Sembilan Pemuda Berbahaya



Kami menyebut diri sebagai Pemuda Berbahaya. Sebutan itu muncul dari mulut adikku, si-Egi Maulana Damanik disuatu malam ketika kami sedang bercanda² tak jelas. 
Tak ada ancaman apa pun dalam nama itu, 
apa lagi maksud untuk mengangkat semangat dan jiwa kriminil para anggotanya, malahan nama itu timbul dari kehangatan, dan dari rasa akrab yang tumbuh perlahan diantara kami. 
Pemuda Berbahaya terdiri dari sembilan orang, dan satu orang yang menertibkan langkah kami yaitu teh Tri Masriana Purba, si-manajer kami, begitu kami memanggilnya. Untuk ketua, sebenarnya tak pernah ada. Tapi dalam diam, kami sepakat menunjuk satu orang yang paling tenang sikapnya, paling sabar menampung kegaduhan, dan paling konyol dari semuanya, itu dia Heryadi Sipayung.

Aku salah satu dari sembilan orang itu. 
Dan, setiap orang datang dari tempat yang berbeda. Seperti Joel Sinaga dari Medan, Rafael Ginting dari Pematang Siantar, Yeremia Albanel Munthe dari Tangerang, dan Jeremy Malvin Sitohang dari Sidamanik. Roynat Purba dari Bahgadu, adikku Egi Damanik dari Sondi Raya, Yudi Andreas Tondang dari Dolok Sanggul, dan Heryadi Sipayung dari Kota Batam. 
Latar belakang kami berserakan seperti benih yang jatuh di arah yang tak sama.

Kami bertemu di Semarang. Kota ini menjadi persimpangan nasib kami, ada yang kuliah di Undip, ada di Unnes, ada di Udinus. Jurusan kami pun tak selaras, ada teknik, pendidikan, ekonomi, dan informatika. Karena itu kami bagaikan kumpulan buku dari rak-rak berbeda yang tiba-tiba disatukan dalam satu meja baca.

Awal semuanya adalah Namaposo GKPS Semarang. Di sana aku sudah lebih dulu tertaut sejak delapan tahun yang silam, bertemu Yudi sebagai sesama mahasiswa Undip dan sama-sama masuk komunitas Namaposo GKPS Semarang. 
Dibuka dari pertemuan yang selalu sederhana dan penuh canda tawa, perlahan² kami saling menemukan. Dua tahun lalu, kami merasa sudah cukup untuk membentuk lingkaran kecil kami sendiri. Itulah Pemuda Berbahaya sekarang. 

Pada mulanya, kami belum sembilan orang. Bahkan belum punya nama apa pun. 
Malam itu, kurang dari dua tahun yang lalu, kami hanya enam anak muda yang kebetulan sedang mencari udara segar di luar kota. Aku, Egi, Yudi, Joel, Heryadi, dan Roynat. 
Kami manggas motor dari Tembalang menuju Ambarawa. Menyadari bahwa malam di sana sering terasa seperti sungai yang mengalir perlahan, itulah membawa kami datang dengan membawa pikiran yang penuh.

Gua Maria Kerep menjadi tujuan kami malam itu. Kami tak merencanakan apa-apa selain diam sejenak di bawah cahaya lilin, sambil menggantungkan harapan-harapan kecil di udara. Kami berdoa sendiri², sederhana saja, dan mungkin karena suasananya begitu tenang, Egi tiba-tiba menyebut kami Enam Pemuda Berbahaya. Diaa menyebut begitu sambil tertawa, tapi entah kekmana nama itu menempel begitu kuat dalam ingatan kami.

Sebelum pulang, kami berfoto dan membuat video di depan patung Bunda Maria. Ada lagu yang kami nyanyikan waktu itu. Goodness of God. Egi yang mengarahkan nada, Heryadi yang selalu telat masuk, Yudi yang lalap mambaen kikkikan, dan Joel yang lalap malu². Tapi endingnya suara kami menyatu dengan baik, meskipun pada proses rekamannya telah terjadi pengulangan berkali-kali. Merasa suara kami sudah cukup meskipun konyol, kami uploadlah Video nyanyi tadi di Instagram maupun whatsapp status. Tak lama kemudian, atas saran Egi dan Yudi maka dibuatlah Instagram khusus “Pemuda Berbahaya.” Dari nama yang lahir sambil bercanda itu, kami membentuk rumah kecil tempat segala cerita bisa kami kumpulkan. 
Setelah itu, grup WhatsApp pun menyusul. 
Dari sana, lingkaran kami bertambah. Masuklah Rafael, Jeremy, dan Bannel. Maka jadilah kami sembilan orang Pemuda Berbahaya. 

Tempat kami berkumpul tak selalu sama, tapi ada dua yang paling sering menampung perjumpaan kami. Pertama, Sangap Encari di Taman Tirto. Warung kopi ala dataran tinggi Karo yang membuat kami anak-anak rantau dari Sumatera, merasa seolah baru saja pulang kampung sebentar. 
Kedua, Warung Makan Nyonge Wongbumen. Tempat dengan rica pedas dan sop ayam rempah yang autentik. Di sanalah banyak percakapan kami bemula, baik tentang masa depan yang absurd,
tentang keluarga, bahkan tentang hal-hal konyol yang memancing gelak tawa diantara kami. 

Pada beberapa kesempatan, kami berkumpul di Stadion Undip hanya untuk olahraga bersama. Katakanlah seperti jogging secukupnya, dan juga senam poco-poco ala olahragawan handal.
Lucu juga sebenarnya, sebab instrukturnya bergiliran dan bergantian. Seperti Roynat yang malu² kambing, Joel yang pingangnya terlalu kaku, dan Egi yang buat gerakan aneh. Kami semua tidak tahan untuk serius, dan akhirnya tertawa sampai kikkikan. Kami berkeringat bukan karna raga yang diolah, tapi kebanyakan karena loja tartawai. 

Kalau bukan di stadion, ada juga momen di Waduk Undip. Teman-teman yang hobi memancing membawa peralatan seadanya. Ada yang menunggu umpannya ditarik ikan, ada pula yang sekadar menikmati angin. Sesederhana itu, tapi entah kenapa rasanya moment seperti itu patut disimpan baik-baik.

Di luar itu, kami juga punya ritual malam kami sendiri. Hampir setiap malam, kami nongkrong dan bermain kartu. Mar-Jisong jadi favorit. 
Dua kartu di tangan, angka-angka yang kami hitung cepat, dan kegaduhan kecil ketika ada yang dapat QQ atau bahkan Jisong. Taruhan kami cuma gope-gopekannya nian, tak seberapa nilainya memang, tapi percakapan dan tawa yang mengelilinginya itu jauh lebih mahal dahh. 
Kalau udah mar-jisong mana ingat waktu kami untuk pulang. Kadang kami pulang jam tiga, ada yang pulang jam empat, bahkan pernah hampir subuh baru bubar. 
Rasanya waktu seperti mengizinkan kami lebih lama untuk jadi anak muda.

Disamping semua itu, kebersamaan kami sering diiringi oleh satu sosok yang kami panggil manajer, Teh Ana, pacarnya Egi. Dia bukan hanya ikut nongkrong, dia juga mengarahkan banyak hal. Sebelum lulus dan kembali ke Bogor, dialah yang mengusulkan kami foto studio bersama. Sembilan orang ditambah dirinya. Ada sesi formal, ada juga foto jadul ala tahun delapan puluhan. 
Kami pakai baju-baju motif jadoel, gaya dibuat-buat, tapi justru dari situ terekam salah satu kenangan paling penting. Foto jadulnya diambil di Taman Undip, yang waktu itu terasa seperti ruang yang pas untuk menaruh nostalgia. Semua itu dikonsep manajer kami, ya si teteh Ana Purba.

Setelah Teh Ana pulang, kami benar-benar merasa kehilangan. Terutama Egi. Tapi begitulah memang hidup perantauan, ada yang tinggal, dan ada yang kembali.

Di gereja, eksistensi kami juga tak ketinggalan. Natal namaposo, PAB, atau apa pun acaranya, kami selalu mengambil peran. Pernah kami tampil menari Jingle Bells dengan gaya konyol. 
Pernah kami tampil di retret PAB di Amanda Hills. Waktu itu kami menari tarian tradisional Simalungun, sambil berharap ada yang melempar saweran. Ternyata bukan hanya berharap, kami benar-benar mendapatkannya. Hampir tiga ratus ribu per orang. Bukan soal uangnya sebenarnya, tetapi suasana riangnya, juga keberanian beberapa teman yang kalah undian dan terpaksa berdandan sebagai perempuan. Joel, Egi, Rafael, dan Heriadi, mereka tampil sebagai daboru, dan kami tak berhenti tertawa waktu itu. Dilain kesempatan kami juga sering persembahan pujian di gereja, baik saat Ibadah minggu biasa, maupun saat ada perayaan khusus. 

Desember tahun ini, kami bersiap lagi tampil di Natal Namaposo. Mungkin menari, mungkin tampil lucu-lucuan lagi. Apa pun bentuknya, kami hanya ingin meramaikan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 
Di luar gereja, kami nongkrong. Di dalam gereja, kami melayani. Begitu lah cara kami menjalani masa muda ini, membuat komunitas kecil bernama Pemuda Berbahaya akhirnya dikenal banyak orang di GKPS Semarang. Bukan karena kami hebat, hanya karena kami hadir, bergerak, dan selalu berusaha saling menjaga. 

Setelah semua perjalanan itu, aku sering merasa bahwa keseruan kami tidak pernah berdiri sendiri. Ada suara, ada sifat, ada tingkah laku khas yang membuat setiap momen punya warnanya sendiri. 
Karena itulah, sebelum jauh membahas soal betapa hebatnya kami nongkrong sampai ayam tetangga berkokok, ada baiknya aku  memperkenalkan terlebih dahulu siapa saja makhluk-makhluk yang membentuk gerombolan bernama Pemuda Berbahaya ini. Karena jujur saja, kalau tidak kukenalkan, takutnya orang bisa salah sangka, dikira kami ini geng kriminal kelas kecil, padahal kenyataannya… ya kami lebih tepat anak kos yang kebanyakan ngopi dan kurang tidur.

Anggota pertama yang selalu terlintas di kepalaku ketika mengingat Pemuda Berbahaya adalah;

Heryadi Sipayung. 
Ketua Pemuda Berbahaya. Mahasiswa teknik perkapalan Undip angkatan'22, seangkatan dan sejurusan dengan Joel. 
Jujur saja, Payung ini sebenarnya tipe orang yang lebih senang diam. Kalau kita lagi rame di warung atau lapangan, dia biasanya duduk saja, ikut mendengar, kadang hanya ngangguk kecil seolah ikut ritme pembicaraan. Tapi justru diamnya itu, entah kenapa mengundang tawa² kami.

Setiap kali si-Payung ini bicara, bahkan ketika bicaranya itu biasa saja, rasanya ada sesuatu yang otomatis memantik tawa. Mungkin karena wajahnya yang selalu ngantuk kronis, atau mungkin karna rambutnya yang mirip tokoh anime naruto yang belum selesai dirapikan, 
atau tasnya yang bentuknya mengingatkan kami pada tas parkoperasi juga para debt collector. Semuanya bercampur jadi satu paket yang, mau nggak mau, memang lucu dilihat.

Kami memanggilnya Payung. Tidak ada alasan ilmiah tentang asal-usul nama panggilan itu. 
Hanya karena marga Sipayung-nya terasa pas untuk dijadikan bahan panggilan random. 
Dan anehnya, dia menerima saja. 

Di tengah semua kekonyolannya, Payung itu sebenarnya salah satu yang paling pintar di antara kami. Anak teknik tulen. Yang kalau sudah bicara tentang tugas, rumus, atau proyek kapal, wajahnya langsung berubah jadi serius. Selain itu, dia juga orangnya sangat tangung jawab. Tugas-tugas gereja sebagai panitia pun dieksekusinya dengan rapi. Dia perkap sejati dan harga mati, meskipun setelah itu dia bisa kembali jadi Payung yang konyol dan polos seperti biasa.

Belum lagi kalau sudah badminton. Gaya khasnya saat mau mengambil bola. Bibir sedikit manyung, badan agak miring, dan ekspresi seperti habis bangun tidur, selalu berhasil membuat kami ketawa sampai sakit perut. Kadang kami sengaja lempar bola jauh-jauh cuma supaya bisa melihat gaya manyung itu muncul kembali.

Belum lengkap kalau tidak menyebut satu hal,
kisah cintanya yang tidak pernah benar-benar jadi kisah cinta. Kami kerap menjodoh-jodohkannya dengan beberapa anggota Namaposo. Ada Widya Garingging, ada juga Febby Isca. Apalagi kalau kebetulan Febby dibonceng olehnya. Begitu kami lihat adegan itu, langsung muncul suara cekikikan dan komentar-komentar yang membuat Heryadi geleng-geleng sambil senyum kambing. 
Kek gitulah si-Ayung kami ini. Ketua Pemuda Berbahaya. Diam, lucu tanpa usaha, dan selalu memberi warna pada malam-malam panjang kami. Selalu berdiri di tengah-tengah kami, dengan segala kekonyolannya yang justru membuat persahabatan ini terasa semakin hidup. 

Setelah Payung dengan segala kelucuannya, 
ada pula satu lagi sosok yang selalu membuat malam kami terasa seperti episode panjang dari pertarungan Jisong maut, itu dia; 

Roynat Purba, si bungsu di antara kami.
Dia kuliah peternakan Undip, angkatan'23. Orangnya sederhana sekali. Kalau ditanya A, dia jawab A. Kalau ditanya B, dia jawab B. 
Tidak pernah ada bumbu berlebihan. 
Tidak pernah ada drama tambahan. Pembawaannya lurus, seperti jalan Lae Pondom ke Sitinjo, tempat dimana kami berdua hampir tewas menabrak mobil saat perjalanan dari Samosir ke Situnggaling tempo itu. 
Dan sejujurnya. Semua yang keluar dari mulutnya selalu seperti laporan praktikum kandang. 
Pendek, hemat, dan tidak mengenal bunga-bunga bahasa. Kalau ditanya dimana? jawabannya cuma dua kemungkinan, di kandang atau mau ke kandang. Sampai-sampai kami curiga, kalau dia mengenal jadwal makan sapi lebih baik daripada jadwal kuliah sendiri.

Urusan cinta? Ah, itu tragedi sakit hati. 
Roynat pernah jatuh hati pada seorang Namaposo, Boru Sumbayak gan katanya. Paribannya. Sayangnya cintanya itu seperti buah Nangka yang belum masak, keras, hambar, dan margotah². 
Dia mencoba membuka hati beberapa kali, tapi agaknya bahasa wanita itu terlalu rumit baginya. Wajar saja. Kalau setiap hari ngobrol sama sapi dan ayam, lalu tiba-tiba harus mengerti bahasa hati seorang perempuan, ya itu berat. 

Tapi soal permainan kartu, dia jagonya. 
Kocok² Bahgadu-nya itu selalu membawa keberuntungan. Nilainya sering tinggi, keberuntungannya tidak pernah habis. 
Tapi keberuntungan itu berhenti tepat di gerbang urusan asmara. 

Kami memanggil dia perkandang. Bukan hinaan, lebih seperti gelar jabatan. Karena kapan pun hari itu terasa hampa, cukup tanya, “Dek, ija ho?” dan jawabannya selalu membuat kami tertawa. 
Tidak pernah gagal. Selalu “di kandang, Bang.”

Tapi satu hal, meski kepalanya penuh bau handang, Roynat ini anak yang tahu cara bekerja. Pelan, tenang, tepat, dan pasti. Di gereja dia banyak ambil bagian. Gitaris, Collectan, Ketua Natal, bahkan event besar seperti PAB maupun Pesta Olob². Sementara di kegiatan kami dia sering muncul, walau kadang masih bawa aroma kandang Heheh. Dia diam-diam, tapi dia lebih rajin daripada yang banyak bicara.

Aku berharap, kalau dia nanti menikah, undangannya harus ditulis dalam dua versi,
bahasa Indonesia dan bahasa hewan. 
Supaya keluarga di kandang juga bisa mengerti 🤣
Begitulah adek kami. Roynat Purba. Anak baik, anak kandang, anak yang mungkin satu hari nanti akan temukan cinta sejatinya. Ketemu. Mungkin. Asal calonnya nggak takut sama bau toi handang. 

Anggota kami yang lain ada Jeremy Malvin Sitohang

Jeremy selalu datang dengan aura yang sulit dijelaskan, dia seperti baru saja melewati hari yang panjang, tapi masih sempat menertawakan kebodohan dunia. Ada campuran ketulusan dan kekonyolan yang menempel padanya. 
Kalau kami duduk satu lingkaran, dia biasanya jadi orang pertama yang membuat kami menggeleng, tapi tawa tetap pecah di wajah.

Di lapangan badminton, si-Jerry ini berubah jadi atlet yang diciptakan oleh Tuhan dengan niat iseng. Setiap bola yang melambung ke atas selalu di sambutnya seperti pemain voli yang baru saja dapat umpan dari tosser. Lompatannya tinggi… ayunan tangan besar… lalu bola itu menyangkut manis di net. Setiap kali begitu, Jeremy akan menatap raketnya seolah raketlah yang salah memilih pemilik.

Di balik kekonyolannya, Jeremy adalah salah satu dari sedikit orang di antara kami yang punya keahlian jelas. Musik baginya bukan hanya pelajaran kuliah, musik itu sudah jadi bagian dari napasnya. Soal permainan uning-uningan Batak...ah, jangan coba-coba menyombong di depan dia. Dialah yang paling mengerti cara membuat garantung muncul pada tiap tekanan tuts-nya. Tak heran dia dipanggil sana-sini, pesta Bonataon, pesta marga, acara kategorial, semuanya pernah mencicipi suara musik si Jerry ini. 

Karena itu juga, di gereja dia dipercaya jadi koordinator bidang nyanyian, tari, dan musik. 
Dan aku sering lihat, kalau Jeremy sudah memegang tugas itu, dia mengerjakannya dengan hati, meski wajahnya kerap dengan ekspresi bingung dan longang. Itu yang membuat dia begitu menyenangkan. Tidak pernah ada drama, tidak ada ambisi yang mengganggu. Datang, dan kerjakan.

Yang membuat aku makin suka sama anak ini adalah kesetiannya datang ke Basecamp Pemuda Berbahaya, meski kesehariannya lebih sibuk lagi. Kadang dia datang membawa cerita tentang jasanya sebagai anjem atau ojek makanan. Katanya itu pekerjaan yang menenangkan. Tapi selain itu, dari UNNES ke Tembalang itu bukan perjalanan yang mudah, patennya dia selalu muncul. 
Kadang bau hujan masih menempel di bajunya. 
Kadang napasnya masih ngos-ngosan. 
Tapi dia tetap datang, tertawa, duduk, dan ikut segala kekonyolan kami. Seolah² perjalanan sejauh itu bukan apa-apa dibanding tawa bersama kawan-kawan.

Dan kalau sudah main Jisong… nah, itu bagian favoritku. si-jerry adalah contoh paling nyata dari manusia yang berubah bentuk ketika uang gopeknya mulai terancam hilang. 
Di awal permainan dia sangat percaya diri, penuh cengiran. Tapi begitu kalah beberapa putaran, raut wajahnya mulai berubah jadi lukisan tragedi kecil. Tangan kirinya mengusap wajah, tangan kanannya memegang dua kartu seolah kartu itu bisa dia ajak negosiasi. Dan setiap kali kartu tidak berpihak padanya, kalimat yang keluar selalu sama, dengan nada yang sulit ditiru siapa pun, 
“Oh Tuhan…” 

Entah kenapa, tiap dia mengucapkan dua kata itu, kami satu lingkaran selalu meledak tertawa.

Di luar itu semua, Jeremy punya kehidupan cintanya sendiri. Sekarang dia sedang berhubungan dengan seorang perempuan dari Jakarta. Semoga mereka berjodoh. 
Aku selalu gumam begitu dalam hati, sebab Jeremy memang punya hati yang baik. Dia hanya belum menemukan cara agar hal-hal yang dia inginkan juga berjalan semulus musik yang ia mainkan. 

Dibalik cerita si-jerry dengan khas uning²annya, ada anggota kami yang sangat bertolak belakang dari semua huru dan hara ini. Dia Joel Iman Sinaga. 

Joel Christopher Iman Sinaga.
Orang yang selalu membuat saya berpikir bahwa keheningan ternyata bisa punya bentuk. 
Dia pendiam, tapi bukan diam sembarang pendiam. Pura-pura tidak peduli dan tak mau tahu, tapi diam² menyimpan kesan dalam setiap perjumpaan. Dihati terdalamnya, kami tahu, dia adalah orang yang peduli. Sayangnya kepedulian itu sering tertutup oleh tampang ga mau tahunya.
Tapi, yang lebih bursiknya lagi, Joel ini pengejek handal, meski kelihatan diam, tapi kalau soal ejek mengejek dia kuat kali. Korban langganannya ya siapa lagi kalau bukan Payung, yang juga teman satu jurusannya di Teknik Perkapalan. 

Soal kisah cintanya?… ahh, ini bagian yang kalau diceritakan dengan jujur, bisa membuat Roynat Perkandang tampak seperti penyintas romansa kelas pemula dimatanya. Joel pernah menyukai seorang perempuan yang kami kenal betul. 
Terlalu betul malah, sampai kami hafal semuanya. Kedekatan itu jelas, ada, kami semua menyaksikannya. Tapi entah kenapa, arah angin waktu itu nggak berpihak untuknya. Hubungan itu menguap begitu saja. Cerita itu lebih rundut dari benang jahitanlah pokoknya. 

Karena itu dari semua anggota Pemuda Berbahaya, kisah cinta Joel adalah yang paling mirip catatan kuliah yang hilang halaman tengahnya. 
Ada awal yang menjanjikan, ada babak perkenalan yang kami lihat sendiri keakrabannya, tapi setelah itu… kosong. Betul-betul kosong. Kayak orang yang pengen nulis puisi, tapi tiba-tiba buntu ditengah jalan dan memutuskan untuk tidur siang. 
Hubungannya dengan baya itu seharusnya bisa tumbuh, tapi entah kenapa keduanya seperti menunggu angin yang tak kunjung datang. 
Dan Joel, dengan gayanya yang tenang sekaligus membingungkan itu, tetap berdiri di sana, berharap sesuatu tanpa pernah benar-benar mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. 
Sebetulnya salah si cewek itu juga sih, tapi ya cemmana dibuat. Joel-lah yang jadi korban. 

Age kek gitu, kadang maunya kami garai dia. 
Attar kami tanya. “Man, gimana kabar kawan itu?” Dia cuma diam, mengangkat bahu, dan menjawab pelan, “Ahha… mati aja itu. Udah ku blokir dia.” Jawaban yang begitu sadis, yang barangkali timbul dari huru-hara batin sepanjang tiga semester ini. 

Joel yang pendiam, dan dibalik diamnya itu, dia kadang menyimpan kehampaan yang tak pernah diucapkan. Kami gak tahu apa penyebabnya. 
Bisa jadi soal hati, bisa jadi tentang sesuatu yang ia simpan jauh di bawah lapisan-lapisan yang hanya Tuhan dan dirinya sendiri pahami. Atau mungkin kami aja yang terlalu sok memahami, sedang dia sebenarnya baik-baik saja dan hanya malas menjelaskan apa pun kepada manusia-manusia berisik seperti kami.

Menariknya, meskipun tampak hampa pada hari-hari tertentu, meskipun hanya formalitas sosial.  Joel selalu hadir ketika gereja memanggil. 
Dia aktif pelayanan, setia pada jadwal Collectan, dan tidak pernah mengeluh walaupun kadang wajahnya bessut dan tanpa ekspresi.
Dan bagiku sendiri, Joel bukan hanya soal Pemuda Berbahaya. Dia juga temanku naik gunung, 
teman perjalanan, teman nebeng ke mana pun. Kami pun sudah banyak menaklukkan gunung bersama. Kami pernah touring keliling Sumatera Utara tahun 2024 yang lalu. Dia datang ke Tanah Karo, menemuiku dan Nael Girsang. 
Kami berkeliling Danau Toba, Samosir, dan berbagai tempat yang membuat kami tertawa sepanjang jalan. Banyak kejadian konyol yang bahkan sampai hari ini jika kami ingat, rasanya dada seperti ditarik untuk kikkikan lagi.

Semua punya waktunya masing².. itulah kalimatnya setiap kali ku coba bercerita tentang nasib yang lalap kek gini-gini aja. Yaa naima Joel.

Sementara. Rafael Eben Haezer Ginting
si anak Unnes angkatan'20, adalah satu-satunya anggota Pemuda Berbahaya yang bisa membuat kami semua percaya bahwa daya ingat manusia memang punya batas alamiah, dan batas itu sudah lama dilewatinya. Di rombongan kami, kalau ada dompet tercecer, kunci motor menghilang, atau HP yang entah dimana tertinggal, kami gak perlu rapat darurat lagi, gak perlu bertanya² lagi. Itu pasti punya si-Ginting. Jangankan kami, alam semesta pun sudah hapal pola pelupanya yang Na'uzubillah Minzalik. 

Dia ini anak seorang pendeta senior di GKPS, 
tapi jangan dulu membayangkan gambaran ideal seorang anak pendeta yang tertib, dan penuh disiplin. Tak usah. Si-ginting ini lebih mirip edisi spesial yang mungkin lupa dicek oleh pabrik sebelum dikirim. Tapi meskipun begitu, kalau sudah menyangkut musik gereja, dia tetap hadir. Telat, tapi hadir. Ibadah mulai jam sepuluh, dia muncul setengah sebelas, mukanya kayak orang yang baru bangun dari mimpi yang sangat tidak penting. Tapi begitu gitar bass sudah di tangannya, semua orang terdiam. Kayaknya Tuhan pun maklum dengan kebiasaannya itu. 

Sebagai Wakil Ketua Namaposo, pendamping si Egi Maulana Damanik, dia tetap tampil dengan wibawa… yah, wibawa versi Si-Ginting. 
Celana agak kusut, sama rambut terurai. 
Dan kehadirannya tak pernah absen dalam setiap pertemuan pemuda berbahaya. 
Dari Unnes ke Tembalang, melewati tanjakan curam lembah Tenjomoyo, pun dia tetap jalan. Hujan bukan masalah, pulang malam pun bukan rintangan. Seolah ada magnet yang menariknya untuk tetap datang kepada kami, atau mungkin dia hanya takut kalau absen, nanti kami ngomongin dia. Hehehe 🤣 keknya enggaklah. 

Dalam kelompok ini, Si Ginting paling dekat dengan si Yudi Andreas Tondang. 
Kedekatan mereka karena alasan paling sederhana di budaya kami, bahwa mereka martondong merpanogolan. Artinya, mereka memang ditakdirkan saling² sejak lahir. 
Kadang mereka bertengkar kecil, kadang saling tabok pelan sebagai tanda akrab, kadang saling menertawakan kebodohan masing-masing. 
Dan jujur saja, itu hiburan sederhana yang selalu berhasil membuat mereka asik berdua. 

si-Ginting kami ini juga salah satu yang paling sering dikagumi di GKPS Semarang. 
Kalau wajahnya muncul, ada saja yang melirik. Adik kami, si Kariting boru Damanik, pernah begitu bangga menceritakan keberadaan si Ginting ini. Maklumlah, dia pandai main gitar, pandai main bass, bisa semua alat musik, bahkan kadang aku curiga kalau ada sendok pun bisa di bikinnya jadi musik yang merdu. Tidak heran kalau beberapa wanita sempat terpikat, meskipun mungkin mereka belum tahu, kalau si-kawan ini bisa lupa lokasi dirinya sendiri kalau dibiarkan terlalu lama diluar 🤣 

Sesudah Rafael Ginting, tibalah giliran nama yang paling sering membuat kepala kami otomatis miring ke kiri, lalu ke kanan, sambil bergumam dalam hati, “Masam dassa ulahni ambia on!” 
Itulah Yeremia Elbannel Munthe, si Bannel yang selalu berjalan dengan ritme hidupnya sendiri. Dia satu angkatan dengan Roynat Purba, satu jurusan dengan Payung dan Joel, sekaligus satu-satunya makhluk Tuhan yang berhasil membuat orang Teknik Perkapalan Semarang berpikir ulang tentang arti kesabaran.

Bannel ini, kalau menurut bahasa Simalungun, 
Lang tarhatahon. Kalau menurut bahasa Karo, 
La terkataken. Dia selalu bergerak seperti orang yang baru selesai minum tiga gelas kopi robusta tanpa gula. Bukan karena dia sedang terburu-buru, ya tapi memang begitulah pola orbitnya. 
Abangnya, Romo Wirandus Marupa Munthe, pernah berkata dengan nada yang sangat tulus, “Bannel... ai ma Munthe na masoek angin.” 
Entah apa maksudnya, tapi kalimat itu cukup untuk membuat kami paham bahwa agaknya sejak kecil kawan ini punya jalannya sendiri. 

Dia aktif di GKPS Tangerang, tapi saat berbicara bahasa Simalungun, dia hanya tersenyum sopan, senyum orang kota yang bingung, tapi tidak ingin terlihat bingung. Kadang kami bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa aktif di komunitas Simalungun, ikut ibadah, ikut acara, ikut pelayanan, tapi tidak pernah mengerti bahasa pengantarnya. Ya, mungkin begitulah anak ini,  hidup sepenuh hati tapi tidak selalu dengan buku petunjuk yang tepat.

Di komunitas Namaposo, perannya banyak sekali. Mulai dari jadi perkab sampai jadi koordinator PDD (dokumentasi dan dekorasi) untuk Natal. 
Tugas yang dilakukannya dengan tekun, meski sesekali menimbulkan kontroversi kecil yang membuat kami tersenyum milas. Itu pun masih ditambah kesibukannya di organisasi kampus sebagai PSDM, yang membuatnya seperti orang yang sedang mengikuti lomba lari estafet, tapi tidak pernah selesai gilirannya.

Setiap malam, ketika ide-ide aneh dan keinginan yang tidak masuk akal mulai muncul, dia kadang berkata ingin maju sebagai Ketua Namaposo menggantikan Egi. Kami tidak tahu itu niat sungguhan atau efek begadang yang berkepanjangan. Karena semakin sering dia rapat sampai jam tiga pagi, semakin kuat pula keinginannya menjadi pemimpin. 

Belakangan ini, Bannel memang sering mengajak nongkrong, mutar-mutar malam, kadang sampai larut tak beraturan. Mungkin itu caranya meredakan kepenatan dari rapat-rapat yang lang marnabois. Atau mungkin juga karena hatinya sedang sedikit retak, kisah cintanya yang kandas dengan seseorang juga Namaposo GKPS Semarang. Dia memang tak pernah bercerita panjang, 
tapi dari cara dia mengajak jalan tanpa tujuan, kami tahu ada yang sedang di carinya, meski entah apa. Si-Bannel Oo Bannel. Si-anak kota yang sibuk, labil, dan tak jelas alur geraknya, tapi selalu datang ke Pemuda Berbahaya. Dan yaaa entah kek mana, meski sering membuat kami geleng kepala, kami tetap merasa tiap pertemuan belum lengkap kalau tak ada tingkahnya.  

Yudi Andreas Tondang adalah anggota berikutnya dalam lingkaran pemuda berbahaya. 
Dia baru saja lulus, tepat di awal Agustus kemarin. Sudah hampir delapan tahun aku dan dia saling mengenal. Selain bertemu di komunitas namaposo GKPS Semarang, kami juga tinggal serumah, 
lebih tepatnya dalam satu biara binaan Ibu Murti. Ada Joel di bangunan depan, sementara aku dan Yudi menempati bangunan belakang, gedung B, yang disebut Murti Skuadron tempo itu. 

Yudi, sebagai salah satu sesepuh di antara kami, tidak pernah memakai umur sebagai jarak untuk adek² yang lain. Dia justru menjembatani banyak hal. Perannya di namaposo selalu terlihat, 
dari urusan desain, ide-ide kreatif, sampai pada keputusan-keputusan kecil yang membuat sebuah kegiatan terasa lebih hidup. 
Meski umurnya jauh diatas adik-adik yang masih kuliah, dia tetap ada, tetap terlibat, dan tetap memberi warna diantara mereka. 

Ada satu kebiasaan yang entah harus disyukuri atau dihilangkan dari Yudi. Kalau sudah membuka mulut untuk bicara frontal, suasana langsung berubah seperti pintu angin yang tiba-tiba dibuka. Segar berhembus. Tak pakai filter, tanpa rem, 
dan tak ada tanda² peringatan. 
Cara dia mengucapkannya itu betul-betul nikmat didengar. Anak² Pemuda Berbahaya pasti sudah paham itu apa kalimat yang sering diucapkannya kalau pas dapat Bollok mar-Jisong. 
Dan anehnya, bukannya kami merasa tersinggung, justru kami menikmati itu seperti menikmati goreng pisang panas dari atas balanga. 
Ada rasa gurihnya, dan ada panas²nya. 
Kami tahu, kalau dia bicara, semuanya tumpah begitu saja. Ngomong kasarnya tampak luwes, tapi tetap saja berkesan lucu. Dia memang begitu, lentur, mudah membaur, punya humor yang keras, tapi juga mampu berbicara serius ketika dibutuhkan. Lengkap sebagai seorang saudara. 

Kalau sama si-Pren ini, dunia terasa lebih ringan. Banyak hal-hal yang tidak perlu dijelaskan,
tak perlu saling memberi tahu. 
Tertawa bersamanya adalah cara paling sederhana untuk meredakan sesak yang kadang kami simpan dalam dada masing-masing. Di komunitas pemuda berbahaya ini, siapa pun di antara kami menyimpan pergumulan sendiri, baik aku, Yudi, Egi, Rafael, dan yang lain. Tapi ketika duduk bersama, semuanya seperti dilepaskan sejenak di udara malam. Seakan-akan ada tempat khusus dalam lingkaran kami yang menampung hal-hal yang belum beres itu. Walaupun, setelahnya masih harus dirimang²i saat duduk seorang diri. 

Okehh kita pindah haluan dulu ke arah Sondi. 
Par GKPS Kongsilaita. si-kawan dengan emosi yang naik turun, dengan gaya ceritanya yang bisa menghidupkan malam, dan dengan kelemahan-kelemahan kocaknya sendiri, membuat komunitas ini terasa lebih bernyawa.
Dialah Egi Maulana Rizki Damanik adik kami yang satu ini, adalah mesin utama dari seluruh keributan yang bernama pemuda berbahaya. Kuliahnya di Udinus, tapi ngekosnya jauh di Tembalang. Orang waras mungkin akan bertanya kenapa harus tinggal sejauh itu, tapi dia memilih Tembalang karena di sinilah dia merasa tumbuh. Di sini dia merasa punya keluarga, walau keluarga ini isinya ya… orang-orang dengan tabiat yang barangkali hanya Tuhan yang sabar memahami.

Sebagai Ketua Namaposo, dia mengambil peran seperti kepala rumah tangga, mengatur, mengurus, memarahi, tapi pada akhirnya tetap menyayangi. Bersama pacarnya, teh Ana boru Purba, 
keduanya jadi duo yang ngatur ritme pemuda berbahaya, mulai dari badminton, nongkrong, makan, sampai jalan-jalan yang kadang entah mau ke mana, pokoknya jalan dulu saja. 

Ambia ini punya satu titik lemah yang tidak pernah berhasil disembunyikan, yaa Boru Purba. 
Entah kekmana sejarahnya, tapi begitu boru Purba muncul, matanya langsung berubah arah seperti kompas yang menemukan utara. 
Kami sering bilang, “Age i kahua, age naha rupani, anggo margoran boru Purba mittor sur i Summah ni do.” Sedikit saja ada boru purba lewat, dia langsung siaga penuh, seolah-olah hidupnya baru dimulai hari itu. Kadang kami duduk diam memperhatikannya, hanya untuk memastikan apakah benar dia sadar kalau kepalanya sudah menoleh tiga kali ke arah yang sama. 
Bukan apa-apa, kami hanya ingin tahu seberapa jauh instingnya bekerja. Lebih lucunya lagi, kelemahannya ini sebenarnya tidak spesifik kepada boru purba. Asal ada yang cantik, dia langsung goyang. Boru purba itu cuma kategori paling mematikan. Kalau sudah muncul yang cantik dan banggal. Dia seperti kehilangan manual hidupnya. Tinggal kami yang geleng-geleng kepala sambil bilang, “Yakk oiii… Dilati nehh!!.”

Di urusan kartu, Egi itu punya bakat yang bikin orang emosi. Lalap menang. Lawan imbangnya cuma satu, Roynat Purba. Dua orang ini kalau sudah duduk di depan kartu, siap-siap saja melihat wajah orang lain berubah dari ceria jadi pasrah total. Ada satu khas… emosinya mudah naik. 
Apalagi kalau si-Bannel sudah mulai marulah dengan tingkahnya yang La Terkataken. 
Egi langsung naik pitam. Suaranya meninggi, mukanya memanas, geraknya berubah cepat. 
Tapi setelah itu, ya kembali lucu lagi. Peran bapaknya muncul di situ, perhatian, protektif, dan dengan senyap memikul beban lebih banyak dari yang dia tunjukkan.

Kalau soal cerita lucu, dia salah satu aset terbaik. Begitu dia mulai menirukan gaya bicara seseorang, entah itu calon simatuanya sendiri, entah teman yang lagi apes, atau entah siapapun, kami bisa tertawa lama. Dia menggambarkan kejadian dengan tubuhnya, dan dengan ekspresi wajah yang pas. Dan kalau sudah masuk dunia bully membully, dia adalah pemain inti. Targetnya siapa saja, Roynat dengan kisah cintanya, Joel yang misterius, Heryadi payung yang hidupnya tenang-tenang saja tetap jadi korban. Semua kena. Tapi ya itu tadi, kami memang tumbuh bersama dalam suasana seperti ini. Semua ejekan jadi bahan ketawaan aja. Kami sudah saling memahami bahasa keakraban kami, semakin dekat seseorang, semakin mudah jadi korban bulian. 

Tapi, kalau ada satu hal yang selalu dibanggakannya, itu bukan karna ketua Namaposo, bukan pula prestasinya juara Jisong, tapi gaya kemiliterannya. Ngomong pun kadang pakai nada yang seolah dia sedang memberi instruksi penyergapan. Katanya ini semua karena masa pendidikannya yang ditempah ala Militer di lembah Gunung Singgalang. 
Entah betul ditempa atau cuma sering push-up karena ketahuan keluar malam, tapi gaya militernya itu menempel sampai sekarang. 
Sampai pacarnya, Ana, pernah nyeletuk dengan santai, “Ah, lu tentara-tentaraan lu,” sambil ngikik karena memang kadang tingkahnya persis anak kecil yang baru dapat baret loreng pertama. 
Tapi sehebat-hebatnya gaya komandonya itu, Kakinya gampang sekali keram. Baru jalan sedikit, baru macet sedikit, baru naik motor agak lama, langsung meringis seperti veteran perang yang kambuh lututnya. Jadi kadang lucu juga, gaya boleh setegas instruktur tempur, tapi begitu keram datang, semua kehormatan satu batalyon langsung hilang. Andai suatu hari dia benar-benar ikut latihan tempur, mungkin musuhnya tidak perlu bersusah payah untuk menyerang. Cukup suruh aja dia berdiri lama sedikit, dan serangan paling mematikan adalah… keram.
Luar biasa memang, tentara-tentaraan dengan kaki pensiunan 🤣. 

Meski begitu adikku ini adalah penggerak, eksekutor, sekaligus pengocok suasana. 
Kalau dia hadir, ada kehidupan. Kalau dia bicara, ada cerita. Kalau dia marah, ada ramai. Dan kalau dia tertawa, suasana jadi lengkap. Dia pusat gravitasi dari Pemuda Berbahaya. Tanpa dia, mungkin pertemuan kami tak akan sesegar itu. Tanpa dia, barangkali kami hanya jadi pemuda biasa, dan itu tentu jauh lebih membosankan.

Pada akhirnya, semua cerita tentang Pemuda Berbahaya ini tak pernah jauh dari hal sederhana yang kami jalani. Nongkrong di warung, latihan tari tanpa persiapan, main kartu sampai dini hari, atau hanya duduk santai memandangi waduk sambil membahas hal-hal yang bahkan kami sendiri lupa esoknya. Membicarakan usaha putu bambu, usaha nasi goreng, dan macam lainnya. Tapi dari hal-hal kecil itulah kami belajar saling menguatkan. Dari situ kami mengerti bahwa pertemanan yang baik bukan ditentukan oleh seberapa gagah nama kelompoknya, tapi juga karena seberapa sering kami hadir satu sama lain bahkan ketika hari-hari terasa berat.

Sekarang, saat masing-masing mulai sibuk mengejar jalannya sendiri, yang kuliahnya makin padat, yang bekerja sambilan, yang sudah mulai memikirkan rencana hidup beberapa tahun ke depan, kami anak anak PB tetap kembali pada lingkaran kecil ini. Semua itu bukan pula karena kami takut berjalan sendiri, tapi di tempat inilah kami bisa jujur apa adanya. Entah nanti akan berkurang satu atau bertambah satu, lingkaran ini tetap jadi rumah singgah bagi kami para perantau yang meraba masa depan pelan-pelan.

Mungkin pun juga suatu hari nanti kami akan membaca ulang cerita ini dengan umur yang lebih matang, dan kepala yang lebih penuh pengalaman. Saat itu, mungkin kami bisa aja sudah menyebar ke kota yang berbeda-beda. Tapi kenangan tentang bagaimana kami tertawa, bagaimana kami menghabiskan malam-malam panjang dengan obrolan tak penting, dan bagaimana kami saling menjaga tanpa banyak bicara, semua itu akan tetap hidup dalam Ingatan yang lama. Inilah Pemuda Berbahaya. Nama yang seram, padahal kami hanya kumpulan anak muda yang beruntung pernah menemukan satu sama lain di tempat yang jauh dari rumah. 





Biara Murti | November 25
Poltak Pendongeng Miskin









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung: Saat Waktu Memaksa Lupa