Ito si Poriban: Mastiur Simbolon


Seperti biasa, di biara Murti ini, gelapnya malam selalu datang tiba² sekali, dan seperti biasanya juga aku duduk diam tenang sambil menikmati segelas air jahe tawar panas, yang aku dan adikku Egi baru membelinya dari Ngesrep, tempat air jahe ini dijajalkan oleh seorang pria yang berasal Salatiga. 


Di sini, di-Biara inilah aku sering merenung, 
dalam kesunyian yang tak lagi kurasakan sebagai lawan. Malam bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat. Bagi sebagian lain, malam adalah ruang antara, tempat jiwa bertemu dengan dirinya sendiri. Di sana, aku sering melihat kembali diriku yang dulu, seseorang yang pernah diperhitungkan, yang suaranya sangat didengarkan, yang namanya disebut dalam rapat dan kegiatan, yang berdiri di depan banyak orang dengan penuh keyakinan. Aku pernah menjadi Ketua Namaposo GKPS Semarang. Empat tahun lamanya. Selain itu, Lebih dari sepuluh tahun yang silam, aku pernah juga menjadi Ketua Bimbingan Rohani Kristen di SMA. Perhimpunan yang sangat diperhitungkan di sekolahku tempo itu. 

Itu semua adalah masa ketika aku percaya bahwa segala yang kulakukan adalah bentuk pengabdian terbaikku. Namun setelah semuanya berlalu, aku perlahan menyadari, yang sesungguhnya bertahan bukanlah tepuk tangan orang, akan tetapi gema kecil yang tertinggal di hati terdalam. 
Sekarang semua gema itu sering datang di malam hari, bersama kesunyian yang duduk di sampingku seperti kawan lama yang akrab. Semuanya telah lewat. Nama yang dulu sering disebut, sonari lang be idingat, dan suara yang dulu ditunggu, sonari lang be sai idarami.  

Borngin on pe sonai do.
Hundul au marangan², hanya diam, membiarkan kenangan berjalan pelan di dalam kepala. 
Satu per satu wajah dan peristiwa lama melintas tanpa suara, tawa remaja di koridor sekolah, marguro² pakon hasoman, martonggo riap asal dong tong na laho i horjahon, bisik-bisik kecil di ruang birokris, dan bayangan seseorang yang dulu begitu akrab dengan hari-hariku. 
Namun, di sela hening malam itu, aku tersadar, mungkin memang begitulah hidup. Setiap peran punya waktunya, dan setiap panggung punya tirainya sendiri. Tapi kenangan, bagaimanapun kecilnya, selalu menemukan jalan untuk kembali.

Sambil menyeruput air jahe hangat itu, 
aku menatap layar ponsel di meja, yang sejak tadi tidak kusentuh. Soppong ia bergetar pelan, memecah diam dengan cahaya kecil yang singgah di layar.
Sebuah pesan masuk. 
Getarannya pelan, nyaris seperti desahan napas.
Pesannya sederhana, “datang yaa.”
Hanya dua kata, dan satu tautan undangan di bawahnya.

Pengirimnya, Mastiur Afd boru Simbolon. 

Sejenak aku terdiam...Nama itu menembus waktu, membawa angin yang membuka tirai lama. 
Lima belas tahun sudah berlalu, tapi gema dari nama itu terasa begitu dekat. Seketika, dinding malam di sekitarku serasa pudar, berganti wajah dengan suasana kelas lama di SMP Negeri 2 Duri,
di mana semuanya dulu dimulai. 

Aku masih ingat hari pertama aku melihatnya.
Pelajaran agama Kristen waktu itu menggabungkan tiga kelas, 77, 78, dan 79. 
Aku siswa kelas 77, sementara dia dikelas 79. 
Aku duduk di baris belakang, sedangkan Mastiur duduk di deretan kiri dekat jendela. Rambutnya diikat sederhana, dan senyumnya datang tidak setiap saat, tapi sekalinya muncul, rasanya seperti mengubah warna hari-hari, bahkan ketika ibu Metros boru Sihombing, STh sedang mengamuk. Beliau akan manggotili. Mambasbas betis dan tangan dengan Mistar panjangnya. Jangan coba² tidak bawa Alkitab jika kelasnya dimulai, gotil-gotil nennen yang mamilos bisa membuat nennen-mu besar sebelah, juga mangottahi selama dua minggu lamanya. Tapi itu hanya berlaku untuk Laki-laki. 
Sementara, anak cewek cuma kena Jambak dan Janggola aja kok. He-he 

Aku tidak pernah menyapanya.
Tidak pernah berani.
Aku hanya diam-diam memperhatikannya, 
seolah takut bahwa pandanganku sendiri bisa merusak ketenangan yang diciptakannya. 
Setiap kali ia menunduk menulis, setiap kali tangannya memegang Alkitab, setiap kali ia mengangkat wajahnya ke depan, aku merasa seperti dunia berhenti sejenak hanya untuk membiarkanku melihatnya.

Selalu begitu, hingga kelas agama menjadi jam pelajaran yang paling kunantikan setiap minggu.
Meski selalu ada rasa tegang menghadapi reteng-nya Ibu Boru Hombing yang terkenal keras itu, tetap saja ada manis-manisnya sendiri bagiku. 
Manis karena di sanalah aku bisa melihatnya, meski dari kejauhan.
Sekadar melihat, tanpa suara, tanpa tegur sapa. Cukup untuk membuat dada berdebar tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Agaknya itulah cara Tuhan memperkenalkannya untukku, lewat diam, 
lewat curi² pandang, dan lewat rasa malu yang sederhana, dan itu semua tak pernah benar-benar luntur dari ingatanku. 

Tahun ajaran baru tiba membawa aroma buku tulis baru, dan juga suara sepatu baru milik para siswa yang mallicing-licing di lantai koridor sekolah. Saat itu, aku tidak menduga kami akan satu kelas. Tak ada firasat apa pun sebelumnya,
karena kenaikanku pun ke kelas 9 juga hanya percobaan. Semua akibat dari ulah dan ketangkanganku sendiri. 

Masih kuingat hari pengambilan rapor waktu itu  Mamak dan wali kelasku tampak berbicara serius di dalam ruangan kelas. Hanya mereka berdua yang tersisa. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi setelah perbincangan itu usai, wajah Mamak terlihat datar. Bukan marah, tapi ada gurat kecewa yang diam-diam terasa. 
Namun seperti biasanya, Mamak tetap lembut. 
Ia menatapku sebentar, lalu berkata pelan,
“Ayok, kita makan pangsit Harefa dulu. Kau pasti lapar, kan?”. Senyumnya tipis, tapi tetap hangat. 

Di sela langkah menuju warung pangsit itu, ia sempat berkata, “Nilaimu sebenarnya bagus, nakku. Tapi apa pun yang membuatmu merasa terhina, jangan pernah kurang ajar pada guru. Hormatilah mereka, sebagaimana kau menghormati aku.”

Kata-kata itu menancap dalam. Aku tahu, Mamak mendengarnya, kabar tentang aku yang sempat memaki guru bahasa Inggrisku, Bu Zumardeti. Waktu itu aku marah karena ia menegurku dengan kasar, menyebutku gembel. miskin. 
Beliau merendahkanku didepan teman sekelas lainnya, hanya karena aku tidak membawa kamus lengkap bahasa Inggris. Aku terpancing emosi, menumbuk meja, dan memakinya dengan kata buja*g-inam, kalimat yang seharusnya tak keluar dari mulut seorang murid. Sejak itu, aku nyaris dikeluarkan dari sekolah. Tapi Bu Hj. Nepridawati, wali kelasku, masih berusaha menolong, memperbaiki semuanya tanpa perlu memanggil orang tua. 
Beliau mengenal Ibu Hj Zumardeti dengan baik, juga mengenalku dengan baik. Itulah dasarnya mengambil sikap. 

Seolah sang hyang widi sengaja menyimpannya sebagai kejutan kecil yang datang tanpa aba-aba. Aku naik kelas dan satu kelas dengan Mastiur. 
Aku duduk di kursi barisan nomor tiga, agak ke tengah. Sementara Mastiur, gadis yang selama ini hanya berani kulihat diam-diam, duduk di barisan paling belakang, tepat di deretan yang sejajar dengan tempat dudukku. Hanya saja, jarak itu terasa jauh sekali.
Kadang aku menoleh ke belakang, berpura-pura menatap papan tulis atau jendela, tapi sebenarnya mencari sosoknya di antara rambut² yang menutupi wajah teman sekelas.

Suatu hari, di jam reses, aku memberanikan diri untuk bicara langsung dengannya.
Ruang kelas sedang ramai, tapi entah kenapa, di dekat Mastiur waktu itu rasanya semua suara memudar. Aku duduk di kursi tepat di depan mejanya, tempat yang biasanya kosong karena teman sebangku belum kembali dari kantin.

Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku menoleh dan berkata,
“Kau mirip kalilah sama Rany Simbolon… marpamilinya kalian?”

Kalimat itu meluncur begitu saja, seperti peluru yang tak kupikirkan arahnya. Dan seketika, Mastiur tertawa. Tawa yang lepas, jermih, dan sungguh jernih, tawa yang membuat seisi kelas seolah berhenti sejenak hanya untuk mendengarnya.

“Kalian kebetulan sama-sama boru Simbolonkan. Kau Simbolon apa?” tambahku, mencoba menutup rasa gugup. Masih dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, ia meletakkan pena, 
berhenti menulis, lalu menatapku.
“Aku boru Simbolon Tuan Nahoda Raja,” jawabnya lembut, ramah, dan ringan. Jantungku serasa berhenti sesaat. Ada sesuatu di balik senyum dan suaranya yang tenang itu, sesuatu yang membuatku hampir terpelanting dari kursi. perasaan itu tiba-tiba menyerbu tanpa permisi.
Yang kemudian membuatku menjadikannya topik utama dalam tiap lamunan ku. 

Sejak hari itu, aku mulai berani menggarai-garai Mastiur. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu bercanda dengannya, mengulang-ulang kalimat yang dulu membuatnya tertawa, bahwa kami ini mar-pariban.
“Kalau sudah marpariban, nggak boleh terlalu kaku daa,” godaku sambil senyum kambing. 

Kadang ia hanya membalas dengan senyum malu, kadang pura-pura tak peduli, kadang dibalasnya dengan celoteh. Meski begitu, aku tahu ada sesuatu yang bergetar di antara tawa dan diamnya itu.
Untuk meyakinkannya, aku bahkan memanggil sahabatku, Eko Primajaya Simbolon, tetanggaku, sahabat baik yang tahu tentang keluargaku.
“Betul kan, Ko?” kataku waktu itu.
Dan Eko, dengan gaya khasnya yang sok dewasa, menimpali, “Iyalah, kalian itu marpariban, pariban tulen malah!”

Aku makin sering menggoda Mastiur. 
Hampir setiap hari.
Kadang lewat candaan kecil, kadang dengan sengaja meniru cara ia bicara, atau pura-pura pinjam Tipe x, hanya untuk melihat ekspresinya.
Begitulah caraku mendekat, dengan cara yang lugu, polos, tapi sungguh-sungguh.

Namun, lama-kelamaan aku mulai sadar… entah kenapa setiap kali aku menggodanya, justru hatiku sendiri yang bergetar.
Aku menertawakan diriku sendiri, betapa mudahnya seorang anak laki-laki bisa terjebak dalam permainan kecilnya sendiri.

Suatu hari aku berkata padanya lagi,
“Kalau kata orang tua, marpariban itu memang dianjurkan, kan? Jadi nggak salahlah kalau aku suka sama paribanku tiur.”

Dia menatapku sejenak, lalu menaikkan alisnya dengan ekspresi yang sulit kutebak.
“Iya… tapi aku nggak mau sama-mu,” jawabnya cepat. 

Aku tertawa ngakak, mencoba menutupi degup jantung yang tiba-tiba saja tak beraturan. 
Lalu dengan keberanian yang konyol khas anak muda, aku sedikit mendekat, dan berkata,
“Sekarang kau boleh tak melirikku. Tapi jangan kau pungkiri rencana Tuhan di hari depan.”

Ia terdiam.
Hanya diam.
Tapi dari sorot matanya yang tiba-tiba teduh itu, aku tahu kalimatku barusan meninggalkan sesuatu. Entah apa, tapi cukup untuk membuat waktu berhenti sejenak di antara kami.  

Akibat dari itu, entah kenapa keberanianku justru semakin menjadi-jadi. Tiba² ada api jinggar yang tumbuh di dada, nyalanya membuatku tak lagi takut terlihat oto dan dollongon. 
Ya, mungkin semangatku waktu itu bisa disamakanlah dengan semangat juang ’45.
Bedanya, ini bukan perjuangan merebut kemerdekaan, tapi perjuangan anak SMP merebut hati pariban. 

Aku mulai berani bernyanyi di depannya.
Bukan sekali, tapi berkali-kali.
Lagu-lagu Batak jadi senjataku, bagai bahasa rahasia yang kupakai untuk menyampaikan rasa di balik nada.
Satu kali aku menyanyikan lagu “Manduda Bayon” di depannya, dengan suara yang tentu saja nyaman ditelinga. 

 “Rap hita nadua hasian, manduda bayon i… Rap hita nadua hasian, tu parmahanan i...”

Dan di bagian akhir, aku menatapnya sebentar, lalu menyanyikan pelan,

“Ikon ho nama ito, ikon ho nama ito... Parumaeni Dainangi…”

Ia langsung memalingkan wajah, pura-pura tak mendengar. Meski begitu aku makin sering menggodainya, setiap kesempatan jadi ajang kecil untuk mencuri perhatiannya.

Tapi seperti biasa, Mastiur membalas dengan wajah kesal, dengan dengusan pendek, atau tatapan sebal yang justru membuatnya makin menarik di mataku.
Sampai suatu hari ia berkata, dengan nada sedikit tinggi,
“Kau itu… tau kau...nggak levelku kau!”

Aku hanya tertawa.
Bukan karena tidak tersinggung, tapi karena di balik kalimat itu aku justru mendengar sesuatu yang lain, bahwa aku sudah cukup berarti untuk membuatnya perlu mengatakan itu.
Aku menatapnya sebentar lalu menjawab santai sambil bernyanyi,
“Haccit naii itoo... songgot naii...parir nai panading mi di au...”

Ia terdiam lagi.
Dan seperti sebelumnya, dia semakin jijik melihatku. 

Suatu hari, setelah begitu banyak dinamika kecil di antara kami, candaan, godaan, dan segala bentuk keusilan yang mungkin hanya aku yang menganggapnya berarti, aku akhirnya menyadari sesuatu di balik semua itu, aku sungguh-sungguh menyukainya.
Bukan sekadar iseng anak sekolah, bukan pula karena pariban, tapi memang karena ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan. 

Namun, baginya, aku hanyalah anak laki-laki yang terlalu banyak bicara.
Ia menatapku seperti seseorang menatap debu di jendela, ada di sana, tapi tak penting untuk diperhatikan.
Ia sering menyepelekan, menertawakan, bahkan menganggap kehadiranku tak lebih dari pengganggu waktu belajarnya.

Sampai akhirnya, di semester akhir kelas sembilan, aku memberanikan diri berkata sesuatu yang mungkin terlalu dewasa untuk usia kami waktu itu.
Aku menatapnya sebentar dan berkata pelan,
“Kalau hari ini kau memandangku sebelah mata, biarlah. Tapi suatu hari nanti akan kubuktikan… bahwa aku layak menerima pandangan dari kedua matamu!!!.” kata² itu kudapatkan dari abangku pak windy yang sekarang tinggal di Jambi. 

Ia hanya diam, mungkin tak menganggap serius kalimat itu.
Tapi bagiku, kata-kata itu seperti sumpah kecil, sumpah yang kutitipkan pada waktu, pada masa depan yang belum kutahu akan membawaku ke arah mana.

Sejak hari itu, aku berhenti menggodanya.
Aku berhenti memanggilnya pariban, berhenti bernyanyi di depannya, berhenti mencari-cari alasan untuk menatapnya.
Bukan karena perasaanku padanya hilang, tapi karena aku tahu, ada waktunya sesuatu harus diendapkan, agar yang jernih dapat diperoleh. 
Dan begitulah sampai kami lulus SMP, aku pergi dengan perasaan yang diam, dengan janji yang tak pernah benar-benar terucap lagi, tapi tetap hidup di antara ingatan yang tak mau mati. 

Meski kek gitu, waktu itu aku masih simpan kertas pembatas Alkitab pemberiannya. Ku ingat, dia mengikat kertas itu ke pergelanganku di pojok luar kelas, di dudukan beton bahu bangunan kelas 99, dekat lapangan upacara, dibawah pohon Casuarina yang teduh. Isi kertas itu ada tulisan namanya, dan isi kitab Mazmur 119:2. Aku masih menyimpannya sampai detik ini. Ditahun 2025 ini. 

Dinyatakan lulus dari SMP itu, setelah sekian lama kami tak lagi saling menyapa, bahkan sekadar melempar pandang pun tidak, akhirnya tibalah waktunya aku mendaftar ke SMA Negeri 1 Duri. Sekolah itu masih satu kawasan dengan SMP-ku dulu, di dalam kompleks Chevron, yang waktu itu masih berdiri megah, penuh geliat. Chevron, atau orang-orang menyebutnya CPI. Chevron Pacific Indonesia, adalah perusahaan tambang minyak yang jadi nadi kota kecil kami. Di sanalah, di antara debu jalanan dan dentum mesin-mesin tambang, masa mudaku tumbuh.

Puji Tuhan, aku diterima di sekolah itu.
Beberapa minggu kemudian tibalah masa orientasi siswa baru. Aku ditempatkan di kelas 10.11 ruangannya di sayap paling ujung, meski masih ada kelas yang lebih jauh lagi, 10.15, kalau tak salah ingat.

Hari pertama masuk sekolah, aku datang lebih awal. Entah kenapa, aku selalu punya kebiasaan datang sebelum orang lain. Mungkin karena aku suka menata diri dalam sepi sebelum riuh datang menyerbu. Aku duduk di kursi paling depan karena mataku sudah mulai rabun, dan aku tak ingin ketinggalan satu pun tulisan di papan tulis.
Dan di sanalah, kejutan itu datang.
Saat pintu kelas bergeser pelan, dan langkah seseorang masuk dengan wajah yang tak asing, aku sempat menahan napas.

agahhh... si-Mastiur...!!!

Aku tak tahu harus menertawakannya atau diam saja. Dunia seakan berhenti sepersekian detik, antara tidak percaya dan tak siap. Kami ternyata satu sekolah lagi, bahkan satu kelas lagi.
Aku memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan buku, tapi hatiku seperti baru saja disentuh sesuatu yang lama, sesuatu yang pernah kuanggap selesai, tapi ternyata hanya tertidur di celah waktu.

Dalam hati, aku bertanya dengan nada yang nyaris tak terdengar,
"Tuhan... apa maksud-Mu mempertemukan kami lagi? Apakah ini sebuah kebetulan, atau Engkau sedang menulis bab baru dari cerita yang belum usai?"

Setelah pertemuan pertama itu...setelah sekian lama kami hidup di jalan yang sama tapi pura-pura tak mengenal, aku memilih untuk diam. 
Aku tak menyapanya, tak memanggilnya, bahkan sekadar menatap pun kutahan. Dan dia pun begitu. Kami sama-sama berpura-pura tak pernah punya masa lalu, seolah tak pernah ada kisah, tak pernah ada tawa, tak pernah ada candaan kecil di sela-sela jam pelajaran dulu. Begitulah hari-hari berjalan, dingin, dan penuh pura-pura.

Tapi tentu saja, aku tidak sanggup lama-lama seperti itu. Ada sesuatu yang tidak tenang di dadaku, semacam rasa bersalah yang samar, bercampur rindu yang tak mau untuk diakui.

Suatu pagi, aku memberanikan diri menghampirinya. Ia duduk di kursi pojok kanan, barisan keempat kalau tidak salah. Aku masih ingat posisi itu dengan jelas, meski lupa siapa teman sebangkunya waktu itu. 
Aku datang menghampirinya pelan, menunduk sedikit, lalu mengulurkan tangan.
“Tiur,” kataku, “apa kabar?”

Ia menatapku sekilas, menjawab pendek, ketus malah. Tapi aku tidak menyesal. Bagiku, itu sudah cukup. Setidaknya aku tahu, jarak di antara kami tidak benar-benar membeku.

Hari-hari berikutnya, aku mulai menemukan ritme baruku di SMA. Aku menjadi siswa yang aktif, seperti dulu di kelas tiga SMP, masa yang banyak mengubahku. Waktu itu aku belajar untuk tidak lagi main-main dengan hidup. Ada sahabatku, Romo Alfredo Barutu, yang selalu menasihatiku untuk terus belajar dengan sungguh, jangan menyerah, jangan malas.
Dari hampir tinggal kelas, aku berhasil naik jadi peringkat empat besar di akhir SMP. Dan semangat itu kubawa ke SMA.

Aku belajar dengan tekun, aktif di kelas, dan mulai ikut organisasi Bimbingan Rohani Kristen (BIROKRIS). Waktu Natal tiba, aku memberanikan diri ikut seleksi panitia. Prosesnya panjang, ketat, dan banyak yang ingin bergabung. Tapi entah bagaimana, aku terpilih, dan bahkan dipercaya menjadi MC Natal pertama dalam hidupku.

Di tengah semua itu, aku dan Mastiur masih sama-sama menjaga jarak. Kami seperti dua garis sejajar yang tak pernah bersinggungan, cumanya masih tetap berjalan di arah yang sama.

Hingga suatu hari, tanpa sengaja, aku tahu kabar tentangnya. Ia sedang dekat dengan seseorang. Namanya Johan Siregar. Aku mengetahuinya dari media sosial, dari foto-foto di Facebook yang kubuka dengan jantung berdebar, mungkin karena rasa penasaran yang tak semestinya. Johan tampak lebih dewasa, wajahnya tenang, kulitnya bersih, dan aku harus jujur, ia tampak pantas bersanding dengan Mastiur.

Aku mendengar kabar dari teman, meski lupa siapa yang pertama kali bercerita. Tapi aku ingat betul suatu hari, seorang kakak kelas datang ke kelas kami, membawa sesuatu untuk Mastiur katanya, titipan dari Johan.
Dan di saat itu, aku hanya bisa diam.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan, selain tersenyum tipis dan berusaha meyakinkan diri, mungkin beginilah cara Tuhan mengajarkan arti melepaskan. 

Tibalah waktunya Natal sekolah kami dirayakan di Gereja HKBP Kompleks Chevron Pacific Indonesia.
Jaraknya tak begitu jauh dari sekolah, masih dalam satu kawasan besar yang rindang dan tertata rapi. Gerejanya besar, megah, dengan taman yang luas, rerumputan hijau, dan lampu-lampu Natal yang berkelap-kelip seperti bintang di langit.

Di antara segala rangkaian yang kami jalani,
acara itu berlangsung dengan hikmat dan penuh sukacita. Aku, yang dipercaya sebagai MC, berusaha tampil sebaik mungkin, membawakan setiap sesi dengan penuh penghayatan.
Semua berlangsung lancar, di bawah bimbingan para kakak pengurus Birokris yang sabar dan hangat.
Dan ketika acara selesai, suasana berubah menjadi riuh. Semua orang tertawa, saling menyalami, berfoto bersama, bertukar kado, dan mengabadikan momen kebersamaan itu.

Aku pun ikut berbaur sejenak, bercengkerama dengan teman-teman panitia, sebelum akhirnya melangkah keluar menuju pintu depan gereja.
Udara malam itu lembut dan sejuk. 
Di halaman depan gereja, di antara deretan kursi beton yang memang disediakan bagi jemaat untuk duduk santai sebelum ibadah, aku berdiri memandangi suasana sekitar.

Dari kejauhan, aku melihat kerumunan kecil di dekat pintu masuk.
Dan di sanalah dia. Mastiur. Berdiri bersama seorang laki-laki berwajah tampan, berkulit terang, berkemeja hitam dengan rambut yang disisir rapi ke belakang.
Senyumnya tenang, sorot matanya penuh percaya diri. Aku tahu, tanpa harus bertanya, dialah si-Johan Siregar itu.

Mereka tampak akrab terlibat dalam percakapan yang hangat, diselingi tawa kecil.
Beberapa teman mereka berdiri di sekitar, seolah menjadi latar bagi dua tokoh utama yang sedang menikmati babak indah dalam kisah mereka sendiri. 
Aku memandangi mereka dari jauh, 
hanya sejenak, lalu memutar badan.
Kembali masuk ke dalam gereja.
Malam itu, ada sesuatu di dadaku yang retak pelan-pelan, tapi tak bersuara.

Aku tahu...
aku bukan levelnya, seperti yang pernah ia katakan dulu.
Aku tahu aku tak mungkin bisa merebut hatinya, apalagi menuntut tatapan penuh dari kedua matanya.
Tapi malam itu, di bulan Desember yang seharusnya penuh damai, aku belajar satu hal, 
bahwa Tuhan tidak selalu menghadirkan Natal dengan sukacita, waktu itu Ia menyelipkan sedikit luka, agar kita tahu apa artinya merelakan.
Itulah Natal yang paling pedih bagiku.
Natal yang tidak pernah kulupa.
Di bulan yang sama. Desember, tanggal delapan belas.

Setelah Natal itu, aku mulai membiasakan diri untuk menerima kenyataan bahwa Mastiur memang bukan untukku.
Aku mengulang-ulang kalimat itu sebagai doa yang ku yakini. Pelan-pelan, aku belajar untuk tidak mau tahu lagi tentangnya. Tidak ingin mencari-cari kabarnya, tidak ingin menebak-nebak isi hatinya.
Sudahlah, pikirku. Cukuplah sampai di sini.

Di masa-masa itulah, sahabatku Anju Daniel Simanukkalit, atau yang lebih akrab sekarang kupanggil Pak Arta mencoba menghiburku dengan caranya sendiri. 
Katanya, “Sudahlah, jangan terus menatap yang sama. Cobalah buka hatimu untuk yang lain. Siapa tahu Tuhan memang menyiapkan yang lebih baik.”
Dari dialah aku kemudian dikenalkan dengan seorang gadis cantik dari kelas lain, 
namanya Cindi Johana Boru Nababan.

Kami sempat dekat.
Ada beberapa percakapan ringan, ada juga tawa-tawa kecil yang sempat tumbuh di sela hari-hari sekolah. Tapi seperti daun yang jatuh tanpa angin, semuanya perlahan berakhir tanpa alasan yang jelas. Cindi memilih menjauh, dan aku pun kembali menelan kenyataan yang sama, aku ditolak.
Lucunya, penolakan itu juga terjadi di bulan Desember, tanggal delapan belas. Tanggal yang sama dengan luka lamaku bersama si-Tiur. 
Entah kebetulan atau takdir yang ingin mengulang pelajaran yang sama. Kisah penolakan cindi sudah pernah aku tuliskan setahun yang lalu pada binder guretan ini, judulnya Layu Sebelum Kembang. 

Waktu berjalan, dan hidup pun kembali ke ritmenya. Aku terus belajar, berorganisasi, berusaha menambal hati dengan kesibukan.
Hingga di pertengahan kelas dua SMA, tepatnya di semester dua, sesuatu yang aneh tapi manis terjadi.
Aku dan Mastiur mulai tampak akrab lagi.
Aku sendiri lupa bagaimana awalnya.
Entah karena tugas kelompok, entah karena candaan kecil di kelas. 
Yang jelas, perlahan suasana di antara kami tak lagi sebeku dulu. Ia mulai tersenyum ketika aku lewat, dan aku pun mulai berani menyapanya tanpa harus menimbang-nimbang perasaan. 

Ada satu moment saat aku diajak berphoto selfie oleh beberapa teman perempuan, namanya Roslina br Hutauruk, Murni Melanita br Silaen dan Puspita br Siburian. Mereka semua menghimpitku.
Kami mengambil gambar dengan santai, katanya mereka bangga denganku, karna aku terpilih sebagai Ketua Umum Bimbingan Rohani Kristen, perhimpunan yang sangat bergengsi itu. 
Seusai itu, Mastiur langsung menarik tanganku, dengan nada yang sepertinya kesal, 
dia menanyakan kenapa mereka mengajakku berphoto selfie begitu. 

Sampai pada suatu hari di depan ruang kelas kami,
Mastiur menghampiriku dan menyerahkan sesuatu. Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga, dengan hati kecil di tengahnya.
Warnanya hitam dan putih bening, terbuat dari bahan akrilik yang memantulkan cahaya ketika terkena matahari sore. Dia juga mengajakku berphoto selfie, katanya dia pun ingin berphoto sama seperti cewek² kemarin yang ku sambut hangat ajakannya. 

Sederhana, tapi entah mengapa benda kecil dan  Ajakan berphoto itu seakan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar hadiah.
Mungkin permintaan maaf yang tak terucap, mungkin juga kenangan yang enggan hilang begitu saja. Dan hingga kini tahun 2025, setelah waktu berjalan sejauh ini, gantungan kunci itu masih kusimpan. Masih utuh. masih berkilau, secuil masa lalu yang menolak benar-benar pergi. 

Seiring waktu berjalan, kedekatan kami tumbuh perlahan. 
Tak ada janji, tak ada rencana. Hanya percakapan sederhana, saling ejek yang berujung tawa, dan perhatian kecil yang lama-lama menjadi kebiasaan.
Tanpa kusadari, Mastiur mulai membuka hatinya untukku. Mungkin aku terlalu polos, atau mungkin terlalu sibuk menimbang masa lalu, hingga tak peka bahwa di balik tatapannya ada sesuatu yang menunggu, sesuatu yang ingin kudengar tapi tak juga terucap.

Aku baru tahu semuanya setelah kami akhirnya sah berpacaran. Ia mengaku bahwa selama itu ia menantikan langkahku, menunggu aku menyatakan cinta, menunggu kalimat yang sederhana itu. 
Namun aku tak kunjung melakukannya. 
Entah karena aku takut, entah karena luka yang lama masih membayang, atau mungkin karena aku sendiri belum benar-benar yakin pada keberanian hatiku.

Mastiur sempat marah. Ia sering kesal tanpa sebab, melarangku bicara dengan teman perempuan lain, lalu kembali diam. Aku bingung, tapi diam-diam bahagia. Karena dalam marahnya, aku tahu, ada rasa yang sedang berusaha disembunyikannya.
Sampai suatu hari, aku memberanikan diri menulis surat kecil untuknya, secarik kertas kecil, mungkin hanya beberapa senti panjangnya.
Tulisan tanganku jelek, tapi setiap hurufnya kuberi makna yang sungguh-sungguh. Aku menanyakan alasan yang membuatnya selalu marah dan diam kepadaku. 
Dan keesokan harinya, Mastiur membalas surat itu.

Suratnya sederhana, tapi isinya mengguncang seluruh isi dadaku, ia menulis bahwa sebenarnya ia menyimpan perasaan untukku, bahwa dari sekian tahun aku memperjuangkannya, ada harapan kecil dalam hatinya agar aku tak menyerah. “Kadang,” tulisnya, “perempuan cuma ingin tahu, sampai di mana lelaki sanggup bertahan untuknya.” 
Surat itu masih kusimpan hingga kini.
Kertasnya mulai menguning, tapi aroma masa itu masih terasa. 

Kubalas surat itu dengan menemuinya langsung di bangkunya, aku jujur mengatakan bahwa ada sesuatu dalam diriku yang belum siap.
Mungkin luka lama yang belum pulih, mungkin juga tekadku untuk tetap fokus belajar dan tak mau main-main.
Alasanku itu tampaknya membuat hatinya goyah.
Ia kembali diam. Hubungan kami sempat dingin lagi untuk beberapa waktu.

Atas kejadian itu, aku sering merenung diam-diam. Dalam setiap hening, aku bertanya pada diriku sendiri, apa benar aku tak punya rasa untuknya? Atau aku hanya takut terluka lagi?

Sebenarnya, ada alasan mengapa aku sempat menunda mengungkapkan perasaan kepada Mastiur dan mengajaknya berpacaran. 
Setelah mengalami banyak sakit hati dan penolakan, juga sikap Mastiur di masa lalu yang sering membuatku kecewa, aku pernah membuat janji kepada Tuhan. Saat itu aku berdoa di Taman Iman di Sitinjo Dairi, ketika aku berkunjung ke sana bersama keluarga. Di hadapan salib dan keheningan alam, aku berkomitmen, aku tidak akan berpacaran sampai aku lulus SMA, sampai saat aku merasa pantas untuk membuka hati lagi.
Janji itu bukan karena aku ingin menolak cinta, tetapi karena aku ingin memulihkan diriku, memberi ruang bagi Tuhan untuk menata hatiku. Itulah sebabnya aku menunda, meski aku tahu Mastiur telahpun membukakan hati untukku.

Beberapa bulan kemudian, setelah semua menjadi lebih tenang, aku menemuinya. Kali ini, dengan hati yang bulat. Aku berkata padanya bahwa aku benar-benar mencintainya, menyayanginya sama seperti dulu, sejak pertama kali aku melihatnya di masa SMP.

Saat itu juga aku mengungkapkan semua yang kusimpan selama ini, lalu menatap matanya dan berkata, “Aku ingin kita bersama.”
Ia terdiam sesaat, lalu tersenyum haru, “Akhirnya...”
Begitulah, sejak hari itu kami resmi berpacaran.

Hari-hari berikutnya terasa begitu indah. 
Kami sering duduk bersama di kelas, belajar bersama, makan bersama sepulang sekolah. Kadang aku datang ke rumahnya; ibunya, yang kupanggil nantulang, selalu menyambutku dengan ramah dengan secangkir teh hangat.
Waktu berjalan seperti air. Hubungan kami penuh warna, seperti umumnya cinta di masa remaja. Kadang manis, kadang getir. Kadang kami saling diam karena cemburu, kadang marah karena hal sepele. Tapi di balik itu semua, kami selalu kembali dengan perasaan yang sama, getar yang tak pernah benar-benar berhenti. 

Sampai tiba di masa yang tak pernah kuduga 
di penghujung masa kepemimpinanku di Birokris, aku terlibat masalah dengan Mastiur. 
Ia tidak pernah senang melihat kedekatanku dengan pengurus-pengurus lain, terutama dengan sekretarisku, Hertati boru Silaban.

Hertati gadis yang lembut, anggun, dan menawan. Di antara semua anggotaku yang sering kumarahi ketika bekerja tidak sesuai harapan, hanya kepada dia aku tidak pernah bisa marah. Entah kenapa, ada semacam kedekatan emosional yang tak bisa kuterangkan. Ia begitu berdedikasi dan penuh tanggung jawab. Setiap kali ada surat masuk entah undangan untuk menghadiri Paskah, kegiatan gereja, atau acara lintas lembaga, aku selalu memintanya membacakannya langsung di hadapan seluruh anggota. 
Aku tengah menyiapkannya sebagai penerusku, menggantikanku kelak sebagai Ketua Birokris. Karena kedekatan dan rasa sayang itu, aku memanggilnya borukku, putriku. Dan dia memanggilku dengan sebutan Pak'e. Itubahkan sampai saat ini. 

Aku juga kerap datang ke rumahnya. 
Kedua orang tuanya ramah dan penuh kasih. Tulang dan nantulang selalu menyambutku seperti anak sendiri. Tapi keramahan itu pula yang kemudian menjadi sumber salah paham. 
Mastiur tahu aku sering berkunjung ke rumah Hertati, dan sejak itu sikapnya berubah. 
Ia mulai dingin, mudah curiga, mudah tersulut oleh hal-hal kecil.

Aku sudah berulang kali menjelaskannya dengan sabar, dengan lembut, dengan sepenuh hati bahwa tidak ada yang perlu dicurigai. 
Aku jelaskan bahwa hubungan kami murni profesional. Bahwa aku hanya ingin menyiapkan Hertati untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dariku. Tapi dia tetap keras hati. Ia tidak mau memahami posisiku sebagai Ketua Birokris.

Sampai tibalah waktu itu masa purna tugasku. Dalam pemilihan langsung yang diikuti seluruh anggota, Hertati akhirnya terpilih menjadi Ketua Birokris. Aku bersyukur dalam diam, sebab sejak awal aku memang sudah mempersiapkannya untuk itu. Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang peranku di balik kemenangannya. Cukup Tuhan dan aku yang tahu. Sebelum aku benar-benar meninggalkan Birokris, aku sempat menitipkan almamaterku kepada Mastiur. Kukenakan di tubuhnya, lalu berkata pelan, “Simpanlah. Sebagai ingatan untukmu, kalau aku pernah jaya di birokris, dan kau jadi saksi dari semuanya.” Saat itu Mastiur masih marah dan mendiamiku. Dan sejak hari itulah, kami tak pernah berkomunikasi lagi. 

Hubunganku dengan Mastiur semakin renggang. Aku mencoba mendinginkan suasana dengan diam, berharap ia akan mengerti lewat kesunyianku. 
Tapi yang terjadi sebaliknya, ia semakin menjauh.

Menjelang kelulusan SMA, segalanya mulai hancur. Ia tak lagi menatapku, tak membalas pesanku. Hingga suatu hari aku sadar aku telah diblokirnya dari BBM, Facebook, dan Instagram. 
Dua minggu penuh aku diam, membiarkan waktu yang menjawab.

Sampai akhirnya, sahabatku, David Haryanto Hasibuan, datang membawa kabar. 
Katanya, Mastiur menanyakan kabar hubungan kami lewat dia. Aku hanya menjawab singkat, “Ehee udahlah, Pid. Capek aku. Kalau dia merasa tak ada lagi yang bisa untuk dipertahankan, ya cukup sampai di sini aja.”
Itulah kalimat terakhirku tentang kami.

Sebenarnya aku ingin sekali menyampaikannya langsung kepadanya, tapi apa daya semua jalur telah tertutup. Aku bahkan sempat datang ke rumahnya, namun ia menolak menemuiku. 
Hanya nantulang yang menemuiku, menenangkan aku dengan kata-kata lembut seorang ibu. 
Aku pulang dengan tangan kosong, tapi dengan hati yang mulai belajar menerima.

Beberapa waktu kemudian aku lulus, 
dan mendapat kabar diterima di Universitas Diponegoro. Tahun 2017 aku meninggalkan Kota Duri, membawa serta kenangan kecil dari Mastiur, surat-surat kecilnya, gantungan kunci berbentuk bunga dan hati, bolpen cair yang dulu diselipkannya ke sakuku, bungkus² permen pemberiannya, setangkai mawar putih, dan lukisan kanvas bergambar malaikat bersayap hasil tangannya sendiri dari pelajaran prakarya. 
Kami dulu sempat bertukar lukisan, 
aku memberinya corak batik, dia memberiku malaikat bersayap. Tidak lupa kertas pembatas Alkitab yang dahulu digelangkannya di tanganku, juga turut serta ku bawa. Semua itu kusimpan dalam sebuah kotak hitam, sebagai brankas kecil untuk menaruh kenangan yang tak ingin kulupakan sampai kapan pun itu. 

Kami tak pernah berkomunikasi lagi sejak kedatanganku ke kota ini 8 tahun yang silam. Namun, satu momen tetap membekas di ingatanku. Pada tahun 2018, aku pulang ke kampung, ke Duri. Aku berkunjung ke rumahnya, berharap bisa bertemu Mastiur setelah setahun lamanya tanpa kabar.

Aku disambut dengan hangat oleh Nantulang dan almarhum bapaknya, almarhum Situlang. 
Aku diizinkan masuk, dan kami berbincang panjang lebar. Nantulang bahkan masuk ke kamar untuk memanggil Mastiur agar menemuiku di ruang tamu. Namun, Mastiur tidak mau menemuiku. Aku bahkan tidak mendengar suara sekecil apa pun darinya, dan wajahnya pun tak sempat kulihat. Maksud kedatanganku hanyalah memperbaiki hubungan kami, menjaga silaturahmi, bukan untuk hal lain. 
Aku pulang lagi ke Semarang, menerima kenyataan itu, dan memutuskan fokus pada perjuanganku sendiri. Komitmen itu kukuh, harus lulus dulu baru pulang lagi.

Waktu terus berjalan, sampai akhirnya di tahun 2022, lima tahun sejak pertemuan terakhir kami, Mastiur membuka blokirnya di Facebook dan Instagram. BBM sudah tidak ada lagi. 
Aku mencoba menghubunginya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merespon dengan tenang, dewasa, dan baik. 
Hubungan kami mulai terasa lebih akrab, meski aku telah berpacaran dengan Anggi Boru Sipayung, dan Mastiur pun bercerita bahwa ia juga sudah menjalin hubungan dengan seseorang dari Sibolga.

Kami belajar berbicara dengan kedewasaan. 
Aku berkata, “Yang dulu biarlah menjadi pelajaran.” Dan ia setuju. Kami sering berkomunikasi lewat WhatsApp, meski tidak begitu intens. Namun yang penting, hubungan kami menjadi lebih baik. Ia menanyakan kesibukanku, kuliahku, dan aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya. Aku menyadari, Mastiur adalah orang yang keras. Keras hati, keras memperjuangkan hidup dan masa depannya. Dengan segala dinamika yang ia lalui, ia lulus kuliah lebih dahulu dariku. Aku bangga melihatnya.

Sementara itu, hubunganku dengan Anggi akhirnya kandas setelah kemudian ia diterima sebagai PNS di Kejaksaan Republik Indonesia. 
Aku tidak menceritakan ini kepada Mastiur, karena bagiku tidak ada yang perlu dibicarakan mengenai ini. Waktu terus berlalu, sampai di tahun 2024, hubungan kami semakin dekat. 
Mastiur telah mengakhiri hubungannya, dan aku pun sudah putus dengan Anggi tanpa perlu membicarakannya. Kami hanya saling mendengar cerita masing-masing, tanpa menanyakan terlalu jauh sebab musababnya.

Lama-kelamaan, ia menunjukkan keinginan untuk mengembalikan hubungan yang dulu sempat terjeda. Namun aku berkata padanya dengan jujur, “Tiur, energiku sudah habis untuk memulai pacaran lagi. Aku belum punya apa-apa, masa depanku masih buram. Aku tidak bisa membangun hubungan atau rumah bersamamu tanpa dasar yang kuat.”

Namun ia tetap tegas, sambil tersenyum, “Kalau boleh, tahun 2026 kita menikah.” Aku tidak tahu dari mana kalimat itu muncul, apakah dari rasa putus asa setelah hubungannya berakhir, atau karena keyakinannya sendiri. 
Ia menegaskan bahwa ia menyadari aku adalah lelaki yang paling memahaminya, dan aku adalah pilihan hatinya. 

Mendengar kalimatnya itu, aku hanya bisa tersenyum lirih, lalu menatap jauh ke dalam ruang hampa yang ada dalam diriku sendiri. 
Aku berkata, “Tiur… aku menikah di umur 35… masih terlalu jauh. Apa kau sabar menunggu?” 
Aku tahu, sabarnya pasti terbatas. 
Aku jelaskan kepadanya, dengan nada pelan namun tegas, bahwa dalam kondisi seperti ini, tanpa pekerjaan, tanpa pegangan, tanpa bekal apa pun aku tidak mungkin membicarakan hal yang serius. Kalimat “menikah 2026” terasa terlalu cepat, terlalu berat, untuk aku genggam. Meskipun Nantulang. Ibunya Mastiur, meyakinkanku lewat telephone whatsapp, bahwa uang dapat dicari, komitmen bersamalah yang paling terpenting. 
Aku hanya menyawab iya Nantulang, sambil senyum kikukk. 

Aku mengerti ketakutannya, bahwa waktu terus berjalan, bahwa usia menjadi pertimbangan yang tak bisa dihindari. Namun di balik itu semua, aku tidak menolak komitmennya. Aku hanya merasa belum pantas. Energi dan tenagaku telah terkuras habis, terkikis oleh perjalanan panjang yang melelahkan sejak 2021 hingga 2024. 
Kehampaan itu terasa menusuk, terutama setelah luka yang ditinggalkan Anggi Sipayung. 
Membuka hati lagi di tengah kehampaan itu, rasanya mustahil. Aku harus menyiapkan diri, memantaskan diri, agar kelak bisa benar-benar layak untuk memulai sesuatu yang baru.

Aku sempat berbisik padanya dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Kalau kau menemukan seseorang yang mencarimu, bukalah hatimu untuknya.” Seakan menerima keputusan itu, lalu berkata, “Oke, Roy. Sepertinya aku harus membuka hati dengan yang lain”. Sejak saat itulah, kami kembali sunyi. Kata-kata hilang, digantikan jarak dan hening yang panjang.

Beberapa bulan kemudian, Mastiur menghubungiku lagi. Ia meminta izin untuk memblokir WhatsApp-ku. Aku bertanya, ragu-ragu, “Kenapa? Apakah cowokmu sekarang posesif?”
Ia menjawab dengan tenang, “Tidak. 
Aku hanya ingin menghapus jejak lama, agar semuanya jelas di masa depan.” 
Aku menerima. Tidak apa-apa. Waktu akan menemukan jalannya sendiri untuk membuka kembali percakapan yang tertunda.

Ternyata tiga bulan setelah pemblokiran itu, sebuah tautan datang di layar ponselku. 
Undangan pernikahannya. 8 November, hari yang akan menandai babak baru dalam hidupnya. Hatiku bergetar, terharu, dan bahagia. 
Mastiur akhirnya menemukan pelabuhan hatinya. tambatan hidupnya. Aku membalasnya dengan doa, harapan, dan kata-kata Batak yang terpatri dalam hatiku. Tubu ma laklak tu tubu ni singkoru, tubuan anak maho dohot boru, dongan mu saur matua sahattu marnini marnono. 
Balasannya singkat, “Amin.”

Di sanalah titik akhir kisah kami. 
Tanggal 8 November nanti, ia akan menikah. 
Aku duduk sejenak, menutup mata, membiarkan kenangan itu kembali mengalir pada 15, 16 tahun lalu, ketika aku pertama kali menatapnya di bangku SMP, ketika aku mati-matian memperjuangkan perasaanku, ketika ia sering mengabaikan dan mengacuhkanku. 
Hingga akhirnya, hatinya terbuka, dan kami bisa bersama. Semua itu tetap hidup, abadi di dalam pikiranku, menempel di relung hati, hingga rambutku memutih, hingga waktu melumatkan segala yang fana.

Dan di dalam keheningan itu, aku tersenyum sendiri, menyadari, meski perjalanan kami berakhir di titik yang berbeda, cinta itu telah mengajariku tentang kesetiaan, kesabaran, dan tentang bagaimana menghargai seseorang sepenuh hati, tanpa menuntut apapun. Roha i nian tahe, naing ma nian ture, songonna diangan-angan. Hape na so panagaman, marsirang do bagian. 

Mastiur. Paribanku. Yang mengalir dalam kenanganku, tak luntur dalam ingatanku, dan aku akan selalu membawanya, seperti daun yang jatuh di sungai, hanyut, namun tetap indah dalam perjalanan. Dan jika waktu tak mampu melunturkan-mu dari ingatanku, lantas dengan cara apa lagi Tuhan menguji kesetiaanku? 

Aku kembali pada air jaheku yang sudah dingin, dan fajar hampir menyingsing. Dibawah atap, dan dibalik dinding biara ini, ku langitkan Pernikahan Paribanku...

MASTIUR AFRIDAYANTI SIMBOLON ❤ IMRAN ANAS NAPITUPULU





Dini hari. Pada tgl 04 November 2025 |
Loy | Cokak | Poltak pendongeng Miskin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung: Saat Waktu Memaksa Lupa