Cerita dari Tanah Tempaan
Hampir tiga bulan lamanya binder ini tak kusentuh untuk sebuah catatan baru. Hari-hari rupanya telah berjalan demikian lekas, bahkan aku belum sempat memilih kata yang kiranya pantas untuk mengawali ceritaku berikutnya. Sebetulnya pun ada banyak hal yang hendak kutuliskan, banyak pula kejadian yang barangkali kelak akan menjadi kenangan, hanya saja tangan ini belum juga menemukan waktu untuk menaruhnya menjadi sepotong kata-kata. Aku tak ingin mengatakan bahwa kesibukanlah yang menjadi penyebabnya. Rasanya kalimat itu terlalu mudah untuk dijadikan alasan. Mungkin aku hanya terlalu lama membiarkan hari-hari berlalu tanpa sempat duduk sebentar untuk mengambil pena, lantas menuliskan apa yang ada dikepala. Tapi, satu hal kiranya masih tetap sama. Aku masih ingin menyebut diriku Poltak si pendongeng miskin itu. Gelar pena yang melekat pada nama ini, sebabnya malam ini setelah hampir tiga bulan tak menyapa, aku kembali duduk dihadapan lembaran guretan ini. Untuk itu k...