktu benar-benar mempertemukan kita, aku akan mencintaimu habis-habisan tanpa syarat. Bukan sekadar singgah ditepian hatimu,
tapi tinggal sepenuhnya disana.
Hidup telah terlalu lama mengajariku bagaimana rasanya kehilangan arah ditengah laut ini, bagaimana rasanya berdiri sendirian digeladak setelah badai memporak-porandakan segala yang pernah kupercaya. Dari reruntuhan itu aku belajar menjaga sesuatu dengan seluruh napas yang kupunya. Aku akan memberikan seluruh yang tersisa dari diriku. Apa-pun itu. Bahkan bagian-bagian sunyi yang selama ini kusimpan rapat setelah badai hidup meruntuhkanku. Aku telah terlalu lama berjalan sendirian di laut yang keras ini, maka bila kau datang pada hari yang ditentukan oleh waktu, aku akan mencintaimu dengan seluruh hidupku, sampai tak ada lagi yang tersisa dariku selain namamu yang berdiam tenang didalam dadaku.
Karena itu aku hanya memiliki satu permohonan yang sederhana padamu, meskipun bagiku ini terasa sebesar samudra yang pernah kutempuh. Jika suatu hari waktu benar-benar mempertemukan kita, janganlah meninggalkanku seperti yang sudah-sudah terjadi dalam hidupku.
Aku terlalu sering berdiri di pelabuhan yang sama, menyaksikan orang-orang yang pernah kupercayai perlahan menghilang digaris cakrawala. Setiap kepergian itu meninggalkan ruang kosong yang lama sekali pulihnya. Maka kalau kau benar-benar datang kedalam hidupku, tinggallah sedikit lebih lama dari badai yang pernah memisahkanku dari banyak hal itu. Biarkan aku akhirnya mengenal bagaimana rasanya berlabuh tanpa takut suatu pagi pelabuhan itu kembali sunyi.
Biarkan saja alam yang kelak menentukan sampai dimana perjalanan kita akan berakhir. Kita berjalan bersama selama langkah masih mampu menapaki bumi ini, sampai suatu hari salah satu dari kita tak lagi sanggup menembus batas dimensi yang memisahkan hidup dari keheningan. Begitulah rumus dunia yang tidak pernah berubah, tak ada manusia yang benar-benar dapat hidup selamanya untuk seorang yang dia cintai. Kau tak akan bisa terus tinggal untukku, dan aku pun tak akan mampu selamanya berdiri disisimu. Kematian selalu berjalan dibelakang setiap kehidupan, sabar menunggu waktunya sendiri. Maka selama napas masih berlayar didada kita, marilah saling tinggal. Hingga pada suatu hari yang getir, salah satu dari kita harus melanjutkan perjalanan sendirian, sementara yang lain telah lebih dahulu menyeberang ke sunyi yang tak lagi dapat dijangkau.
Kematian bagiku selalu seperti pelabuhan yang berdiri jauh di ujung kabut.
Kita berlayar sepanjang hidup tanpa pernah benar-benar tahu didermaga mana kapal ini akan berhenti. Angin membawa kita dari musim ke musim yang lain, dari luka ke luka yang lain, sampai suatu hari laut menjadi sangat tenang dan layar tak lagi bergerak. Pada saat itulah manusia memahami sesuatu yang selama ini dihindarinya,
bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat diantara dua keheningan yang besar.
Jika kelak aku lebih dahulu tiba di pelabuhan itu, janganlah kau menyebutnya kehilangan. Anggap saja aku sedang berlabuh lebih dulu, menunggumu ditepi cahaya lain, sementara kau masih meneruskan pelayaranmu di lautan dunia ini.
Maka jika suatu hari langkahmu juga sampai pada batas yang sama, dan dunia perlahan menjauh dari penglihatanmu, janganlah gentar. Aku akan berada di tepi dermaga keabadian itu, diam menunggu. Menunggumu kembali dari samudra yang jauh. Disana tak ada lagi riuh kehidupan yang mengoyak hati, hanya cahaya yang tenang dan angin yang membawa kenangan kita melintasi waktu. Wahai pujaan-ku, aku akan menunggumu dengan kesabaran yang panjang, seperti telaga kering yang setia menanti turunnya hujan dari balik awan gelap. Dan ketika kau akhirnya tiba di dermaga itu, kita tak lagi perlu saling mencari diantara keramaian.
Kita hanya akan berdiri berdekatan dibawah langit yang abadi, memandang samudra yang dulu kita layari, sambil memahami bahwa segala luka, segala rindu, dan seluruh perjalanan panjang ini ternyata sedang menuntun kita menuju pertemuan yang tidak lagi mengenal perpisahan.
Baiklah, mari kita tinggalkan percakapan tentang kematian untuk sementara. Malam terlalu indah untuk terus memikirkan pelabuhan terakhir itu. Sejujurnya yang membuat hatiku gentar bukanlah kematian, akan tetapi perpisahan yang pernah datang berkali-kali dalam hidupku. Luka itu masih tinggal ditubuhku, diam seperti bekas tali yang lama mengikat pergelanganku.
Tapi sebelum bayangan perpisahan itu kembali menemukan kita, izinkan aku mengajakmu pada sebuah pengembaraan yang panjang. Kita akan berjalan seperti dua pengelana yang tak terburu-buru, melewati kota-kota yang belum pernah kita kenali, menatap laut yang luas, dan kita akan berjalan menertawakan keseriusan dunia dengan mata yang jernih, sambil belajar bahwa hidup menjadi lebih ringan ketika dua jiwa memilih berjalan diarah yang sama.
Dalam perjalanan panjang itu, aku tak pernah memaksakan dunia untuk memberi kita bentuk yang sama seperti orang lain. Jika hari-hari kita kelak berjalan tanpa suara anak yang memanggil ayah atau ibu, biarlah itu tetap menjadi hari yang utuh bagi kita berdua. Kita akan menikmati waktu seperti dua pelaut yang duduk di dek kapal pada senja hari, memandang laut yang luas sambil membiarkan angin membawa cerita-cerita kecil diantara kita.
Cinta tak selalu harus melahirkan kehidupan baru agar menjadi berarti. Bagiku kita cukup hadir sebagai dua hati yang saling mengikat, saling menjaga nyala satu sama lain ditengah dunia yang sering kehabisan hangatnya. Dan jika suatu hari dunia memberi kita hadiah berupa seorang anak yang lahir dari pertemuan cinta itu sendiri, kita akan menerimanya seperti pelaut yang menemukan pulau indah setelah pelayaran panjangnya, sebuah anugerah yang tak pernah kita tuntut, namun kita syukuri ketika dia benar-benar datang. kita akan menerimanya sebagai hadiah yang lahir dari kedalaman cinta itu sendiri. Namun sebelum semua kemungkinan itu datang, aku hanya ingin menikmati perjalanan ini bersamamu, hari demi hari, langkah demi langkah, tanpa tergesa-gesa mengejar bentuk yang diinginkan dunia.
Sayangnya, dalam sunyiku yang panjang, aku merasa kau hanya tumbuh perlahan dari kabut pikiranku sendiri. Sebuah bayangan yang mula-mula samar, lalu tinggal diam didalam batinku, seakan kau benar-benar hidup disisiku. Tapi kalau pada akhirnya kau memang tak pernah nyata, jika memang namamu hanya berdiam diruang-ruang batinku, maka biarlah kehampaanku menjadi akibat dari ketidakhadiranmu.
Sungguh aku tak akan meratapinya.
Sebab bahkan sebagai hayal pun,
kau pernah memberi arah bagi langkah-langkahku. Kau pernah membuat hari-hariku bergerak dengan harapan yang pelan. Dan bagi seorang pengembara yang lama berjalan sendirian, itu sudah cukup untuk membuat dunia-ku terasa sedikit lebih hidup.
Sungguh, aku tak-kan meratapi ketidaknyataanmu. Ditepi lautan hidup ini, aku belajar dari pasir yang menyapa debur ombak. Setiap butirnya datang dari perjalanan panjang batu-batu yang pernah dihancurkan oleh waktu. Mereka tiba tanpa keluhan, berbaring dipantai seperti kisah-kisahku yang telah kuceritakan itu.
Karenanya, jika kau memang hanya hidup didalam kabut pikiranku, biarlah kau tinggal disana sebagai jejak yang perlahan ditelan angin laut. Aku tak akan mengejarmu, tidak pula akan memanggil namamu. Aku akan duduk saja disini, menelusuri garis-garis kecil dipasir dengan ujung jariku, dan menyulam kesunyian dengan butir-butir yang sabar. Barangkali suatu hari ombak akan datang lebih jauh dari biasanya, meratakan semua jejak yang pernah kutulis disana. Mungkin pula pasir ini akan kembali menjadi sunyi tanpa namamu. Namun laut tetap bernapas seperti semula, dan aku masih akan duduk di tepinya, memandang cakrawala yang luas, membawa namamu dihati terdalam-ku.
Sekali lagi, kalau memang kau hanya hadir ditepi pikiranku dengan cara yang tak selalu nyata, biarlah aku menua membawa namamu disetiap garis wajah yang terus menipis. Jikapun kau sungguh senja terakhirku, aku akan berjalan kearah malam menghindari cahaya-mu, meski malam itu datang tanpa kau disisiku.
Aku akan menatap bintang-bintang, mengingat senyummu yang pernah singgah, dan membiarkan rambutku memutih perlahan dalam bayangmu yang selalu menyapa. Kau hadir dan pergi dalam satu tarikan napas dunia, karnanya aku belajar menapaki setiap langkah ini menyimpanmu dalam diam, dan merasakanmu dalam sunyi.
Aku boleh saja merasa hidup ini telah menenun benang yang sama untuk kita berdua. Seolah ada ruang kecil didunia ini yang seharusnya memanggil namaku dan namamu. Aku untukmu, dan kau untukku, sebuah kemungkinan yang tumbuh perlahan, namun tak pernah benar-benar diminta oleh waktu untuk
di-nyatakannya menjadi rumah.
Aku melihat dua garis ombak berjalan berdampingan menuju cakrawala.
Kau tahu, kedua ombak itu lahir dari laut yang sama, bergerak dalam irama yang seolah saling mengenal, tapi pada akhirnya angin membawa mereka ke arah yang berbeda. Tak ada yang patah disana.
Hanya ada perjalanan yang memilih takdirnya sendiri.
Meski begitu, kalau pun suatu hari nanti kabut menutup seluruh cakrawala, dan dunia tak lagi memperlihatkan bentukmu, aku tetap akan berdiri di tepi laut ini dengan rambut yang telah memutih oleh waktu.
Bukan untuk memanggilmu kembali.
Bukan...
Bukan pula untuk mencari kepastian yang telah memilih takdirnya, dan bukan pula untuk mendagingkan rohmu.
Aku hanya akan berdiri disana mengenangmu. Sebab bagi seorang pendongeng sepertiku, satu namamu saja sudah cukup untuk membuat seluruh kisahku penuh.
Maret 2026
Poltak Pendongeng Miskin———
Komentar
Posting Komentar