Miranda: Asmaraku di Suatu Ketika
si-Aglean memintaku menulis tentang kisah ini. Dia adikku, yang sejak lama senang membaca tulisan-tulisanku, entah karena isi, atau karena dia memahami bagaimana setiap kalimatku tumbuh dari pergulatan panjang didalam diri, dari malam-malam sepi yang kuhabiskan merenung, dari perjalanan batin yang sunyi dan penuh tanya. Aku sempat ragu. Sejauh binder ini ada, dari berbagai kisah, catatan, dan kenangan yang pernah kuarsipkan, belum pernah satu pun tentang Miranda Panca. Dia selalu hadir dalam diamku, Miranda itu seperti bayang diantara cahaya dan senja yang jatuh perlahan, tapi dia tidak pernah menjadi bagian dari tulisan yang kubuat untuk dibaca orang lain. Menulis tentang perasaan yang pernah hidup didada, rasanya seperti membuka lembar yang telah kuletakkan dengan hati-hati disudut waktu, lembar yang lembut dan rapuh bagai dedaun yang jatuh dipermukaan air yang menggenang. Maksudku pun menuliskan ini bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu, aku hanya ...