Diantara dua pasang surut



Sepulang dari jalan sore itu, aku tiba di biara dengan kaki yang lelah, tapi bukan itu yang paling terasa. Enam belas kilometer yang kutempuh tak membawa apapun untuk kubawa pulang, selain masih membawa napas yang lebih berat dan pikiran yang tetap penuh. Akupun tak langsung mandi. Tak ada pula yang mendesak untuk disegarkan malam itu. Aku hanya duduk sebentar. Meregangkan otot-otot yang kaku, ya sebagai rutinitas yang harus dilakukan supaya semuanya gak apa kali yakan. Air putih pun kuteguk perlahan. Dingin, lalu hilang. Tidak meninggalkan apa-apa setelahnya. 

Lantas, pandanganku jatuh ke meja belajar itu, meja yang paling besar di kamar ini. Bertahun-tahun tak berpindah. Tetap diposisi yang sama. Aku menatapnya cukup lama, sampai akhirnya muncul keinginanku untuk menggesernya.
Bukan karena aku sudah punya konsep tata letak yang indah, nggak tahu pulak harus ke mana dibuat, tapi karena sudah muak melihat lalap disitu, jadi kupaksa harus memindahkannya entah kemana. 

Langsunglah kubersihkan kamar ini. Debu-debu disudut ruangan ini menebal. Kaca besar itu kulap sampai bersih. Pantulannyapun kembali jelas, meski yang kulihat di dalamnya itu tetap sulit untuk kukenali. Semua kubersihkan. Meja, sudut-sudut, juga benda-benda kecil yang selama ini dibiarkan menumpuk. Agaknya dengan merapikan ruangan ini, ada sesuatu didalam diri yang ikut bisa dibereskan. Meski aku tahu, biasanya tak begitu.

Diantara kertas-kertas yang kusibakkan, tanganku terhenti pada sesuatu yang kecil dan hampir terlupakan. Sebuah amplop putih, atau yang dulu putih. Sekarang warnanya kecoklatan kusam. Ukurannya kecil, tak mencolok, tapi cukup untuk membuatku tardiam sejenak. Aku kenal betul ini amplop, begitu kira kira kata hatiku. Amplop itu pernah kucari. Tidak dengan sungguh-sungguh, mungkin. Hanya sekadar ingin menemukan, tanpa benar-benar siap dengan apa yang akan ditemukan. Dan sekarang, dia muncul begitu saja, diwaktu yang tak pernah kuduga.  

Kusimpan sebentar, lanjut aku membereskan kamar biara ini. Memindahkan meja, mengatur-atur ulang posisi. Sampai akhirnya, tanpa alasan yang jelas, aku membuka amplop itu. Sepotong surat kecil masih ada didalamnya, bertarikh tahun 2018. Tulisan yang dulu mungkin pernah berarti lebih dari yang berani kuakui sekarang. 
Aku tersenyum kecil. Sambil mengingat bagaimana surat itu dulu sampai ke tanganku, dan bagaimana aku pernah percaya bahwa hal-hal seperti itu bisa tinggal lebih lama. Bahkan sangat lama. 


Temuan Amplop lama dari Anak Allah 


Pada sudut amplop kecil itu, tertulis sebuah nama yang seperti sengaja disamarkan. 
Atau mungkin lebih tepatnya, disembunyikan di balik kesederhanaan yang pura-pura tidak berarti. Aku tahu siapa yang bersembunyi dibaliknya. Bukan karena ada yang pernah mengaku, tapi karena ada beberapa hal yang tak pernah benar-benar bisa disembunyikan. 

Kubuka surat itu perlahan. Kertasnya masih bersih. Kata-katanya sederhana. Tak ada yang berusaha dibuat rumit, tak ada yang ingin terlihat lebih dari yang sebenarnya. Tapi disitu pulaklah letak daya hancurnya, sering kali memang hal-hal yang sederhana seperti ini menyimpan sesuatu yang tak pernah mudah untuk dianggap selesai.

Pikiranku pun kembali ke tahun 2018 yang lalu. 

Waktu itu, surat ini tak datang dengan cara yang istimewa. Hanya diselipkan di celah bawah pintu kamar biara ini, hampir seperti sesuatu yang tak ingin benar-benar ditemukan. Aku bahkan sempat mengira itu hanya kertas biasa, sesuatu yang nantinya akan kusapu dan kulupakan tanpa pernah tahu isinya. Tapi entah kenapa, aku mengambilnya. Membukanya. Dan di dalamnya, bukan hanya selembar surat, tapi juga sejumlah uang. Dia tak meninggalkan nama. Hanya tulisan “Dari Anak Allah”. Dan anehnya, itu sudah cukup.

Sebagian dari surat yang dikirim adek itu—2018


Aku ingat bagaimana dulu aku coba mencari tahu siapa pengirimnya. Tentu karena penasaran yang besar, kejadian itu terasa terlalu dekat untuk dianggap kebetulan. Aku tak pernah benar-benar menanyakannya secara langsung, tapi aku memperhatikan. Cara dia menghindar. Cara dia tersenyum tipis ketika topik itu dibahas. 
Bahkan cara diamnya yang justru terlalu berbicara. Dia tak pernah mengaku. Sampai sekarang pun tidak.

Tapi aku tahu.

Beberapa kebenaran tak membutuhkan pengakuan. Nyatanya kebenaran sering tinggal diantara gerak-gerik kecil yang tak bisa diatur, 
juga diantara rasa canggung yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Penemuan surat ini membawa lebih dari sekadar isi didalamnya. Membawa kembali pula wajah lama, percakapan yang sudah lama selesai, dan peristiwa-peristiwa yang dulu terasa biasa, tapi sekarang justru menetap lebih lama dari yang seharusnya.

Karena itu, setelah menemukannya kembali, 
aku tak berniat melepaskan amplop kecil itu lagi. Akan tetap kusimpan, entah sampai kapan, seperti aku menyimpan ingatan tentangnya. Aku tak akan menyebut namanya. Tak perlu. Wajahnya sudah cukup jelas dikepalaku setiap kali aku membuka kembali lipatan kertas itu. Dia akan selalu bersemayam disana, dikata-kata sederhana yang dituliskannya itu. 

Amplop itu ternyata bukan sekadar tongosan. Rupanya ini jadi awal yang tak pernah diberi judul. Setelah itu, ada hal-hal kecil yang mulai terjadi. Makanan yang tiba-tiba tergantung di gagang pintu kamar. Hampir setiap hari. Selalu diwaktu-waktu yang tak bisa kutebak. Dan aku yang sebenarnya sudah tahu tetap berpura-pura tidak tahu. 
Aku mau lihat sejauh mana seseorang bisa peduli tanpa ingin dikenali. 

Dan aku tak pernah berhasil memergokinya. 
Selalu saja dia datang dan pergi tanpa jejak, meninggalkan sesuatu, lalu menghilang. 
Kadang ada catatan kecil terselip dibungkus makanan, kalimat sederhana itu cukup untuk membuat semuanya terasa berbeda. Dan entah bagaimana, tanpa pernah ada penjelasan yang jelas, jarak itu perlahan menghilang. Dia mulai datang. Tak lagi hanya meninggalkan sesuatu di pintu, tapi benar-benar mengetuk. Masuk. Duduk. Tertawa. Mengisi ruang yang sebelumnya hanya berisi suara pikiranku sendiri. Kadang masih membawa makanan, tapi kali ini bukan untuk ditinggalkan diam-diam. 

Doc. Waktu dia martandang ke biara Murti thn 2019

Di kamar ini. Di tempat yang sama ini, di tempat yang dulu hanya menjadi persinggahannya. Dan disinilah aku mulai ngerti, kalau amplop kecil itu bukan sekadar benda yang pernah kucari dan kemudian kutemukan kembali. Semua ini jadi awal dari sesuatu yang tanpa kusadari, pelan-pelan mengubah caraku merasa ditemani. Meski pada akhirnya, seperti banyak hal lain, aku tak pernah benar-benar tahu kapan tepatnya semua itu mulai berubah… dan kapan, diam-diam, dia mulai menjauh dengan cara yang sama sunyinya saat dia dulu datang. 

Ada satu momen yang masih sangat kuingat, 
Kami duduk berdua waktu itu. Tak ada yang istimewa. Hanya sore yang berlalu seperti biasanya. Lalu aku berkata, seolah-olah tanpa maksud apa-apa, “Eh ndan, Adalo yang ngasih aku amplop. Isinya uang. Di luarnya ditulis, dari Anak Allah. Kira-kira siapalah itu, ya?”

Begitu sandiwaraku, berpura-pura tak tahu.

Aku lanjutkan, pelan, “Kalau aku tahu siapa orangnya, mungkin aku akan bilang, dia itu terlalu baik. Berhati malaikat. Tak banyak orang seperti itu.”

Dia menjawab singkat, “Oh ya? Siapa, ya?”

Sambil tersenyum.

Senyum yang tak sepenuhnya rapi.

Aku tak menatapnya terlalu lama. Tidak perlu. 
Dari caranya menahan tawa, juga dari caranya menghindari mataku, semuanya sudah cukup jelas. Tapi kami tetap melanjutkan percakapan itu seolah sama-sama sepakat untuk tidak membongkar sesuatu yang sebenarnya sudah terbuka. Lantas kami tertawa. Selain karna dia lucu, juga karna ada sesuatu yang kami pahami bersama, tapi kami memilih untuk tidak menyebutkannya. 

Sejak itu, banyak hal berjalan tanpa pernah benar-benar bisa dijelaskan. Dia tak lagi hanya meninggalkan sesuatu di pintu. Dia mulai datang. Duduk di kamar ini. Berlama-lama. Kadang membawa makanan, kadang hanya membawa dirinya sendiri yang entah kenapa, selalu jadi hal yang membahagiakan. Kek gitulah kami menghabiskan waktu tanpa batas yang jelas.


GOR Waikiki thn 2020 yang silam 

Kami sering bermain badminton bersama, nongkrong sama, makan sama, berbagi piring yang sama, jalan-jalan sama, dan hal-hal kecil lain yang, saat itu, terasa biasa saja.

Tapi ada satu hal yang masih kuingat dengan jelas.

Tentang es teh.

Aku dulu selalu minum es teh setiap makan. 
Itu kebiasaan yang tak pernah kupikirkan ulang. Sampai dia mulai mengomentarinya, berulang-ulang. Dengan cara yang sedikit mengganggu, tapi tak pernah benar-benar bisa kuabaikan.

“banggg...Jangan minum es teh,” katanya.

“Air putih aja. Kalau bisa hangat.”

Aku menertawakannya waktu itu. Tapi dia terus mengulangnya, dengan keseriusan yang aneh untuk hal yang sekecil itu. Katanya teh bisa mengganggu nutrisi. Banyak hal yang mungkin tidak sepenuhnya kupahami, tapi cukup untuk membuatku berhenti. Dan sejak itu, aku tak lagi memesan es teh setiap kali makan. Kebiasaan yang bertahun-tahun melekat, berhenti bukan karena aku ingin berubah, tapi karena seseorang memperhatikannya terlalu dalam. Itu hal kecil yang sungguh terasa istimewa. 



di Akasa dekat Taman Tirto thn 2020 yang silam 


Pada kesempatan lain kami juga pernah tanding makan durian. Terlalu banyak, sampai akhirnya hanya tersisa tawa yang tak jelas sebabnya. 
Hal-hal seperti itu yang sekarang justru lebih mudah diingat daripada hal-hal yang dulu kuanggap penting.

Yang aneh, semua itu terjadi ketika aku tidak benar-benar sendiri.

Aku sudah punya seseorang saat itu, ya si–anggi boru payung

Dan justru di situlah semuanya menjadi tidak sederhana.

Dia tetap datang. Tetap ada. Kami tetap makan bersama, berjalan bersama, bahkan menempuh jarak yang tak perlu seharusnya kami lakukan, seperti saat kami berkendara jauh hanya untuk makan mie pangsit, lalu motor mogok di jalan pulang. Kami tertawa waktu itu. Macam tak ada yang salah.

Padahal, ada.

Aku tahu itu.

Dan tetap saja, aku memilih untuk tidak berhenti.

Aku bahkan pernah bertengkar karena kedekatan itu. Tapi yang lebih mengganggu bukan pertengkarannya, tapi kenyataan bahwa, didalam diamku, aku tetap membelanya. Bukan karena aku benar. Tapi karena aku tahu dia tulus. 

Dan mungkin itu yang paling berbahaya dari semuanya. Bukan kedekatan kami. Bukan kebiasaan. Juga bukan soal waktu yang kami habiskan bersama. Tapi ketulusan yang datang diwaktu yang tidak seharusnya. Dan aku… tidak pernah benar-benar menolak itu.


Diam-diam, aku juga mengajaknya ke gereja.  Hanya untuk memainkan beberapa lagu. 
Waktu itu masa pandemi. Gereja sepi. Kami hanya berdua di dalamnya. Di sana kami bertemu pendeta Chandra Saragih. Beliau melihat kami dengan cara yang tak perlu dijelaskan. Ada tanya di matanya, tapi dia tak langsung mengucapkannya. Mungkin dia sudah tahu cukup banyak tanpa perlu mendengar jawaban. 

Aku membawa seorang perempuan. Bukan orang yang seharusnya. Bukan orang yang bisa dijelaskan dengan mudah. Kami duduk, bernyanyi, memainkan musik seperti itu hal yang wajar. Padahal, tak ada yang benar-benar wajar dari semuanya itu. Beliau bahkan sempat merekam kami, dan rekaman itu masih ada sampai sekarang. Tersimpan sebagai saksi dan jejak yang tak pernah benar-benar bisa dihapus. 


Videocapture nyanyi² di gereja,
saat itu dia nyamyi lagu Batak-Aut Boi Nian thn 2021


Di luar itu, kami terus menjalani banyak hal bersama. Hal-hal kecil yang perlahan menjadi kebiasaan. Waktu yang dihabiskan tanpa banyak pertanyaan. Dan semua itu terjadi… tanpa diketahui oleh orang yang seharusnya tahu.

Kalau dipikir sekarang, ya itu kejam.

Atau mungkin lebih tepatnya, pengecut.

Aku tak pernah benar-benar berniat mengkhianati siapa pun. Setidaknya, itu yang selalu kupercayai saat itu. Aku hanya… membiarkan semuanya berjalan. Membiarkan seseorang datang dengan ketulusan yang tak biasa, dan membiarkan diriku menerima itu tanpa bertanya terlalu jauh. 
Dia mem‐perhatikanku dengan cara yang sederhana, tak pernah setengah-setengah. Dan yang tanpa kusadari, itu cukup untuk membuatku menutup mata terhadap hal-hal yang seharusnya tidak diabaikan. Bukan karena aku tak tahu. 
Tapi karena aku tidak mau tahu. Dan di situlah semuanya menjadi berbahaya, saat ketulusan seseorang terasa lebih nyata daripada kebenaran yang seharusnya kupegang.


Pada satu waktu, kami memutuskan untuk pergi. Atau lebih tepatnya, aku yang mengajaknya. 
Pergi tanpa alasan yang benar-benar penting, hanya karena kami sama-sama suka berpetualang pada jalanan yang tak pasti. 

Kataku, “ndann Ke Wonosobo, yuk. Ke Dieng.”

Dia tak banyak bertanya. Tidak menolak. Seperti biasa dia menerima ajakan tanpa perlu tahu ujungnya di mana. Kami berangkat dari Tembalang. Aku yang membawa motor, dia di belakang. Perjalanan panjang itu terasa ringan. 
Tak ada yang kami kejar, tapi juga tak ada yang terasa tertinggal. Kami tertawa di jalan, berbagi pemandangan, juga berbagi diam yang tak canggung. 

Kami sampai di Wonosobo, lalu terus naik ke dataran tinggi. Ke Dieng. Ke tempat yang dinginnya tak hanya terasa di kulit, tapi juga jauh menusuk ke dalam tulang. Aku sebenarnya sudah janji bertemu seseorang di sana. Dia juga mengenalnya. Tapi saat kami mencoba menghubungi, tak ada jawaban. Jadi kami berhenti di kawasan Candi Arjuna. Duduk berdua, menunggu sesuatu yang tak jelas kapan datangnya. 

Menahan mau muttut di kawasan candi Arjuna 


Di situlah momen itu terjadi. Dia mulai merasa tak enak badan. Masuk angin, katanya. Perutnya kembung. Dan dengan cara yang hampir kekanak-kanakan, dia berusaha menjauh dariku, mencari jarak, karna dia mau muttut. 
Aku memperhatikannya, lalu tertawa ngakak. Bukan mengejek, tapi karena momen itu terlalu jujur untuk tidak terasa lucu. Yaa Dieng memang dingin. Terlalu dingin untuknya si anak kota. 
Aku melihatnya, dan untuk pertama kalinya hari itu, perjalanan terasa punya konsekuensi. 
Aku merasa dia butuh istirahat. 

Purak-purak menjauh padahal mau muttut 


Aku bilang, “Kita cari tempat istirahat aja ya ndann.”

Dia menurut.

Kami naik lagi ke motor, meninggalkan Candi Arjuna, dan mencari penginapan. Aku masih ingat tempat itu. Tak ada yang istimewa disana, tapi justru karena itu tempat itu tak mudah dilupakan.

Homestay Flamboyan.

Di tikungan jalan, di tapal batas antara Banjarnegara dan Wonosobo. Tempat yang hanya jadi persinggahan bagi orang-orang yang tak berniat tinggal lama. Bersih. Tenang..
Kami masuk, menyelesaikan urusan administrasi, lalu dibawa ke kamar. Meletakkan barang, kemudian duduk di ruang tamu. Berbicara tanpa arah. Dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang seharusnya tidak perlu dibicarakan. Aku tak tahu apa yang ada di kepalanya waktu itu. Apakah dia merasa canggung, atau justru tak memikirkan apa-apa.

Yang jelas, kami baik-baik saja.

Terlalu baik-baik saja, mungkin.

Sampai akhirnya, teman yang kami tunggu menghubungi. Dia sedang KKN di Desa Sikunang. Malam itu juga, kami memutuskan untuk menemuinya.

Sekitar setengah tujuh, kami berangkat lagi. Meninggalkan barang-barang di kamar. 
Naik motor, menembus dingin yang semakin dalam. Jalanan sepi. Lampu tidak banyak, dan kami tetap pergi. 

Di sana, kami bertemu. Duduk bersama orang-orang yang tidak terasa asing. Menghangatkan badan di depan api. Berbincang. Tertawa. Menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Aku melihatnya malam itu. Dia membaur. 
Dia tertawa. Dia tak terlihat seperti orang yang kelelahan atau kedinginan. Padahal suhu turun sampai sekitar tujuh derajat. Tapi dia tetap di sana, menikmati semuanya dengan cara yang sederhana, tanpa keluhan. Dan entah kenapa, justru itu yang paling kuingat. Bukan perjalanan panjangnya. Bukan dinginnya. Bukan pula tempat-tempat yang kami datangi.

Kau tahu, cara dia hadirlah yang membuatku tak pernah bisa melupakannya. 

Karenanya, aku sadar…itu adalah salah satu dari sedikit waktu terakhir kami benar-benar ada di tempat yang sama, dengan perasaan yang belum sempat berubah. Sekali lagi, belum sempat berubah. 

Sampai sekitar setengah sebelas malam, kami memutuskan untuk pulang dari Desa Sikunang. Sebenarnya mereka sempat menahan kami, menawarkan untuk menginap saja di sana. 
Tapi kami menolak. 
Kami berpamitan dengan perasaan ringan, sewajarnya tak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh. Malam itu dingin sekali. Jalanan pun sepi. Kami kembali berboncengan, menembus udara yang terasa semakin tajam, tapi sungguh itu tak pernah terasa mengganggu. 

Setibanya di Flamboyan, kami masih sempat berbincang sebentar. Tak penting, tak juga perlu untuk diingat, hanya percakapan yang mengisi ruang sebelum malam benar-benar selesai. 
Sampai akhirnya aku bilang padanya untuk istirahat. Hari sudah cukup panjang.

Sebenarnya, aku sudah memutuskan untuk tidur di ruang tamu. Entah karena sungkan, atau karena ada sesuatu yang tak ingin kuhadapi terlalu dekat. Aku memilih sofa, membiarkan jarak tetap ada, walau hanya beberapa langkah darinya. 

Dia masuk ke kamar. Tapi pintunya tidak ditutup. 

Seakan jarak itu tak pernah benar-benar dia setujui.

Sekitar setengah jam kemudian, ketika aku mulai tenggelam dalam tidur, dia memanggil. Suaranya pelan, canggung seperti biasanya. Dia bertanya apakah aku tidak kedinginan. Aku menolak masuk. Mengatakan aku baik-baik saja. Itu lebih mudah daripada menjelaskan apa yang sebenarnya ingin kuhindari.

Tak lama, dia kembali. Kali ini membawa selimut. Menyelimutiku seperti itu hal yang wajar. Lalu pergi lagi ke kamar, meninggalkan pintu tetap terbuka.

Tapi malam tak selesai sampai di situ.

Beberapa saat kemudian, dia memanggil lagi. 
Kali ini bukan sekadar suara, tapi keputusan. 
Aku akhirnya masuk ke kamar. Dengan jantung yang meronta-ronta, dan di situlah batas yang sejak awal samar, jadi benar-benar hilang.
Kami tidur di satu ruang yang sama. Dalam jarak yang tak lagi bisa dijelaskan sebagai kebetulan. Malam itu dingin, dan mungkin itu alasan paling sederhana yang bisa kami pegang, bahwa kami hanya sedang berusaha bertahan dari udara yang terlalu menusuk itu. Ada peristiwa hangat yang tak perlu untuk kusebutkan. Tapi aku tahu, itu bukan seluruhnya. Ada sesuatu yang terjadi tanpa pernah kami sepakati, tanpa pernah kami beri nama. 
Dan justru karena itu, ini menjadi lebih sulit untuk dilupakan. Sampai sekarangpun, momen itu masih tinggal. Bukan karena apa yang terjadi, tapi karena bagaimana semuanya terjadi. Pelan, tanpa perlawanan, seolah-olah kami memang menuju ke sana dari sejak awal.


Pagi datang tanpa banyak perubahan. Sangat pelan dia menyeka selimut tebal itu, berharap tak membangunkan-ku. Dia membuatkan teh hangat. Hal sederhana, tapi terasa terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya tidak sesederhana itu. Kami menjalani pagi seperti tak ada yang perlu dipertanyakan.

Aku bahkan sempat berpikir, di tengah air yang jatuh saat mandi, 

kenapa semuanya terasa biasa saja?

Seolah tak ada yang salah.

Padahal jelas ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tapi aku tak mencari jawabannya. 
Aku memilih untuk membiarkan hari berjalan, seperti sebelumnya.
Siangnya sebelum kami meninggalkan DT Dieng 

Kami keluar dari sana, melanjutkan perjalanan, berkeliling, makan, melewati kebun teh, tertawa seperti dua orang yang tidak sedang membawa apa-apa. Sampai akhirnya kami kembali ke Tembalang.

Dan di sanalah semuanya mulai berubah.

Perlahan. 

Entah hanya perasaanku. Tapi, 

Dia mulai jarang datang. Tak lagi meninggalkan jejak, tidak juga hadir seperti dulu. Pesan-pesannya menjadi singkat. Jeda diantara balasan terasa lebih panjang dari biasanya. Aku mulai mencarinya, tanpa benar-benar mengakui sikapku itu.

Sampai suatu malam, disebuah angkringan di BQ Square, aku bertemu dengannya lagi. Tidak direncanakan. Dia ada di sana, bersama orang-orang yang kukenali. Tapi ada sesuatu yang berbeda, yaa cara dia diam. Aku menyuruhnya pulang malam itu. Meski aku tak punya hak untuk mengatakannya.

Tapi setelahnya, aku justru tahu,

dia lebih sering ke sana.

Dan akhirnya, semuanya menjadi jelas.

Dia dekat dengan seseorang. Laki-laki yang juga kukenali.

Sejak itu, dia benar-benar menjauh. Dia tak pernah lagi datang ke biara bahkan untuk sekadar berkunjung. Dan aku… memilih diam.

Tentang bagaimana dia tiba-tiba menjadi dingin, atau perlahan menghilang, atau akhirnya memilih berjalan dengan orang lain, aku berhenti mencoba memahaminya. Itu diluar jangkauan yang bisa kupikirkan tanpa merusak diriku sendiri. 
Aku memilih mengingat yang tersisa, hal-hal baik yang pernah dia lakukan, cara dia hadir tanpa diminta, dan bagaimana dia pernah membuat hari-hari yang biasa menjadi sedikit lebih berarti.

Yang paling tertinggal justru bukan kata-katanya, tapi perjalanan. Dataran tinggi Dieng itu. Jalanan yang dingin. Malam di Flamboyan. Tempat-tempat yang, entah kenapa, menyimpan lebih dari sekadar jejak langkah kaki. Rasanya ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana dan tak ikut pulang waktu itu.

Setelah semuanya mereda, aku mulai melihat dengan lebih jernih. Pastinya aku sudah punya seseorang saat itu, ya si-anggi. Itu fakta yang tak bisa dinegosiasikan. Maka apa pun yang terjadi setelahnya, aku tak punya hak untuk menuntut, apalagi mengatur hidupnya. Kesadaran itu tak datang sebagai pencerahan, lebih seperti beban yang pelan-pelan menekan.

Dan karena itu, aku kembali ke Dieng.

Sendiri.

Menempuh lagi jalan yang sama, melewati udara yang sama dinginnya, menginap ditempat yang sama. Tapi kali ini tanpa dia. Tujuanku sederhana, walau mungkin terdengar naif, ya mengambil kembali sesuatu yang dulu kutinggalkan disana, atau setidaknya, jika harus menerima bahwa tak semuanya bisa dibawa pulang. Sebagiannya kuhempaskan saja dibatu-batu, atau kulenyapkan pada dinginnya tanah para dewa itu. 

Aku duduk diantara batu-batu, membiarkan angin dingin lewat tanpa berusaha melawannya. Di sana aku mengakui satu hal yang selama ini kuhindari,  bahwa tidak semua kedekatan harus berakhir menjadi kita. Dia yang hanya datang untuk membentuk, lalu pergi tanpa suara. Sama ketika dia diam-diam memasuki jiwa ke-poltakan-ku, dan juga dengan diam-diam lenyap diawan gelap sana. 

Perlahan, rasanya lebih ringan.

Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatku kembali berjalan tanpa harus terus menoleh ke belakang. Waktupun berjalan seperti biasanya. Dia wisuda, dan aku tak datang. 
Kami masih berkomunikasi, tapi tidak lagi dengan cara yang sama. Dia sempat menjalin hubungan dengan seseorang yang juga kukenal itu. 
Lalu selesai. Hidupnya bergerak ke arah yang tak lagi bersinggungan denganku.

Belakangan aku tahu, dia kini berada di Bandung. Menjadi perwira di TNI Angkatan Darat. Jalur yang mungkin sudah dia pilih sejak lama. Ada rasa bangga yang aneh, aku tak punya hak untuk mengakuinya, tapi juga tak bisa kupungkiri.

Lalu, tahun 2025 tempo hari, dia menghubungiku.

Katanya ingin ke Semarang.

Aku menerimanya tanpa banyak berpikir. Mungkin karena beberapa hal tak perlu dipikirkan terlalu jauh, cukup dijalani sekali lagi, sebagai penutup yang tidak pernah kami buat sebelumnya. 
Kami bertemu. Nongkrong bersama, berpindah tempat, berbicara seperti dua orang yang pernah dekat, seperti biasa dan biasa-biasa saja. 
Ada teman-teman lain ku ajak juga, tawa kami masih terdengar akrab, tapi rasanya berbeda. Lebih ringan. dan Lebih sadar batas. 

Photo kenangan di Embun Senja thn 2025 yang lalu

Dia sempat datang ke biara ini. Memberiku sesuatu, dalam kantong plastik putih. Hal kecil, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa beberapa kebiasaannya tak benar-benar berubah.

Kataku untuknya, mungkin suatu hari aku akan datang ke Bandung. Dia menyambutnya dengan cara yang sederhana, seperti dulu tanpa berlebihan, tapi cukup hangat untuk diingat.

Lalu aku mengantarnya.

Dan dia pergi lagi.

Itu pertemuan terakhir kami.

Sampai sekarang, kami masih sesekali berkomunikasi. Tidak sering. Tidak juga dalam. Hanya cukup untuk tahu bahwa masing-masing masih hidup. 

Tentang perasaan, aku tak tahu harus meletakkannya dimana. Apakah masih ada, atau hanya sisa dari sesuatu yang pernah besar lalu pecah perlahan didalam diri. Mungkin bukan itu yang penting. Toh pada akhirnya, tak semua yang pernah kita rasakan harus dihidupkan kembali. Cukup dikenang, tanpa perlu diulang.

Sekarang kami sama-sama sendiri. Dia sendiri. 
Aku juga. Tapi kesamaan itu tak pernah berarti apa-apa. Sepi tak menyatukan orang. Hanya membuat segala yang dulu samar, jadi lebih jelas terlihat.

Ada yang bilang kami cocok. Aku dengar, lalu kulewatkan. Aku tahu bagaimana kalimat seperti itu merusak-ku, pelan-pelan bisa berubah jadi harapan, lalu tanpa sadar berubah jadi keinginan yang ingin dipenuhi. Dan aku tahu, jika aku membiarkan diriku berharap, itu bukan lagi sekadar perasaan. Itu bisa berubah menjadi kesalahan yang sama, diulang dengan wajah yang berbeda. Dan aku sudah terlalu sering jatuh di lubang yang sama, menginginkan sesuatu hanya karena dia terasa mungkin.

Aku tak mau mengulang itu.

Di dalam sepi ini, aku mulai melihat diriku sendiri dengan lebih jujur. Ada bagian dalam diriku yang selalu ingin lebih. Tak pernah cukup. Dulu aku pikir itu wajar, manusia memang begitu, kataku. Tapi semakin ke sini, aku tahu, itu bukan sekadar keinginan. Itu ketidakmampuan-ku untuk berhenti.

Aku pernah ingin memiliki banyak hal. Termasuk dia. Dan disitu letak masalahnya. 
Karena tak semua yang bisa kita rasakan, layak untuk kita miliki. Dan dari situlah aku mengerti, ada yang salah bukan pada dunia, tapi pada caraku menginginkannya. 

Aku tak bilang perasaan itu salah. 
Tapi caraku memeliharanya, itu yang keliru. 
Aku membiarkannya tumbuh ditempat yang seharusnya tak dia tempati. Aku membiarkannya hidup tanpa batas, sampai akhirnya aku sendiri yang kewalahan menanggungnya. Sekarang aku belajar cara yang berbeda. Apa yang tak seharusnya kugenggam, ku lepaskan...
Aku sudah cukup lelah untuk menduga-duga. 

Tentang dia, aku tak menyimpan rencana apa-apa. Tidak juga berharap diam-diam seperti dulu. 
Kalau suatu hari kami bertemu lagi, ya biarlah itu terjadi. Tanpa perlu kubayang²kan sebelumnya. Tanpa perlu aku susun dalam kepalaku seperti cerita yang ingin kuterjadi. Aku tak punya hak untuk itu. Yang bisa kulakukan sekarang hanya satu, berharap dia baik-baik saja. Itu saja sudah cukup.

Dan mungkin, semua ini memang bukan hanya tentang dia. Mungkin ini tentang hal-hal yang pernah kulakukan dimasa yang lalu, yang saat itu bagiku terasa biasa saja, tapi diam-diam meninggalkan luka dihati orang lain. 
Ada seseorang yang mungkin pernah merasa diabaikan, atau tidak dihargai, atau bahkan merasa kehilangan sesuatu karena sikapku.

Aku tak bisa kembali untuk memperbaikinya.

Yang bisa kulakukan hanya menerima bahwa hidup kadang mengembalikan sesuatu dengan caranya sendiri. Bukan untuk menyiksa, tapi kuanggap untuk membuatku mengerti.

Kesendirian ini… mungkin bukan kebetulan. Mungkin ini ruang yang diberikan supaya aku berhenti sejenak. Supaya aku melihat ulang semuanya, tanpa tergesa ingin memiliki lagi. 
Aku sudah kehilangan banyak hal. Orang-orang datang, singgah sebentar, lalu pergi. Seperti kapal yang merapat hanya untuk mengisi perbekalan, lalu melanjutkan perjalanan tanpa pernah menoleh lagi. Dan aku, terlalu lama berdiri di dermaga, mengira setiap yang datang akan tinggal lebih lama dari yang seharusnya.
Sekarang makinlah kusadari. Tak semua yang hilang itu harus dikejar kembali. Karnanya aku diam disini saja... berhenti sejenak, seraya belajar menerima bahwa ada beberapa hal yang memang selesai tanpa harus dijelaskan.

Pada akhirnya, aku sampai pada satu pengakuan yang tak bisa lagi kuhindari, bukan dia yang datang diwaktu yang salah, aku yang tak pernah benar-benar tahu dimana harus berdiri. 
Aku membiarkan dua arah hidup berjalan bersamaan didalam diriku, lalu berharap tak ada yang retak disana. Padahal sejak awal, aku sudah tahu, sesuatu pasti akan pecah, entah hati orang lain, atau entah diriku sendiri. Dan sekarang, ketika semua telah berlalu, aku berdiri di sisa-sisanya, memungut pelan-pelan apa yang dulu kulepaskan tanpa benar-benar mengerti nilainya.

Aku tak lagi menyalahkan keadaan. Tak juga mencoba menamai semua ini sebagai takdir yang kejam. Ada bagian yang harus kuakui sebagai milikku, keputusan-keputusan yang setengah hati, keberanian yang datang terlambat, dan keinginan yang terlalu lama kubiarkan hidup tanpa arah. Mungkin benar, ada hati yang pernah kulukai diam-diam. Dan mungkin, sepi yang sekarang kutinggali adalah cara paling jujur untuk membuatku akhirnya mengerti perasaan mereka. 

Kalau pun ada yang tersisa dari semua ini, bukan lagi harapan untuk kembali, bukan juga keinginan untuk memiliki. Hanya satu hal, kesadaran bahwa aku pernah berada diantara sesuatu yang tulus, yang kemudian aku gagal untuk menjaganya. 
Dan itu cukup untuk membuatku diam lebih lama dari biasanya. Jadi kalau suatu hari aku benar-benar pergi dari semua ingatan ini, aku ingin membawa satu hal saja, bahwa aku pernah belajar, meski terlambat, kalau mencintai bukan tentang seberapa kuat kita menggenggamnya, tapi tentang tahu kapan harus melepaskan… sebelum semuanya hancur lebih dalam lagi. Sebagaimana yang kualami diantara dua pasang surut tempo itu. 

Dan tentang surat itu, akhirnya aku tahu, yang keliru bukan isinya, tapi caraku membacanya. 
Aku membaca arah angin dengan keyakinan yang terlalu cepat, seolah setiap hembusan pasti menuju satu tujuan yang sama. Padahal angin tak pernah berjanji seperti itu. 
Dia bisa saja berbelok, berputar, hilang di tikungan-tikungan yang tak bisa ditebak. Tapi aku bersikeras menafsirkan setiap kata didalam surat itu sebagai jalan yang lurus, sebagai pertanda bahwa segala sesuatu akan berjalan beriringan.

Aku salah.

Aku mengartikan perhatian sebagai arah. Mengartikan kehadiran sebagai kepastian. 
Dan dari situlah aku mulai percaya pada sesuatu yang sebenarnya tak pernah dimaksudkan untuk menjadi milikku. Surat itu tak pernah menjanjikan apa-apa, aku saja yang terlalu ingin menemukan janji di dalamnya.

Karenanya, kalau kupikirkan lagi, mungkin sejak awal aku tak sedang membaca surat itu. Justru aku sedang membaca diriku sendiri, keinginanku, kekuranganku, dan ketakutanku untuk kehilangan sesuatu yang bahkan belum tentu pernah benar-benar ada. Harus kuakui Kesilapanku mengkonversi kata demi kata pada surat sederhana itu. Maka karenanya, diantara tikungan angin yang tak pernah setia pada satu arah itu, selalu ada persimpangan yang diam-diam menunggu, membawa masing-masing pergi ke akhir yang berbeda. Dan aku… terlalu lama berdiri di satu arah, mengira semuanya akan kembali ke sana. Padahal, justru seringannya perhitungankulah yang selalu salah. 




Biara Murti—April 2026
Aku, Poltak Pendongeng Miskin 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung Part II | MAAF 🙏