Jum'at pertama dibulan May

 


Cemana jos, jadinya pembinaan sabtu ini? jadinya aku harus ikut? begitu tanyaku membuka obrolan via whatsapp ke si-jos juntak, sang ketua Namaposo kami,

“Waduh gimana mau ku bilang yaa bang, sebenarnya kalo dari pembicaraan kami dengan Kela RMS, "ajak pengurus baru dan pengurus-pengurus yang lama untuk ikut pembinaan hari Sabtu ini" itu kemarin kata Kela itu bang. Tapi ngga ada kata wajib sebenarnya bang untuk pengurus2 yang lama untuk hadir bang. Yang menjadi wajib itu bagi pengurus2 yang baru bang. (Ada juga sebenarnya di singgung Kela itu untuk ajak abng juga). Tapi kalo harapanku orang abng juga bisa menghadiri nya (supaya sekalian menemani kami pengurus baru bang, yang bisa dibilang masih kurang pengalaman dan masih malu-malu untuk bertanya bang)”. 

Itulah jawaban si-Jos sang ketua yang ku-Copas langsung dari obrolan kami sebelumnya. Menurutku terlalu dialogis, dan terlalu Jos Juntak memang. Tapi okelah... 

Lantas dengan ringan hati kumenjawab, “Oke siap. Nanti aku datang. Aman aja.” 

Jam tiga-an, seperti biasa aku langsung ke dapur jiwa Ibu Sukarti, disana mbok-ku ini lagi sibuk ngerajam kol sambil sesekali mengaduk masakannya diatas kompor Hock kebanggaanya itu. Buk Moeh dengan ramah menyapa sambil menyuruhku nyanyi. Langsunglah kutarik lagu sambil duduk berjongkok dihadapan Mbok Sukarti;

“🎢Bukan aku, tak sayang pada-mu, bukan aku menolak cintamu, tapi hati ini t'lah tertutup tuk bercinta, biarlah sendiri disudut Kota ini....🎢”

“Huuuu... Roe..Roeee!!!.” Kata mbok Karti, sambil menghentikan rajaman kol-nya. Semantara Ibu Moeh tartawa kik-kikkan sambil sibuk merekam momen keakraban kami didapur jiwa itu. 

Setelah makan, sorenya aku bersiap dengan pakaian rapi untuk mengikuti misa jumper di gereja karangpanas. Misa dimulai pukul 17.30, tapi aku tiba disana sekitar pukul 16.50. Itu sudah jadi kebiasaanku. Meski begitu, sudah ada beberapa umat didalam gereja megah itu. Aku duduk di kursi langgananku, ya persis dihaluan kiri dekat dengan sumber AC. Awak kurang tahan panas soalnya, jadi awak pilihlah duduk dekat situ.


Sesudah bersimpuh dan berdoa, aku diajak pulak ikut doa rosario sama para Oppung-oppung gaul gereja ini, maka jadilah kami berjamaah. Meskipun awak tak bawa rosario jang, udah putus pulak semalam pas di katedral. ya sudah, pakai jari ajalah, pikirku. 
Kuliat-liat, awak pulak yang paling tua dari semua yang muda ini, Bahh... tapi okelah, di Banyumanik juga kek gitu kok, pikirku. 

Aku larut dalam doa yang seperti dikunyah pelan oleh para sepuh di gereja sore itu. Sampai pada, kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad, Amin. Doa Rosario kelar juga, kami pun akhirnya membubarkan diri, sambil melempar senyum ramah satu dengan yang lain.

Nggak lama bunyilah lonceng kecil dari arah sakristi. Barisan para petugas liturgi sama Romo memasuki gereja. Kami mulai Misa Jumper sore itu. Berjalan penuh khidmat, sangat khidmat. Setelah pentahtaan sakramen maha kudus selesai, kami pun keluar beriringan. Ada ratusan umat yang hadir sore itu, tapi gak begitu ramailah dibanding di gerejaku Paroki Banyumanik.

Ku lihat jam, masih pukul 18.15. Aku langsung cus dengan motor beat racing milik adekku, si egi, menuju GKPS semarang. kan ada jadwal sermon malam itu.

Sesampainya di sana, kayak biasa tak ada orang. Masih awak juga yang pertama. Tapi buku doding dan kursi sudah rapi di ruang konsistoria. Termos Kopi-Teh juga udah stanby di meja. 
Aku langsung masuk ke ruang gereja, ke arah bilik musik. Kubuka-lah attong pintu samping biar agak masuk angin, sambil kuhidupkan-lah kipas.

Baru kumainkanlah dua tiga lagu, ga lama sesudah itu si-Jos sang ketua datang bersama orang kepercayaannya, itu dia si-Juan Naga, si-star boy sang pecinta berat.

Adekku marga Sinaga yang sangat baik hati ini memang selalu setia mendampingi si-Jos. Mengingat kemurahan hatinya itu, sayang kali si Juan Naga pecinta berat ini selalu gagal dalam cinta. Win-rate percintaannya jelek kali memang. Tapi hatinya jangan ditanya, sejujur matahari pagi.

Kusambut mereka sambil tetap memainkan lagu-lagu lawas Simalungun. Si-juan pun ikut bernyanyi dengan suara yang sumbang kiri kanan. lain pula si jos, nyanyi dengan suara yang tak kedengaran. 
Dia memang ikut, lirik ada ditangan, tapi tak ada kedengaran suara. Heran, entah awak yang nengel atau ntah apa. Ya mungkin begitulah caranya menikmati lagu itu, pikirku.

“🎢🎡 Bagas pe Danau Toba, bagasan do uhur kon mangidah kam, Botou boru Purba, ai aha pe pangindoanmu sai hu balosi do tongon, asal ma ulang seda uhurmu mangidah au...”

Macam itulah lirik yang dinyanyikan si-Juan dengan penghayatan yang tanpa tanding. 
Entah boru purba mana yang dia maksud itu daa. Terlalu banyak pula cewek yang ditaksirnya. Awak pun sampai bingung. Tapi, gitu-pun banyaknya, tak ada yang jelas age sada. Heran. 

Sebetulnya ada beberapa lagu yang kami nyanyikan sama-sama, sampai akhirnya atturang RMS Siallagan br Siahaan memanggil kami untuk masuk ke ruang konsistori, tempat sermon diadakan. Di sana sudah berkumpul para ketua-ketua yang hobinya telat, dan kalau bicara suka ngaur ke mana-mana, tak jelas arahnya.

“Naha pukkah hita ma?” kata seorang Majelis.

“Kinnari ma, paima hita lobei 15 menit nari ase das par IKS ai. domma i Gombel gan sidea,” Kata Sy RMS Siallagan, sang sekjen kuria Problematik itu. 

Nggak berapa lama kemudian muncullah dua orang muda dengan napas tulpe-tulpe masuk ke ruang Konsistori. si-Royby dan satu lagi boru purba yang aku tak tahu namanya. Dijadwalkan hari Minggu ini, boru Purba inilah yang Marambilan di gereja. Masih Mahasiswa. Katanya sih ini praktik Homiletika, kewajiban mereka sebagai mahasiswa teologi di UKSW.

Para Majelis menyambut mereka seramah-tamah mungkin sambil mempersilakan duduk. 
Aku sempat menyodorkan tangan ke Boru Purba Parambilan tadi, tapi tak digubrisnya. Esss… Cuek pula dia, pikirku. Tapi gak lama dia sadar dan akhirnya menyambut tanganku juga. Wajar saja, kelihatannya dia lagi nervous kali. 


Malam itu si-Jos, sang ketua, sudah mangondoskon kalau aku yang jadi Moderator sermon. Tentu aku tak keberatan menerimanya. Aku gak mau juga dia jadi susah hati karna itu. 
Padahal sebelumnya dia sempat jantungan, dikiranya pulak awak tak ikut sermon malam ini. Sampai-sampai dia udah buat contekan dengan judul “Panduan Memimpin Sermon”, lengkap dengan dialog standar ala parsermon, yang entah kenapa, lebih sering menghasilkan debat kusir daripada obrolan damai sejahtera sebagai mana percakapan di Gereja pada umumnya. 

Okeh… Sermon pun kumulai. Diawali dengan nyanyi, lalu Doa pembuka langsung kutunjuk Sy Anne Lisne br Simanungkalit. Tanpa aba-aba. Biar hidup sedikit suasananya.

Di awal, seperti biasa, diskusi berjalan dengan khidmat… Dalam arti lain, sunyi. Bukan karena semua merenung dalam, tapi lebih ke arah tak ada yang mau memulai. Entah sudah paham atau tak paham samasekali. Haa awak pun bingung. 

Sampai akhirnya inang St. Tiur br Pohan angkat tangan. Nahhh, ini baru hidup. Sekali bicara, langsung dari ujung Manado sampai ke ujung Tapanuli. Lengkap. Kami semua mendengarkan. Aku sih suka. Ga tau yang lain. Karena memang omongan Inang itu setidaknya ada isi. Daripada yang lain yang isi kepalanya mungkin ada, tapi disimpan malu-malu. 

Habis itu aku langsung menodong My Besty, si-Ratu Elisabeth, Inang Porenjer, untuk kasih tanggapan. seperti biasa, dia bicara dengan gaya khasnya, panjang lebar tak jelas arahnya, tapi ya cukuplah, setidaknya menambah jumlah yang mau angkat bicara malam itu. Daripada yang lain diam aja, entah paham entah enggak, awak pun tak ngerti. Arah omongan belio memang masih misteri. Tapi ya sudahlah, yang penting statistik partisipasi naik. Nggak meneng wae kek Majelis yang lain. 

Lalu masuk kebagian yang paling ditunggu-tunggu. Aku minta si-boru Purba, Mahasiswa teologi itu, untuk menjelaskan rencana khotbahnya Minggu nanti. Langsung kelihatan kaget. Mukanya murhing. Ga tau, apa itu ciri khas bohi par-salatiga, atau respon reflek saat mulai gagap dan dadap-dadap.

Akhirnya Inang boru Pohan turun tangan. Dengan gaya khasnya, tegas, lugas, dan tanpa basa-basi. Penjelasannya jelas, padat, dan langsung ke sasaran. Yaaa, memang beliau ini bukan kaleng-kaleng. Mantan Voorhanger dua periode, Purnawirawan kolonel pula. Apa nggak ngeri-ngeri sedap yakan. Cuma ya itu… bukannya terbantu, si-Mahasiswa malah makin tegang. Suasananya berubah sedikit, dari diskusi jadi agak mirip Sidang.

Kami kasih waktu 15 menit untuk dia menyusun hidupnya kembali. Setelah itu dia coba bicara. Masih kosong, masih mutar-mutar, tapi ya sudahlah. Masih mahasiswa. Belum semua orang bisa langsung jadi seperti inang boru Pohan yang kalau bicara itu seperti peluru. Lurus, cepat, dan mallapak. 

Meskipun aku kadang kasihan juga lihat inang itu duduk di tengah forum yang ritmenya jauh di bawah dia. Tapi dia tetap datang, masih tetap mau menjelaskan, tetap sabar. Entah itu kesabaran tingkat tinggi atau memang sudah maklum. Sesekali kuperhatikan dia tarik napas dalam, keknya hampir menyerah menghadapi teman duduknya, tapi ya mau gimana, mau di-dooor takut malah ambil peran Tuhan, ya dia tarik napas aja, menunggu alam sendiri yang menyeleksi sampah akan terbuang. 


Okehh, selesai pembahasan Evangelium, masuk ke warnasari. Nah ini… Fase bebas. Difase inilah biasanya percakapan mulai ngaur ke mana-mana.
Inang jangli langsung mulai dengan nada yang sudah naik dari awal, “Anggo sipartugas lang roh marsermon langsunglah i gattihkon, lang dear sonai.” Tegas memang. Solusi juga ada. Hanya saja, cara penyampaiannya itu seperti orang yang lagi marah.  

Sy RMS Siallagan mencoba menanggapi dengan tenang. Sangat tenang malah, sampai terasa kayak tak benar-benar menanggapi. Sementara bapa Voorhanger… ya seperti biasa, angguk-angguk. Ga jelas. Entah setuju, entah hanya respon kambing seolah memastikan dirinya masih di situ.

Yaaa… Kangkung genjer, kangkung genjer… Akhirnya selesai juga percakapan tak jelas itu, tanpa kesimpulan. Seperti biasa, tak pernah ada akhir yang jelas. Bicara panjang lebar, lalu menguap begitu saja.

Habis itu, aku diminta memandu latihan lagu Minggu. Ini bagian favoritku. Seperti biasa juga, meskipun aku yang dipercaya, selalu ada saja yang mendahului menarik tone suara. Jujur aja itu agak menjengkelkan, tapi ya sudahlah, namanya juga orangtua. Bukan apa-apa, kadang nadanya cocok, kadang juga... Ya sudahlah. La-terkataken!

Yang lucu itu, kalau dia tahu lagunya, dia nyanyi paling keras. Penuh penjiwaan. Tapi kalau tak tahu, langsung diam. Soh!!. Songon Huting na laho Sayaton. Dan yang lebih menariknya lagi, kadang justru yang tak tahu itu yang paling cepat bilang, “Ehe lang enak Lagu ni” atau “Lang adong na mambotoh lagu nin...” On ma hujai, on ma hujon. Mungkin memang begitu caranya menghindari belajar. Massamm!!! 
Yah begitulah wajah sermon di gereja problematik Semeru 23A ini. Selalu hidup, tapi entah kemana-mana aja arahnya. 

Pertemuan akhirnya ditutup dengan Doa Ham Bapanami oleh ibu Vikar. Inang boru Pohan kulihat langsung pulang. Beberapa majelis mulai bubar memang, tapi masih ada juga yang tinggal, lanjut bergosip di sana.

Aku pun langsung menelpon adekku Egi Brayant Damanik,

“Ija ho dek,” kataku.

“Domma i BurEat au da bang, hujon ma ham roh, mangan Bakpia,” Jawabnya.

Langsunglah pulak kuajak si-ketua dan asistennya ikut ke sana. Tapi aku isi bensin dulu. Ga enak juga balikin motor, meskipun motor adek sendiri, awak pakek tapi tak di-isi minyaknya. Ga ngotak kali itu namanya. Jos dan Juan sebenarnya udah kusuruh duluan aja ke bureat, tapi mereka tak mau. Sama ajalah gan katanya. Jadilah mereka ngolngolan menunggu sekitar 20 menit di spbu ngesrep karena aku antri isi bensin.

Setelah itu kami gas ke arah Mulawarman. 
Di sana sudah ramai anak-anak PB, kumpul-kumpul nongkrong seperti biasa. Langsung si-Egi mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sekotak bakpia pathok 25 khas Jogja. Dia baru balek supiran dari sana, bawa si-Blesnia dan keluarganya jalan-jalan. Langsunglah attong awak kipas bakpia itu, sambil nantang si-Juan sang pecinta berat tanding mar-Uno.

Sekitar jam satu kurang, mataku mulai mengantuk. Aku pamit pulang duluan. Memang aku tak suka lama-lama duduk kumpul tak jelas. Lebih baik pulang, tidur, atau santai di Biara, daripada diam main hp di tempat yang seharusnya bisa saling bercerita.

Kuminta adekku Egi mangantar aku pulang, tapi dia bilang, “Boan ham ma motor ai, holi au mangalop kin hu kost ni ham.”

Ya sudahlah.

Aku pun balik sendiri, meninggalkan anak-anak PB, juga jos dan juan di sana.

Sampai di biara, langsung cuci muka, ganti pakaian tidur, langsung melompat ke kasur. Dalam hati cuma bilang, syukur bagimu Tuhan, seperti biasa tak ada yang istimewa hari ini, tapi aku sangat menikmati caramu menulis kisahku hari demi hari, yang rasanya itu lebih indah dari istimewa itu sendiri. 

Sejak bangun, aku tak pernah berharap ada hal yang mengejutkan hari ini. Biarlah biasa-biasa saja. Karena pada kata biasa itulah aku berjalan, menanggapi semuanya pelan-pelan, menikmati hari tanpa harus memaksa jadi sesuatu yang spektakuler.

Aku sudah lelah dengan keinginan-keinginan yang terlalu tinggi, yang ujungnya sering bikin kecewa sendiri. Jadi sekarang, yang biasa itu terasa cukup. Cukup untuk dijalani, cukup untuk disyukuri, dan puji Tuhan cukup untuk membuatku tetap waras.

Aku senang bisa akrab dengan para orangtua. Duduk dekat mereka tanpa harus jadi siapa-siapa. Dengar cerita mereka yang kadang berulang-ulang, melihat senyum tulus pada wajah keriput mereka, bernyanyi bersama dengan suara getar mereka, dan yang paling indah dari segalanya adalah ketika sentuhan tangan lemahnya itu melilit pada lengan kita, entah pesan apa yang ingin disampaikannya, tapi sungguh sangat mengharukan. Entah kenapa, ada kebahagiaan tersendiri bagiku ketika bersama para orang-orang tua, maupun sinisepuh. Ada ketenangan batin tersendiri saat bisa manogu mereka.  

Seperti halnya mbok Sukarti dan buk Moeh di dapur jiwa mereka, dengan kesibukan yang itu-itu saja, tapi dari situlah hidup mereka terus berjalan. Disana ada ketulusan yang tak banyak bicara, tapi sungguh terasa. Aku suka diam di situ, menumpang hangat dari hidup yang sederhana itu. Walaupun cuma sebentar. 

Atau waktu duduk bersama para sinisepuh, berdoa rosario bersama. Padahal doa itu mungkin sudah ribuan kali mereka ucapkan, tapi tetap diulang dengan nada yang sama, dengan iman yang mungkin lebih setia daripada pikiranku yang sering ke mana-mana.

Dan juga duduk di antara para majelis gereja itu. Kuanggap saja mereka polos hatinya. Bukan berarti semua yang mereka katakan selalu masuk akal, tapi ada sesuatu yang jujur dari cara mereka hidup. mungkin terlalu jujur sampai kadang terasa keras, atau malah jadi membingungkan. Tapi, faktanya mereka adalah para perantau ulung, yang jauh datang dari tanah seberang sana, memulai kisah dan kehidupan baru ditanah asing ini. 

Dari semuanya, aku tak pernah mencita-citakan akan bertemu seorang yang bisa disebut istimewa di sana, diantara para orangtua itu. Tak ada bayanganku tentang pertemuan yang mengubah hidup secara tiba-tiba. Tapi dari mereka, orang-orangtua yang kutemui itu, aku melihat banyak sekali kisah hidup yang diam-diam berbicara. Tentang waktu yang berjalan tanpa menunggu. Tentang pilihan yang dulu mungkin dianggap kecil, tapi sekarang jadi penentu arah hidup mereka. Dan tentang kebiasaan-kebiasaan yang pelan-pelan membentuk siapa kita.

Aku melihat mereka, lalu diam-diam berpikir, 
apa ya yang bisa kuubah dari diriku sekarang, sebelum aku sampai di titik seperti mereka?

Kira-kira sekeras apa ya mereka dimasa muda dulu, saat mungkin seusiaku, sehingga bisa seperti sekarang ini? 

Apa ya dulu cita-cita mereka, sampai mungkin waktu telah membelok-kan semuanya? 

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menghindari menjadi seperti mereka, tapi supaya saat aku sampai di sana nanti, aku tidak asing dengan diriku sendiri.

Apalagi kalau pas Misa Harian, aku sering bertemu pasangan sinisepuh yang masih setia bergandeng tangan melangkah ke Gereja. Berdua. Tak ada yang lain. Mereka duduk dengan doa masing-masing. Aku tak tahu apa yang mereka doakan, apakah justru sedang saling mendoakan, atau mungkin yang lain. Entahlah. Tapi yang pasti, entah berapa kali mereka saling menggenggam, saat satu diantaranya mulai goyah. Melihat mereka aku malah terbayang saat mereka saling berjanji didepan altar dulu, katanya; 
Aku memilih engkau menjadi Istriku/Suamiku. Aku berjanji setia padamu dalam untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, ku-akan mencintai dan menghormatimu, sepanjang hidupku sampai diujung usiaku. 

Kira-kira, bisa nggak ya nanti aku seperti mereka?, gitulah lalap yang kupikirkan, setiap kali berjumpa dengan pasangan sinisepuh di Gereja. Dan setiap kali pertanyaan itu datang, aku tak pernah benar-benar mencari jawabannya. 
Cukup kusimpan saja di dalam hati, dan kujadikan doa yang tak selalu perlu diucapkan keras-keras. Mungkin memang bukan tentang apakah aku bisa jadi seperti mereka atau tidak. 

Sadar suatu hari nanti aku juga duduk di kursi yang sama, bicara berulang seperti mereka, tertawa di hal yang sama, atau diam tanpa tahu lagi apa yang sebenarnya ingin kukatakan, setidaknya aku tahu, aku tak sampai disana secara tiba-tiba. Bahkan aku pelan-pelan menuju ke situ, lewat hari-hari yang kuanggap biasa ini. Karena itu, kalau hari ini aja aku sudah malas berpikir, malas berubah, lalu terus menyebut semuanya biasa… mungkin bukan hidup yang sedang berjalan apa adanya, tapi aku yang diam-diam sedang berhenti, lalu menyebut semuanya cukup.

Begitulah Jumat pertamaku bulan ini. Hanya cerita sederhana dari satu hari yang berlalu. 
Terimakasih yaa sudah membacanya πŸ™



Biara Murti 127b Tembalang Kota Semarang 

Aku, Poltak Pendongeng Miskin— Jumat, 1 May 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya πŸ•Š

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung Part II | MAAF πŸ™