April 2022, beberapa hari sebelum Lebaran.
waktu itu ramadhan sedang berada di ujungnya,
Orang-orang tengah sibuk menyiapkan diri menyambut hari yang dinanti-nantikan.
Sementara siang itu, sekitar pukul 11.30,
aku melangkah keluar dari Biara Murti ini tanpa pamit kepada siapa pun. Padahal di biara banyak kawan-kawan akrabku, ada si-Jovi, Ivander, Pahotan, Awan, Yudi, Jawak, dan lainnya.
Mereka tetap tinggal di lorong sunyi itu,
sementara aku memilih berjalan menjauh, membawa keputusanku yang sudah bulat.
Di luar gerbang tidak ada yang menungguku. Lorong biara tetap sama seperti biasanya, panjang, lembab, dan beberapa temboknya mengelupas udah kayak kulit yang kering kerontang.
Tapi tempat itu selama ini menjadi ruangku merenungkan hidup, ruang tempat aku belajar diam, dan belajar arti segalanya. Sebentar aku menoleh, sambil mengingat-ingat barangkali ada yang tertinggal, dan memastikan bahwa langkahku benar-benar sudah dimulai.
GoJek yang sebelumnya kupesan membawaku menuju Stasiun Tawang. Siang itu panas sekali. Matahari seperti persis menggantung tepat di atas kepala, membuat jalan memuai bedengkang panas. Meski begitu, aku tidak tenggelam dalam pikiran apa pun. Hatiku ringan, bahkan riang gembira, karna ku tahu aku sedang menuju kembara lintasan yang panjang.
Di punggungku ada carrier gunung 65L,
sebagai teman lama yang telah menemaniku dibanyak pengembaraan. Di tanganku ada ransel biru yang sampai sekarang masih andalanku, ransel ini sebelumnya ku pinjam dari si pander, tapi sampai sekarang lanjar loss, ku anggap aja sebagai kenang-kenangan dari anak itu.
Di dalam tas-tas itu yang ku bawa bukan hanya pakaian, ada juga matras, sleeping bag, dan perlengkapan gunung. Aku terbiasa tidur di mana saja, di emperan, di terminal, di tanah terbuka,
di hutan, entah dimana pun. Bagiku, bumi selalu menyediakan tempat berbaring bagi siapa pun yang berani mempercayainya. Sementara tiket kapal sudah kupesan sebelumnya di burjo Periangan, tak jauh dari biara tempatku tinggal.
Sore itu Stasiun Tawang dipenuhi banyak manusia. Arus mudik mengalir deras, H-4 sebelum Lebaran. Orang-orang membawa koper, kardus, tas besar, dan wajah-wajah lelah mereka tetap menyimpan kegembiraan untuk pulang. Aku berada di tengah mereka sebagai seorang pengembara yang tidak sedang pulang, namun ikut menikmati kegembiraan tahunan itu.
Kereta ekonomi-ku menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi berangkat sekitar pukul 12.30.
Saat roda mulai bergerak, tidak ada rasa berat di dadaku. Aku justru bahagia karena menjadi bagian dari perjalanan manusia-manusia lain, meski tujuan kami berbeda. Aku duduk di dekat jendela. Di sekelilingku orang-orang berbincang santai, saling berbagi cerita mudik, dan berbagi harapan untuk hari raya yang segera datang. Lantas aku ikut larut di dalamnya, meskipun aku sendiri tidak merayakan Lebaran. Euforia itu tetap terasa hangat, bagai api unggun yang tidak menanyakan siapa yang duduk di sekelilingnya.
Di depanku duduk sepasang orangtua dari Cirebon yang hendak mengunjungi anak mereka di Surabaya. Bapak itu berbicara dengan suara pelan, seolah-olah setiap kata telah lama dipikirkannya.
Beliau berkata bahwa tidak selalu anak yang harus pulang kepada orangtua. Orangtua pun boleh berjalan menuju anaknya, membawa rindu mereka sendiri, untuk merayakan kebersamaan di tempat yang baru. Oh okay, gumamku dalam hati. Kalimat sederhana itu tinggal lama di dalam benakku. Bagi mereka, ada cinta yang tidak menuntut untuk ditunggu. Rindu mereka memilih berjalan sendiri.
Kereta kami terus melaju, melewati sawah, dan kota-kota kecil yang dilaluinya, bersamaan dengan itu langit sore perlahan berubah warna.
Aku bersandar pada kursi, memandang dunia yang bergerak mundur di balik jendela, dan merasakan bahwa perjalanan ini bukan soal perpindahan dari satu kota ke kota lain. Walau aku tidak tahu apa yang menunggu di depan. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sepenuhnya hidup, bergerak, bernapas, dan terbuka terhadap apa pun yang akan datang.
Akhirnya ular besi ini membawaku tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi ketika hari telah jatuh ke dalam gelapnya. Perjalanan sekitar empat setengah jam itu terasa singkat, seakan-akan waktu ikut pula tergesa bersama arus mudik yang memenuhi rel-rel Kereta. Ketika aku melangkah turun, stasiun sudah dipenuhi lautan manusia, banyak wajah yang membawa rindu pulang, tubuh-tubuh manusia itu bergerak cepat seperti dikejar sesuatu yang tak terlihat.
Udara Surabaya masih menyimpan panas siang, bercampur dengan napas ribuan orang yang berlalu-lalang. Lampu-lampu stasiun menyala terang, memantulkan kilau pada koper, kardus, dan tas besar yang diseret kian kemari.
Di tengah hiruk pikuk itu, aku melihat para sopir taksi berdiri berjejer di luar, menawarkan jasa dengan suara yang saling tumpang tindih.
Namun di antara mereka, ada seorang bapak tua yang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri diam di depan peron keluar, tubuhnya sedikit condong khas seseorang yang telah menempuh hari yang panjang. Usianya mungkin sekitar enam puluhan. Wajahnya datar, letih, kayak kertas yang terlalu sering dilipat kenyataan hidup. Dia tak memanggil penumpang, tidak mengangkat tangan, apalagi bersuara. Sepertinya dia sudah menyerahkan urusan rezeki kepada sesuatu yang lebih besar dari usahanya sendiri.
Aku berjalan mendekatinya.
“Pak, bisa antar saya ke pelabuhan Tanjung Perak?”
Wajahnya berubah seketika. Matanya hidup, senyumnya merekah seperti pintu yang baru dibuka.
“Oh bisa, Mas… bisa.”
Nada suaranya hangat, penuh kesiapan, seakan seluruh kelelahan tadi hanya selimut tipis yang langsung terlepas ketika kesempatan datang.
Aku tidak menanyakan harga, tidak menawar. Dalam perjalanan seperti ini, aku tidak pernah menghitung angka. Aku percaya bahwa setiap perjumpaan memiliki nilai yang tidak dapat ditulis dengan rupiah.
Kami berjalan menuju mobilnya, sebuah Ertiga berwarna abu-abu. Interiornya bersih dan terawat, tanda bahwa kendaraan itu bukan hanya alat mencari nafkah, juga bagian dari hidupnya sendiri. Beliau membukakan pintu dengan sopan, lalu duduk di kemudi dengan gerakan yang tenang, terlihat sebuah rutinitas yang telah diulang ribuan kali.
Mobil bergerak meninggalkan stasiun, menembus jalan-jalan Surabaya yang masih sibuk meski malam telah turun. Dan dari samping aku mendengarkan suaranya yang mulai bercerita.
Dia bukan orang asli Surabaya. Ia perantau dari daerah lain di Jawa Timur, datang ke kota ini untuk mencari hidup, seperti banyak orang yang meninggalkan kampung halaman demi secercah harapan. Beliau bercerita tentang kerja, tentang keluarga, tentang kerasnya kota, dan tentang bagaimana hari-hari berjalan tanpa banyak pilihan selain harus terus bertahan. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Disitu ada kejujuran dalam suaranya, kejujuran yang hanya dimiliki orang yang telah lama berdamai dengan kenyataan.
Perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Perak ternyata tidak jauh. Hanya sekitar dua puluh menit. Tapi dalam waktu yang singkat itu, aku merasa seperti telah menempuh jarak yang lebih panjang dari yang seharusnya.
“Ongkosnya tiga puluh ribu, Mas,” katanya pelan.
Aku menyerahkan selembar seratus ribu.
Beliau tampak terkejut, hampir ragu untuk menerimanya.
“Sudah, Pak,” kataku. “Terima kasih.”
Bukan karena aku berlebihan uang,
hanya saja percakapan itu sendiri terasa lebih berharga daripada jarak yang ku tempuh.
Kulihat ada kegembiraan sederhana dalam wajahnya, kegembiraan yang tenang, dan kegembiraan itu memantulkan cahaya kecil yang hangat.
Saat aku turun dan menutup pintu mobilnya,
aku sempat berpikir, sungguh nyatalah memang ada rezeki yang tidak perlu dikejar. Dia berjalan sendiri, mencari orang-orang yang tepat untuk menerimanya.
Ketika aku tiba di Pelabuhan Tanjung Perak,
yang pertama kali kurasakan adalah kebingungan kecil di tengah keramaian yang besar.
Pelabuhan itu hidup dengan caranya sendiri.
Suara orang-orang bersahut-sahutan, logat-logat dari timur terdengar tegas dan berani.
Aku menangkap bermacam-macam aksen dalam percakapan mereka. Bahasanya cepat, keras dan penuh tenaga. Orang-orang lalu-lalang memanggul tas, mengangkat kardus, menenteng oleoleh.
Ada yang menelpon keluarga, ada yang duduk menunggu, ada pula yang sekadar berdiri memandangi arus manusia yang bandrak marjunjun. Pedagang asongan berkeliling menawarkan nasi uduk, nasi ayam, bungkusan sederhana yang mungkin menjadi santapan terakhir sebelum kapal berlayar. Bau-bau makanan itu bercampur dengan aroma laut dan peluh manusia yang telah menempuh perjalanan jauh.
Aku masuk dan melapor kepada petugas untuk mendaftar ulang tiket menuju Makassar dengan KM Dharma Kencana VII. Di tiket tertulis pukul 22.00. Aku tiba sekitar pukul tujuh atau setengah delapan malam, merasa waktuku cukup.
Dalam pikiranku, kapalnya akan berangkat tepat waktu, dan malam itu akan segera bergerak ke tengah laut.
Ternyata tidak.
Petugas berkata kapal masih bongkar muat.
Proses itu bisa berjam-jam. Tidak ada kepastian. Aku menerima penjelasan itu dengan tenang.
Tidak ada yang perlu disesali. Perjalanan selalu memiliki ritmenya sendiri, dan aku memilih berjalan mengikuti iramanya.
Kami belum masuk ruang tunggu. Masih berada di selasar pelabuhan yang terbuka. Orang-orang mulai menggelar tikar, kardus, kain apa saja yang bisa dijadikan alas. Suasana mudik terasa kental. Keluarga besar duduk melingkar, anak-anak tertidur di pangkuan ibu mereka, mahasiswa-mahasiswa berbincang sambil tertawa ringan.
Aku membuka carrier-ku, mengeluarkan matras, lalu menggelarnya di sudut pelabuhan.
Sleeping bag-pun ikut kubuka. Aku sudah terbiasa dengan lantai keras dan udara terbuka seperti ini. Di antara ribuan orang yang menunggu, aku merasa berada di habitatku sendiri, akulah pengembara yang tidak asing dengan emperan, dan medan apapun semua ku sikat.
Jam demi jam pun berlalu. Kapal tak kunjung siap. Aku tak bisa melihat langsung ke dermaga dari tempatku berada. Suara mesin kapal pun tak terdengar jelas. Waktu lewat perlahan, bagai malam yang sengaja dipanjangkan.
Setelah lewat pukul satu dini hari, capek pun mulai terasa. Nyamuk pun semakin banyak pula.
Aku masuk ke dalam sleeping bag, mencoba memejamkan mata, meski tidurku tak pernah benar-benar serius, alias modom-modom manuk. Aku waspada, takut kalau tiba-tiba panggilan keberangkatan tak terdengar dan aku bisa saja tertinggal.
Sementara di sekitarku, ada pemandangan lautan manusia yang rebah. Tikar-tikar berjajar, kardus-kardus menjadi alas darurat. Aku sempat bercakap dengan beberapa mahasiswa dari Jogja yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Mereka hendak mudik ke Sulawesi. Salah satu dari mereka akan pulang ke Mamuju, di Mamuju. Dia akan turun di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju kampung halamannya.
Kami berbagi cerita tentang mudik. Tentang rindu yang memanggil pulang. Tentang keluarga yang menunggu dirumah. Mereka tidur beralas kardus yang dibeli dari pedagang asongan.
Sementara aku beralas matras dan sleeping bag.
Perbedaan itu tidak menciptakan jarak. Kami sama-sama penunggu fajar di pelabuhan yang sama. Meski malam itu terasa panjang.
Bagai malam yang ingin menguji kesabaran setiap orang.
Lalu sekitar pukul empat lewat, sirine berbunyi. Pengeras suara mengabarkan bahwa kapal Daharma Kencana VII lintasan Surabaya-Makassar siap berangkat. Suara itu seperti lonceng yang membangunkan seluruh pelabuhan.
Orang-orang bangkit serempak. Tikar dilipat, kardus disingkirkan, tas disandang kembali.
Kami mulai berbaris panjang untuk pengecekan tiket. Barisan itu seperti ular raksasa yang bergerak pelan menuju pintu keberangkatan. Ribuan orang berdiri dengan hati yang penuh harap, meski mata setengah mengantuk.
Dari ruang tunggu, kami diarahkan memasuki kapal. Tangga besi, lorong-lorong sempit, aroma khas besi dan laut menyambut langkahku.
Aku menuju dek 5, kelas ekonomi. Di sana tempat tidur telah tersusun seperti barak militer,
lengkap dengan ranjang- ranjang berjajar rapi, sederhana namun fungsional.
Aku menemukan tempatku sesuai nomor tiket. Meletakkan tas, duduk sebentar, dan menarik napas panjang. Di dalam hatiku hanya ada satu kalimat yang melintas pelan,
Tuhan berkatilah kapal ini.
Fajar belum sepenuhnya datang ketika mesin mulai menggetarkan lambung kapal.
Laut menunggu di luar sana. Dan aku, seorang pengembara kecil di antara ribuan penumpang, akhirnya bersiap menyeberang menuju timur.
Aku mengarungi laut selama dua malam dan tiga hari, dalam kelas ekonomi yang sederhana,
dibarak panjang tempat ribuan tubuh beristirahat bagai butir-butir padi dalam lumbung raksasa.
Di sanalah aku membaringkan lelahku, di antara dengus napas orang-orang yang tak kukenali.
Dengan ongkos 370k, kami sudah diberi makan sebagai bagian dari perjalanan, tapi karena puasa hidangan hanya datang dua kali saja, saat senja membuka puasa dan saat sahur.
Maka perut awak pun belajar menunggu, sebagaimana hati belajar sabar ketika laut belum juga menampakkan daratan.
Kapal naik jangkar ketika matahari baru hendak bangun dari tidurnya. Laut masih jinak, bagai bayi yang belum mengenal tangisan.
Aku yang semalaman menunggu di pelabuhan langsung terlelap, tenggelam dalam tidur panjang hingga siang datang tanpa permisi. Pas aku bangun, dunia telah berubah menjadi ruang luas yang bergoyang pelan, dan aku pun menjadi bagian dari arus manusia yang saling menyapa untuk mengusir kesepian masing-masing.
Aku berbincang dengan banyak orang,
mereka-mereka yang baru beberapa jam lalu masih asing bagiku, namun di tengah laut ini kami seperti saudara yang dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Mereka bertanya ke mana aku pergi, aku pun bertanya ke mana mereka pulang. Ada yang menuju Palu, Palopo, Majene, Sidrap, Parepare, Malili, Luwu, dan kota-kota lain yang namanya terdengar asing bagiku.
Logat mereka pun berwarna-warni, yang sama sekali belum pernah ku dengar sebelumnya.
Aku mendengarkan, dan dalam mendengarkan itu aku merasa sedang membuka peta manusia.
Teman-teman mahasiswa yang sebelumnya
bersamaku entah di mana menghilang di dalam perut kapal yang luas ini. Aku mencarinya, mencoba menebak di dek mana mereka berbaring, di kelas apa mereka berlayar, namun lautan manusia di kapal itu terlalu padat untuk menampakkan satu wajah tertentu.
Maka aku menyerah dan membiarkan diriku hanyut di antara wajah-wajah baru ini.
Kapal ku ini seperti kota kecil yang terapung. Malam hari ada panggung hiburan, nyanyian dangdut, tawa, tepuk tangan, lampu warna-warni yang menari di atas gelombang. Ada bioskop mini, ada ruang berkumpul, ada lorong-lorong tempat orang berjalan membunuh waktu.
Aku menikmati semuanya dengan perasaan riang gembira, ini adalah pengalaman pertama kalinya.
Dilain waktu aku sering berdiri lama di geladak, memandang cakrawala yang tak bertepi.
Tak ada pulau, tak ada garis pantai yang terlihat, tak ada apa pun selain air yang menghampar seperti pikiran Tuhan yang tak habis untuk dipahami. Hanya kapal kami yang bergerak,
dan di kejauhan kadang tampak bayangan seperti kapal lain, mungkin fatamorgana, mungkin saudara yang tak sempat saling menyapa.
Saat itu aku merasakan betapa kecilnya manusia, dan betapa luasnya rahmat yang mengizinkan kami menyeberangi kehampaan sebesar itu tanpa ditelan bulat-bulat.
Aku tidak mencari keajaiban. Aku hanya memutuskan untuk hadir sepenuhnya pada setiap detik, berjalan, bercakap, tidur, bermain, mengamati. Kadang aku memainkan game di HP, meski tanpa jaringan dunia terasa lebih jujur,
tidak ada suara selain mesin kapal dan desir angin yang menggesek air.
Kapal menyediakan Wi-Fi berbayar, namun aku memilih tidak menggunakannya. Aku tidak ingin membawa daratan masuk ke tengah laut, aku ingin laut sepenuhnya menjadi laut.
Sesekali pikiranku melayang ke tujuan akhir, bagaimana wajah kota yang akan menyambutku nanti? Apakah ia ramah, ataukah ia akan berdiri dingin seperti orang asing yang tak ingin disentuh? Pertanyaan itu datang dan pergi seperti ombak kecil yang tidak sempat menjadi badai.
Ramadhan membuat banyak penumpang menahan lapar dan dahaga dengan wajah sabar yang teduh. Aku sendiri bukan seorang Muslim, namun jadwal makan yang sama membuatku ikut pula merasakan jeda panjang itu.
Perutku belajar menunggu bersama mereka, seolah kami semua sedang menapaki puasa yang sama, meski doa kami berbeda arah.
Walau begitu, kadang aku pergi juga ke kafetaria, Di sana aku duduk sendirian atau bersama orang baru, meminum kehangatan sambil mendengar laut berbicara. Dan di tengah semua itu, aku merasa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu pulau ke pulau lain. Semua ini seperti ruang jeda di antara dua bab kehidupan, sebuah halaman kosong tempat aku diizinkan bernapas sebelum menuliskan kisah berikutnya.
Laut tidak menanyakan siapa aku sebelumnya, dan kapal tidak peduli akan menjadi siapa aku nanti. Mereka hanya membawaku, dengan sabar, melintasi jarak yang terlalu luas untuk diukur oleh kata-kataku sendiri.
Setelah tiga hari dua malam dipunggung lautan luas itu, menjelang tengah hari kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Soekarno–Hatta, di jantung Kota Makassar. Aku masih terlelap ketika pengeras suara memanggil para penumpang, mengabarkan bahwa daratan telah menunggu hanya sejengkal waktu lagi. Aku bangun dengan rasa tak percaya seolah perjalanan panjang itu tiba-tiba dilipat oleh tangan tak terlihat dan diletakkan begitu saja di tepi pulau lain.
Aku keluar, dan di sana daratan sudah berdiri nyata, bukan lagi bayangan tipis di cakrawala. Segera kubereskan seluruh milikku, carrier, matras, sleeping bag sebagai harta kecil yang menemaniku menyeberangi samudra.
Ketika kapal benar-benar sandar, arus manusia pun mengalir turun seperti sungai yang dilepas dari bendungannya.
Suasana pelabuhan terasa asing.
Tidak seramai Pelabuhan Tanjung Perak yang pernah kulihat sebelumnya, tapi masih dengan cirikhas yang sama, suara mesin, dan panggilan para penjemput. Kota ini seakan menyambut tanpa berisik, seperti tuan rumah yang tidak banyak bertanya namun hanya mempersilakan.
Aku menggendong tas gunungku dan melangkah keluar. Banyak taksi dan kendaraan menawarkan tumpangan, juga angkutan menuju kota-kota lain di Sulawesi. Namun aku memilih berjalan kaki. Sebelumnya aku telah mempelajari peta, dan kakiku ingin merasakan sendiri tanah yang baru ini. Aku menuju Pantai Losari, berjalan sambil mencari warung makan yang buka, meski banyak pintu tertutup karena siang Ramadhan.
Kota itu panas, datar, dan terbuka pada langit. Panasnya lumayan buat keringat bercucur deras, untungnya angin membawa lambaian yang menyejukkan. Orang-orang tampak ramah, makanan yang sempat kutemui terasa akrab di lidah, dan kota ini memancarkan kesan maju tanpa kehilangan denyut tradisionalnya.
Aku sempat menaiki Trans Mamminasata,
bus kota yang melintas seperti BRT kalau di Semarang. Malam itu aku tidak mencari penginapan. Di sekitar pantai, aku menggelar matras di emperan, berbantalkan tas gunungku sendiri. Beberapa tunawisma juga bermalam di sana, kami berbagi langit yang sama tanpa perlu saling mengenal. Angin laut berbisik pelan, dan kota yang siang tadi terasa panas kini menjadi ruang tidur yang luas dan terbuka.
Sebelumnya aku telah memesan tiket bus Sinar Muda menuju Toraja Utara. Pukul 2 siang bus akan berangkat dari Jalan Perintis Kemerdekaan.
Maka aku tidur dengan perasaan menunggu, seperti musafir yang berbaring di serambi malam.
Pagi datang pelan. Dengan GoJek aku menuju kantor perwakilan bus, mengonfirmasi tiketku, kursi nomor dua di bagian depan. Sebuah hadiah kecil bagi mata yang ingin melihat perjalanan secara utuh. Bus besar itu nyaman, ber-AC penuh, kursinya tebal, lengkap dengan selimut dan bantal, seperti kasur bergerak yang akan mengantarkanku ke dataran tinggi.
Awalnya lanskap tak banyak berubah.
Dari Makassar menuju Maros dan sepanjang jalur pesisir ke Kota Parepare, laut masih setia menemani di sisi kiri jalan. Kampung nelayan, rumah-rumah Bugis, dan perahu-perahu yang ditambatkan itu bagai doa-doa yang belum sempat dilepaskan, semuanya berlalu di jendela bus yang ku tumpangi. Perubahan baru terasa setelah tiba
di Kota Parepare. Dari sana bus berbelok ke pedalaman, menuju wilayah pegunungan, Sidrap, Pinrang, lalu Enrekang. Jalan mulai berkelok, naik turun. Udara pun berubah lebih dingin.
Di kejauhan aku melihat siluet Gunung Latimojong bertengger dalam gelap, megah seperti penjaga purba yang tak pernah tidur. Lampu-lampu desa bertaburan di lereng, tampak seperti bintang yang jatuh dan memilih tinggal di bumi.
Sekitar pukul tiga dini hari bus berhenti di sebuah rumah makan di wilayah Enrekang.
Banyak bus lain beristirahat di sana, armada- armada Borlindo, Adhi Putra, Litha & Co, Manggala Trans, Batutumonga, Metro Permai, dan termasuk juga Bus Sinar Muda andalanku yang membawa mimpi orang-orang menuju Dataran Tinggi Toraja. Para penumpang turun dengan langkah berat dan mata setengah sadar. Udara menusuk dingin di Enrekang subuh itu. Aku memesan makan, uniknya setiap apapun menu makanannya selalu ada mangkuk kuah yang disajikan. Mungkin biar ga terlalu kering kali ya.
Kami beristirahat cukup lama, sekitar satu setengah jam, sebelum perjalanan dilanjutkan. Langit masih gelap ketika roda kembali berputar. Tak lama kemudian aku melihat gerbang perbatasan dengan ornamen rumah adat Tongkonan, tanda bahwa kami telah memasuki Kabupaten Tanah Toraja. Aku merasakan pergeseran yang halus, seperti memasuki ruang batin sebuah negeri yang telah lama menyimpan rahasia. Udara subuh menjadi lebih dingin.
Dan dari balik jendela bus, lanskap berubah, rumah-rumah panggung yang sebelumnya kulihat di wilayah Kabupaten Enrekang perlahan digantikan oleh deretan tongkonan yang bertengger di pinggir jalan, atapnya melengkung seperti perahu yang hendak berlayar ke langit. Kampung-kampung tradisional terbentang tenang, seolah setiap rumah berdiri bukan hanya sebagai tempat tinggal, juga sebagai tanda kenangan yang diwariskan dari leluhur kepada ginopparnya.
Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkanku pada kampung halaman di Samosir, dengan rumah Bolon orang Batak yang juga menjulang dengan martabatnya sendiri. Ada kesamaan, kesamaan yang hanya dipahami oleh hati yang pernah lahir di tanah adat. Bahkan suara gonggongan anjing yang terdengar di kejauhan terasa begitu akrab, seolah sebuah salam dari masa kecil yang berjalan jauh untuk menemuiku di pegunungan ini.
Aku tertegun dan tersenyum sendirian.
Perjalanan ini tidak membuatku mengantuk,
justru membuka mataku lebih lebar.
Seakan aku sedang pulang ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.
Sekitar dua jam setelah melewati tapal batas,
bus tiba di Makale, ibu kota Kabupaten Tanah Toraja. Kota itu tampak padat namun rendah hati, karena bangunan tidak menjulang, jalanan belum terlalu sibuk karena masih pagi buta.
Kami berhenti cukup lama untuk menurunkan penumpang dan paket kiriman dari Makassar.
Aku turun sebentar, merasakan udara sejuk yang memeluk kulit seperti kain basah dari mata air. Kulihat beberapa bapak dan ibu berjalan tergesa dengan barang bawaan, mungkin menuju pasar pagi, dia membawa harapan kecil untuk hari yang baru.
Tak lama kemudian perjalanan dilanjutkan menuju wilayah yang lebih tinggi, menuju Toraja Utara. Jalan kembali menanjak, udara semakin dingin, dan kabut tipis mulai menyentuh pandangan. Sekitar satu jam kemudian, bus akhirnya tiba di Kota Rantepao tujuan akhir perjalananku, dan perjalan Bus ini.
Aku turun di dekat bundaran dengan ornamen tongkonan yang berdiri seperti penanda bahwa di sinilah pusat kehidupan pegunungan ini berdenyut. Pagi telah benar-benar bangun.
Orang-orang berlalu-lalang, suara percakapan terdengar keras dan hidup, kendaraan mulai memenuhi jalan, bahkan kerbau tampak melintas dengan tenang seolah mereka juga bagian dari arus kota ini. Udara dingin menyubit kulitku, tapi suasana tetap terasa hangat oleh aktivitas manusia. Sekali lagi aku merasakan keakraban yang tak terduga. Cara orang berbicara, irama kehidupan, bahkan kehadiran hewan di ruang publik, semuanya mengingatkanku pada kampungku sendiri, pada tano Batak yang jauh di barat sana. Aku berdiri di kota asing, tapi hatiku tidak merasa asing.
Namun aku tahu, getaran terbesar dari perjalanan ini bukanlah tibaku di Kota ini. Bukan pula jarak ribuan kilometer yang telah kulalui.
Yang sesungguhnya mengguncang jiwaku adalah hari-hari yang akan datang, dua minggu di tanah ini, di antara kekayaan budaya, manusia, dan kisah-kisah yang belum kutemui sebelumnya.
Aku segera menuju sebuah tempat yang telah dijanjikan. Namanya kini samar dalam ingatan, tetapi tujuannya jelas, aku akan bertemu seseorang yang telah menungguku, seorang gadis Toraja bernama Maria Valerie Tandisau'. Dia sudah menungguku di perwakilan bus pagi itu, mengenakan baju dinas Korpri yang membuatnya tampak rapi sekaligus anggun, kulitnya putih bersih, rambutnya pendek sebahu membingkai wajahnya yang cantik sekali. Senyumnya manis dan meneduhkan, senyum yang tidak memaksa, mengundang hati untuk tenang.
Tubuhnya proporsional, dan aku menyadari bahwa aku sedikit lebih tinggi darinya.
Kami telah saling komunikasi jauh sebelum hari itu, tetapi melihatnya secara nyata membuat semua percakapan terasa seperti mengulang kembali dari awal, aku malu dan merasa canggung. Dia menjemputku dengan bentor tradisional khas kota Rantepao. Carrier-ku dinaikkan ke bagasi belakang, lalu kami duduk berdampingan, kami berjalan pelan menyusuri pagi yang masih lembab oleh embun.
Rumah Maria berada dekat Sungai Sa'dan, sungai besar yang mengalir panjang membelah kota Rantepao. Sepanjang perjalanan singkat itu Maria bercerita dengan antusias tentang kotanya,
tentang jalanan, tentang orang-orang, tentang kehidupan sehari-hari, dan aku mendengarkan seperti seorang pendatang yang sedang mempelajari bahasa hati suatu tempat.
Sesampainya di rumah, halaman itu tampak asri dan terawat, dipenuhi tumbuhan hijau yang tumbuh tanpa tergesa. Tongkonan dan lumbung-lumbung berdiri tenang seperti saksi perubahan zaman dari masa yang lalu. Aku disambut oleh neneknya, Ne' Libertha Toding, perempuan berusia delapan puluh tujuh tahun yang masih berdiri tegak, bermata jernih, dan memancarkan kecantikan khas wanita Toraja yang telah melewati banyak musim kehidupan. Di rumah itu juga tinggal seorang perempuan bernama Ibu Jenny yang membantu pekerjaan sehari-hari.
Kemudian Maria menunjukkan kamar untukku beristirahat, lalu mengajakku sarapan bersama sebelum dia berangkat ke Sekolah. Dia guru SMA negeri di Kota ini, seorang pengabdi tanpa tanda jasa. Meski baru pertama kali, Maria cepat membuatku merasa akrab dengan semuanya.
Jadi perjalanan jauhku berakhir bukan pada sebuah alamat, tapi pada sebuah rumah yang telah lama menyiapkan ruang bagi kedatanganku.
Sekitar pukul tujuh lewat sedikit, Maria berpamitan. Ia akan menyelesaikan sebuah urusan di sekolahnya, aku mengucapkan terima kasih dan mengatakan ingin beristirahat sebentar.
Dia berangkat dengan sepeda motor Vario 150 berpelat merah, kemungkinan kendaraan dinas dari sekolah. Aku dan nenek mengantarnya sampai ke halaman. Jarak rumah ke sekolah sangat dekat, sekitar lima menit saja naik motor. Berjalan kaki pun sebenarnya bisa, meski cukup menguras tenaga karena jalannya menanjak dan udara mulai hangat ketika matahari meninggi.
Setelah Maria pergi, nenek mempersilakanku beristirahat. Aku masuk ke kamar yang disediakan untukku. Kamar itu sederhana, bersih, dan rapi. Aroma kamper sangat kuat, khas rumah lama yang terawat. Di dalamnya ada dipan besar dengan dua kasur kapuk. Sebuah lemari tua berdiri di sudut ruangan, dan di dindingnya tertempel photo-photo seorang anak kecil. Aku yakin itu Maria di masa kecilnya. Di dinding tergantung beberapa gambar dan lukisan lama. Rasanya seperti memasuki ruang yang menyimpan kenangan panjang seseorang. Mungkin memang ini dulu kamar Maria.
Meski tidak terlalu dibutuhkan, ada kipas angin sederhana di sudut kamar. Tidak ada yang mewah. Yang paling kuingat justru ketenangannya, kesederhanaannya, dan aroma kampernya yang seolah mengawetkan ingatanku akan gadis Toraja yang cantik ini, dia si-Maria Valerie Tandisau'.
Aku terbangun sekitar pukul satu siang. Tidak ada yang membangunkanku. Nenek dan Ibu Jenny mungkin tahu aku lelah setelah perjalanan jauh. Ketika keluar, kulihat nenek duduk di teras, sementara bu Jenny berada di kebun.
Tepat di belakang rumah mengalir Sungai Sa'dan.
Airnya deras dan suaranya bergemuruh, terdengar jelas sampai ke halaman. Di tepi sungai itu terdapat kebun kecil milik keluarga ini.
Aku duduk di samping nenek. Ia bertanya apakah istirahatku cukup. Aku menjawab bahwa tenagaku sudah kembali. Lalu ia bertanya dari mana asalku dan mengapa datang sejauh ini ke Tanah Toraja. Dari cara ia memandang, aku merasa nene' tahu ada hubungan khusus antara aku dan Maria. Walaupun ini adalah pertemuan pertamaku dengan Maria secara langsung, sebelumnya sudah lama saling mengenal melalui media sosial.
Nenek kemudian bercerita tentang berbagai hal, termasuk tentang kedua orang tua Maria yang meninggal karena kecelakaan ketika ia masih kecil. Maria adalah anak tunggal, dan sejak itu neneklah yang membesarkannya. Sesekali paman Maria, anak kedua nenek, datang berkunjung. Namanya Pak Yahya. Ia tinggal di Nonongan, sekitar dua puluh menit dari Rantepao dengan sepeda motor. Aku juga menceritakan perjalanan panjangku hingga tiba di Toraja ini. Percakapan kami terasa hangat dan tenang, seperti arus sungai di belakang rumah yang tidak pernah berhenti mengalir.
Sekitar pukul setengah tiga sore, Maria pulang dari sekolah dengan motornya. Ia turun dengan senyum yang sama seperti pagi tadi.
“Sudah ki makan siang, Bang?” tanyanya tegas dengan aksen Sulsel-nya yang lucu.
Aku sudah makan bersama Bu Jenny sebelumnya, tetapi jawabanku tetap terasa agak gugup. Mungkin karena semuanya masih baru bagiku.
Maria tetap tampak anggun meski baru pulang dari Sekolah. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan kelelahan yang berarti. Kehadirannya membuat rumah itu terasa sungguh hidup.
Sesaat kemudian Maria berpamitan untuk mengganti pakaian.
“Oh ya, Bang, sebentar ya, mo ganti baju mi aku dulu.”
Aku mengangguk cepat, bahkan sampai beberapa kali, tanpa sadar. Maria lalu masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar yang kutempati.
Tidak lama kemudian dia kembali dan duduk bersama kami di teras belakang rumah.
Teras itu langsung menghadap Sungai Sa'dan. Airnya mengalir deras, suaranya terus-menerus terdengar. Saat itu hanya ada kami bertiga, aku, Maria, dan nenek. Bu Jenny sedang keluar untuk berbelanja keperluan makan malam.
Nene' kemudian berpesan agar Maria mengajakku berkeliling kota supaya aku lebih mengenal tempat ini. Nada bicaranya hangat, mengerti bahwa pertemuan tidak cukup hanya di dalam rumah. Nene' rupanya pernah tinggal di Salatiga sekitar lima tahun. Dia bahkan tahu tentang kehidupan mahasiswa di Salatiga dan Semarang, termasuk tentang Universitas Diponegoro. Pengalaman itu membuatnya terasa dekat dengan dunia yang kutinggalkan di Jawa. Maria sendiri adalah guru kimia di sebuah SMA negeri di Rantepao.
Dia pernah kuliah di Makassar, meski saat itu dia hanya menyebutnya sambil berlalu, seolah masa kuliahnya sudah menjadi halaman yang selesai dibacanya.
Sore itu matahari sudah mulai condong ke barat, cahayanya lembut dan tidak lagi menyengat.
Maria mengajakku berkeliling kota.
Dia meminjamkan motornya, dan akulah yang mengendarai. Dia duduk di belakang dengan celana panjang dan hoodie sederhana. Kami tidak memakai helm, hanya berboncengan menyusuri jalan-jalan kota kecil itu.
Rantepao terasa berbeda dari kota mana pun yang pernah kulalui. Meski berstatus kota, di banyak sudut masih berdiri rumah-rumah tradisional tongkonan, lengkap dengan lumbung padi yang bentuknya melengkung seperti perahu. Bangunan modern dan tradisi berdiri berdampingan tanpa saling menyingkirkan.
Maria menjelaskan semuanya dengan sabar.
Dia seperti pemandu yang tidak hanya menunjukkan tempat, tetapi juga menyampaikan ingatan kolektif yang hidup di dalamnya.
Kami berkeliling hingga langit mulai gelap.
Lampu-lampu kota kecil itu satu per satu menyala, sederhana tetapi hangat. Dalam perjalanan, Maria bercerita tentang berbagai tempat yang sering dikunjungi wisatawan. Banyak orang datang ke Toraja untuk menyaksikan upacara adat, terutama Rambu Solo’ , ma'nene' dan Rambu Tuka’, tiga ritual besar yang sakral bagi masyarakat setempat. Dia lalu mengatakan bahwa dua hari lagi akan ada upacara Rambu Solo’ di daerah Nonongan, tempat pamannya tinggal. Upacara itu cukup besar dan masih termasuk keluarga mereka. Maria berjanji akan mengajakku ke sana.
Namun sebelum hari itu tiba, aku ingin menikmati setiap sudut kota ini, jalan-jalannya, udaranya yang sejuk, rumah-rumahnya yang tua, dan kebersamaan sederhana yang perlahan menghapus rasa asing bagiku.
Itulah hari pertamaku tiba di Rantepao.
Sore menjelang malam, aku berkeliling kota bersama Maria. Malamnya kami makan bersama nenek dan Bu Jenny. Kami banyak bercerita tentang masa lalu nenek yang dulu seorang guru dan juga pernah melayani di gereja sebagai Prodiakon, juga pengurus Perhimpunan Wanita Katolik di dearah itu.
Sekitar pukul setengah sepuluh, udara mulai dingin dan kami bersiap istirahat. Nenek langsung masuk kamar. Aku, Maria, dan Bu Jenny masih terjaga sebentar. Bu Jenny menonton televisi, sementara Maria membereskan urusan sekolahnya. Maria kemudian bertanya apakah ada yang kurang di kamarku. Aku bilang tidak ada. Maria menjelaskan bahwa kamar itu dulu kamar masa kecilnya, dan coretan serta lukisan lamanya sengaja tidak dihapus agar tetap menjadi kenangan, seperti museum kecil di rumah itu.
Maria juga mengatakan bahwa dia sudah meminta Pak Yahya datang besok membawa motor supaya aku bisa jalan-jalan sendiri, karena dia pulang sekolah hampir pukul tiga. Motornya Supra X plat merah. Katanya sambil bercanda, motor itu bisa membuatku terlihat seperti orang sini, bukan pendatang. Aku tertawa mendengarnya.
Sekitar pukul sepuluh lewat, Maria menyuruhku istirahat. Kamarnya tepat di sebelah kamarku.
Pagi harinya, sekitar pukul setengah tujuh, Pak Yaya benar-benar datang membawa motor itu.
Aku sempat terdiam melihat plat merahnya.
Maria hanya terkekeh melihat reaksiku. Suasananya terasa akrab dan sederhana, seolah aku sudah lama menjadi bagian dari rumah itu di ibu kota Toraja Utara tersebut.
Pagi itu aku sempat heran. Ini kan masih suasana libur Lebaran, pikirku. Mengapa Maria tetap berangkat ke sekolah? Bukankah seharusnya hari-hari ini tenang. Pertanyaan itu hanya kusimpan dalam hati. Aku tidak langsung menanyakannya. Baru pada malam harinya aku mengerti.
Maria bercerita bahwa meskipun siswa libur mengikuti kalender nasional, beberapa guru tetap masuk. Ada urusan administrasi yang harus diselesaikan, laporan ini itu, berkas akreditasi,
dan berbagai persiapan sekolah lainnya.
Pekerjaan-pekerjaan itu tidak bisa menunggu.
Sebagian besar siswanya memang berlatar belakang Kristen, namun sekolah tetap mengikuti ketentuan kalender nasional. Karena itu para murid libur, tetapi beberapa guru datang bergiliran untuk menyelesaikan tugas-tugas internal.
Kadang dia pulang menjelang siang, kadang bisa sampai pukul tiga seperti yang pernah ia katakan. Mendengar penjelasannya, aku merasa wajar. Sebuah sekolah tidak hanya berdiri dari ruang kelas dan papan tulis. Ada banyak kerja sunyi
di baliknya yang tidak terlihat oleh siswa.
Maria termasuk di dalam kerja sunyi itu.
Pagi itu kami berjalan beriringan, karena aku penasaran dimana sekolahnya, saat tiba Maria mematikan motornya, lalu menoleh kepadaku. Senyumnya tenang,
“Hati-hati ya, Bang. Jangan ki terlalu jauh dulu,” katanya tegas dengan cerewetnya.
Aku mengangguk. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu terasa hangat. Rasa-rasanya aku bukan sekadar tamu di kota ini, aku jadi merasa benar-benar diperhatikan. Itulah kelemahanku, mudah luluh dengan perhatian kecil seperti itu.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Kota ini masih asing bagiku, jalan-jalannya belum kukenal, orang-orangnya belum kupahami.
Namun kehadiran Maria membuat semuanya terasa dalam dan lebih jauh.
Maria kemudian melambaikan tangan, sebelum berjalan masuk melewati gerbang. Langkahnya ringan, hoodie abu-abu yang dipakainya bergerak pelan tertiup angin pagi. Aku masih diam di atas motor beberapa detik, memperhatikannya sampai sosoknya mengecil di antara bangunan sekolah.
Aku menarik napas panjang, lalu menyalakan motor Supra X itu. Suara mesinnya terdengar kasar tapi masih OK. Perlahan aku meninggalkan gerbang sekolah. Dari kaca spion, gerbang itu semakin kecil, lalu hilang di tikungan jalan.
Pagi itu menjadi pagi pertamaku benar-benar sendirian di Rantepao.
Jalanan kota kecil itu mulai hidup. Warung-warung membuka pintu, beberapa pedagang menata dagangannya, dan sesekali terdengar suara ayam dari pekarangan rumah. Di kejauhan, pegunungan berdiri tenang seperti penjaga yang sudah ada sejak lama sebelum kota ini ramai oleh manusia. Aku tidak terburu-buru. Motor kubawa pelan saja, membiarkan mataku merekam setiap sudut yang kulewati. Sesekali aku berhenti sebentar hanya untuk melihat, membaca papan nama jalan, atau sekadar memastikan arah.
Aku mengarahkan motor itu menuju tujuan pertamaku, Kete'Kesu. Perjalanan hanya sekitar lima belas menit dari Rantepao. Jalanannya berkelok pelan, melewati rumah-rumah tongkonan dan sawah yang mulai menguning. Udara terasa bersih. Motor Supra X berpelat merah itu melaju stabil.
Saat memasuki area parkir Kete Kesu, suasana sudah ramai. Banyak kendaraan terparkir, wisatawan berjalan berkelompok, sebagian sibuk berfoto. Anehnya, aku tidak dimintai tiket masuk. Petugas hanya melirik sekilas ke arah motor yang kupakai, lalu mengangguk membiarkanku masuk. Di dalam hati aku tersenyum.
Tiket masuk waktu itu sekitar sepuluh ribu rupiah, jika ingatanku benar. Mungkin mereka mengira aku orang lokal, atau petugas tertentu.
Motor berpelat merah itu seolah menjadi kunci yang membuka gerbang tanpa pertanyaan.
Kawasan itu indah sekali. Berderet tongkonan tua berdiri megah, di depannya berdiri lumbung-lumbung padi dengan bentuk serupa, tersusun rapi menghadap halaman. Kayu-kayu tua berukir menghiasi dinding, warna hitam, merah,
dan kuning menyatu dalam motif yang sarat makna. Tak jauh di belakang deretan tongkonan itu, tebing-tebing kapur berdiri kokoh.
Di sanalah makam-makam tua berada.
Tengkorak dan tulang-belulang tersimpan di ceruk-ceruk batu. Ada juga gua yang bisa dimasuki, gelap dan seram, didalam tersimpan jejak generasi yang telah lama pergi.
Dalam tradisi Toraja, semakin tinggi posisi jasad diletakkan di tebing, semakin tinggi pula kedudukan sosialnya. Satu kompleks biasanya milik satu keluarga besar, satu garis keturunan yang sama. Rumah, lumbung, dan makam berdiri dalam satu kesatuan. Hidup dan mati berada dalam satu ruang yang saling berdekatan.
Sekitar tiga jam aku berada di sana, berjalan pelan, memotret, mengamati ukiran, mendengar percakapan wisatawan, melihat pedagang menjajakan tenun, ukiran kayu, dan cenderamata. Kawasan itu mengingatkanku pada Tomok, dengan deretan kios kecil dan suasana wisata yang hidup.
Dari Kete'Kesu, aku melanjutkan perjalanan menyusuri sawah-sawah bertingkat di wilayah Toraja Utara. Hamparan hijau berterasering terbentang luas. Kerbau-kerbau besar merumput tenang. Di kejauhan, tongkonan berdiri seperti penanda yang tak pernah dipindahkan.
 |
Supra x dan persawahan terasering di Batutumonga Kab Toraja Utara |
Menjelang sore, aku tiba di Bori Kalimbuang. Perjalanan sekitar dua puluh lima menit dari Rantepao terasa begitu indah. Jalan sempit membelah kampung, diapit sawah dan perbukitan.
Di Bori Kalimbuang terdapat banyak menhir-menhir batu, tegak dan menjulang.
Batu-batu itu telah ada ribuan tahun, menjadi penanda upacara kematian bangsawan pada masa lampau. Di sekitarnya terdapat makam batu yang dipahat pada tebing. Aku juga melihat pohon tarra. Batangnya besar, dilubangi, menjadi tempat peristirahatan bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Filosofinya sederhana, bayi yang masih suci akan kembali menyatu dengan alam, tumbuh bersama pohon yang mengandung getah seperti susu ibu. Kehidupan dipahami sebagai siklus yang menyatu dengan tanah, kayu, dan waktu.
Dua jam lebih aku berada di sana. Mengamati,
dan mencatat dalam ingatan. Berusaha memahami bukan hanya bentuk, tetapi makna yang terkandung didalamnya.
Hari keduaku di Toraja terasa padat dan penuh. Dari tongkonan tua, makam di tebing, hingga menhir yang tegak di lapangan terbuka, semuanya memberi kesan mendalam.
Saat matahari mulai condong ke barat dan cahaya perlahan melembut, aku sadar bahwa ini baru permulaan. Besok, aku dan Maria akan pergi ke Nonongan menghadiri upacara Rambu Solo’,
ritual kematian yang sakral dalam adat Toraja.
Maria sudah berjanji akan membawaku ke sana. Dan aku menunggu hari itu dengan perasaan yang sulit kujelaskan, antara ingin tahu, hormat, dan kesadaran bahwa aku sedang diundang menyaksikan sesuatu yang tidak semua orang bisa lihat dari dekat.
Waktu aku masih berada di kawasan Bori Kalimbuang, ponselku bergetar pelan di saku. Pesan dari Maria.
“Bang, di mana ki?”
Pertanyaan sederhana itu terasa hangat, seperti suara yang memanggil dari rumah yang jauh.
Aku membalas sambil mengirim foto menhir-menhir batu di sekelilingku.
Tak lama, balasan datang lagi.
“Jangan sampai gelap ki pulang, Bang. Jalannya sempit ji di sana, banyak tikungan, lampu juga tidak ada.”
Aku mengiyakan cepat.
“Iyo, sebentar lagi pulang ji.”
Maria membalas lagi.
“Bagus mi. Saya sudah di rumah juga ini.”
Aku menyalakan motor dan mulai turun dari perbukitan. Udara sore semakin sejuk, menyentuh kulit seperti embun yang berjalan.
Sawah bertingkat terbentang sejauh mata memandang, hijau yang berlapis-lapis seperti tenunan alam. Di kejauhan, kerbau-kerbau tampak bergerak pelan di antara petak-petak padi.
Dalam perjalanan itu, aku merasa bahagia dengan cara yang sederhana. Alam begitu indah, dan di suatu rumah di kota Rantepao, ada seseorang yang menungguku pulang.
Setibanya di rumah, aku memarkir motor di garasi. Nene' sudah duduk di teras, seperti biasa,
“Bagaimana mi perjalananmu hari ini, Nak?” tanyanya lembut.
“Capek ki atau senang?”
Aku tertawa.
“Senang sekali, Ne'. Dari pagi keliling-keliling,
tapi tidak ada ji yang minta tiket.”
“Tidak ada?” Nenek ikut tertawa kecil.
“Bagus mi itu.”
“Ini semua ide Maria, pakai motor plat merah.”
Nenek tertawa lebih lepas.
“Ah… pintar memang itu anak.”
Tak lama Maria keluar ke teras, dengan pakaian santainya. Celana pendek dan baju longgar, sederhana sekali, tetapi membuatnya tampak semakin cantik dan anggun sore itu.
“Kenapa ketawa-ketawa mi di sini?” tanyanya sambil ikut tersenyum.
Aku langsung menunjuk motor di garasi.
“Sepanjang hari tidak ada yang minta retribusi. Semua pikir saya orang sini.”
Maria tertawa ringan.
“Bagus ji, Bang. Jadi tidak repot ki.”
“Tapi saya takut juga,” kataku, “kalau diajak bicara bahasa Toraja, habis mi.”
Maria menutup mulutnya sambil tertawa.
“Baru ketahuan ki itu orang luar.”
Kami tertawa bersama, yang terasa cair,
dan tanpa jarak.
Nenek kemudian berkata dengan nada tenang,
“Besok kita pergi ke Nonongan, acara ne' Paul.
Pagi-pagi mi berangkat supaya sempat lihat semua rangkaian acaranya.”
Aku mengangguk.
Maria masuk ke dalam rumah, lalu kembali membawa sehelai sarung hitam.
“Bang, pakai ini ki besok,” katanya sambil menyerahkannya.
“Laki-laki harus pakai sarung ji kalau datang ke sana.”
Nenek menimpali dari kursinya.
“Iya, tidak sopan kalau tidak pakai sarung.”
Maria berdiri di depanku, lalu dengan sabar mulai mengajarkan cara memakainya.
“Bagini ki lipatnya… tahan di sini… baru dililit bagini.”
Tangannya bergerak pelan merapikan kain itu.
“Jangan terlalu longgar, nanti jatuh ki.”
Aku hanya menurut, agak kikuk.
“Begitu mi. Haa... sudah bagus ji,” katanya sambil tersenyum manis.
Sarung itu terasa hangat di pinggangku,
dan malam semakin dingin.
Rumah menjadi tenang. Setelah makan malam
dan berbincang sebentar, nenek berdiri lebih dulu.
“Tidur mi cepat. Besok kita bangun pagi.”
“Iyoo, Ne',” jawabku.
Maria juga berdiri.
“Bang, kalau ada yang kurang di kamar, bilang ji.”
“Tidak ada, sudaa nyaman sakali.”
“Bagus mi kalau begitu.”
Lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu. Suara Sungai Sa’dan mengalir di belakang rumah seperti nyanyian panjang yang tidak pernah berhenti. Aku berbaring dengan perasaan hangat.
Perjalanan ini tidak lagi terasa seperti perjalanan seorang tamu. Di rumah kecil itu, dengan logat lembut yang memanggilku “Bang” dan “Nak,”
aku merasa sedang dipeluk oleh sesuatu yang sederhana, sebuah keakraban yang tumbuh tanpa direncanakan, bagai benih yang menemukan tanahnya sendiri. Dan di dalam hati, aku tahu, esok hari akan membuka kisah yang lebih dalam lagi.
Pagi itu, sekitar pukul setengah tujuh,
aku terbangun oleh suara ketukan di pintu kamar.
“Bang… Bang… bangun ki! Biar siap-siap ki,
kita pergi.”
Itu suara Maria. Suaranya jernih, bagai cahaya pagi yang mengetuk pelan di jendela.
Aku menjawab dengan suara masih berat oleh tidur, lalu bangkit. Dari luar kamar terdengar bunyi piring dan sendok, Bu Jenny sudah sibuk
di ruang makan menyiapkan sarapan.
Aku mandi, mengenakan pakaian rapi, lalu mengambil sarung hitam yang diberikan Maria malam sebelumnya. Kain itu terasa berbeda pagi ini, seolah bukan lagi pinjaman, tapi tanda bahwa aku akan melangkah masuk ke dunia yang belum pernah kusentuh sebelumnya.
Kami sarapan berempat, nene', Bu Jenny, Maria, dan aku. Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di halaman. Pak Yaya datang dengan Kijang Innova tuanya.
“Sudah siap mi semua?” serunya dari luar.
“Siap!!” jawab Maria sambil berdiri.
Kami pun keluar rumah. Udara pagi Toraja dingin dan bersih.
Saat itulah aku melihat Maria dengan jelas.
Dia mengenakan busana adat Toraja.
Anggun, dan bercahaya. Cantik sekaliii.
Rambut pendeknya dicepol rapi agar bisa mengenakan hiasan kepala semacam sortali.
Aku terdiam sejenak. Disana ada kecantikan yang tidak meminta untuk dipuji, tetapi membuat awak lupa bagaimana cara berkata-kata.
Nenek pun tampak anggun dalam pakaian adatnya. Usia tidak mengurangi wibawanya, malahan membuatnya seperti pohon tua yang berdiri kokoh di tengah ladang.
Kami masuk ke mobil, lalu berangkat menuju Nonongan. Perjalanan sekitar dua puluh menit. Mobil melintasi desa-desa, sawah bertingkat, dan rumah-rumah tongkonan yang berdiri gagah. Sementara kabut tipis masih menggantung di lereng-lereng bukit.
 |
Persiapan pembukaan ma'parongko allangkabamba di Nonongan Toraja Utara |
Sesampainya di lokasi upacara, aku langsung menyadari bahwa acara ini sangat besar.
Di pelataran luas itu, manusia berkumpul seperti lautan. Bangunan pangung dari bambu berdiri berjajar dengan nuansa merah. Papan bunga memenuhi sisi jalan, berisi ucapan dukacita.
Di tanah Toraja, kematian bukan perpisahan yang sunyi, tapi ada peristiwa yang diantar oleh kebersamaan dan penghormatan.
Kami diarahkan duduk di bagian keluarga, karena almarhumah masih memiliki hubungan darah dengan nenek Maria. Begitu duduk, kami langsung disuguhi makanan. Orang-orang berlalu-lalang membawa hidangan, menyapa satu sama lain dengan hangat.
Di kejauhan, kerbau-kerbau diikat berderet. Besar-besar, hitam mengilap, beberapa di antaranya kerbau belang yang sangat mahal.
Maria berbisik pelan di sampingku.
“Bang, tau ki, kerbaunya nanti dipotong enam puluh lima ekorloh.”
Aku menoleh cepat.
“Enam puluh lima???”
“Iya ji. Itu masih belum termasuk babi.”
Aku melihat ke arah lain. Babi-babi juga sudah disiapkan dalam jumlah yang sulit dihitung. Seumur hidup, baru kali itu aku menyaksikan kematian dirayakan dengan kemegahan yang begitu besar.
Maria terus menjelaskan banyak hal,
tentang makna upacara, tentang status sosial keluarga, tentang adat yang diwariskan turun-temurun. Logat Sulawesinya terdengar lembut di telingaku, kadang lucu, kadang menggelikan.
Namun jujur saja, aku tidak sepenuhnya mendengarkan ocehannya.
Aku justru sibuk memandangi wajahnya.
Di tengah keramaian itu, Maria tampak seperti titik hening yang tidak tergoyahkan. Senyumnya tipis, matanya tenang, gerak-geriknya penuh kelembutan.
Aku merasa aneh, seolah berada di dua tempat sekaligus, di tengah upacara besar, dan di dalam ruang kecil yang hanya berisi aku dan dia.
Bursikkk...! begitu caraku menyadarkan khayalku
Acara dimulai dengan kebaktian. Seorang pastor dari paroki setempat memimpin doa. Semua orang berdiri dengan khidmat. Nyanyian rohani mengalun pelan, menyatu dengan angin sejuk pegunungan. Dalam momen itu, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Bahwa kematian di tanah ini tidak sebagai akhir yang gelap, akan tetapi sebagai perjalanan yang diantar oleh cinta, oleh keluarga, oleh adat yang menjaga manusia agar tidak pergi sendirian.
Aku menundukkan kepala.
Di sampingku, Maria juga berdoa dengan khusyuk.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Toraja, aku merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Semua ini adalah undangan untuk memahami cara lain memandang hidup, kehilangan, dan kebersamaan, yang juga tak jauh berbeda dari budaya kami di barat yang jauh sana.
Siang itu, setelah rangkaian acara pagi selesai, Maria mengajakku turun ke arena adu kerbau, orang Toraja menyebutnya ma'pasilaga tedong.
Di Toraja Utara, setiap upacara Rambu Solo' yang besar hampir selalu disertai pertarungan kerbau, sebagai bagian dari kehormatan dan persembahan terakhir bagi yang telah berpulang.
“Bang, kita ke bawah ji… ada laga tedong,”
kata Maria sambil menarik lenganku pelan.
Nenek tetap tinggal di tempat duduk keluarga, sementara kami berjalan menuruni pelataran menuju arena yang berada di persawahan.
Lumpur sawah itu sengaja tidak diratakan.
Di situlah para kerbau akan saling menantang, seperti prajurit tempur yang siap dimedan perang. Arena sudah dipersiapkan dengan sangat rapi. Tribun melingkar dari bambu berdiri kokoh, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru.
Orang-orang duduk rapat, sebagian berdiri, sebagian lagi memanjat rangka bambu agar bisa melihat lebih jelas.
Di tengah arena, dua kerbau dilepas saling berhadapan. Tubuh mereka besar, ototnya tegang, tanduknya melengkung seperti sabit bulan tua. Maria tampak sangat gembira. Matanya berbinar, senyumnya lebar, seperti anak kecil yang menunggu permainan dimulai.
“Bang, pilih ki… yang mana jagoantta?”
Aku menunjuk salah satu kerbau hitam besar yang tampak gagah.
“Yang itu.”
Maria langsung menggeleng sambil tertawa.
“Ah, tidak ji… yang itu pasti kalah. Saya pilih yang belang, saleko itu.”
Belum sempat aku membalas, kedua kerbau sudah saling mendekat.
Lalu...
Trakkk!
Tanduk bertemu tanduk. Suaranya keras, bergetar sampai ke dada. Lumpur terciprat ke mana-mana. Penonton bersorak, sebagian berdiri sambil berteriak memberi semangat. Kerbau-kerbau itu mendorong satu sama lain, kaki mereka terbenam dalam lumpur, napasnya berat seperti mesin tua yang dipaksa bekerja terus.
Maria bersorak kecil di sampingku.
“Ayo… ayo… itu jagoan ku!”
Beberapa saat kemudian, kerbau pilihanku mulai mundur. Tenaganya seperti habis. Kerbau belang milik Maria justru semakin agresif, mardugu tanpa ragu. Akhirnya, kerbauku berbalik dan lari keluar arena.
Sorak penonton meledak.
Maria langsung menepuk lenganku sambil tertawa puas.
“Ka' bilang mi tadi… kalah ji itu!”
Aku hanya bisa tertawa, setengah malu, setengah takjub melihat kegembiraannya.
Siang itu berlangsung pertandingan demi pertandingan. Kerbau datang silih berganti.
Suara benturan tanduk, teriakan penonton, dan pengumuman dari pembawa acara membuat suasana seperti pesta rakyat yang liar namun tetap penuh aturan.
Awan menggantung rendah. Matahari tertutup tipis, membuat udara sejuk tanpa panas yang menyengat.
Tak jauh dari arena, prosesi penyembelihan juga berlangsung. Aku melihat sendiri bagaimana seekor kerbau direbahkan, lalu seorang lelaki menggunakan pisau kecil semacam badik, memotong lehernya dalam satu gerakan cepat. Darah mengalir deras, namun semua dilakukan dengan tenang, tanpa kegaduhan.
Ada banyak babi yang disembelih.
Bahkan aku melihat dua ekor kuda dan seekor lembu juga menjadi bagian dari persembahan.
Maria menjelaskan dengan suara pelan, seolah tidak ingin mengganggu kesakralan momen itu.
“Dagingnya nanti dibagi semua, Bang… untuk keluarga, tamu, gereja, pemerintah, sama tok parengnge'… tetua adat gitu.”
Aku mengangguk. Terharu bahagia
Di tempat lain, kematian sering diiringi keheningan. Di sini, kematian diantar oleh keramaian, oleh kebersamaan, oleh pemberian yang melimpah, seolah orang yang pergi tidak dilepas dengan kosong, melainkan dengan bekal cinta dari seluruh keluarganya.
Kami berdiri cukup lama di sana.
Maria tampak sangat hidup di tengah suasana itu, dia tertawa, menunjuk, menjelaskan, sesekali menatapku untuk memastikan aku mengerti. Angin sore membuat rambut halus di pelipisnya bergerak pelan.
Tak berapa lama, seorang ibu, usianya mungkin sekitar empat puluhan, wajahnya ramah mendekati kami. Ia menyapa Maria lebih dulu, sepertinya sudah lama saling mengenal.
Mereka berbicara cepat dalam bahasa Toraja, dengan nada akrab yang hangat. Aku hanya berdiri di samping, tersenyum sopan, sama sekali tidak mengerti apa yang mereka sahapkan.
Sesekali Maria menunjuk ke arahku sambil menjelaskan sesuatu. Ibu itu mengangguk-angguk, lalu menatapku penuh rasa ingin tahu.
“Adik, dari mana ki?” tanyanya pelan.
“Aku dari Sumatera, Bu… orang Batak,” jawabku.
Wajahnya langsung berseri.
“Ee… pantas ji! Sama pejo kita.”
Aku sempat bingung dengan kata itu, tapi dari raut wajahnya aku tahu maksudnya baik.
“Kita basudara itu… orang Batak sama orang Toraja. Jauh memang, tapi satu asal,” lanjutnya sambil tersenyum lebar.
Ibu itu menepuk lenganku pelan, bagai menyambut keluarga yang lama tak berjumpa.
Aku terdiam sejenak. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dada, perasaan yang sulit dijelaskan. Aku datang dari tempat yang begitu jauh, melintasi laut dan pulau, namun di sini aku disambut seolah bukan orang asing.
Maria menoleh kepadaku sambil tersenyum kecil.
“Bingung mi, Bang… di sini banyak yang rasa bagitu.”
Aku hanya mengangguk. Kata-kata terasa terlalu kecil untuk momen itu.
Di tengah keramaian upacara, di tanah yang sebelumnya terasa asing, tiba-tiba muncul perasaan ku pulang.
Ibu itu kemudian pamit, masih dengan senyum yang sama hangatnya. Ia berjalan kembali ke kerumunan, sementara aku masih berdiri memandang punggungnya yang perlahan menjauh. Hari itu aku belajar sesuatu yang tidak tertulis di buku perjalanan mana pun,
bahwa jarak di peta tidak selalu berarti jauh di hati. Di Tana Toraja, aku tidak merasa sebagai tamu. Aku merasa seperti seseorang yang sedang dikenali kembali.
Lelah pun telah menggantung di bahu kami sejak seharian, menempel seperti debu sawah yang tak sempat disapu angin. Meski begitu keletihan itu seolah tak berani menyentuh wajah Maria.
Gadis Toraja-ku itu tetap bercahaya.
Terang perlahan berganti gelap di pelataran upacara. Remang petang menyapu tiang-tiang bambu, dan nenek kemudian mengajak kami pulang. Hari telah panjang, dan tubuh meminta haknya untuk beristirahat.
 |
| Mengarak Tau-tau ke komplek Tongkonan |
Upacara Rambu Solo' untuk Ne' Paul saudara kandung dari nenek Maria belumlah usai.
Besok masih akan ada rangkaian lain, jenazah akan diarak mengelilingi kampung, diiringi kerbau-kerbau pilihan, tedong yang telah dihias dengan kain dan ornamen kebesaran.
Maria tadi menjelaskan tentang tedong saleko dan tedong bonga, kerbau-kerbau istimewa yang kehadirannya menjadi lambang penghormatan terakhir bagi yang berpulang. Dalam tradisi orang Toraja, setiap langkah prosesi adalah bahasa,
dan untuk setiap hewan yang dipersembahkan adalah kalimat yang tak terucap, namun jelas dimengerti oleh para leluhur.
Kemudian malam itu kami meninggalkan Nonongan, kembali ke Rantepao. Jalanan lengang, lampu-lampu rumah menyala jarang di antara gelap yang luas. Di dalam mobil, tak banyak kata terucap. Hanya napas yang teratur, aku menoleh ke arah Maria. Ia menyandarkan kepala ke jendela, memandang keluar dengan mata yang masih menyimpan cahaya siang tadi.
Sesampainya di rumah, Maria berkata pelan kepada nenek bahwa besok dia masih harus ke sekolah. Mungkin hanya setengah hari, sampai sekitar pukul dua belas.
“Aku masih harus bereskan beberapa berkas, Ne',” katanya lembut. Lalu Maria menoleh kepadaku.
“Bang, besok kita berangkat siang ji ke acara Ne' Paul. Masih mau ke sekolah dulu.”
Aku mengernyit sedikit, agak tak paham, ingin memastikan.
“Gimana-gimana?” tanyaku.
Maria tersenyum tipis. Wajahnya tenang, matanya lembut, lalu ia mulai berbicara dengan logat Torajanya yang mengalir alami.
“Bagini ka', di sekolah itu hampir semua urusan IT saya ji yang pegang. Guru-guru banyak mi yang sudah sepuh, tidak tarlalu paham komputer.
Kalau disuruh buka file saja kadang masih panggil saya. Apalagi kalau sudah masuk soal aplikasi, data dapodik, atau kirim-kirim berkas lewat email… pasti saya lagi yang dicari.”
Maria tertawa kecil, bukan karena merasa terbebani, tapi tawa seseorang yang menerima perannya dengan lapang.
“Jadi tidak enak juga kalau saya tinggal begitu saja. Masih ada beberapa berkas mau saya bereskan dulu besok. Supaya aman semua. Nanti kalau sudah selesai, baru kita menyusul ke Nonongan. Tidak lama ji, paling sampai jam dua belas.”
Jelasnya dengan ringan.
“Tenang mi, Bang. Cepat ji itu selesai.”
Sambil dia melempar senyum yang manis tapi bukan gula.
Aku hanya mengangguk kagum melihatnya.
Nenek mengangguk pelan, lalu menjawab dalam bahasa Toraja yang serak,
“Iyo, ta apa-apa dik, Nenek ji duluan ka sana. Dijemput mi Pak Yaya. Kalian menyusul saja naik motor.”
Aku pun mengangguk.
“Oh iya, begitu juga tidak apa-apa.”
Lalu kutambahkan, setengah menawarkan diri, setengah ingin tetap berguna di dekatnya.
“Kalau ada yang penting, aku juga bisa bantu di sekolah kok.”
Maria menggeleng kecil, senyumnya tetap lembut.
“Nggak apa-apa ji, Bang. Aman kok semua.”
Kalimat itu singkat dan menenangkan. Kesepakatan pun selesai tanpa perlu dirundingkan panjang. Rencana esok hari telah menemukan bentuknya sendiri.
Sebelum beristirahat, aku menyerahkan sarung hitam itu kepadanya.
“Ini sarungnya Dik,” kataku.
Maria langsung menolak.
“Itu kan masih mau dipakai besok bangπ.”
Matanya melotot geram.
Lanjut, kami pun beristirahat.
 |
| Tedong silaga di Nonongan Toraja Utara' 2022 |
Paginya, aku terbangun sekitar pukul tujuh.
Udara Rantepao masih sejuk, sementara di teras, Bu Jenny dan Pak Yahya duduk berhadap-hadapan, asyik berbincang pelan sambil menyeruput kopi. Nenek sudah rapi dengan pakaian nuansa putihnya, tanda nene' siap berangkat lebih dulu ke Nonongan.
Maria juga telah bersiap menuju sekolah.
Rambut pendeknya terjatuh rapi diatas bahu,
tas diselempangkan, wajahnya masih menyimpan sisa kantuk yang manis.
Aku cuci muka, lalu duduk di teras ikut nimbrung. Tak lama, Nenek memanggil kami untuk sarapan. Kami makan sederhana, tanpa banyak kata, hanya bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring.
Sesudah itu, Nenek dan Pak Yahya berangkat lebih dulu.
Maria berdiri di dekat pintu, lalu menatapku sebentar sebelum pamit. Dengan logat Toraja yang lembut dia berkata,
“Bang, berangkat mi aku ke sekolah dulu, ya. Tunggu ji di rumah… paling sebelum jam dua belas sudaa pulang kok.”
Dia kemudian menambahkan, masih dengan nada santai khas Sulawesi Selatan,
“Kalau bosan, pergiki mutar-mutar kota dulu.
Atau ke Pasar Bolu… itu pasar kerbau terbesar di dunia, Bang. Banyak sekali tedong di sana, bagus-bagus semua. Lihat-lihat ji dulu.”
Aku langsung menyahut tanpa berpikir panjang.
“Ah, aku ikut antar adik saja. Biar aku yang antar ke sekolah ya.”
Maria terdiam sejenak, lalu menekap lenganku pelan. Dia tertawa kecil, senyum tipisnya seperti matahari yang baru muncul dari balik bukit.
“Ih… tida usah ki repot, Bang.”
“Tidak apa-apa,” kataku. “Aku mau.”
Ia tidak menolak lagi.
Kami pun berangkat bersama. Jalanan pagi itu belum ramai. Rumah-rumah kayu berdiri tenang, seolah masih mengantuk. Kabut tipis menggantung di lereng-lereng jauh. Sesekali Maria menunjuk tempat-tempat yang kami lewati, menjelaskan dengan antusias seperti biasa.
Sesampainya di sekolah, dia turun dari motor dengan langkah ringan. Sebelum masuk gerbang, Maria menoleh lagi.
“Nanti ku telepon ki kalau sudah selesai ya, bang.”
Aku mengangguk. Sambil melempar senyum kambing khas Poltak..
Baru sebentar dia hilang di balik bangunan sekolah, akupun sudah merindu.
Seperti ada pulak yang ikut pergi bersamanya.
Aku pun melanjutkan perjalanan menuju Pasar Bolu. Di sana, kerbau-kerbau besar berdiri berderet, sebagian terikat, sebagian hanya diam seperti batu hidup. Aku berjalan di antara mereka, memandang satu per satu, mengingat cerita Maria tentang tedong saleko, tentang harga yang bisa setara sebuah rumah.
Sesekali aku duduk di pinggir, hanya memandang. Menunggu waktu bergerak pelan menuju siang. Menunggu sebuah panggilan yang akan membawaku kembali ke gerbang sekolah itu. Menunggu Maria. Gadis Toraja-ku.
Belum sampai siang, sekitar pukul setengah sebelas, handphone-ku bergetar. Maria memanggil. Aku segera mengangkatnya. Dari seberang terdengar suaranya yang lembut,
“Di mana ki, Bang? Jadi kita ke Pasar Bolu?”
“Iya, ini masih di pasar. Lagi lihat-lihat kerbau. Ternyata ada babi juga dijual di sini,”
Jawabku sambil memandang deretan tedong yang berdiri tenang di bawah matahari.
“Iyo, memang. Ada babi, ada kuda juga. Tapi paling banyak itu kerbau ji,” katanya ringan.
“Sudahmi, datang ji sini jemput aku.”
“Oke, cantik. OTW.” Candaku menggodanya.
Lima menit kemudian aku sudah tiba di depan sekolahnya. Dia keluar dengan seragam dinas yang masih rapi, wajahnya segar seperti tadi pagi.
“Kok cepat urusannya hari ini?” tanyaku.
“Iyo, ternyata sebentar ji. Tidak banyak yang dikerjakan. Besok juga tidak masuk, bisa jalan-jalan mi,” ujarnya sambil tersenyum.
“Baguslah.” Kataku
Lalu Maria menatapku penuh antusias.
“Bang, kita makan siang di Pongburi ji.”
“Pongburi itu apa?”
“Itu warung makan tradisional di sini. Makanan Toraja semua ada. Abang harus coba.”
Tak jauh dari rumah, masih di wilayah Rantepao, Warung Pong Buri. Tempat itu ramai.
Meja-meja hampir penuh. Orang lokal bercampur dengan pendatang. Maria berkata tempat itu sudah lama dikenal, ada rahasia rasa yang dijaga turun-temurun. Maria memesankan untukku pa'piong babi, daging yang dimasak bersama bumbu khusus. Untuknya, dia memilih pamarasan,
kuah hitam pekat yang mengingatkanku pada tanggo-tanggo margota di Toba.
Sambil menunggu, aku melihat di meja sebelah beberapa lelaki meneguk cairan keruh dalam gelas kecil.
“Itu tuak?” tanyaku pelan.
“Iyo, itu balo',” jawab Maria.
“Jangan bilang abang mau minum.”
Aku tertawa. “Di Sumatera biasa kok minum tuak.”
Tanpa pikir panjang aku memesan sedikit.
Tatapan Maria langsung berubah tajam, matanya membulat menatapku.
“Bang…” katanya pelan, setengah protes.
Aku hanya mencicipi sedikit. Rasanya ringan dan manis. Tidak sekuat tuak orang Batak yang biasa membuat kepala cepat teler. Ballo' ini lebih lembut. Maria tetap menggeleng kecil, namun akhirnya ikut tersenyum ketika makanan datang.
Setelah makan, kami pulang sebentar.
Maria berganti pakaian agar lebih santai menghadiri lanjutan upacara di Nonongan.
Tak lama kemudian kami berboncengan menuju lokasi Rambu Solo'. Angin siang menerpa wajahku. Hati terasa ringan. Aku tersenyum sendiri tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Setibanya di Nonongan, perarakan sudah berlangsung. Kerbau-kerbau berhias kain merah, tanduknya dipoles, tubuhnya dihias rapi.
Ada yang mengangkat bambu tinggi dengan dedaunan, ada pula yang membawa tandu tertutup kain hitam dengan caping di atasnya, kalau kata si-Maria itu simbol kehadiran roh.
Maria menyuruhku ikut mengangkat bambu tandu itu.
“Angkat ji, Bang. Biar ikut merasakan.”
Aku menurut. Di pundakku terasa beban ringan namun sarat makna. Maria tertawa kecil sambil merekam tingkahku.
Di tengah arak-arakan, muda-mudi menyiram air ke siapa saja yang lewat. Tawa pecah di mana-mana. Lumpur beterbangan. Semarak terasa seperti pesta besar yang hidup. Ketika Maria hendak menyiramku, aku membalas percikan kecil. Namun ketika giliranku menyiramnya, tanganku tertahan. Nggak tega aku.
 |
| Perarakan pada upacara adat Rambusolo'—2022 |
Kami tertawa dan larut dalam keramaian.
Nenek tak terlihat di antara lautan manusia.
Tapi suasana begitu hidup hingga kehilangan kecil itu terasa ringan-ringan saja.
Hari perlahan bergeser menuju sore. Belum selesai semuanya, kami pulang dengan motor.
Namun sebelum benar-benar kembali ke rumah, Maria mengajakku berkeliling kota sebentar.
Kami berhenti di sebuah kedai kopi di Rantepao. Secangkir kopi Toraja tersaji di hadapan kami. Aromanya dalam dan bersih. Rasanya kaya, dengan jejak rasa pegunungan yang lembut. Nikmatnya kopi itu terasa berlipat karena Maria duduk di sebelahku. Kami berbincang lama.
Dia menanyakan tentang perkuliahanku, termasuk tentang skripsi yang sempat membuatku gamang.
Maria mendengar dengan sungguh-sungguh, lalu berkata pelan,
“Pelan-pelan ji, Bang. Semua ada waktunya selesai. Jangki terlalu keras sama diri sendiri.”
Kalimatnya sederhana, menyalakan pelita kecil
di ruang batinku yang sempat gelap.
Obrolan kami di kafe beralih ketika Maria tiba-tiba berkata pelan,
“Besok subuh kita ke Lolai yok, Bang. Negeri di atas awan.”
Aku langsung mengangguk.
“Aku suka lihat awan. Kan suka naik gunung.”
“Bagusmi. Berangkat jam setengah empat.
Nanti aku bangunin.” Katanya.
Kalimat itu membuat malam terasa lebih pendek dari biasanya.
“Kalau gitu kita jangan lama-lama di sini.
Pulang saja, biar sempat istirahat,” kataku.
Pagi buta, Maria sudah siap.
Dia mengetuk pintuku pelan,
“Bang… bangun ki. Mau pagi mi ini.”
Kami berangkat setelah berpamitan kepada nenek yang tidak keberatan tentang kelesehan kami ini. Sekitar setengah jam naik motor menembus jalan sempit yang berkelok dan menanjak, kami tiba di pos masuk.
Anehnya, tak seorang pun meminta karcis.
Kami saling pandang, lalu tertawa kecil.
Motor Vario berplat merah itu seperti membawa kami masuk tanpa pertanyaan, seolah-olah gunung itu punya oppung kami.
Di puncak, udara dingin menyambut kami.
Kabut bergerak perlahan, membuka dan menutup pemandangan.
Maria mengenakan jaket tebal. Aku memakai jaket gunungku. Dia tampak menggigil kecil, namun matanya tetap cerah.
Di bawah sana, kota Rantepao terbaring tenang, sementara awan mengapung di bawah kaki kami seperti lautan putih yang diam.
Saat matahari mulai naik, cahaya menyentuh wajah Maria lebih dulu. Aku melihatnya berdiri di tepi pandang, rambut pendeknya digerakkan angin, pipinya sedikit memerah oleh dingin. Pemandangan itu membuat tempat setinggi itu terasa semakin indah karena ada dia di dalamnya.
 |
| Menhir Kalimbuang Bori' th 2022 |
Hari itu Maria berkata ingin mengajakku jalan-jalan selama liburnya. Dan aku merasa seperti sedang dipandu oleh seseorang yang ingin memperlihatkan rumahnya kepada tamu yang ia percayai. Dari sanalah kami melanjutkan perjalanan ke Lo'komata. Sebuah batu raksasa berdiri seperti bukit yang dipahat. Di dalamnya terdapat liang-liang pemakaman manusia.
Maria menjelaskan dengan penuh perhatian, tentang bagaimana batu itu menjadi rumah bagi mereka yang telah kembali ke asalnya.
Suaranya lembut, seakan tak ingin mengganggu ketenangan yang berdiam di sana.
 |
| Batu-batu menhir peninggalan Leluhur Toraja |
Kami kemudian naik lebih tinggi lagi menuju Batutumonga. Udara di sana lebih dingin, lebih bersih, seperti belum tersentuh oleh keramaian dunia. Sawah-sawah itu bertingkat membentang seperti undakan menuju langit.
Kerbau berjalan lambat di antara hijaunya lembah. Rumah-rumah adat tampak kecil di kejauhan.
Kami berhenti berkali-kali, pemandangan terlalu indah untuk dilewati begitu saja.
Kami berfoto di tepi sawah, tertawa tanpa alasan penting, menikmati perjalanan yang terasa seperti hari tanpa beban. Aku merasakan kenyamanan yang tenang di sampingnya. Terasa damai yang perlahan memenuhi ruang di dalam dada.
Aku tak tahu apa nama perasaan itu.
Aku hanya tahu aku tidak ingin hari itu berakhir.
Dari Batutumonga, Maria belum ingin langsung pulang. Dia menoleh kepadaku dengan senyum kecil yang menyimpan rencana lain.
“Bang, kita ke Buntu Burake ji dulu. Lihat patung Yesus. Bagusmi disana.”
 |
di Patung Tuhan Yesus Memberkati Buntu Burakke Tana Toraja—2022 |
Aku mengangguk tanpa bertanya apa pun. Bersamanya, setiap tempat terasa layak untuk dituju. Perjalanan menurun lalu kembali menanjak. Jalan berliku seperti benang yang dijahitkan pada punggung-punggung bukit.
Angin mulai sejuk lembut, tanda hari sudah bergerak menuju senja.
Tak lama kemudian, patung Kristus raksasa itu tampak berdiri di puncak, menghadap lembah luas di bawahnya Patung Yesus Buntu Burake. Lengannya terbuka seolah merangkul seluruh tanah Toraja dalam keheningan yang agung.
Kami memarkir motor, lalu berjalan perlahan menaiki tangga. Banyak orang di sana, namun entah mengapa aku merasa seperti berjalan hanya berdua saja. Maria melangkah di depanku sesekali, lalu di sampingku, lalu berhenti menunggu.
Dia tampak bahagia,
“Cantik toh, Bang?” katanya sambil menatap ke bawah. Dari ketinggian itu, kota Makale tampak kecil,
Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak setuju, hanya karena keindahan itu terlalu penuh untuk diringkas dalam satu kata.
Kami berdiri di dekat pagar pandang.
Angin meniup lembut, tanpa sadar,
Maria mendekat sedikit, mungkin karena ingin berbagi pemandangan yang sama dari sudut yang sama. Di satu titik, dia mengeluarkan ponselnya.
“Bang, photo ki dulu.”
Kami berfoto canggung seperti dua orang yang belum tahu harus berdiri seberapa dekat.
Lalu dia tertawa sendiri melihat hasilnya.
“Ulang ki… yang tadi kaku sekali.”
Kali kedua, ia berdiri lebih dekat.
Bahuku bersentuhan dengan lengannya.
Hangat kecil itu terasa sampai ke dalam dada.
Kami kemudian duduk di bangku beton menghadap lembah. Tidak banyak kata.
Hanya diam yang terasa cukup.
Beberapa anak berlarian, beberapa wisatawan berswafoto, suara angin menyusup di sela pagar logam. Namun di antara semua itu, ada ruang kecil yang terasa milik kami sendiri.
Maria berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Kalau saya lagi pusing, saya suka datang ke sini ji. Duduk saja… lihat jauh.”
Aku mengangguk. Kini aku mengerti mengapa ia ingin membawaku ke sana.
Bukan sekadar menunjukkan tempat wisata,
tapi tempatnya menyimpan ketenangan.
Saat kami berdiri hendak turun, Maria berkata ringan,
“Lain kali kita ke sini lagi, Bang. Subuh-subuh bagus sekali.”
Aku tahu kalimat itu bukan sekadar rencana wisata. Itu adalah cara halus Maria mengatakan bahwa dia berharap masih ada hari lain bersama.
Menjelang malam kami pulang.
Tubuh lelah, namun hati ringan.
Nenek sudah berdiri di depan rumah ketika kami tiba.
“Gimana jalan-jalantta, Nak?” tanyanya.
Maria menjawab cepat, riang seperti burung yang baru kembali dari langit.
“Seru, Ne'!!!”
Nenek langsung menggeleng kecil.
“Bukan kau yang kutanya. Kampungmu ini.
Adik itu yang perlu ditanya. Dia baru pertama datang.”
Aku tersenyum.
“Seru, Ne'. Indah sekali. Alamnya kaya, budayanya kuat. Saya terpesona sekali.”
Nenek mengangguk pelan, seolah sudah tahu jawaban itu sejak awal.
“Ya sudahmi. Istirahat 'tta dulu.”
 |
| Tongkonan Kesu' Toraja Utara—2022 |
Kami masuk ke rumah dengan langkah lambat. Malam datang perlahan, dan hari itu berakhir tanpa peristiwa besar, namun penuh oleh kenangan kecil yang menetap diam di dalam hati.
Setelah hampir dua minggu aku tinggal di Toraja, di rumah besar itu, bersama Maria, Nenek, dan Bu Jenny, akhirnya hari pulang itu datang juga.
Tidak ada yang benar-benar siap untuk hari seperti itu. Ia datang saja, bagai waktu yang sudah ditentukan jauh sebelumnya tanpa meminta persetujuan siapa pun.
Setelah pulang misa minggu pagi itu, Maria menemaniku memesan tiket bus di Perwakilan
bus -bus menuju Makassar. Aku memilih bus Metro Permai yang berangkat pukul lima sore.
Maria berdiri di sampingku saat aku berbicara dengan petugas. Dia tidak banyak bertanya,
hanya memastikan jadwalnya, lalu mengangguk pelan. Wajahnya tenang, tetapi ada sesuatu yang tertahan di sana, ga tahu apa, mungkin itu hanya perasaanku saja.
Kami pulang ke rumah dan menyiapkan barang-barangku. Carrier gunung itu terasa lebih berat dari biasanya, seakan semua kenangan dua minggu ikut masuk ke dalamnya.
Sebelum sore tiba, kami sempat berkeliling kota dengan motor pelat merah itu. Jalan-jalan yang dulu terasa asing kini seperti sudah mengenalku. Kami melewati pertokoan, rumah-rumah, sudut-sudut kota yang pernah kami singgahi.
Aku mengemudi pelan. Maria duduk di belakang.
Tidak banyak percakapan. Sesekali dia menunjuk tempat yang pernah kami datangi, lalu kembali diam.
 |
| di Kec. Kesu' Toraja Utara |
Menjelang sore, Nenek memanggilku ke ruang makan. Ia sudah menyiapkan pa'piong babi hangat, makanan khas yang beberapa kali kami makan bersama selama aku di sana. Kami duduk bertiga, Bu Jenny ikut menemani. Nenek berbicara pelan, menyuruhku datang lagi kapan-kapan, mengatakan bahwa rumah itu terbuka untukku, bahwa aku boleh menganggapnya sebagai nenekku sendiri. Aku mengangguk, mencoba menanam setiap kata itu ke dalam ingatan terdalam.
Maria hampir tidak berbicara. Dia hanya makan sedikit, lebih banyak menunduk.
Karena barangku terlalu banyak untuk dibawa dengan motor, aku memesan becak. Carrier besar dan ransel tidak mungkin ditumpuk begitu saja di atas kendaraan roda dua. Maria ikut naik, duduk di sampingku. Dia mengenakan hoodie yang menutup hampir seluruh tubuhnya.
Sore itu udara sejuk, angin berhembus pelan sepanjang perjalanan menuju terminal yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumah.
Sepanjang jalan, Maria tidak mengatakan apa-apa. Dia memandang lurus ke depan, sesekali menatap ke samping jalan. Tangannya bertumpu di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam sendiri. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa tidak cukup. Aku memilih diam, mencoba menyimpan setiap detik kebersamaan itu.
Sesampainya di terminal, kami menurunkan barang-barang. Maria langsung membantu tanpa diminta. Kru bus sudah menunggu dan memasukkan carrier ke bagasi. Ransel kubawa sendiri. Saat kubuka sebentar, ternyata di dalamnya sudah ada air minum dan beberapa makanan ringan. Maria menyiapkannya diam-diam sejak dari rumah.
Kami duduk di bangku tunggu. Orang-orang berlalu lalang, suara mesin kendaraan, panggilan penumpang dari pengeras suara, semuanya terasa jauh. Kami hanya duduk berdampingan.
Maria menatap lantai, lalu sesekali menatapku dan tersenyum tipis, senyum yang tidak bertahan lama.
Selang setengah jam kemudian, panggilan keberangkatan bus terdengar. Kami berdiri bersamaan.
Aku menghadapnya. Dia masih diam. Matanya sedikit basah, tetapi belum ada air yang jatuh. Senyumnya muncul lagi, tipis, seperti dipaksakan. Saat itulah, tanpa rencana, tanpa pertimbangan, dan tanpa tahu dari mana datangnya dorongan itu, aku menariknya ke dalam pelukanku.
Tubuhnya hangat. Lebih hangat dari yang kubayangkan. Dia langsung membalas pelukan itu, kedua tangannya memeluk punggungku erat, seolah takut aku benar-benar pergi jika dia melepaskan sedikit saja. Wajahnya tenggelam di bahuku. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur. Lalu bahunya mulai bergetar.
Dia menangis.
Tangis yang sejak pagi ditahannya akhirnya keluar begitu saja. Tidak keras, hanya isak pelan yang terasa langsung sampai ke dada.
Tangannya mencengkeram bajuku, seakan di sanalah satu-satunya pegangan yang tersisa.
Di saat itu, ada hal-hal kecil yang justru tertinggal paling jelas.
Hangat tubuhnya.
Tekanan dekapnya.
Dan wangi tubuhnya, lembut, bersih, sedikit seperti sabun yang biasa dipakai orang rumah, bercampur dengan aroma kulit yang hangat. Wangi yang tidak berlebihan, tetapi dekat. Sungguh dekat.
Sampai sekarang pun saat aku menuliskan ini, getar dadaku masih sama seperti ketika di terminal tempo itu.
Aku mengusap punggungnya perlahan, mencoba menenangkannya, meski sebenarnya aku sendiri sedang menahan sesuatu yang berat.
Aku tidak ingin dia melihatku ikut runtuh.
Pelukan itu terasa lama, tetapi juga terlalu cepat berakhir.
Akhirnya aku melepaskannya pelan.
Wajahnya basah. Dia tidak berusaha menyeka air matanya, hanya menatapku dengan mata yang merah dan penuh. Aku mengelus kepalanya, rambut pendeknya terasa lembut di telapak tanganku.
“Aku pergi ya.”
“Iyaa, Bang… hati-hati di jalan. Kabari aku terus.”
Suaranya serak, hampir pecah.
Aku meminta dia segera pulang, tidak perlu menunggu bus berangkat. Dia mengangguk berkali-kali, meyakinkanku bahwa dia akan baik-baik saja.
Aku naik ke bus.
Dari jendela, kulihat Maria masih berdiri di sana. Kedua tangannya memegang lengan sendiri, hoodie-nya tertiup angin sore.
Dia tidak melambaikan tangan. Dia hanya berdiri, menatap ke arah bus, diam sekali, mungkin seluruh suara indahnya itu tertinggal di pelukan tadi.
Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan terminal Bolu Kota Rantepao.
Aku masih bisa melihatnya beberapa detik lagi, Cikgu-ku itu kecil di antara keramaian, sebelum akhirnya tertutup kendaraan lain dan menghilang dari pandangan. Namun hangat tubuhnya tidak ikut hilang. Wangi itu tetap tinggal, memilih menetap, bahkan ketika orangnya sendiri sudah jauh tertinggal di belakang.
Setelah bus meninggalkan Rantepao, langit perlahan berubah gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Aku menyandarkan kepala ke jendela. Getaran mesin dan jalan yang panjang membuat kelopak mataku berat.
Aku memilih tidur, membiarkan malam membawaku menjauh dari Toraja.
Bus sempat berhenti di sebuah rumah makan di Enrekang. Penumpang lain turun untuk makan atau sekadar meregangkan kaki.
Aku tidak terbangun. Mungkin aku benar-benar lelah. Mungkin juga ada bagian dari diriku yang belum siap menerima bahwa aku sedang benar-benar pergi. Baru ketika aku membuka mata, cahaya pagi sudah masuk dari sela-sela tirai. Jalanan lebih ramai. Toko-toko mulai buka.
Orang-orang menunggu angkutan di tepi jalan.
Aku melihat papan penunjuk arah dan menyadari bahwa kami sudah berada di Maros.
Tidak lama lagi tiba di Makassar.
Bus akhirnya berhenti di perwakilan Metro Permai di Jalan Perintis Kemerdekaan. Aku turun pelan. Udara Makassar terasa lebih panas.
Carrier-ku diturunkan dari bagasi.
Aku berdiri sebentar, menata napas, lalu segera mencari kendaraan menuju bandara.
Jadwal penerbanganku siang itu tidak memberi banyak waktu.
Aku tidak langsung menghubungi Maria.
Pikiranku tertuju pada tiket, waktu check-in,
dan jarak ke bandara. Perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin terasa cepat. Di dalam mobil, aku lebih banyak diam.
Setelah duduk di ruang tunggu, barulah aku mengeluarkan ponsel dan meneleponnya.
Dia mengangkat tidak lama kemudian.
“Hallo, Bang,” suaranya pelan.
“ Di mana kita ini?” tanyaku
“Ini sementara lagi kelas, bang. lagi jam pelajaran.” Lalu dia menambahkan, “Kabari teruski di mana pun ta’ berada, ji. Janganki lupa ya.”
“Iya. Ini sudah di bandara. Tinggal tunggu terbang ke Semarang.”
“Iye. Hati-hatiki di jalan. Nanti kalau sudah sampai, kabari lagi.”
Percakapan itu singkat. Dia kembali mengajar.
Aku menutup telepon dan menatap layar yang gelap. Aku membuka ransel. Di dalamnya ada makanan ringan dan air minum yang sebelumnya Maria siapkan tanpa banyak bicara.
Aku memakannya perlahan. Setiap gigitan terasa seperti perpanjangan dari tangannya yang mengatur isi tas itu.
Di ruang tunggu bandara yang ramai, aku merasa ada bagian dari diriku yang tidak ikut pulang.
Sulit menjelaskannya dengan tepat.
Maria bukan kekasihku. Tidak ada kalimat yang pernah mengikat kami. Tidak ada kesepakatan apa pun yang disebut hubungan.
Kami hanya dua orang yang dekat.
Dekat dalam waktu yang tidak panjang.
Aku menyayanginya. Itu yang bisa kuakui dengan jujur. Dan dari caranya menangis di terminal,
dari caranya membekaliku makanan, dari caranya selalu meminta agar aku mengabari, aku tahu dia juga menyayangiku. Ga tau kalau aku salah.
Kami sudah lama saling mengenal sebelum akhirnya aku datang ke Toraja.
Obrolan panjang melalui pesan singkat menjadi jembatan yang membawaku menempuh perjalanan ribuan kilometer itu.
Sebagai laki-laki, aku merasa wajar jika aku datang menemuinya secara langsung.
Aku ingin memastikan bahwa semua yang kami bicarakan selama ini memang nyata ketika dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama. Namun aku juga sadar, kedekatan tidak selalu harus diberi nama. Ada hal-hal yang berjalan dengan apa adanya saja.
Panggilan boarding terdengar. Aku berdiri dan masuk ke pesawat. Dari Makassar menuju Semarang, perjalanan ditempuh sekitar satu setengah sampai dua jam. Perbedaan waktu satu jam membuat jam tanganku terasa melompat lebih cepat. Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani pada sore hari.
Sebelumnya aku sudah menelepon Ivander untuk menjemputku. Dia sudah menunggu di parkiran dengan rambut gondrongnya yang tergerai seperti biasa. Kami tidak banyak bicara.
Carrier-ku dinaikkan ke motor, lalu kami menuju Biara Murti di Tembalang. Jalanan Semarang terasa biasa saja. Aku kembali pada rutinitas.
Hidupku kemudian kembali masuk ke alur yang lama, alur seorang mahasiswa yang masih bergulat dengan skripsi, dengan catatan, buku, dengan burjo, dan dengan hari-hari yang terasa hampir serupa satu sama lain. Aku kembali ke rutinitas biara dan di Tembalang yang sebentar sempat kutinggalkan. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah perjalanan jauh itu hanya jeda singkat dalam hidupku.
Namun satu hal tidak kembali seperti semula, Maria tetap hadir pada hari-hariku, meski jauh. Kami terus berkomunikasi. Kadang lewat video call, kadang telepon biasa, kadang hanya pesan singkat di WhatsApp. Tidak selalu lama, tidak selalu penting pula, tapi selalu ada. Aku merasa tenang mengetahui dia sehat di sana, menjalani harinya, dan masih menyempatkan diri mengingatku.
Hari-hari pun bergulir tanpa terasa.
Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Aku semakin tenggelam dalam kesibukan di biara, dalam tugas-tugas gereja, maupun dalam kehidupan Tembalang yang padat disaat yang sama. Sementara itu Maria menjalani rutinitasnya sebagai guru di sekolah. Kami hidup di dua pulau yang berbeda, dipisahkan laut dan jarak yang tidak bisa ditempuh begitu saja, tetapi kabar-kabar kecil menjadi jembatan yang tetap menyambungkan kata.
Dia sering bercerita tentang murid-muridnya, tentang tingkah mereka yang polos, tentang semangat belajar yang kadang naik turun, tentang hal-hal kecil di kelas yang membuatnya tersenyum. Tidak pernah sekalipun kudengar dia mengeluh. Suaranya selalu ringan ketika bercerita, memang mengajar itu adalah bagian dari hidup yang dia jalani dengan sepenuh hati. Bahkan dalam keadaan apa pun, dia tetap menemukan alasan untuk merasa bahagia berada di depan kelas.
Ya attar begitulah kami menjalani semuanya.
Tak ada janji besar, tak ada rencana yang muluk-muluk. Paling aku menggodanya sedikit, sungguh sedikit saja. Sisanya kami hanya dua orang di tempat yang jauh, hanya memberi kabar supaya satu sama lain tahu kalau di ujung bumi sana masih ada seseorang yang mengingat.
Sampai pada awal Desember 2022. Sekitar pukul 02.30 dini hari, Maria sempat meneleponku. Telepon itu tidak pernah masuk.
Seperti biasa, ponselku kumatikan ketika tidur. Tentu panggilan dari Donald Trump pun tidak akan bisa masuk, hakkaru pultak Sinabung.
Akhirnya tertinggal hanya satu pesan WhatsApp yang Maria kirim setelahnya.
Pesannya singkat.
Bang, Nenek sudah meninggal dunia. Tiba-tiba. Tanpa sakit.
Kabar datang tanpa aba-aba. Aku pun hanya bisa menerimanya, meski hati takkan pernah siap sepenuhnya. Usianya memang sudah lanjut. Namun tetap saja kabar itu terasa terlalu cepat. Bahkan belum genap setahun sejak aku meninggalkan Toraja, nenek sudah tiada.
Pagi harinya ketika aku bangun dan menyalakan ponsel, pesan itu langsung terbaca. Dadaku terasa kosong. Kaget, sedih, dan sulit menerima dalam satu waktu. Nenek memang bukan nenek kandungku, tetapi aku pernah merasakan sendiri kasihnya. Dia menyambutku seperti keluarga.
Dia menyiapkan makanan. Dia bertanya apakah aku sudah istirahat. Dia bahkan pernah berkata, kapan pun aku datang, rumah itu selalu terbuka untukku. Dia memintaku menganggapnya sebagai nenekku juga, sebagaimana Maria memanggilnya. Kata-kata itu masih jelas diingatanku.
Bahkan setelah aku kembali ke Semarang, ketika video call dengan Maria, nenek kadang ikut duduk di sampingnya. Dia menatap layar dengan mata yang lembut, menanyakan kabarku, dan selalu tersenyum lebar.
Dan, di awal masa Advent itu, saat Maria bersiap menyambut Natal, dia kehilangan orang yang paling berarti baginya.
Aku langsung menelepon Maria pagi itu.
Tidak diangkat. Kutelepon lagi beberapa kali,
tetap tidak tersambung. Mungkin dia sedang sibuk, atau ponselnya tidak berada di tangannya.
Sampai sekitar dua jam kemudian, ponselku berdering. Maria yang menelepon balik.
Suaranya berat. Dia bercerita sambil menangis. Nenek meninggal di rumah, tanpa keluhan panjang, tanpa tanda yang mencolok.
Semua terjadi cepat. Dia mengulang-ulang cerita itu, seolah masih mencoba memahaminya sendiri. Tangisnya pecah di sela setiap kata-kata yang diucapkannya.
Aku mendengarkan. Tidak banyak yang bisa kukatakan. Jarak membuatku hanya bisa menjadi doa di ujung telepon. Aku mencoba menenangkan sebisaku. Menguatkan dengan kata-kata sederhana. Mengingatkannya bahwa usia nenek sudah panjang, bahwa dia pergi dengan tenang,
dan Tuhan tentu menyambutnya.
Maria lantas meyakinkanku, bahwa dia akan menerima semuanya. Sungguh aku bangga, tak heran, dia memang sudah khatam untuk sekadar kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya.
Maria juga mengatakan bahwa nenek tidak akan langsung dikuburkan. Ada banyak persiapan adat yang harus dilakukan. Sebagai bangsawan Toraja, rangkaian upacaranya tidak sederhana.
Keluarga besar harus berkumpul. Semua harus dirundingkan. Dan jasad nenek nanti masih akan disimpan dirumah Tongkonan mereka yang di desa, bukan dirumah besar yang di kota kecil Rantepao itu.
Lantas aku mengatakan kepadanya agar fokus dulu pada keluarga dan semua persiapan di sana.
Jika ada waktu, dia boleh meneleponku lagi.
Keesokan paginya, Maria meneleponku lagi. Suaranya terdengar lebih tenang, mungkin karena kesibukan sejak malam sebelumnya mulai mereda. Dia berbicara dengan logat Sulawesi Selatannya yang lembut, dengan nada yang pelan namun jelas.
Katanya sore ini nenek akan dibawa ke tongkonan besar keluarga mereka, tongkonan tua di kompleks keluarga di sebuah desa yang tidak jauh dari Rantepao. Di sanalah jenazah akan disemayamkan sementara. Keluarga besar akan berkumpul, berdiskusi panjang, menentukan kapan upacara Rambu Solo’ besar akan dilaksanakan.
“Disimpan mi dulu di tongkonan bang… tunggu keluarga semua datang,” katanya pelan.
“Belum bisa langsung apa-apa… harus dirapatkan dulu sama keluarga besar.”
Dia juga menjelaskan bahwa menurut kepercayaan orang Toraja, roh orang yang meninggal belum benar-benar tenang sebelum upacara itu dilaksanakan. Karena itulah segala sesuatu harus dipersiapkan dengan matang. Tidak bisa tergesa-gesa. Aku pun hanya mendengarkan.
Sesekali mengangguk meski dia tidak bisa melihatku.
Lalu aku berkata pelan, semoga semua diskusi keluarga menemukan jalan yang baik.
Aku memintanya untuk tetap mengikuti setiap perkembangan di sana, tetap berada di dekat keluarganya, membantu sebisanya. Aku juga mengingatkannya, jika memungkinkan, jangan sepenuhnya meninggalkan kewajiban mengajarnya. Di akhir percakapan, aku berpesan agar dia menjaga kesehatannya. Itu yang paling penting. Suaranya terdengar lelah, dan aku tahu hari-hari ke depan tidak akan ringan baginya.
Pada saat itulah aku benar-benar merasakan betapa berat keadaan yang sedang dihadapinya. Banyak kehilangan sudah ia lewati sejak lama, dan sekarang satu lagi orang terdekatnya pergi.
Namun setidaknya Maria tidak sendirian.
Masih ada Ambe' Yahya, adik dari mendiang ayahnya, dan keluarga besar yang berkumpul di sekelilingnya disana.
Setelah perundingan panjang diinternal keluarga, Maria kembali mengabariku,
“Bang… sudah diputuskan,” katanya pelan.
“Rambu Solo’ nenek disepakati tahun depan, tanggal 2 Maret 2023. Awal Maret, bang.”
Dia menyebut tanggal itu dengan jelas,
memastikan aku benar-benar mendengarnya.
“Dua minggu rangkaiannya, Bang,” lanjutnya.
“Tapi tida tiap hari ji. Ada hari Minggu istirahat, ada hari tertentu juga jeda. Cuma tetap dua minggu itu kegiatannya jalan terus.”
Aku membayangkan bulan Maret yang masih jauh dari Desember. Waktu yang panjang itu bukan penundaan, tapi ya bagian dari kehormatan adat. Dalam tradisi Toraja, Rambu Solo’ bukan sekadar penguburan. Ini adalah peristiwa keluarga besar, peristiwa martabat, peristiwa yang mengikat kembali seluruh garis keturunan dalam satu perhelatan yang besar, teramat besar menurut aku.
“Berarti besar itu acaranya,” kataku.
“Iya, Bang. Besar. Nanti ada perarakan, ada penerimaan keluarga-keluarga yang datang. Puncaknya biasa mi… potong kerbau, potong babi. Seperti rambu solo’ yang sudah-sudah.”
Di sela penjelasannya, aku bisa merasakan bahwa di balik semua rencana besar itu, tetap ada satu ruang sunyi dalam hatinya. Rambu Solo’ boleh meriah, boleh penuh manusia dan bunyi, tetapi yang dilepas tetap satu sosok yang dia kasihi.
“Jadi masih lama, ya,” kataku pelan.
“Iya bang… masih lama,” sahutnya. “Sambil tunggu itu, keluarga siapkan semua-muanya.”
Aku mengangguk sendiri.
Maret terasa jauh dari Semarang, jauh dari Tembalang, juga jauh dari rutinitasku sebagai mahasiswa yang masih bergulat dengan skripsi. Namun tanggal itu kini tercatat jelas dalam ingatanku, 2 Maret 2023.
Hari ketika keluarga Maria akan mengantar neneknya melalui jalan adat yang panjang, melalui dua minggu ritual yang sarat makna, sampai pada puncak pelepasan yang menjadi kehormatan terakhir bagi seorang bangsawan Toraja.
Memasuki masa Natal yang damai itu, hubungan kami semakin tumbuh dengan tenang,
Maria di sana, di pegunungan Tana Toraja,
aku di sini dengan segala rutinitas yang biasa saja.
Tidak ada ikatan yang bisa disebut dengan nama tertentu, namun setiap hari selalu ada kabar, selalu ada ruang untuk saling hadir. Ku putuskan untuk berhenti mencari penjelasan. Kenyamanan tidak selalu butuh definisi.
Malam itu kami berbicara lewat telepon.
Suara Maria mengalir pelan,
“Bang…” panggilnya lembut.
“Mmm,..” jawab-ku singkat.
“Hampir mi Natal. Tidak terasa sekali waktunya jalan begini cepat.”
Aku tersenyum.
“Udah gimana pangahapmu sekarang baya?”
Kupaksa dia paham arti pertanyaanku itu,
ternyata tak sia-sia selama ini dia ku ajari, katanya;
“Masih ada sedihnya, Bang,” jawabnya jujur.
“Tapi sudahmi lebih tenang. Banyak keluarga
di sini temani. Tidak tarlalu sunyi ji.”
Aku mendengar napasnya di sela kalimat.
Lalu suaranya berubah lebih ringan.
“Bang… nanti awal bulan tiga datangki’ ke Toraja, ya.”
Tardiam aku!!.. Bukan karena aku tak mau.
Justru karena aku sangat ingin. Hanya saja keinginan sering harus berunding dulu dengan kenyataan. Perjalanan jauh, biaya besar, waktu yang harus disiapkan. Semuanya datang tanpa aba-aba, tiba-tiba Maria mengajukan undangan mendadak.
“Datang untuk rambu solo’ nene'ta?” tanyaku purak-purak.
“Iyaa… tapi bukan cuma itu,” katanya pelan berbisik. “Datang juga ki untuk saya.”
Aku terdiam beberapa detik. Kata-kata itu membuatku takut.
“Adik… kita tahu sendiri perjalanan ke sana tidak dekat. Banyak yang harus kusiapkan.”
“Iyo, Ku tahu ji itu, Bang,” jawabnya cepat.
“Tidak paksa ki’. Cuma bilang saja. Kalau memang rezeki dan waktunya baik, pasti bisa.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau memang waktunya aku kembali menginjakkan kaki di Toraja, masuk lagi ke rumah itu… bertemu denganmu… aku akan datang.”
Di ujung sana dia terdiam. Lalu terdengar suaranya lebih lembut dari biasanya.
“Yakinmi aku sama ta’, Bang.”
Hanya itu.
Tidak ada kalimat panjang yang berlebihan. Ucapan dan keyakinannya itu terasa tulus, tanpa desakan dan tuntutan.
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanyaku setengah berbisik.
“Karna sa kenal ki’,” jawabnya lembut.
“Kalau sudah bilang bagitu, pasti diusahakan.”
Aku tersenyum. Hangat itu menjalar pelan, menenangkan sekaligus menggugah hati.
“Jaga ki’ diri baik-baik di sana ya,” katanya lagi.
“Mmm, olo ma inang...” Jawabku sambil senyum KAMBINGG
Setelah malam itu, setiap kali suara Maria terdengar di telingaku, dunia di sekeliling seakan merendah. Tiba-tiba menjadi senyap. Yang tinggal hanya napasnya di seberang sana dan detak di dadaku bagai genderang.
Ingatan selalu membawaku pulang ke terminal sore itu. Ke pelukan yang singkat. Pada lekuk tubuh yang pasrah di lenganku, hangatnya meresap sampai ke tulang. Ada kelembutan yang waktu itu tidak sempat kupahami, ada kedekatan yang tak mampu ku beri jarak, terlalu rapat untuk kuterjemahkan, terlalu naif untuk kuabaikan, dan sekarang, semuanya justru tidak bisa kulupakan.
Kadang, tanpa sebab, aroma tubuhnya seolah muncul menyumbat kepala. Wangi yang akrab, seperti rumah yang tidak pernah benar-benar ku tinggalkan. Saat itu datang, pikiranku berhenti bekerja. Aku hanya diam, membiarkannya lewat, seperti angin yang terbang kian kemari menyentuh kulit, lalu menetap di dada.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya menarikku ke sana. Yang pasti bukan sekadar rindu. Ada sesuatu yang lebih dalam, bagai panggilan yang tak bersuara tapi sulit untuk diabaikan.
Waktu dia berkata bahwa ia yakin padaku, memang ucapannya pelan saja. Tidak dibuat-buat. Namun justru di situlah beratnya. Kepercayaan itu jatuh ke dalam diriku, laksana batu terlontar ke air yang tenang, dan gelombangnya merambat ke mana-mana. Aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang bangkit, menuntut-ku untuk tidak mengecewakannya.
Sejak itu aku sering duduk sendiri, membayangkan jarak yang membentang di antara kami.
Laut, pulau, kota, memang langit yang sama namun arah itu berbeda. Tapi sungguh di balik semua itu, ada perasaan yang tak mampu terceraikan oleh peta. Dan jauh di dalam hatiku, ada keyakinan yang tumbuh perlahan.
Jika memang kami ditakdirkan untuk bertemu lagi, maka langkahku kan tiba ke sana.
Entah dengan jalan yang mudah atau jalan yang berliku. Suatu hari nanti aku akan berdiri lagi di tanah itu, melihatnya dari jarak dekat, mendengar suaranya tanpa perantara, dan mungkin akan menyadari bahwa semua kerinduan ini memang sedang menuntunku pulang, pada tanah yang telah kusumpahkan menjadi rumah.
Hari terus membawa aku melintasi banyak hal yang tak pernah kurencanakan.
Sampai pada suatu titik, tanpa banyak pertimbangan, aku memutuskan kembali ke tana Toraja. Tanggal 28 February 2023, pagi itu aku berangkat ke bandara dengan bus Trans Semarang. Dari Bandara Ahmad Yani International Airport, pesawat mengangkatku menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar. Sepanjang penerbangan, aku sendiri tidak benar-benar mengerti dorongan apa yang membuatku kembali menempuh perjalanan gila ini untuk kedua kalinya.
Gelap menyelimuti Makassar ketika aku tiba di Kota itu. Tanpa banyak jeda, aku langsung menuju terminal dan menaiki bus malam tujuan Rantepao, ibu kota Kabupaten Toraja Utara. Bus yang kunaiki sama seperti dulu, bus-Sinar Muda, di kursi bus itulah aku mengabari Maria bahwa aku benar-benar sedang dalam perjalanan. Dan dia sudah menungguku di sana.
Perjalanan panjang itu membuatku menyerah pada kantuk. Jalan berkelok, udara dingin yang merembes dari jendela, dan suara mesin yang monoton membuatku tertidur tanpa mimpi.
Ketika mata terbuka, pagi sudah datang.
Bus berhenti di perwakilan Sinar Muda di Rantepao, dikota kecil yang sejuk itu.
Ternyata handphoneku penuh panggilan tak terjawab dan pesan dari Maria. Dia sudah berkali-kali menanyakan posisiku. Aku tak sempat menjawab karena benar-benar terlelap sepanjang perjalanan. Kru bus membangunkanku dengan pelan. Aku turun sambil mengucap syukur dalam hati, tas gunung masih menempel di punggung saat aku segera meneleponnya. Kukatakan bahwa aku sudah sampai. Tak lama kemudian, sebuah mobil Innova berhenti di depanku, itu mobil peninggalan nene' Maria. Benar saja, Maria turun dari kursi pengemudi.
Kami saling memandang beberapa detik yang terasa panjang. Hampir setahun kami tidak bertemu. Senyumnya masih sama, hangat dan tenang seperti dulu. Rambutnya sedikit lebih panjang, tetap sebahu, masih membingkai wajah cantiknya yang bersih dan memesona. Sungguh terasa lega yang sulit dijelaskan.
adi' Maria menyapaku pelan. Suaranya tetap halus, tetap membawa rasa rumah meski kami berdiri di tempat yang bagiku masih terasa asing. Dari sorot matanya, aku tahu Dia sungguh senang aku datang.
Aku mendekat dan memeluknya. Dia membalas pelukan erat itu, tanpa ragu, membuat jarak dan waktu yang panjang runtuh begitu saja.
Kami sempat bertahan beberapa detik, lalu sama-sama tersadar bahwa banyak orang memperhatikan. Kami langsung tertawa, tawa yang lepas dan sedikit kikuk, sebab dua orang baru saja melakukan sesuatu yang terlalu jujur di depan umum.
Sambil dia membantuku memasukkan tas ke mobil, katanya;
“Bang… gantian ki manyetir dulu,” katanya pelan.
Aku mengangguk, lalu berpindah ke kursi pengemudi. Saat aku menarik pintu dan mulai meraih sabuk pengaman, belum sempat klik terdengar, Maria tiba-tiba mendekapku dari samping. Begitu saja. Tanpa aba-aba.
Kaos longgarnya itu terlalu tipis untuk menghalau hangat tubuhnya yang langsung terasa menempel ke dadaku. Napasnya berat, seperti menemukan tempat untuk menjatuhkan seluruh lelahnya.
Dengan suara yang lembut, dia berkata,
“Anta’na’ sia… pa’biangku’ dolo’, Bang… tangnga’ ma’pakaboro’ ku.”
(Sebentar saja… biarkan aku memelukmu dulu, Bang… aku capek sekali).
Aku tidak bergerak. Tidak juga berkata apa-apa. Hanya membiarkannya. Pelukan itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama tertahan, yang tak bisa dia lepaskan di depan banyak orang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sungguh diinginkan oleh seorang perempuan, Gadis yang bagiku terlalu cantik, terlalu baik, terlalu segalanya untuk seseorang sepertiku. Pikiran melayang ke mana-mana, bahkan sempat terlintas hal yang terasa berlebihan, mungkinkah saat itu aku lelaki paling beruntung di bumi.
Aku sendiri malu pada pikiranku, lalu membiarkannya tenggelam.
Entah sejak kapan tanganku sudah menyentuh kedua pipinya. Aku memutar wajahnya perlahan agar menghadapku. Matanya basah, namun tetap tenang.
Dan sebelum sempat kupahami apa yang akan terjadi, dia mendekat lalu mengecup bibirku lembut.
Aku seketika diam. Aku kehilangan seluruh keberanian yang biasa kupunya. Jantung berdegup tak karuan. Gugup, kaku, tak tahu harus berbuat apa. Maria justru menarikku kembali ke dalam pelukannya, lebih erat dari sebelumnya, seolah untuk menenangkan kegelisahanku sendiri.
Kami bertahan begitu lama. Waktu terasa berhenti di dalam mobil yang tiba-tiba sunyi itu.
Mungkin lima menit, mungkin lebih.
Hanya ada hangat tubuhnya, napas yang perlahan kembali teratur, dan rasa yang sulit diberi nama.
Akhirnya dia melepaskan pelukan itu,
lalu seperti ingin mengembalikan suasana menjadi ringan, dia mencubit perutku.
“Sudahmi… janganmi bengong begitu,”
katanya sambil tersenyum.
Aku tertawa kecil, seraya mengelus rambutnya yang lembut dengan sayang.
Mobil pun kugiring perlahan menuju rumah besar di tepi Sungai Sa'dan yang membelah Kota itu. Kami tidak banyak bicara. Keheningan di antara kami terlalu Poltak untuk dikatakan canggung.
 |
Aku dan Maria saat jalan-jalan didekat Kota Makale Kab. Tana Toraja |
Sesampainya di rumah, suasana terasa lengang.
Tak ada hiruk-pikuk, yang menyambut hanyalah Bu Jenny, perempuan setia yang sejak dulu selalu ada di sisi Maria. Beliau berdiri di ambang ruang tengah dengan senyum hangat.
Para keluarga besar rupanya telah berkumpul dikompleks tongkonan leluhur mereka di desa, tidak jauh dari Kota ini. Di sanalah segala persiapan upacara rambu solo' untuk tanggal 2 Maret besok dilakukan. Kompleks itu luas sekali, kata Maria, seperti kampung kecil milik satu garis keturunan. Di sana sudah didirikan bangunan-bangunan sementara dari bambu, panggung-panggung upacara, tiang-tiang yang dihiasi ukiran khas Toraja, kain, dan ornamen yang sarat makna. Semua dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, dipimpin oleh Pak Yahya sebagai satu-satunya anak kandung nene' yang tersisa.
Aku menurunkan tas gunungku, meletakkannya
di sudut ruang tamu yang dulu pernah menjadi tempatku duduk berlama-lama bersama nenek. Rumah itu masih sama. Bau kayu tua, jendela lebar, cahaya pagi yang masuk tanpa tergesa, lengkap dengan suara gemuruh Sungai Sa'dan yang merdu tak henti-hentinya.
Bu Jenny sudah menyiapkan sarapan.
Maria rupanya telah mengabari kedatanganku sejak malam sebelumnya.
“Masukmi dulu, Nak… pasti lapar ki,” katanya lembut.
Di meja makan sudah tersaji kopi Toraja yang nikmat, nasi hangat, telur, ikan, dan beberapa lauk sederhana ala makanan rumah sendiri.
Tak ada yang berlebihan, tapi nikmatnya jangan ditanya, sungguh terasa sampai ke dada.
Kami bertiga duduk bersama. Maria di hadapanku, Bu Jenny di sampingnya. Tak banyak percakapan
diawal. Maria pun tampak lebih tenang dibanding tadi di perjalanan, meski matanya masih menyimpan lelah yang belum sepenuhnya hilang. Sesekali Bu Jenny menatap kami berdua dengan wajah yang sulit kuterjemahkan.
Belum sempat aku membuka suara, Bu Jenny sudah lebih dulu berbicara kepada Maria dengan logat khas mereka.
“Maria, ajaki dulu Bangmu itu ke tongkonan.
Biar ketemu sama keluarga di sana.”
Nada suaranya lembut, jelas mengandung maksud baik. Di kompleks tongkonan, seluruh keluarga besar sedang berkumpul. Hari itu tanggal satu. Besoknya upacara dimulai. Tentu suasana sudah penuh kesibukan.
Maria cepat menoleh kepadaku, lalu menggeleng pelan.
“Janganmi dulu, Tan,” katanya.
“Abang ini masih capek. Jauh sekali perjalanannya. Tidur di bus itu, biar bagaimana bagusnya, tetap saja tidak enak.”
Dia menatapku sambil tersenyum kecil.
“Iya kan, Bang?”
Aku hanya tersenyum. Memang ada lelah yang masih tertinggal. Perjalanan panjang semalam belum sepenuhnya luruh. Tetapi sejujurnya aku juga tak keberatan kalau harus langsung bertemu keluarga besarnya. Lagipula, untuk itulah aku datang. Tapi kupikir, mungkin lebih baik menunggu sampai badanku benar-benar segar. Besok adalah hari besar. Akan banyak orang, banyak pertemuan, banyak pula tatapan.
Aku ingin hadir dengan keadaan yang siap.
Akhirnya aku memutuskan untuk menuruti Maria. Istirahat sampai siang terasa masuk akal.
Sebelum aku masuk ke kamar, Maria berkata pelan,
“Bang, aku keluar sebentar ya.”
“Mau ke tongkonan?” tanyaku.
“Iya bang. Mau lihat-lihat dulu persiapannya bagaimana. Sama mau bicara soal keperluan besok. Tenun-tenunnya perempuan juga belum semua siap.”
“Oh iya, atur saja,” jawabku ringan.
“Nanti siang pulang lagi kok, Bang.”
Katanya dengan nada yang biasa, tetapi aku tahu dia sedang membagi dirinya di antara dua dunia, keluarganya yang sibuk menyiapkan upacara, dan aku yang baru saja tiba dari jauh.
Aku mengangguk, lalu masuk ke kamar yang dulu pernah kutempati.
Singkatnya, tibalah hari pembukaan upacara Rambu Solo' untuk nenek Maria.
Pagi itu diawali dengan misa yang dipimpin pastor dari Paroki Santo Theresia Rantepao.
Doa-doa didaraskan bersama nyanyian umat. Semua duduk dalam khidmat, mengenakan pakaian terbaik, kain tenun yang anggun di bahu para perempuan, serta sarung hitam pekat yang terhormat dipinggang para lelaki.
 |
Bersama ibu Jenny sebelum Upacara Rambu Solo' nenek Maria di Rumah Rantepao th 2023 |
Pada pembukaan upacara itu, Maria tampil dalam balutan serba putih yang anggun.
Rambut pendeknya dibiarkan terjatuh.
Riasannya tipis, nyaris tak terasa, hanya cukup untuk menegaskan kehalusan wajahnya. Kulitnya yang putih bersih tampak seperti mutiara alami, tidak menyilaukan, memancarkan kilau lembut yang membuat mata enggan berpaling.
Kain tenun Toraja bernuansa putih melilit tubuhnya dengan jatuh yang pas, mengikuti lekuk tubuhnya tanpa berlebihan, memberi kesan wibawa yang halus. Setiap langkahnya pelan
dan tertata. Senyum ramahnya tak putus-putus diberikan kepada keluarga dan para tamu yang datang, senyum yang tulus dan tanpa dibuat-buat.
Aku duduk tepat di sisi Maria, dikelilingi keluarga intinya. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Keramahan orang Toraja terasa alami, bahkan Pak Yahya, yang pernah kukenal sebelumnya, kini menyapaku dengan lebih hangat, seakan jarak yang dulu samar kini luruh di tengah peristiwa besar ini.
Rangkaian acara bergerak teratur. Ada arak-arakan kecil, lalu arak-arakan yang lebih megah.
Kata sambutan silih berganti, penuh tata krama dan penghormatan, mengingatkanku pula pada adat Batak di barat yang jauh sana. Struktur, tutur, penghargaan kepada leluhur semuanya terasa akrab bagiku.
Sementara Maria tidak pernah beranjak jauh dariku. Kalau dia berdiri, ia menggamit lenganku. Kalau dia berpindah tempat, ia memanggilku pelan.
“Bang, ini om dari mana tadi saya cerita.”
“Yang itu sepupu jauh dari Makale.”
“Kalau yang itu, dia paling dituakan di garis ibu.”
Adi' Maria menjelaskan dengan rinci peta silsilah keluarganya yang luas. Aku mendengarkan dengan sungguh, sebab bagiku adat adalah bahasa jiwa sebuah keluarga. Aku mudah membaur. Aku menyapa, tersenyum, memuji dengan tulus. Kecantikan para perempuan Toraja memang layak disebutkan, bukan sekadar rupa, tetapi wibawa itu sungguh tumbuh dari darah dan tradisi.
Tiba-tiba pula protokol memanggil namaku.
Aku terkejut. Entah dari siapa mereka tahu aku gemar bernyanyi.
Mungkin Maria yang bercerita.
Mungkin Pak Yahya. Aku tak bertanya.
Aku berdiri dan membawakan lagu rohani berjudul Tak ku tahu kan hari Esok.
Suaraku mengalun diantara telinga para hadirin di tongkonan itu. Angin siang membawa nada itu ke wajah-wajah yang diam mendengarkan.
Saat selesai, tepuk tangan bersahutan.
Aku menoleh ke arah Maria. Dari tempat duduknya dia memandangku dengan mata yang jernih.
“Memang suara abangku ini terbaik saja, mendengarnya kita rasa tenang”.
katanya pelan ketika aku kembali duduk.
Aku tidak menimbang apakah itu pujian atau sekadar kegembiraan sesaat. Yang kutangkap adalah ketulusan yang terpancar di matanya.
 |
| Babi-babi yang akan dipotong |
Hari berikutnya masuk ke rangkaian Ma'Parongko Allangkabamba' prosesi menurunkan jasad yang telah diawetkan untuk diarak menuju tempat persemayaman tinggi. Menara bambu itu menjulang kira-kira dua belas meter.
Tubuh nenek diangkat perlahan, diiringi doa dan sorak-sorak pekik Toraya, lalu ditempatkan di ketinggian, seakan kembali mendekati langit yang dulu menaungi hidupnya.
Beberapa hari kemudian tibalah Ma'pasilaga tedong, bagian paling riuh dalam rangkaian.
Arena luas telah disiapkan keluarga sebagai tuan rumah. Ribuan orang datang. Debu tanah naik bersama sorak-sorai.
Kerbau-kerbau masuk bergantian. Tanduk beradu, suara benturan menggema.
Satu lari, satu bertahan. Tidak ada jeda, semua mengalir otomatis. Berpuluh pasang kerbau petarung diadu. Sementara MC memandu dengan suara lantang. Ada kebanggaan tersendiri bagi pemilik kerbau yang tangguh. Di sudut-sudut arena, orang bertaruh. Di sisi lain, para tetua mengamati dengan tenang. Tradisi berjalan seperti sungai yang sudah mengenal lekuknya sendiri.
 |
| Pemotongan kerbau-kerbau |
Aku berdiri bersama Maria di antara keramaian itu. Kami tak sempat memilih jagoan.
Setiap kali satu pertandingan selesai, yang lain segera dimulai. Begitulah dua hari penuh arena itu hidup oleh tenaga dan teriakan.
Aku sempat memandangi kompleks tongkonan yang megah itu. Bangunan besar upacara, panggung-panggung bambu, menara, arena laga, dan semuanya menunjukkan besarnya pengorbanan keluarga. Biayanya tentu tak kecil. Namun di sini, kematian bukan hanya kehilangan. Juga merupakan pernyataan kasih terakhir kepada yang telah melahirkan garis keturunan.
Di tengah riuhnya acara ma'pasilaga tedong itu, saat ribuan orang berjejal mengelilingi arena dengan sorak-sorai yang tak putus, Maria justru lebih sibuk memperhatikanku daripada tontonan di hadapannya. Sesekali dia menoleh, memastikan aku masih di sampingnya. Tangannya kadang menyentuh lenganku pelan, memberi tanda bahwa dia ada di situ. Tatapannya menyimpan kewaspadaan yang lembut, padahal di dalam benakku, justru akulah yang seharusnya berdiri
di depan, melindunginya dari desakan dan hiruk-pikuk yang liar itu. Tapi kenyataannya berbeda.
Di sana, di kampung halamannya, dialah yang menjadi penunjuk arah.
Aku hanya menurut saja waktu dia menggenggam pergelangan tanganku sebentar, lalu melepasnya ketika keadaan kembali longgar.
Barangkali begitulah caranya memastikan orang disampingnya tetap dekat, dan tetap bisa pulang bersamanya ketika semuanya usai.
Setelah seluruh rangkaian upacara dilaksanakan, dimulai dari Ma'Parongko Alang, Mangariuk Batu, Mantunu Tedong, Ma'pasilaga Tedong, Mantariatamu yang berlangsung hingga tiga hari, sampai akhirnya Ma'kaburu, maka tibalah pada penutup dari seluruh rangkaian rambu solo’.
Pada tahap Ma'kaburu itulah jasad nenek Maria diarak keluar, dibawa berkeliling tongkonan dan rumah-rumah keluarga, seakan memberi kesempatan terakhir bagi segenap insan untuk memandangnya sekali lagi. Sesudah itu, jenazah dibawa menuju liang kubur batu di tebing tinggi, tempat peristirahatan bagi kaum bangsawan. Nenek Maria memang berasal dari garis bangsawan Toraja, dan di sana ketinggian liang kubur menjadi penanda martabat keluarga yang ditinggalkan. Semakin tinggi tempat persemayaman, semakin tinggi pula penghormatan yang disematkan pada nama seseorang.
 |
Acara ma'kaburu Rambusolo' nenek Maria—2023
|
Ketika seluruh prosesi yang besar dan meriah
itu selesai, upacara pun dinyatakan tuntas.
Aku yang sejak awal hanya menjadi saksi,
iseng bertanya kepada Maria tentang biaya yang dikeluarkan. Berapa kira-kira jumlahnya setelah dua minggu kegiatan. Dengan nada santai, Maria menjawab bahwa totalnya mencapai sekitar tiga puluh miliar rupiah. Jumlah itu mencakup semuanya, delapan puluh ekor kerbau, seratus dua puluh ekor babi, empat ekor kuda, dua ekor rusa, serta entah berapa banyak ternak lain yang disembelih hingga aku sendiri tak sanggup menghitungnya. Mendengar angka itu, aku terdiam dalam keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Bagi masyarakat Toraja, begitulah cara memuliakan leluhur dan menjaga kehormatan keluarga. Upacara sebesar itu bukan beban satu orang, itu tanggung jawab bersama. Seluruh kerabat saling menopang, mengumpulkan daya, menyatukan niat, agar penghormatan terakhir dapat terlaksana dengan layak.
Bahkan semasa hidupnya, nenek Maria telah menyiapkan harta sebagai bekal untuk hari perpisahannya sendiri. Sebuah pengaturan yang rapi, seolah dia telah merancang bagaimana cinta keluarganya kelak akan dinyatakan lewat kematiannya.
Ketika seluruh rangkaian upacara telah selesai
dan dinyatakan tuntas, perlahan halaman tongkonan kembali lengang. Suara pengeras tak terdengar lagi, dan keluarga besar yang datang dari berbagai penjuru satu per satu pamit pulang ke kampung halaman mereka yang jauh.
Mereka yang rumahnya lebih dekat pun kembali ke tempat tinggal masing-masing. Selama dua minggu itu mereka hadir pada waktu-waktu tertentu,
pagi hingga siang, kadang sore hingga malam,
ya menyesuaikan dengan jadwal prosesi yang memang tidak berlangsung sepanjang hari.
Sekarang, setelah semuanya kelar, arus manusia yang sebelumnya memenuhi halaman berangsur surut bagai air yang kembali ke hulunya.
 |
di Harbangan Tongkonan kekuarga Besar Maria Valerie Tandisau' —Kec. Rantepao |
Di sela-sela suasana yang mulai tenang itu,
Maria mengajakku menyambangi keluarga besarnya. Dia memperkenalkanku satu per satu, dengan sabar dan bangga. Sambutan yang kuterima terasa hangat dan tulus.
Beberapa dari mereka bahkan berseloroh kepada Maria, “Kalau sudah begini, jangan lama-lama lagi. Tentukan saja kapan pestanya.”
Ucapan itu diiringi tawa lepas, nada bercanda yang jelas terasa sebagai bentuk penerimaan.
Aku menanggapinya dengan santai, membalas candaan dengan senyum dan jawaban ringan. Maria pun tersenyum, pipinya sedikit memerah.
Keesokan harinya, setelah kami kembali ke rumah di kota, aku memandang Maria yang sedang duduk santai di ruang tengah. Wajahnya tampak lebih ringan, dalam suasana yang cair itu, aku mulai menggodanya.
“Betul juga apa kata keluargamu kemarin dik,”
kataku pelan.
Maria menoleh, alisnya terangkat sedikit.
“Haaa maksudnya?”
“Kita tak usah lama-lama lagi. Cemmana kalau langsung kubawa saja kau pulang ke Sumatera?”
lanjutku dengan nada sengaja dibuat serius.
“Biar cepat dikasih marga. Jadi orang Batak sekalian.”
Dia menatapku beberapa detik, mencoba membaca wajahku. Aku menambahkan satu kalimat lagi, dengan sengaja memakai istilah yang sudah lama kuajarkan kepadanya.
“Kau kan calon parmaenni inang.”
Maria tentu mengerti. Sejak lama dia sudah akrab dengan istilah-istilah Batak yang kerap kuperkenalkan dengannya. Dia tahu arti kata itu. Tangannya segera mendarat di lenganku, mencubit ringan sambil tertawa lepas.
“Abang ini memang,” katanya di sela tawa.
Sorenya, Maria duduk di dekatku lalu bercerita bahwa mulai besok dia harus kembali mengajar secara penuh. Selama dua minggu terakhir dia beberapa kali mengajukan izin, jadi inilah waktunya back to realitas.
“Memang harus begitu,” kataku.
“Itukan sudah tanggung jawabmu.”
Lalu aku mengatakan niatku untuk balek ke Semarang. Sudah terlalu lama aku berada di Toraja. Ada perasaan tidak enak berlama-lama sebagai tamu, meski semua orang memperlakukanku seperti keluarga sendiri.
“Nggak apa-apa bang,” katanya pelan,
Habis itu beberapa detik kemudian katanya lagi, “Jangki langsung pulang, Bang. Tinggallahmi dulu beberapa hari lagi.”
Aku terdiam sejenak. Kata-kata itu sederhana.
Aku membayangkan dia akan kembali ke rutinitasnya, berjalan sendiri di antara hari-hari yang baru selesai dilanda duka besar. Mungkin kehadiranku masih dibutuhkan, mungkin juga hanya ingin ditemani sebentar sebelum semuanya benar-benar kembali seperti semula.
Baiklah kalau begitu, tidak ada alasan kuat untuk menolak.
Beberapa hari berikutnya kujalani dengan ritme yang berbeda. Pagi hari kadang aku mengantarnya ke sekolah, setelah itu aku melanjutkan perjalanan sendiri, menyusuri jalan-jalan Toraja yang berliku, masuk ke kampung-kampung pedalaman, berhenti di tempat-tempat wisata yang selama ini hanya kulihat di gambar.
Sore hari kembali menjemput Maria, lalu kami pulang bersama. Tidak banyak percakapan yang penting, hanya hal-hal kecil tentang sekolahnya, tentang murid-muridnya, atau tentang apa yang kulihat sepanjang hari.
Malamnya Maria mengajakku keluar keliling kota. Katanya, mumpung aku masih di Toraja, jangan cuma diam di rumah. Kami naik motor berdua, menyusuri jalanan Rantepao yang mulai lengang. Udara dingin sekali, apalagi kalau malam.
Dari awal berangkat dia sudah memelukku dari belakang, lengannya melingkar di pinggangku. Hangat badannya terasa jelas meski jaketku cukup tebal. Kami sempat berhenti ngopi di warung kecil pinggir jalan. Tidak lama, cuma duduk sebentar sambil ngobrol hal-hal ringan. Setelah itu lanjut lagi mutar-mutar kota, lihat lampu-lampu toko yang masih buka, beberapa orang masih nongkrong di pinggir jalan. Rasanya sederhana, tapi enak.
Menjelang setengah sepuluh malam kami memutuskan pulang. Udara semakin dingin.
Di perjalanan pulang itu Maria memelukku lebih erat dari sebelumnya.
“Bang…” katanya pelan dari belakang.
“Iya?”
“Abang jadi pulang ke Semarang?”
“Iya lah. Sudah lama juga aku di sini. Nanti kalau ada libur, mainlah ke Jawa di' maukan?.”
Dia tidak menjawab. Tetap memelukku, diam saja sampai kami tiba di rumah.
Setelah motor kuparkirkan rapi di dalam garasi, Maria masih berdiri di teras, rambut pendeknya dibiarkan jatuh apa adanya, sedikit berantakan karena angin malam. Lampu teras yang kekuningan membuat wajahnya tampak lembut.
Dia mendekat, lalu menarik tanganku pelan.
“Bang, jangki masuk dulu… enak mi di sini duduk-duduk… ku buatkan kopi panas.”
Nada bicaranya pelan, ada rayu kecil yang tidak dibuat-buat. Tangannya masih menggenggam tanganku seolah takut aku benar-benar masuk dan menghilang dari hadapannya.
Aku tersenyum kecil. “Oh, boleh juga ide-mu, Dik. Tapi ambil air putih hangat aja boleh?, tadi kita udah minum kopi-loh”, kataku
Udara Rantepao malam itu dingin dan sunyi, hanya suara air Sungai Sa’dan yang samar terdengar dari balakang, lampu ruang tamu menyala temaram. Ibu Jenny tampaknya sudah beristirahat. Rumah besar itu terasa lengang, memberi ruang bagi keheningan yang anehnya justru terasa hangat.
Maria keluar dari dapur membawa satu ceret kecil berisi kopi dan dua gelas kosong di atas nampan.
Dia meletakkannya pelan di meja kecil di depan kami, lalu kembali masuk tanpa banyak bicara. Terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas dari dalam, mungkin menyiapkan air hangat seperti yang kupesan.
Beberapa saat kemudian Maria muncul lagi.
Kali ini tanpa hoodie yang tadi dipakainya.
Entah kapan sempat berganti di kamar.
Dia mengenakan kaos tipis yang longgar,
jatuh lembut mengikuti tubuhnya yang indah,
dan celana pendek di atas paha yang sederhana, tidak mencolok, hanya terasa sangat rumahan. Rambut pendeknya dibiarkan terurai begitu saja di atas bahu, meski sedikit berantakan, tapi tetap anggun dan berdemage.
Aku sampai terdiam sesaat.
“Ehh…Adik tidak takutkah masuk angin nanti,?” kataku akhirnya, setengah refleks.
Maria tidak menjawab. Dia hanya menoleh sebentar, lalu tersenyum. Menuangkan kopi ke dalam gelas, lalu duduk di sampingku.
Sangat dekat. Tidak ada jarak sama sekali,
tanpa membuka percakapan apapun, juga tanpa basa-basi. Gelasnya baru saja diletakkan kembali dimeja ketika perlahan dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Matanya terpejam.
Napasnya pelan dan, teratur.
Aku pun membiarkannya. Tidak berani banyak bergerak, takut mengganggu ketenangan yang sedang dia bangun itu.
Beberapa saat kami duduk dalam diam,
Maria pelan-pelan mengubah posisinya.
Dia berbalik membelakangiku, lalu menyandarkan punggungnya ke dadaku. Gerakannya tenang, sambari sedikit melebarkan kakiku agar tubuhnya bisa masuk di antaranya dengan nyaman,
lalu menarik kedua tanganku dan meletakkannya di perutnya. Maria tidak berkata apa-apa.
Namun jelas dia ingin dipeluk.
Aku menurut saja. Kedua lenganku melingkar
disekeliling tubuhnya, mendekapnya dari belakang. Tubuhnya terasa hangat dan lembut dalam rengkuhanku. Dia bersandar penuh, mempercayakan berat badannya kepadaku. Rambut pendeknya menyentuh daguku.
Aroma bersih dan wangi tubuhnya menyumbat kepala.
Napasnya terdengar jelas dan teratur.
Sesekali dadanya naik turun dalam tarikan yang lebih panjang, nampaknya dia sedang benar-benar menikmati pelukan itu. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya merambat ke lenganku,
dan detak jantungnya yang lembut terasa sampai ke dadaku.
Kemudian Maria memanggilku pelan, hampir seperti bisikan yang takut mengusik malam.
“Bangg…” suaranya lembut, tenggelam di antara hembusan napasnya sendiri.
“Hm…Iyaa” jawabku lirih, menunduk sedikit agar lebih dekat ke telinganya.
“Bawa aku, Bang… ke mana pun abang mau…”
Ucapannya pelan, tapi tangannya justru semakin mengerat di atas tanganku, seolah takut aku menghilang bila dilepas.
Punggungnya menekan dadaku, seluruh tubuhnya bersandar tanpa sisa. Aku bisa merasakan hangatnya menembus kain tipis itu, merambat perlahan sampai ke dalam tubuhku sendiri. Suasana itu membuatku kehilangan kata-kata.
Tak lama kemudian kusadari sesuatu yang membuat napasku tertahan. Tubuh Maria terasa begitu ringan dilapisi kain yang sangat tipis.
Kaos longgarnya itu hampir tak menjadi penghalang bagi hangat kulitnya. Dia memang tidak berusaha melindungi dirinya dari udara dingin. Dia memilih kedinginan itu, agar pelukanku menjadi satu-satunya tempat yang hangat baginya.
Tanganku yang berada di perutnya merasakan permukaan tubuhnya yang lembut di balik kain tipis itu. Saat dia sedikit menyesuaikan posisi,
kain kaosnya terangkat pelan, dan telapak tanganku menyentuh langsung tubuh hangatnya. Refleks aku menahan napas, momen itu terasa terlalu dekat, dan terlalu jujur.
Aku menunduk sedikit, mendekat ke telinganya dari belakang. Napasku menyentuh kulit lehernya yang hangat.
“Maria Valerie Tandisau'…” bisikku pelan,
“Bangg…” jawabnya lirih, suaranya bergetar lembut.
Sesaat kemudian dia memutar wajahnya sedikit, cukup untuk menemukan bibirku.
Kecupannya datang pelan, ragu-ragu di awal,
aku terpaku, tak sempat bersiap.
Jantungku berdetak keras, terasa sampai ke telinga. Namun Maria tidak menjauh. Dia justru menahan kecupan itu, memperdalamnya perlahan, hangat napasnya menyatu dengan napasku.
Tanganku dituntunya mencari pegangan yang pasti, yang permukaanya lebih halus dari sutra Murbei. Buku jariku tak mampu menggenggamnya penuh. Degup jantung kami seakan berpacu dalam ruang yang sama, cepat dan tak teratur, takut kalau momen itu segera berakhir.
Aku akhirnya membalasnya, lembut dan hati-hati, membiarkan perasaan yang sejak tadi tertahan mengalir begitu saja. Tanpa perlu kata-kata, keadaan berbalik dengan sendirinya.
Maria tetap membelakangiku, bersandar utuh di dadaku. Kedua tanganku yang melingkar di perutnya ditahan dengan jemarinya sendiri, menekannya pelan agar tidak beranjak.
Seolah pelukan itu adalah jangkar yang menahannya.
Dimalam yang dingin itu, hanya suara angin yang berbisik dan detak jantung kami yang menempel satu sama lain. Maria membiarkan jemari dan tanganku mencari pijakan, menelusuri hangat tubuhnya dengan hati-hati, lembut, dan memastikan bahwa dirinya benar-benar di sini bersamaku. Napasku beradu dekat dengan napasnya, ritmis dan tenang, membiarkan detik-detik malam melambat. Setiap sentuhan ringan mengalir, tak terlihat tapi sungguh terasa nyata, bagaikan aliran listrik halus yang menyatukan kami. Pertama kalinya aku tenggelam, tenggelam dalam lautan Maria, benar-benar tenggelam. Sungguh aku ingin mengulang kembali moment itu.
Paginya, setelah sarapan, aku mengantar Maria
ke sekolah. Wajahnya masih cantik, rambutnya jatuh di atas bahu, seragamnya rapi.
Dia berangkat dengan langkah ringan, tersenyum sesekali pada murid-murid yang menunggu.
Aku hanya mengikuti, menikmati kebiasaan sederhana yang seolah selalu membawa hangat.
Beberapa hari setelah Maria mulai kembali mengajar, aku menyiapkan diri untuk pulang.
Ternyata Maria sudah memesan tiket pesawat untukku dari Makassar ke Semarang. Aku terkejut, sedikit heran kenapa sudah dipesankan jauh-jauh hari. Rencanaku semula ingin naik kapal laut, sambil menikmati petualangan panjang.
Tapi Maria bilang,
“Bang, naik pesawat ji. Biar cepat sampai,
biar nggak terlalu capek'ki di jalan.”
Aku sempat bilang ingin ganti tiketnya, tapi dia tersenyum dan menolak.
“Halahh...berapa sih bayar tiket Makassar-Semarang? Pala itu aja, nggak usah diganti,”
Katanya sambil menatapku dengan mata yang meyakinkan. Aku cuma bisa mengangguk, menghargai kemurahan hatinya, sekaligus merasakan hangatnya kepedulian itu menempel di hati.
Aku baru tahu, rupanya tak pula hanya tiket pesawat yang disiapkannya, tiket bus dari Rantepao ke Makassar, tiket pesawat dari Makassar ke Semarang, bahkan hotel tempatku menginap semalam sebelum penerbangan, semua sudah dipesannya. Aku sendiri tidak tahu kapan Maria sempat memesan semuanya.
Dia menjelaskan semuanya supaya aku tak salah langkah atau nyasar kemana-mana.
“Bang, nanti naik bus ini, turun di Maros, dekat bandara. Di Makassar sudah ada hotel, biar enggak capek, tinggal istirahat sebentar sebelum pesawat,” katanya. Aku mendengar, terdiam sebentar, terkejut sekaligus terharu. Padahal semua peralatan tempurku untuk survive di emperan udah ku siapkan sebelumnya ditas gunungku.
Sebelum berangkat mengajar, pagi itu Maria mengantarku ke perwakilan bus dengan mobil yang sebelumnya menjemputku.
Saat tiba, tak ada kata-kata panjang.
Kami hanya saling menatap, tersenyum, dan kemudian berpelukan. Pelukan itu erat, tapi tidak ada air mata. Tidak perlu ada. Biarlah yang ada perasaan saling percaya yang kuat, bahwa perpisahan ini hanyalah sementara.
Dalam pelukan itu, kami menyadari pada waktunya nanti, pasti akan ada pertemuan lagi.
Aku memeluknya lebih lama, menahan hangat tubuhnya, dan Maria pun membalas dengan pelukan yang sama penuh rasa. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang, napasnya yang lembut, seakan menenangkanku sekaligus menguatkanku. Setelah beberapa saat, kami perlahan melepaskan diri, masih saling menatap, senyum yang menenangkan dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku berbisik, “Nanti kalau ada libur, datang ke Jawa ya… Aku tunjukkan semua tempat yang indah untukmu disana.” Dia hanya tersenyum tanpa kata-kata, tapi itu cukup untuk menenangkanku dan membuat hatiku percaya.
Sesampainya di Makassar, aku langsung menuju hotel yang sudah disiapkan Maria. Malam itu,
aku memutuskan berjalan-jalan sendiri sebentar, menikmati kota yang tenang, menyusuri Pantai Losari, mencicipi coto Makassar, menikmati pisang epe. Di setiap langkah, aku selalu teringat Maria, senyumnya, rambutnya yang jatuh di bahu, suara lembutnya yang menenangkan. Malam itu terasa sepi tanpanya, karena Maria selalu ada di pikiranku, menuntunku dengan segala perhatian yang dia siapkan.
Pagi berikutnya, aku siap untuk penerbangan.
Aku menatap sejenak kota Makassar, menenangkan diri, dan mengingat kembali saat terakhir kami berpelukan di Rantepao, tanpa air mata, tanpa kata-kata yang dipaksakan.
Aku tahu, perpisahan ini hanyalah jeda sementara. Maria sudah menata semuanya dengan begitu rapi, dan aku percaya, pertemuan berikutnya pasti akan datang.
Beberapa hari setelah ketibaaku kembali ke Biara Murti ini, rutinitasku kembali seperti biasa.
Hidupku tetap berlari di antara kesibukan, juga tentang perjuanganku di medan tempur Undip ini, tapi hatiku tetap tersambung pada Maria.
Setiap hari, aku menunggu kabar darinya.
Pesan singkatnya, video call-nya, semua itu selalu memberi dorongan dan kehangatan. Aku sungguh merasakan cinta kasihnya menembus jarak dan waktu.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan, aku masih mendengar suaranya, melihat senyumnya di layar. Maria selalu hadir. Suaranya mengalir melalui layar kecil di genggamanku. Tanyanya sederhana, sudah makan atau belum, bagaimana bimbingan hari ini, apakah aku cukup istirahat. Kata-katanya tidak pernah berlebihan, namun selalu sampai ke tempat yang paling sunyi dalam diriku.
Kami hidup di dua kota yang berjauhan, tetapi percakapan kami menjahit jarak itu sedikit demi sedikit. Semua rindu kami simpan dengan sabar, rindu yang tidak menuntut untuk segera dipenuhi. Kami percaya pada waktu, dan percaya bahwa pertemuan memiliki caranya sendiri untuk tiba.
Pada bulan Mei 2024, Maria menyampaikan rencananya untuk datang ke Jawa saat libur semester. Dia mengatakannya dengan nada ringan, namun aku tahu, itu adalah langkah yang lahir dari keberanian dan kesetiaan. Dia ingin melihat ruang-ruang tempatku berjuang. Menyaksikan sendiri bagaimana aku menyelesaikan bab-bab terakhir dari tugas akhir yang menjadi penentu masa depanku. Di saat yang sama, aku berada dalam tekanan yang tak mudah.
Kampus memberiku batas waktu yang tegas.
Jika hingga bulan Juni aku belum menyelesaikan segalanya, pintu itu akan tertutup bagiku.
Maria tidak pernah menjadikan keadaanku sebagai beban. Dia justru menjadi penopang yang kuat.
Dia membantu semampunya, mengirimkan dukungan, mengirimkan semangat, juga menghadirkan keyakinan ketika aku hampir menyerah. Rencana kedatangannya menjadi cahaya kecil yang menyertai hari-hariku.
Kami mulai menghitung waktu.
Aku membayangkan menyambutnya di bandara, menggenggam tangannya, berjalan menyusuri kota yang selama ini hanya menjadi latar ceritaku.
Lalu, tanpa aba-aba, ruang itu menjadi hening.
Beberapa hari menjelang sidang akhirku,
Maria tidak lagi menghubungiku.
Panggilan videonya berhenti. Pesan singkatnya tidak datang. Teleponku berdering tanpa jawaban. Pada awalnya aku mencoba mengerti.
Mungkin aja dia sibuk. Mungkin ada urusan sekolah yang menyita waktunya.
Aku menenangkan diri dengan alasan-alasan yang kubangun sendiri. Namun di malam-malam berikutnya, pikiran itu berubah menjadi kegelisahan yang tak dapat kusebut namanya.
Firasat buruk yang berjalan pelan di dalam dada, tanpa bentuk, dan tanpa suara.
Sore itu, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak kukenal. Aku menjawabnya santai. Ternyata ada suara Bu Jenny terdengar di seberang sana.
Dia berbicara pelan, dengan logat Toraja yang selalu mengingatkanku pada rumah Maria.
Bu Jenny memintaku untuk mendengarkan baik-baik, untuk menenangkan diri sebelum dia melanjutkan. Di sela tarikan napasnya, dia menceritakan bahwa Maria mengalami kecelakaan saat pulang dari sekolah.
Motor yang dikendarainya ditabrak oleh anak-anak yang melaju kencang di jalanan.
Tubuh Maria terlempar. Kepalanya membentur beton pot bunga di pinggir jalan kota.
Maria sempat dibawa ke rumah sakit di Rantepao. Dokter berusaha melakukan yang mereka bisa. Namun keadaan tidak memungkinkan.
Maria dirujuk ke Makassar dengan harapan ada pertolongan yang lebih memadai.
Dalam perjalanan menuju ke sana, mendekati Enrekang, napas Maria perlahan menghilang.
Di antara deru ambulance di jalan yang berliku itu, Maria pergi untuk selamanya.
Aku mendengar semua itu tanpa mampu menyusun satu kalimat pun. Kata-kata Bu Jenny menghancurkanku seketika. Aku tidak menangis saat itu. Air mataku belum menemukan jalannya. Yang kurasakan adalah runtuhnya seluruh bangunan harapan yang selama ini kami dirikan bersama. Rencana pertemuan yang hitungan hari, bayangan tentang kedatangannya, semua terhapus dalam satu kabar.
Bu Jenny mengatakan bahwa jenazah Maria akan disemayamkan keesokan hari. Dia menyebut tentang misa requiem, tentang keluarga yang sudah berkumpul, tentang kain yang membalut tubuhnya. Dia memintaku, jika sanggup, datang untuk melihatnya terakhir kali. Permintaan itu menggantung diudara, dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Jarak yang dulu terasa ringan kini menjadi tembok yang tak mungkin kutembus seketika.
Setelah panggilan itu berakhir, kamar biaraku terasa asing. Draft-draft yang tadi siang menjadi saksi perjuanganku kini hanya menjadi benda mati yang tak berarti. Aku duduk lama dalam diam. Tidak ada teriakan. Air mataku mengalir sederas-derasnya. Napasku berat dan dada yang terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa dikeluarkan.
Aku mencoba mengingat kembali wajah Maria saat terakhir kali kami bertemu di Rantepao, senyumnya di sebuah kafe, matanya yang penuh keyakinan ketika mengatakan bahwa kami pasti akan bertemu lagi. Kenangan itu hadir utuh, dan justru karena keutuhannya, ia terasa semakin menyayat.
Sebuah bab kehidupan telah ditutup tanpa sempat kubaca sampai akhir. Aku menangis tanpa suara sejadi-jadinya, air mataku mengalir pelan, jatuh satu per satu, seolah setiap tetes air mataku membawa nama Maria bersamanya.
Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kehancuran itu. Hanya kesadaran bahwa Maria yang begitu hidup dalam hari-hariku kini telah menjadi kenangan yang tak dapat kusentuh lagi.
Aku mencoba menerima kabar itu seperti orang menerima hujan yang jatuh tiba-tiba di tengah jalan pulang, tanpa aba-aba, tanpa payung, tanpa tempat berteduh dan hanya tubuh yang basah perlahan serta dingin yang merayap sampai ke tulang.
Tetapi sampai hari ini, ada bagian didalam diriku yang tetap menolak percaya. Nama Maria masih terdengar hidup di kepalaku, seakan dia hanya sedang pergi sebentar dan akan kembali dengan langkah ringan yang dulu begitu kukenali.
Kematian itu datang terlalu cepat, terlalu sunyi, tanpa ruang bagiku untuk bersiap. Padahal di masa-masa terberatku waktu itu, kerinduanku kepadanya justru sedang memuncak.
Aku ingin mengatakan banyak hal kepadanya, ingin mengadu seperti dulu, ingin mendengar suaranya yang selalu membuat dunia terasa sedikit lebih dapat ditanggung. Tetapi tidak ada pesan terakhir, tidak ada isyarat perpisahan.
Tersisa kekosongan yang tiba-tiba membesar, memenuhi seluruh ruang batinku.
Dalam kesendirian yang panjang, aku sempat bertanya kepada sesuatu yang tak terlihat, apakah ini semacam hukuman untukku? Apakah ada bagian dari diriku yang begitu kelam sampai harus dibayar dengan kehilangan sebesar ini? Pertanyaan itu tidak pernah mendapat jawaban.
Hanya berputar seperti daun kering di pusaran angin, jatuh lagi ke tanah yang sama.
Maria bagiku bukan hanya seseorang yang pernah hadir. Dia adalah arah, kompas yang menuntunku menatap hari depan dengan keberanian yang kupinjam darinya. Ketika dia pergi, arah itu ikut padam. Masa depan terasa seperti jalan panjang tanpa penanda, tanpa cahaya yang menunjukkan ke mana kaki harus melangkah.
Yang paling melukai bukan hanya kepergiannya, melainkan ketidakmampuanku mengantarnya. Aku tidak melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Aku tidak berdiri di samping tubuhnya. Aku tidak menabur bunga melati putih di atasnya, bunga yang selalu disukainya. Keinginanku untuk datang terasa seperti tangan yang memukul dinding tak kasatmata. Tubuhku di sini, hatiku berlari ke sana, dan keduanya tak pernah benar-benar bertemu.
Bu Jenny mengirimkan foto misa requiem sebelum Maria dimakamkan. Aku membuka pesan itu dengan jantung berdebar seperti orang yang takut sekaligus rindu. Di layar itu, aku melihat wajah yang begitu kukenali, wajah yang dulu hidup, hangat, penuh cahaya yang tidak pernah bisa dijelaskan. Dia tampak tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah tidak lagi memerlukan apa pun dari dunia ini.
Cantiknya tidak berubah, hanya kehidupan yang tak lagi berdiam disana.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Bukan tangisan yang keras, bersama aliran sunyi yang terasa tidak akan habis. Aku memandang photo itu lama sekali, mencoba menemukan jejak Maria yang dulu, senyumnya, sorot matanya, kehangatan yang selalu membuatku merasa pulang. Namun yang kulihat hanyalah tubuh yang terbujur kaku, tangan terlipat, wajah yang menghadap ke suatu jarak yang tidak dapat kukejar. Seakan-akan dia sudah lebih dahulu berjalan menuju tempat di mana ibu, bapak, dan neneknya menunggu. Tempat yang tidak bisa kukunjungi. Tempat yang hanya bisa kubayangkan sebagai ruang yang penuh cahaya lembut dan pelukan yang abadi.
Kisahku dengan Maria selama ini kusimpan rapat di dalam dada, bagai menyimpan benda rapuh yang tidak boleh jatuh. Aku tak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Bahkan yang terdekat sekali pun. Namanya hidup dalam keheningan batinku, tumbuh seperti akar yang tak terlihat namun menahan seluruh bangunan diriku. Baru sekarang, ketika dia benar-benar tidak lagi bisa kembali, aku berani menuliskannya, karna hanya dengan melalui tulisan inilah satu-satunya cara agar Maria gadis Toraja-ku itu tetap memiliki tempat, meski dalam dunia yang berbeda.
Aku sungguh kehilangan Maria, dan tulisan ini adalah ruang didalam hidupku, untuk menjadikannya hadir sebagai ketiadaan yang justru terasa paling nyata.
Sejak hari itu aku menarik diriku dari keramaian, dunia manusia terlalu riuh untuk sebuah duka-ku yang teramat perih ini. Aku berjalan meninggalkan percakapan-percakapan yang formalitas, meninggalkan tawa yang terasa asing, meninggalkan tatapan mata yang tak pernah tahu apa yang sedang runtuh di dalam dadaku.
Aku memilih jalanan yang panjang, kota-kota yang tak mengenalku, gunung-gunung yang berdiri diam. Dalam setiap langkah, aku menyimpan satu harapan yang tak masuk akal, mungkin di suatu tikungan angin, di antara desir daun, atau dipuncak yang diselimuti kabut, aku akan mendengar kembali suara...
Maria Valerie Tandisau'.
Aku mendaki dengan napas yang terengah,
sama sekali tidak berniat untuk menaklukkan ketinggian, aku hanya ingin mendekatkan diri pada sunyi. Di punggung gunung yang dingin, ketika kabut turun perlahan dan dunia di bawah sana mengecil, aku memanggil namanya dalam hati. Tidak ada jawaban, dan tak-kan pernah ada jawaban!!!. Hanya ruang luas yang menerima suaraku dan mengembalikannya sebagai gema yang hampa. Pada saat itu aku menyadari kembali bahwa Maria benar-benar pergi meninggalkan-ku, bahkan kepada ruang mimpi pun dia tak pernah menyinggahiku. Betapa kehilangan ini menjelma menjadi lanskap batin, luas tak bertepi, dan tak memberi pegangan apa pun.
Aku bertanya pada diriku sendiri, pada waktu yang telah berlalu, pada keputusan-keputusan kecil yang dulu kuambil dengan ringan. Aku menelusuri kembali setiap percakapan terakhir kami, setiap kalimat yang mungkin terucap terlalu cepat atau terlalu lambat. Tidak ada jawaban yang menenangkan. Hanya kesadaran bahwa apa pun yang kulakukan sekarang tidak akan mengubah satu detik pun dari apa yang telah terjadi.
Tak ada nasihat yang mampu menghiburku,
dan tak ada kata-kata manis yang mampu menyembuhkan lukaku.
Di dalam diriku, kehancuran itu telah bekerja dengan caranya sendiri. Meluluhlantakkan bangunan harapan yang selama ini kutegakkan dengan susah payah. Meruntuhkan arah yang dulu memberiku alasan untuk bertahan.
Aku sering duduk sendirian dan memikirkan cinta yang pernah kurasakan darinya. Sentuhan itu, pelukan itu, caranya menyebut namaku dengan nada yang penuh perhatian. Semua itu pernah menjadi tempatku bernaung ketika hari-hari terasa berat. Semua itu justru menjadi sumber luka yang tak dapat kutangisi sepenuhnya. Air mata memang jatuh, tetapi ada bagian dari kesedihan ini yang tak menemukan jalan keluar. Tinggal didalam, mengendap, membentuk lapisan sunyi yang semakin tebal.
Aku mencoba memahami peristiwa ini dalam terang iman. Aku mengatakan pada diriku bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan.
Kalimat itu kuucapkan berulang-ulang, seolah dengan mengulangnya aku akan menemukan maknanya. Namun makna tidak serta-merta hadir hanya karena disebut. Kehendak Ilahi tetap menjadi wilayah yang tak dapat kuselami dengan nalar yang terbatas ini. Aku berdiri dihadapan-Nya sebagai manusia yang kehilangan, membawa pertanyaan yang tidak pernah sepenuhnya terjawab.
Kadang aku merasa hidupku seperti terbelah dititik kepergian Maria. Sebelum dan sesudahnya tidak lagi menyatu dalam garis yang sama.
Aku berusaha membayangkan hari esok, mencoba merancang kembali masa depan yang pernah kami percakapkan bersama. Tetapi setiap rancangan terasa rapuh, fondasinya telah dicabut.
Semangat yang dulu menyala perlahan meredup.
Aku tetap bergerak, tetap menjalani kewajiban, tetapi didalamnya ada ruang kosong yang tidak terisi oleh apa pun.
Apakah ini hukuman, ujian, atau sekadar bagian dari misteri yang melampaui daya pikirku sebagai manusia lemah, aku tidak mampu menentukannya. Yang kurasakan hanyalah kehilangan yang menyeluruh.
Aku berjalan terus, mendaki terus, mencari terus, bukan karena yakin akan menemukan kembali suaranya, sadar bahwa hanya dengan bergerak aku dapat menjaga diriku tidak sepenuhnya tenggelam. Di setiap langkah itu, Maria tetap bersamaku sebagai kenangan yang tak tertangiskan, sebagai cinta yang pernah nyata dan kini menjelma menjadi duka yang menetap. Dunia boleh saja melanjutkan perputarannya, tetapi di dalam diriku ada sesuatu yang telah berubah selamanya, dan perubahan itu membawa namanya.
Pernah pada suatu pagi yang dingin aku berjalan menuju Gereja St Maria Fatima di Banyumanik, tidak jauh dari Biara Murti tempat aku menumpang hidup. Langkahku terasa seperti milik orang lain yang dipinjamkan-nya kepadaku.
Aku masuk tanpa menoleh ke siapa pun. Di dalam, cahaya pagi jatuh lembut dari kaca-kaca tinggi, membentuk genangan sunyi di lantai gereja itu.
Aku duduk sendiri, menatap salib di depan altar. Dengan pikiran kosong yang terus mengembang didalam dada.
Aku memandangi setiap sudut bangunan itu dengan mata yang tidak benar-benar melihat. Bangku-bangku kayu, lilin-lilin yang tinggal sisa, patung-patung yang seakan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Semua terasa jauh, seolah aku duduk di dalam mimpi yang tidak bisa kutinggalkan. Lalu aku berlutut. Keningku menyentuh kedua tangan yang terlipat. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Kata-kata terasa berat dan kering. Yang keluar hanya napas yang putus-putus.
Di saat itulah, tanpa tanda apa pun, aroma itu datang.
Harum yang sangat kukenali. Harum yang dulu melekat di lehernya, di rambutnya, di baju yang dipakainya saat dia memelukku. Harum yang tidak pernah bisa kutemukan di mana pun lagi.
Wangi itu pekat mengisi kepalaku. Aku tidak berani mengangkat wajah. Aku takut semuanya lenyap bila aku bergerak sedikit saja. Aku hanya diam, membiarkan napasku dipenuhi oleh aroma yang terasa lebih hidup daripada diriku sendiri.
Sontak ingatan datang pada tawa kecilnya. Cara dia memanggil namaku. Sentuhan tangannya yang menenangkan. Semua berdesakan, membuat dadaku terasa sesak. Air mata tidak jatuh.
Hanya berkumpul di belakang mata, berat dan panas, seperti tidak diizinkan keluar.
Aku bertanya dalam hati, apakah dia benar-benar ada di sana. Apakah dia berdiri di dekatku, tak terlihat, ikut menunduk dalam doa yang sama.
Aku tidak punya jawaban. Aku hanya tahu bahwa untuk beberapa saat, aku tidak merasa sepenuhnya sendirian.
Sejak pagi itu, kakiku seperti tahu jalan pulang yang baru. Aku datang lagi, dan lagi, setiap subuh, ketika langit masih pucat dan kota belum benar-benar terjaga. Di sana selalu ada ratusan orang tua dengan langkah pelan dan wajah yang dipahat oleh waktu. Mereka duduk rapi, memegang rosario, bibir bergerak pelan mengunyah doa yang telah mereka hafal sepanjang hidup. Tubuh-tubuh yang menua itu membawa keheningan yang dalam, keheningan orang-orang yang sudah lama berdamai dengan batas usia.
Aku duduk di antara mereka, seorang yang masih muda namun terasa jauh lebih rapuh. Mereka menunggu Tuhan dengan sabar. Aku menunggu sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebut namanya. Sering aku berharap harum itu datang lagi.
Kadang pula aku takut bila dia benar-benar datang, karena itu berarti aku harus mengakui bahwa yang hilang belum sepenuhnya pergi.
Subuh demi subuh berlalu. Wajah-wajah yang sama, doa-doa yang sama, cahaya yang sama jatuh di lantai yang sama. Di tengah semuanya, aku merasa seperti bayangan yang ikut hadir tanpa benar-benar hidup. Namun di tempat itulah aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun, bahwa rindu bisa menjadi bentuk doa yang paling sunyi, doa yang tidak meminta apa-apa selain kesempatan untuk tetap mengingat.
Karena itulah setiap kali aku menundukkan kepala, aku masih berharap, sangat pelan, agar sekali saja lagi aku diberi tanda bahwa Maria tidak sepenuhnya lenyap dari dunia yang kutinggali ini. Bukan untuk mengembalikannya. Hanya agar aku tahu bahwa cinta yang pernah menyentuhku itu benar-benar ada, bukan sekadar mimpi yang terlalu indah untuk dipercayai.
Selamat jalan kekasih, kaulah cinta dalam hidupku,
Aku kehilanganmu untuk selama-lamanya
Requiem aeternam dona eis, Domine—
Maria Valerie Tandisau'
π 27 Augustus 1999—✝️ 22 May 2024
 |
Photo terakhir Maria sebelum dimakamkanπ dikirim Ibu Jenny 2024 yang lalu |
Komentar
Posting Komentar