Hari berganti seperti biasa. dan jum'at datang lagi.
Pagi tadi sebenarnya aku udah bangun lebih awal, tapi seperti kebiasaanku belakangan ini, aku tidur lagi. Beberapa minggu ini memang kekgitu.
Dimasa prapaskah ini kucoba satu kebiasaan kecil, bangun agak siang dikit supaya aku makan hanya sekali dalam sehari. Sebetulnya dari dulunya awak sering makan sekali sehari, tapi itulah, kadang tengah malam tangan ini suka juga cari jajanan kecil di Maduro depan. Jadi sekarang kucoba dulu menata ulang ritme hari-hariku dengan cara yang sederhana itu. Bangun siang, makan sore.
Siang itu aku sempat lama duduk sambil memegang handphone. Seperti biasa, aku cuma scroll-scroll saja. Kadang buka berita, kadang lihat video, kadang dengar lagu.
Entah kenapa hari ini banyak kali berita tentang perang. Berita tentang Israel, Amerika, dan Iran. Hampir semua portal menampilkan hal yang sama. Ada serangan udara, ada balasan rudal, ada kota yang dibom, ada juga orang-orang yang kehilangan rumah dan keluarga. Memang beberapa hari terakhir ini konflik di Timur Tengah itu lagi panas-panasnya. Serangan Israel dan Amerika ke Iran bahkan memicu balasan rudal dan memperluas konflik di kawasan itu. Awak pun sampai was-was, apalagi kata si Bahlil di tipi kalau cadangan minyak hanya tahan 20 hari. Apa nggak makin ngeri awak yakan.
Jadi ku bacalah beberapa judul berita itu tanpa terlalu lama memikirkannya, sambil bergumam pulak dalam hati,
“Kapanlah rudal mereka ini nyasar dikit ke sini,” gumamku. Aku sendiri langsung tersenyum setelah mengucapkannya dalam hati. Memang gumaman orang loak. Sipata manusia memang begitulah ya.
Aku kembali menaruh handphone di dada, menarik napas sebentar, lalu membuka lagi.
Scroll lagi. Berita lewat, video lewat, lagu lewat.
Begitulah siang itu berjalan pelan. Sampai akhirnya kampung tengah mulai mengingatkan kolok sudah waktunya makan.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, sekitar jam empat sore aku pun langsung cuss kewarung Ibu Sukarti.
Warungnya nggak jauh dari biara, masih satu komplek. Dari jauh sudah kelihatan Ibu Sukarti sibuk di depan wajan. Bau gorengan menyambut lebih dulu. Ada pisang goreng, bakwan, tempe. macam-macamlah.
Aku masuk lewat dapur.
“Samlekomm,” kataku.
“Waalaikumsalam,” jawabnya dengan ramah seperti biasa.
Kami ngobrol sebentar. Aku sempat menanyakan soal plafon rumahnya yang beberapa waktu lalu ambruk.
“Sudah selesai Bu, dikerjain tukangnya?”
Si-ibu hanya ketawak kecil.
“Belum. Biarin aja lah, pelan-pelan dikerjain.”
Aku mengangguk saja. Tanganku langsung melesap mengambil satu tempe goreng dari nampan.
Masih hangat, baru diangkat pula. Langsung kuharat sedikit sambil berkata santai, “Bu, aku bungkus ya seperti biasa.”
Mataku lalu tertuju ke panci di samping kompor.
“Oh, Ibu masak terong hari ini?”
“Iya,” katanya.
Aku langsung tersenyum. Ibu Sukarti sudah tahu betul kalau terong balado adalah sayur kesukaanku. Tanpa perlu banyak penjelasan aku langsung memesan seperti biasanya.
“Telur dadarnya dulu njjih, Bu. Nanti diatasnya siram terong baladonya. Jangan lupa dua bergedel pengiringnya.”
“Oke,” katanya sambil mulai menyiapkan bungkusnya.
Tak lama kemudian makananku sudah siap.
Aku kembali ke biara, membuka bungkus itu, lanjut makan sambil menonton di Netflix. Sederhana saja yakan, tapi rasanya cukup menyenangkanlah.
Setelah makan, waktu sudah mendekati sore.
Hari ini Jumat pertama dalam masa prapaskah.
Di gereja kami ada ibadat jalan salib. Aku sempat berpikir mau pergi ke Banyumanik. Tapi rasanya waktuku sudah agak mepet. Kalau ke GKPS Marsermon masih cukup longgarlah memang.
Aku berdiri di kamar sambil berpikir sebentar. Habis itu entah kenapa aku melakukan cara yang agak laen, Mar-sanggarpit/cap cip cup kalau versi Indonesianya.
Cap cip cup pertama jatuh ke Banyumanik.
Cap cip cup kedua jatuh ke GKPS.
Cap cip cup ketiga jatuh lagi ke GKPS.
“Ya sudah,” kataku dalam hati. “Berarti ke GKPS.”
Aku langsung ganti baju, jalan keluar menuju halte BRT feeder, tempat yang biasa kupakai kalau mau pergi ke mana-mana.
Belum jauh aku jalan, tiba-tiba pulak hujan turun deras kali. Untung aja aku udah sedia payung sebelum hujan. Jadi amanlah. Tapi, anginnya agak kencang pulak, payung awak kekecilan sebenarnya. Jadinya tasku tetap aja kena air.
Tapi ga apa-apa, aku memang senang marudan-udan.
Pas ditengah jalan itu berpapasan pulak aku sama si-Dion. Dia juniorku, orang Batak dari Dolok Sanggul. Anak yang selalu ramah, dan juga rajin berdoa, katanya;
“Aning tudia abang ?” katanya sambil setengah berlari menahan hujan.
Aku menjawab cepat, “Naing olahraga jo.”
Padahal sebenarnya aku mau ke gereja, mau ikut sermon. Tapi entah kenapa yang keluar dari mulutku malah kek gitu. Ah biarlah pikirku.
Kami saling menyalami sebentar.
“Parjolo au da anggiaa,” kataku.
“Olo-olo bangdaa,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku melanjutkan langkah sampai ke halte.
Belum sempat benar-benar menunggu, BRT feeder sudah datang. Di situ juga ada beberapa ibu-ibu yang tadi sempat tersenyum padaku di pinggir jalan. Kami naik bersama.
Seperti biasanya aku langsung duduk dikursi depan. Aku memang selalu memilih duduk didepan dekat Sopir. Dari situ aku bisa melihat jalan lebih jelas, lebih privat jugalah memang.
Ku bilang sama kondekturnya,
“Umum, Mas!!!.”
Kalau umum bayar empat ribu. Kalau mahasiswa hanya seribu.
“Saya turun Tengger nanti ya,” kataku lagi.
Dia mengangguk, lalu bus kembali bergerak menembus hujan yang masih turun deras di luar.
Sore itu hujan turun mayan lama. Setelah duduk dikursi depan BRT, persis di samping sopir, kondektur memberikan karcis kecil kepadaku.
Di situ tertulis, Penumpang Umum Rp 4.000.
Karcis itu kusempilkan saja di tangan, lanjut ku buka handphone. Seperti biasa, aku menghubungkan Bluetooth ke earphone untuk dengar-dengar musik sepanjang jalan.
Di luar, hujan semakin menjadi-jadi. Jalanan patung kuda memang hampir selalu macet kalau sore. Lampu merah terasa lama. Kendaraan menumpuk pelan-pelan. Tapi untuk-ku perjalanan itu justru terasa santai-santai aja. Udah ku siapkan kian playlist di YouTube sebelumnya. Salah satu lagunya dari Chrisye mulai mengalun di telinga.
Aku bersandar sedikit di kursi, menikmati musik itu, menikmati perjalanan yang pelan, dan menikmati hujan yang jatuh di kaca depan bus.
Sesekali aku melihat keluar. Air hujan memantul dijalanan, lampu kendaraan menyala samar ditengah gerimis yang rapat. Suasana kayak gini membuat perjalanan terasa tenang. Tak ada yang perlu dikejar.
Hampir satu jam kemudian, BRT akhirnya berhenti di Halte Tengger. Letaknya persis dekat dengan gereja GKPS. Aku berdiri, lalu seperti biasa mengucapkan terimakasih kepada sopir dan kondektur.
“Mas, terima kasih ya.”
“Monggo,” jawab mereka.
Aku turun dan berjalan kaki menuju gerbang gereja. Di halaman sudah ada beberapa orang. Beberapa majelis juga sudah datang. Aku sempat heran melihat mereka datang lebih cepat dari biasanya. Seringannya selalu molornya ketua-ketua ini pikirku. Ku cek jam di tanganku masih menunjukkan sekitar pukul enam kurang, Oh okay pikirku.
Ternyata mereka-mereka sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. Hari Minggu nanti akan ada pesta ulang tahun Seksi Inang, jadi beberapa ibu-ibu datang lebih awal untuk latihan gan.
Aku hanya mengangguk kecil dalam hati. Langsunglah pula aku masuk ke dalam gereja, menuju ruang musik. Disana aku menyalakan keyboard. Seperti biasa, aku memainkan beberapa nada santai. Tak ada lagu tertentu, hanya bermain-main dengan akor, ya mengisi waktu sambil menunggu orang-orang datanglah.
Perlahan gereja mulai ramai. Para ibu, para majelis, dan beberapa rekan muda mulai berdatangan satu per satu. Setelah itu aku berjalan menuju ruang konsistori. Di sana para majelis sudah duduk berkumpul.
Joss sang ketua Namaposo, langsung memanggilku.
“Bang, jadi moderator ya malam ini.”
“Oke,” jawabku ringan.
Hal seperti itu memang tak pernah terlalu kupikirkan lama. Sermon pun dimulai.
Aku memimpin jalannya diskusi dengan sederhana saja. Tiga termin pertanyaan dari peserta, lalu diskusi berjalan sebagaimana biasanya.
Vikar menjelaskan materi. Di sana juga ada Pendeta Gomgom dan Pendeta Merry Rungkat Purba yang ikut menyertai jalannya sermon lucu itu.
Semua berjalan lancar, dan seperti biasa tak ada yang spesial.
Setelah sermon selesai, suasana berubah sedikit lebih santai. Di tengah percakapan basa-basu itu, Inang Voorhanger siratu Elizabeth, datang mendekat. Beliau salah satu sahabat dekatku di gereja yang problematik ini, katanya;
“Tangar gek, au laomar puisi,” katanya.
Dia bilang ingin membacakan puisi. Tapi dia juga bertanya, siapa kira-kira yang cocok membacakan puisi itu. Kalau bisa anak muda ma nian gan.
Aku tertawa kecil.
“Coba inang bacakan dulu puisinya,” nikkuku.
“Ase hu tangar lobei gan.”
Akhirnya belio mulai membaca. Puisi itu tentang seorang ibu. Isinya cukup dalam. Tentang pengorbanan, tentang cinta seorang ibu, yang semuanya bagai sang surya menyidari dunia.
Yaa aku langsung mendengarkan dengan serius.
Inang itu memang sering begitu. Kadang suka mengirim video dirinya membaca puisi, atau videonya meng-konduktori sebuah paduan suara kaum ibu yang suaranya goyang sana sini.
Dia memang menyukai hal-hal seperti itu.
Apa yaa, pengen kali diapresiasi tong gek.
Tapi yasudah, kalau itu yang buat belio senang maka akan ku lakukan. Ku puji caranya membacakan puisi, dia senyum tampak bahagia. Dop, au pe malas ma uhurkai mangidah inang ai malas uhurni
Setelah selesai, aku berkata pelan,
“Naha anggo martaur-taurlah kam, nang?”
Taur-taur dalam tradisi Simalungun itu semacam ratapan. Suaranya seperti menangis, tetapi sebenarnya itu sebuah bentuk seni. Sebuah cara menyampaikan rasa dengan nada yang panjang dan penuh getaran.
Inang porenjer langsung tertawa. Tanpa banyak pikir, dia langsung mencoba. Spontan saja belio langsung meratap dengan cengkok Simalungun yang khas. Suaranya panjang, legato, naik turun, mendayu-dayu songon halak na matean huting.
Aku tertawa mendengarnya, tapi juga menikmati. Bagiku saat-saat seperti itu sederhana saja.
Kalau sesuatu membuat orang lain senang, aku cukup mendengarkan. Begitulah malam itu berjalan.
Tak lama kemudian aku mencari Novi Girsang.
“Nang, kau pulang sama siapa?” tanyaku.
“Sendiri, Bang.”
“Kalau begitu nanti aku nebeng pulang ya.”
“Oke, Bang. Nantiku panggil kalau mau pulang.”
Aku lanjut markombur dengan beberapa orang. Waktu berjalan tanpa terasa. Sekitar pukul sepuluh lewat lima belas, si-Novi akhirnya memanggilku pas aku lagi asik berbicara dengan Romo Wirandus, dan beberapa rekan lain.
“Bang, ayo pulang,” katanya.
“Oke, mari,” jawabku.
Kami keluar menuju parkiran. Di sana aku bertemu Roynat, adikku yang rajin ini terlihat sedang batuk-batuk.
“Kau kenapa?” tanyaku sambil menepuk pelan pundaknya.
“Kurang enak badan ya,” tambah-ku
“Kau harus banyak minum air putih anget. Istirahat yang cukup. Jangan suka hujan-hujanan.”
“Iya, Bang,” jawabnya.
si-Novi sardolok sudah menunggu didekat motornya. Dia mendesakku untuk segera berangkat. Aku pun naik ke motor Mio pinjamannya itu. Kami melaju keluar dari halaman gereja, melewati jalan yang masih sedikit basah dari sisa hujan sore tadi. Perjalanan pulang terasa tenang. Angin malam menyentuh wajah. Lampu-lampu jalan menyala di sepanjang jalan menuju biara Murti tercinta.
Nggak lama kemudian aku sudah sampai lagi ditempatku tinggal. Setelah masuk ke kamar,
aku duduk sebentar. Lanjut aku mulai menuliskan semua ini. Ku-punguti lagi jejak-jejak langkah yang sejak pagi kutinggalkan. Tak ada kejadian yang tampak besar disana. Hanya perjalanan kecil, percakapan sederhana, hujan sore, dan wajah-wajah yang sebentar datang lalu pergi.
Tapi didalam kesunyian malam kayak gini, semuanya itu terasa seperti sedang menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada yang sempat kusadari ketika menjalaninya.
Aku terbiasa memahami bahwa hidup manusia berjalan seperti seorang musafir yang menapaki jalan panjang tanpa peta ditangannya. Berjalan, berhenti, berbincang dengan orang-orang yang ditemuinya, lanjut berjalan lagi. Pada suatu waktu baru mengerti bahwa setiap langkah yang tampak biasa ternyata adalah bagian dari pelajaran yang perlahan-lahan membentuk jiwanya. Dan hari ini aku merasa seperti musafir itu. Dari warung kecil Ibu Sukarti, di hujan yang membasahi payungku, di-BRT yang membawaku melewati kemacetan sore, sampai pada doa di gereja yang problematik itu, semuanya seperti potongan kecil yang menyatu menjadi satu perjalanan batin yang tak terlihat.
Dunia di luar sana sedang ribut oleh perang dan ambisi manusia. Aku sempat membaca berita tentang rudal, tentang negara yang saling mengancam dari kejauhan. Aku bahkan sempat bergumam konyol dalam hati, membayangkan bagaimana jika salah satu rudal itu tersesat sedikit dan jatuh di tempat lain. Tapi setelah malam ini, aku mengerti sesuatu yang lain. Manusia sibuk memikirkan dentuman besar yang mengguncang dunia, padahal kehidupan sesungguhnya sering bergerak dalam keheningan yang hampir tak terdengar. Tuhan tidak selalu hadir dalam peristiwa yang mengguncang langit. Dia sering berdiam dalam langkah-langkah kecil yang kita jalani tanpa sadar.
Barangkali itulah sebabnya aku mencintai perjalanan sederhana. Aku tahu, dan semakin sadar bahwa jiwa manusia tumbuh bukan dari peristiwa besar, tapi tumbuh dari hari-hari biasa yang dijalani dengan kesadaran yang pelan. Sebagai mana tawa Inang Voorganger yang membacakan puisi, sebagai mana sapaan teman di tengah hujan, dan sebagai mana perjalanan pulang di atas motor tebengan. Semua itu bagai butir-butir kecil yang menetes ke dalam hati, lalu perlahan membentuk kedalaman yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Karena itu, waktu aku menutup catatan hari ini,
aku merasa sedang menutup sebuah halaman kecil dari kitab kehidupan yang lebih luas. Tidak ada puncak yang kutaklukkan hari ini, tidak ada jawaban besar yang kutemukan, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang spektakuler, tidak ada kejutan yang mengharukan, tidak ada rasa untuk diakui, tidak ada yang harus ditunjukkan. Tapi... sungguh tapi, didalam kesunyian malam ini, ada satu kesadaran yang ku pahami, bahwa hidup manusia berjalan seperti doa yang panjang, melangkah dari satu hari ke hari berikutnya,
dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, dan tanpa kita sadari, seluruh perjalanan itu sedang menuntun jiwa kita menuju kedalaman yang bahkan belum kita mengerti sepenuhnya.
Begitulah hari Jumatku hari ini. Cerita sederhana dari satu hari yang berlalu. Terimakasih sudah membacanya. Mari kita modom, alamakk nikmat betol jadi Pengangguran ini.
hari Jumat diawal maret,
—Poltak Pendongeng Miskin
Komentar
Posting Komentar