Miranda: Asmaraku di Suatu Ketika
Dia adikku, yang sejak lama senang membaca tulisan-tulisanku, entah karena isi, atau karena dia memahami bagaimana setiap kalimatku tumbuh dari pergulatan panjang didalam diri, dari malam-malam sepi yang kuhabiskan merenung, dari perjalanan batin yang sunyi dan penuh tanya. Aku sempat ragu. Sejauh binder ini ada, dari berbagai kisah, catatan, dan kenangan yang pernah kuarsipkan, belum pernah satu pun tentang Miranda Panca.
Dia selalu hadir dalam diamku, Miranda itu seperti bayang diantara cahaya dan senja yang jatuh perlahan, tapi dia tidak pernah menjadi bagian dari tulisan yang kubuat untuk dibaca orang lain.
Menulis tentang perasaan yang pernah hidup didada, rasanya seperti membuka lembar yang telah kuletakkan dengan hati-hati disudut waktu, lembar yang lembut dan rapuh bagai dedaun yang jatuh dipermukaan air yang menggenang. Maksudku pun menuliskan ini bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu, aku hanya hendak memahami jejak yang tinggal dihatiku. Kisah yang menjadi pelajaran tentang keberanianku untuk mengakui, ketenangan untuk menerima, dan kedewasaan untuk melepaskan sesuatu yang cukup hanya untuk disimpan dalam hati.
Tapi keknya, ada benarnya juga kata si Aglean, kalau setiap cerita itu memiliki napasnya sendiri. Apapun katanya dia akan mencari jalannya untuk keluar,
untuk kemudian disampaikan kepada dunia, meski pun dengan cara yang paling tak terduga. Jadi untuk itulah hari ini aku membiarkan tanganku menulis bagai air yang mengalir dari sumbernya menuju muara yang entah barantah.
Aku mengenal Miranda Panca dari Riska, adikku. Mereka sudah berteman lama sekali. Awalnya semua tampak sederhana.
Miranda hanya datang dan pergi, seperti tamu yang sesekali mampir dirumah, mengobrol dengan Riska sambil tertawa kecil diteras waktu. Aku tak punya niat apa pun saat itu. Hanya pandangan yang menatap tanpa maksud lain, hanya percakapan ringan yang tak meninggalkan bekas. Tapi, dibalik semua kesederhanaan itu, sesuatu perlahan tumbuh tanpa aku sadari, dan tanpa kuinginkan.
Si-Miranda ini bukan gadis yang menonjol dengan kata-kata. Dia punya caranya sendiri untuk hadir dengan lembut, santun, dan tenang. Tatapannya pun tak lama, tapi cukup membuat orang sepertiku mengingatnya.
Dia pun punya tawa yang tidak keras, nahh justru di sanalah letak pesonanya, dia tenang, meneduhkan, dan tidak dibuat-buat. Agaknya disanalah aku mulai salah jatuh, tanpa tahu bagimana awal mulanya.
Suatu sore, aku mengajarinya naik motor di lapangan tembak belakang kampus undip ini. Waktu itu angin kering dari barat membawa debu yang ringan. Dia gugup. Tangannya gemetar saat menggenggam setang.
Aku berdiri di sampingnya, memberi arahan dengan sabar. “Pelan aja nangg,” kataku.
“Rasakan tarikan gasnya, jangan buru-buru.” Dia mengangguk, mencoba percaya.
Setelah beberapa kali mencoba, aku bilang, “Sekarang, gantian, coba bawa ke jalan yang agak jelek itu.” Dia tertawa, pura-pura keberatan. Tapi akhirnya dia mau juga. Sampai waktu mau pulang, kuminta dia yang bawa motor dan aku diboncengannya.
“Seriusnya abang,, Yakinnya abng samaku??” katanya.
“Ga ada yang kuragukan darimu,” jawabku.
Kami melaju perlahan. Angin sore menyentuh wajah kami. Di tengah perjalanan, mendekati jembatan Sikatak, motor yang dikendarainya mulai goyah.
Aku sempat menurunkan kaki, menjaga keseimbangan. Miranda menjerit kecil, matanya panik, tapi sekejap kemudian kami tertawa. Di tengah ketakutan itu, ada sesuatu yang hangat. Dalam hatiku, takkan ku biarkan kau terluka sedikitpun. Tapi itu hanya gumaman yang tak terucapkan.
Sejak itu aku menyadari, setiap kali dia hadir, ada ruang didadaku yang menjadi lebih lapang. Tidak ada kalimat manis di antara kami, hanya ketenangan yang tumbuh perlahan seperti cahaya sore yang jatuh didinding bangunan. Kehadirannya membuat segalanya terasa cukup, seolah dunia tak menuntut apa pun lagi.
Disitu pulaklah aku belajar bahwa ketenangan kadang berwujud manusia.
Didiamnya Si Mongjay ini, ku temukan bentuk sunyi yang menenteramkan. Dia nggak banyak bicara, tapi keberadaannya membuat waktu terasa lebih jinak, dan hidupku lebih asik untuk dijalani. Bayangkan diamnya lebih bermakna daripada seribu kata. Itulah yang membuatku tak tahu kapan rasa itu mulai tumbuh penuh, yang kutahu, setiap kehadirannya membuat hari-hariku jadi tak karu-karuan.
Pernah suatu malam aku mengalami demam tinggi. Panas badanku seperti datang dari dalam api neraka. Di biara tempat aku tinggal, ibu kepala biara murti sedang melakukan perbaikan sumur bor.
Mesin diesel bekerja tanpa henti, mengirimkan asap yang perlahan memenuhi kamar.
Aku batuk, lalu batuk lagi. Asap itu tinggal di udara, dan udara menjadi berat untuk dihirup. Aku tahu aku tak bisa bertahan di sana. Maka aku pergi, mencari tempat yang lebih aman.
Aku mengungsi di kamar si-Joel.
Di sana udara lebih bersih, lebih tenang. Tapi demam itu belum pergi. Aku berbaring di kasurnya, dan di sela napas yang pendek, aku berkata pelan, “Man, jaketmu masih sama Miranda, kan? Coba kau minta gan.”
Joel menatapku lama, seolah ingin memastikan aku tidak sedang bercanda. Lalu dia tertawa kecil, dan berkata, “Iya bang, bentar ya.” Dia pergi keluar, lalu beberapa waktu kemudian kembali membawa sebuah hoodie.
“Ini bang,” katanya sambil senyum kambing. Jaket itu harum, entah karena dicuci, entah karena Miranda menyemprotnya dengan parfum sebelum dikembalikan. Aku tak tahu. Aku hanya memegangnya.
Kainnya dingin, tapi harum itu seperti punya kehidupan sendiri. Seperti ada sesuatu dari dirinya yang seolah masih tinggal di sana, lembut, dan samar. Aku memeluknya, menutup mata, dan entah kenapa, demamku perlahan hilang.
Bujiss bgttkann
Aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya. Barangkali tubuh ini sembuh bukan karena obat, mungkin karena keyakinan yang lahir dari hati. Mungkin juga karena cinta kasih sejati memang punya caranya sendiri untuk membuat kita merasa hidup.
Malam itu, aku merasa lebih baik oleh sesuatu yang tak kasat mata, yang hadir dari ingatan dan kerinduan. Semua itu hal-hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Ada pula satu masa yang selalu ingin kuingat, moment ketika aku mengunjungi Miranda di Parapat. Kota kecil itu ada di tepi Danau Toba, sejuk dan indah, disanalah orang tuanya tinggal, di sana pulalah Miranda dibesarkan.
Bagiku kota itu bukan sekadar kota,
Parapat bagaikan lembaran buku yang terbuka perlahan, mengeluarkan aroma kenangan yang lembut dari masa lalu.
Aku datang ke sana diawal tahun dua ribu dua puluh empat. Kami tiba dikota itu sore hari, ketika langit sudah menuju batas terang menuju gelap. Motor Vario 160 milik Frans Girsang menjadi saksi perjalanan itu. Di belakang kami, satu motor lain mengikuti, Joel didepan, Roynat di yang lain. Angin dingin dari perbukitan memukul wajah, tapi entah mengapa semuanya terasa hangat. Mungkin karena dalam perjalanan itu, ada rasa yang menggebu tumbuh di dadaku.
Malam itu kami berlima berkeliling² kota.
Aku membonceng Miranda. Angin dari seberang membawa suara yang sejuk, dan lampu jalan memantul di matanya.
Kami tertawa sepanjang jalan, seperti dua anak kecil yang menemukan permainan baru. Ada satu persimpangan empat yang kami lewati malam itu, satu jalan ke kiri, satu lurus tapi sedikit membelok kehaluan kiri, satu lagi ke kanan. Miranda sempat berkata,
“Ke kiri ya, Bang.” Aku langsung belok ke kiri, padahal maksudnya lurus yang agak ke kiri. Kami tertawa bersama. Tawa itu masih teringat sampai sekarang, bening seperti nambur pagi.
Kota itu kecil, tapi penuh cerita menarik.
Miranda menunjuk ke satu sudut jalan, katanya disana ada martabak yang enak.
Di tempat lain, sate kambingnya terkenal sejak dulu. Dia juga bercerita tentang pesanggrahan, tempat Soekarno pernah diasingkan, dan bagaimana kota itu dulu ramai oleh wisatawan sebelum pandemi datang.
Aku mendengarnya sambil sesekali menatap wajahnya yang diterangi lampu temaram.
Dalam setiap ceritanya itu, ada semacam kebanggaan yang hangat darinya, dia sangat mencintai tanah kelahirannya dengan tulus.
Kami sempat berhenti lama di tepi danau. Airnya tenang, memantulkan langit malam yang penuh bintang. Di sana, aku berdiri tepat di samping Miranda. Kami tak banyak bicara, hanya memandangi air yang tak henti beriak kecil.
Tak ada sesuatu yang terasa dalam keheningan itu, hanya sesuatu yang tak bisa dinamai, tapi kurasakan benar² menghujam jantungku, dan memporak porandakan pertahananku.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah hampir pukul sepuluh malam ketika Miranda berkata, “Menginap aja di rumah Bang.” Suaranya pelan, terselip nada hangat yang sukar kuabaikan. Namun kami sudah berencana menyeberang ke Samosir.
Dia terpaksa mengangguk dan tersenyum, lalu melambaikan tangan saat kami berangkat meninggalkannya didepan rumah.
Perjalanan menuju Samosir malam itu sunyi. Kapal bergoyang mesra, dan dari kejauhan danau tampak seperti lembar kaca hitam. Aku tak banyak bicara dengan Frans dan Joel, tapi di dalam kepalaku, wajah Miranda berulang kali muncul. Mungkin karena tawa kami yang belum hilang, juga mungkin karena ada sesuatu dari malam itu yang menolak pergi.
Besokannya, si Joel cerita kalau aku tersenyum dalam tidur. Dia dan Frans tertawa, mengatakan aku pasti bermimpi tentang Miranda. Aku hanya tertawa kecil, paham bahwa mereka hanya berseloroh, tapi di dalam hati, aku tahu, malam di Parapat telah menjadi bagian dari diriku. Perasaan damai setiap kali aku mengingatnya, sama seperti mendengar bunyi riak air dari kejauhan.
Parapat. Setiap kali aku mengingat kota itu,
yang datang bukan hanya gambar danau atau jalanan kecil yang berliku, tapi juga suara tawa, arah pandangan mata, dan aroma malam di jalanannya, di kursi pedesteriannya, dan di pantai bebasnya yang memesona, menjadi ruang dimana kenangan berdiam, tempat di mana tawa dan senyum seseorang menetap dalam ingatan. si-Miranda, seperti Parapat itu sendiri, tetap hadir di sudut hati yang tak pernah kering, walau waktu telah lama mengujinya.
Dikesempatan lain, waktu dia menjalani KKN di kabupaten Magelang, aku sempat datang menemuinya. Perjalanan itu panjang, tapi ringan rasanya. Di sana, di desa kecil yang dikelilingi kebun singkong dan pohon² jati itu, aku melihat sisi lain dirinya. Dia bekerja bersama ibu-ibu PKK, menanam tanaman hijau, bercanda dengan anak-anak kecil di halaman rumah warga dan jalanan desa. Aku ikut membantu, mencangkul, membawa air, menyiapkan bibit. Warga desa menyambutku hangat, mungkin karena aku terlihat senang berada disana.
Hari-hari itu berlalu seperti mimpi yang damai. Tidak ada kalimat manis di antara kami. Tidak ada janji, pun juga tidak ada permintaan. Yang ada hanya kebersamaan yang tenang, bagaikan daun yang saling menyentuh ketika tertiup angin.
Aku tahu, di balik semua itu, ada batas yang tidak bisa kulangkahi. Tapi aku juga tahu, ada rasa yang tak bisa kuingkari.
Sebelum aku pulang dari Magelang, aku berdiri di tepi sungai yang menjadi batas desa itu. Di sana, aku membuka gelangku tiga warna, hitam, merah, dan putih.
Gelang itu sudah lama kupakai, lambang kecil tentang perjalanan dan keyakinan hidup. Tapi hari itu, aku memutuskan sesuatu. Warna merah dan putihnya kuhangutkan ke air. Ku biarkan terbawa arus, hilang entah kemana. Itu caraku menandai keputusan, bahwa rasa ini cukup sampai di sini.
Aku berdiri lama ditepi sungai itu.
Airnya mengalir lembut, seolah sedang menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam diriku. Di sanalah aku benar-benar melepaskan semua perasaan yang pernah kupegang erat. Ku biarkan hatiku kosong, sepi, jujur dan terbuka. Aku tahu, selama ini ada bagian dari diriku yang ingin dianggap, diakui, dan disambut. Itulah ego yang tak kusadari tumbuh bersama rasa yang salah alamat tadi.
Aku menyebut perasaan itu sebagai kejahatan, itu semua bukan karena mencinta adalah dosa, hanya karena aku pernah menaruh harapan pada sesuatu yang tak semestinya kuminta.
Aku pernah membiarkan hatiku menuntut balasan yang tak pernah dijanjikan.
Maka di tepi sungai itu, aku melunturkan semuanya. Aku menenggelamkan rasa itu jauh ke dasar laut diriku sendiri, biar rasa itu berdiam disana, tidak lenyap, tetapi juga tidak lagi menuntut untuk hidup dan naik ke permukaan. Sejak saat itu, aku belajar menatap tanpa memiliki, mencintai tanpa mengikat, mengingat tanpa berharap.
Aku berdamai dengan perasaanku sendiri.
Dan di titik itu, aku tahu, aku telah SELESAI.
Aku tahu, cinta bukan soal memiliki.
Beberapa waktu setelah itu, aku mulai jarang berhubungan dengan Miranda.
Aku tahu, cinta bukan soal memiliki.
Lebih dalam dari itu. Cinta tentang bagaimana seseorang menghargai kehadiran orang lain tanpa menuntut balasan yang tidak pada tempatnya.
Aku memilih untuk menyimpan rasa itu sebagai bagian dari perjalanan. Sebagai ingatan yang akan tinggal di antara celah waktu. Tak perlu diubah, dan tak perlu dijelaskan pula.
Beberapa waktu setelah itu, aku mulai jarang berhubungan dengan Miranda.
Hidup berjalan dengan caranya sendiri.
Dia sibuk dengan dunianya, aku kembali pada hari-hariku. Sekarang pun dia sudah berbeda kota denganku pasca kelulusannya. Dia sempat menemuiku berpamitan sebelum berangkat ke Jakarta,
dan aku turut menghantarkan kepergiannya dalam doa yang tulus. Pesan terakhirnya, kalau aku ke Jakarta paling tidak harus mengabarinya, barangkali untuk tetap menjaga silahturahmi dengannya.
Ya begitulah semua lewat tanpa disengaja,
Ya begitulah semua lewat tanpa disengaja,
dan berlalu tanpa makna.
Tapi setiap kali hujan turun, ada aroma yang mengingatkanku padanya. Aroma tanah dan suasana basah yang meneduhkan, semua itu bagai mewakili senyum indahnya dahulu, seperti sore di lapangan tembak itu, seperti tawa yang jatuh di antara percikan air.
Aku tidak menyesali apa pun. Kasih sejati yang lahir dari keheningan justru membuatku belajar tentang kedewasaan. Bahwa rasa tidak selalu harus diungkapkan, dan kehilangan tidak selalu berarti duka yang harus diratapi.
Begitupun sekarang, setiap kali aku menulis, aku selalu teringat si Aglean, adik yang memintaku menuliskan ini. Barangkali dia ingin tahu bagaimana perasaan seorang abang yang pernah mencintai dengan diam dan marbuni². Atau mungkin dia hanya ingin tahu bagaimana cinta bisa tetap hidup, meski sudah lama tak dilangitkan.
Yaa entah apa pun alasannya, semuanya ini kalaupun ku ceritakan bukan untuk menjadi luka, aku hanya mau menata kenangan dari masa yang lalu. Untung² suatu hari nanti, pas aku membaca kembali tulisan ini, aku tahu bahwa pernah ada seseorang bernama Miranda Panca Mongjay Ututt ni abgg, yang membuatku belajar tentang kesetiaan tanpa kepemilikan, tentang ketulusan yang tidak meminta imbalan, dan tentang bagaimana hati bisa bertumbuh bahkan ketika dia tahu harus menyudahinya.
Padot-padothutaon marsiakbagi au holan humongkop ho—
Poltak pondongeng miskin yang tak berwawasan
Biara Murti, 15 Okt 2025
Komentar
Posting Komentar