nasib sibari-bari



Saat itu aku datang dengan keyakinan bahwa hidup akhirnya membuka satu celah kecil untukku lolos dari nasib yang terlalu lama menahanku ini. Aku berangkat pagi itu dengan bekal yang terlalu mirip dengan harapan, atau mungkin ilusi yang kupelihara terlalu lama supaya aku tak benar-benar mengaku bahwa aku sudah hampir kalah sebelum memulai. Dua puluh lima kilometer ke BKN Semarang, membawa serta tangis dan doa restu Ibu yang terasa sangat berat di punggungku, seolah-olah kalau aku gagal lagi, bukan cuma aku yang jatuh, tapi juga meruntuhkan keyakinan yang Ibu sisipkan diam-diam disetiap air matanya selama ini. Aku bilang ini mungkin jalannya, aku selalu bilang begitu setiap kali ada rekrutmen baru, berharap nasib baik akan menghantarkan untuk menemukan pintu yang tepat, padahal mungkin tak ada pintu yang benar-benar disiapkan untukku. 

Orang-orang di sana, ada yang dari Sragen, Jepara, Kendal, Solo, Tegal, Purwokerto dan antero Jawa Tengah lainnya. Kami cepat akrab, terlalu cepat, seperti orang-orang yang sadar bahwa kami sedang berada di sisi yang sama dari sebuah nasib yang tak akan berubah banyak. Kami tertawa, bercanda, saling menguatkan dengan kalimat-kalimat yang bahkan kami sendiri tak sepenuhnya percaya. Lalu ujian itu dimulai, dua ratus lebih soalnya, waktu yang seperti sengaja dipersempit agar kami tak sempat berpikir, hanya sempat panik, dan sesuatu runtuh tak bersuara. Tak ada yang lulus. Tidak satu pun. Dan anehnya kami tertawa lagi, tertawa yang lebih keras, lebih kosong, kami adalah orang-orang yang baru saja menyadari bahwa kami tidak sedang kalah dalam satu permainan, tapi mungkin memang tak pernah benar-benar diundang untuk menang sejak awal. 

Aku keluar, mengambil barang, menyalakan motor, seraya berkata sesuatu kepada mereka “Kawan-kawan, sampai ketemu di kesuksesan nanti!!!” 
Kalimat itu bahkan di telingaku sendiri terdengar seperti kebohongan yang sopan. 

Di jalan pulang dari Bergas siang itu, angin mengenai wajahku tapi sama sekali tak menyegarkan apa-apa, dan pertanyaan itu akhirnya datang tanpa bisa kutahan lagi, pertanyaan vonis yang pelan-pelan dibacakan di dalam kepala, jangan-jangan aku memang ditakdirkan bukan sebagai pemenang, aku hanya seorang-malang yang terus mencoba karena tak punya pilihan lain selain mencoba, dan tetap gagal dengan cara yang semakin lama semakin biasa. 

Dua tahun menjadi freeport, aku menyebutnya begitu supaya terdengar ringan, supaya orang tak perlu tahu bahwa itu sebenarnya cara halus untuk mengatakan aku tak ke mana-mana, dan ratusan rekrutmen yang berakhir sama, kosong, tanpa hasil, tanpa jejak, tanpa satu pun tanda bahwa aku sedang bergerak ke arah yang benar. 
Aku mulai bertanya dengan cara yang lebih kejam, apa aku memang sebodoh itu, atau hanya tak cukup berarti untuk diberi kesempatan? Atau mungkin semua ini adalah bentuk penagihan yang tak pernah benar-benar bisa kupahami, akibat dosa, kesalahan, entah milikku atau milik mereka yang datang sebelumku, dan aku hanya kebetulan menjadi tempatnya berakhir. Aku ingin bilang ini hanya soal waktu, bahwa waktuku belum tiba, tapi bahkan kalimat itu mulai terdengar seperti doa yang kehilangan pegangan. Aku sampai pada kemungkinan yang paling ingin kuhindari, bahwa didalam setiap pertempuran selalu ada yang memang disiapkan untuk mati lebih dahulu tanpa membawa kemenangan, hanya supaya cerita bisa terus berjalan, dan semakin aku mengingat kembali semua yang terjadi, semakin sulit bagiku untuk menolak bahwa mungkin, tanpa pernah diumumkan, itu adalah peranku. 


Aku mencoba memikirkan kembali bahwa mungkin aku terlalu cepat memberi nama, terkait ini kalah, dan itu menang. Bahwa mungkin hidup tak pernah sesederhana dua kata itu. Tapi anehnya, justru disaat aku mencoba menjadi lebih sabar, lebih reflektif, dan berpikir lebih jernih, sesuatu di dalam diriku menolak dengan keras, ibarat semua kejernihan itu tak cukup untuk menanggung apa yang sudah terlalu lama menumpuk disana. 

Karena bagaimana mungkin aku bisa menahan menyebut ini kalah, kalau ratusan rekrutmen yang berakhir tanpa hasil itu terus berulang dengan pola yang sama. Bagaimana mungkin aku tak menyebutnya kekalahan, kalau setiap kali aku mencoba mendekat pada pekerjaan, cinta, bahkan sekadar pengakuan sederhana sebagai seorang yang layak diperhitungkan hasilnya selalu sama,  lepas, kandas, atau bahkan tak pernah benar-benar dimulai. 

Aku tahu, secara reflektif, aku bisa saja berkata bahwa itu semua hanyalah benturan antara harapan dan kenyataan. Bahwa dunia tak punya kewajiban untuk menggenapi bayanganku tentang hidup. Bahwa mungkin aku hanya sedang berada di jeda yang panjang. Tapi bagian lain dari diriku tak bisa berhenti bertanya, berapa banyak lagi jeda yang harus kulalui sebelum aku berhak mengatakan bahwa ini bukan lagi jeda. 

Aku mulai merasa bahwa definisi tidak lagi sekadar kata, definisi juga seperti luka yang berulang. Setiap tidak lolos, setiap hubungan yang runtuh, dan setiap-setiap yang lainnya, semuanya itu seperti bersekongkol untuk membentuk satu kalimat yang pelan-pelan menjadi semakin sulit untuk kutolak, bahwa jangan-jangan aku memang diciptakan bukan menjadi pemenang. Dan kalimat itu tak datang sebagai pikiran yang dramatis. Kalimat 'aku bukan pemenang' itu datang dengan tenang, terlalu tenang, sebab timbul dari perenunganku yang mendalam, bukan dari rasa keputus-asaanku, kalimat itu dibangun dari sesuatu yang akhirnya menemukan bentuknya setelah lama tersebar tanpa arah.

Ironisnya, aku tahu, aku bahkan terlalu tahu, bahwa sejak awal keberadaanku, sejak aku terbentuk dari kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung itu, aku sudah menang. Tapi entah kenapa, kemenangan yang begitu awal dan begitu biologis itu terasa tak ada artinya dihadapan hidup yang sekarang seperti menolak mengakuiku. 

Karnanya aku terjebak di antara dua kesadaran yang saling bertolak belakang, satu yang mengatakan bahwa hidup tak bisa disederhanakan menjadi menang dan kalah, dan satu lagi yang terus mengumpulkan bukti bahwa aku memang sedang kalah. Bukan sekali, tapi berulang kali, dengan konsistensi yang hampir tak memberi ruang untuk penafsiran lain. Disitulah retaknya, aku ingin menjadi jernih, tapi kenyataan terlalu keras untuk hanya dipahami. Aku ingin menunda penilaian, tapi pengalaman terlalu sering datang dengan wajah yang sama. Aku ingin percaya bahwa makna belum selesai, tapi hidup terus memaksaku membaca kesimpulan yang sama.

Aku tak sepenuhnya percaya pada definisi dunia, tapi juga tidak cukup kuat untuk menciptakan definisiku sendiri. Dan diantara dua ketidakmampuan itu, aku mulai memahami bahwa ketakutanku bukan hanya tentang kalah atau menang. Tetapi tentang kemungkinan bahwa semua ini, semua kegagalan yang berulang, semua kehilangan yang menggerogoti, semua usaha yang tak pernah benar-benar sampai, adalah bukan sekadar peristiwa yang terpisah, tapi satu narasi utuh yang sejak awal memang tak pernah ditulis untuk menjadikanku pemenang. Dan aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, menerima kemungkinan itu… atau terus hidup sambil pura-pura tidak melihatnya.

Jika aku menerima kemungkinan itu, bahwa mungkin aku memang tak pernah ditulis sebagai pemenang dalam pengertian yang dunia pahami, maka yang pertama runtuh bukanlah harapanku, tapi caraku selama ini menempatkan diriku di dalam permainan hidup. Ibarat ada sebuah panggung yang pelan-pelan dibongkar, dan aku dipaksa melihat bahwa selama ini aku berdiri di atasnya dengan keyakinan yang sebenarnya rapuh. Sebuah kesadaran dan pengakuan, bahwa aku tak lagi bisa menyandarkan diriku pada janji-janji yang belum tentu pernah ada. Bahwa kenyataanya hidup tak pernah berutang kemenangan kepadaku. Bahwa semua usaha, semua jatuh bangun, semua luka yang berulang, tidak serta-merta harus bermuara pada sesuatu yang bisa kusebut sebagai keberhasilan. 
Semua ini bukan bentuk menyerahku, tapi lebih seperti melepaskan tuntutan yang selama ini diam-diam kuajukan kepada hidup, tuntutan agar hidup masuk akal, agar hidup memberi keadilan, juga agar hidup akhirnya memberiku satu titik dimana aku bisa berkata, Oh...ini, akhirnya. Aku ingin melepeskannya. 

Tapi ketika tuntutan itu dilepas, aku juga kehilangan sesuatu yang selama ini memberiku arah. Kalau aku bukan menuju kemenangan, lantas aku berjalan untuk apa? Jika semua ini tidak harus “MENJADI”, lalu apa yang tersisa selain sekadar menjalani? Dan pertanyaan itu tak datang dengan jawaban. Pertanyaan itu menggantung, membuka ruang yang luas, sekaligus menggetarkan, karena aku harus belajar berdiri tanpa jaminan apa pun.

Sebaliknya, kalau aku memilih untuk tak melihatnya, untuk terus hidup seolah semua ini hanya rangkaian kebetulan yang suatu hari pasti berbalik arah, maka aku tetap memiliki sesuatu yang lebih mudah dipegang, yaitu harapan yang familiar. Aku bisa terus berkata bahwa waktuku belum tiba, aku akan terus berkata bahwa semua ini hanyalah proses, aku akan terus berkata bahwa suatu hari nanti semuanya akan menemukan bentuknya. Dan kalimat-kalimat itu, meskipun mulai retak, masih cukup kuat untuk menahanku agar tidak jatuh terlalu dalam.

Tapi ada harga yang pelan-pelan harus kubayar. Karena setiap kali aku mengulang harapan itu, sementara kenyataan tetap berjalan dengan pola yang sama, aku seperti menunda satu perjumpaan yang tak terelakkan, perjumpaan dengan diriku sendiri yang sebenarnya sudah mulai tahu, tapi memilih untuk tidak mengakuinya. Ada kelelahan yang tak lagi hanya berasal dari kegagalan, juga aku lelah mempertahankan narasi yang semakin sulit dipercaya. 

Maka kedua pilihan itu tidak benar-benar menyelamatkanku. Yang satu menelanjangi aku dari ilusi, tapi meninggalkanku dalam ruang yang belum punya bentuk. Yang lain memberiku bentuk sementara, tapi pelan-pelan mengikis kejujuran yang tersisa. Dan mungkin, persoalannya bukan lagi memilih mana yang lebih benar. Melainkan berani memilih untuk tinggal di antara keduanya, di wilayah yang tak sepenuhnya percaya, tapi juga tidak sepenuhnya menolak. Di situ, aku tak lagi sibuk memastikan apakah aku pemenang atau pecundang. Aku hanya berhadapan dengan satu hal yang lebih sederhana, tapi juga lebih berat, tentang apakah aku masih bersedia menjalani hidup ini, bahkan ketika dia tak menjanjikan apa-apa kepadaku. 


Aku tak pernah menduga perjalananku akan seperti ini. Itu bukan karena aku merasa berhak atas hidup yang lebih mudah, tapi karena sebelumnya aku percaya bahwa setidaknya hidup akan bisa kupahami, bahwa pada akhirnya, hidup akan menunjukkan semacam arah yang bisa kuikuti tanpa harus terus-menerus meragukan pijakanku sendiri. Tapi sore ini, dipenghujung hari ini, ditengah kesadaran yang semakin terbuka ini, aku mulai melihat bahwa hidup memang tak bekerja dengan cara yang bisa dijanjikan sesiapapun, apalagi dijelaskan dengan apapun. 

Jika hidup tak menjanjikan apa-apa kepadaku, maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana aku bisa memastikan hasil, tapi tentang bagaimana aku bersedia menjalani sesuatu yang sejak awal tidak menawarkan kepastian. Dan itu bukan pertanyaan yang ringan. Karena selama ini, tanpa kusadari, aku menjalani hari-hariku dengan asumsi bahwa semua ini sedang menuju sesuatu, bahwa ada titik depan sana yang akan menggenapi semuanya, yang akan membuat semua kegagalan ini menjadi masuk akal. Ketika asumsi itu runtuh, hari-hariku menjadi kehilangan bentuknya. Aku tak lagi bisa menghitung waktu sebagai jarak menuju keberhasilan. Hari esok tak lagi berdiri sebagai janji, melainkan sebagai kemungkinan yang sama rapuhnya dengan hari ini. Dan di situ, aku dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang lebih mendasar, apakah aku hanya sanggup hidup jika ada jaminan bahwa hidup ini akan lebih baik. 

Sebabnya aku mulai mengerti mengapa aku begitu takut menerima kemungkinan bahwa aku bukan seorang pemenang. Karena selama ini, menang bukan sekadar hasil, menang adalah caraku memberi makna pada waktu. Harapan menang itu adalah alasan mengapa aku bertahan, mengapa aku bangun setiap pagi, mengapa aku masih percaya bahwa semua ini layak dijalani. Tanpa itu, waktu menjadi sesuatu yang asing, dia hanya terus bergulir, tapi tidak lagi membawa arah yang bisa kupegang. Dan di titik ini, pertanyaanku menjadi lebih dalam, tapi juga lebih tajam, apakah menjalani saja sudah cukup?

Bagian dari diriku menolak. Bahwa hidup tak mungkin sesederhana itu, bahwa harus ada peran, harus ada tempat, harus ada sesuatu yang bisa kusebut sebagai bagian-ku dalam seluruh sandiwara ini. Bahwa aku tak mungkin hanya lewat begitu saja tanpa arti. Tapi bagian lain dari diriku mulai curiga bahwa tuntutan itu sendiri mungkin adalah beban yang selama ini kupikul tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya.

Di lain hal, aku melihat orang tuaku yang semakin menua, waktu yang tak pernah berhenti, usia yang perlahan bertambah tanpa izin. Dan dihadapan semua itu, keinginanku untuk menjadi sesuatu terasa semakin mendesak, nyaris jadi kewajiban moral. Seolah-olah kalau aku tidak berhasil, 
maka aku bukan hanya gagal untuk diriku sendiri, tapi juga untuk mereka, dan untuk waktu yang telah mereka berikan kepadaku. Namun justru di situ, aku mulai merasakan retakan yang lebih dalam, bagaimana jika hidup tak pernah menjanjikan peran itu? Bagaimana jika tak semua orang ditulis sebagai tokoh utama, atau bahkan tokoh yang diingat? Apakah itu berarti mereka terbuang? Ataukah itu hanya berarti bahwa cara kita memahami peran selama ini terlalu sempit, terlalu bergantung pada pengakuan, dan terlalu terikat pada sesuatu yang bisa dilihat. Aku tak punya jawaban yang menenangkan atas pertanyaan itu. Bahkan, semakin aku mencoba jujur, semakin aku melihat bahwa mungkin tak ada jawaban. Yang ada hanyalah pilihan yang tak pernah sepenuhnya memberi kenyamanan. 

Meskipun aku belum sepenuhnya berani untuk mengakuinya, menjalani saja bukanlah bentuk kekurangan, melainkan bentuk KEBERANIAN yang paling sunyi dari antara yang paling sunyi. Memang di dalamnya tak ada kepastian, tetapi karena ketidakpastian itu, aku semakin menyadari tak ada apa-apa yang bisa dijadikan pegangan selain kesediaan untuk tetap hadir, tetap menjalani hidup, bahkan ketika aku tak tahu peran apa yang kumainkan, atau apakah aku sedang menuju sesuatu sama sekali. Itu tak penting. 

Memang aku tak pernah menduga hidup akan membawaku kesini, ke tempat dimana aku harus belajar hidup tanpa kepastian ini. Tapi mungkin di sini, ditempat yang terasa seperti kehilangan arah ini, aku sedang dipaksa untuk melihat yang selama ini luput, bahwa hidup tak selalu menunggu untuk dimenangkan, dan mungkin, dalam cara yang sulit diterima, hidupku tetap akan berlangsung, dengan atau tanpa aku mengerti arahnya. 

Perjalanan ini benar-benar tak pernah seperti yang kubayangkan. Aku berjalan menelusuri kemarau yang panjang, tanahnya retak, panasnya tak memberi jeda, dan setiap langkah terasa seperti mengais sesuatu yang bahkan tak pasti ada. Hari-hari gelap itu bukan lagi peristiwa yang datang dan pergi, tapi seperti lanskap tetap yang harus kulewati tanpa jaminan akan berubah. Dan di tengah itu, aku dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar bertahan, aku dipaksa memahami. Memahami apa arti semua ini, ketika khayalan tentang hidup yang dulu kubangun satu per satu tak pernah benar-benar menemukan bentuknya dikenyataan.

Aku mencoba menerjemahkannya, mencoba menyusun makna, menghubungkan kegagalan demi kegagalan, dan kehilangan demi kehilangan, seakan semuanya bisa kurangkai menjadi sesuatu yang utuh. Tapi semakin kucoba, semakin terasa bahwa hidup tidak bekerja untuk dipahami dengan cara yang mudah. Hidup tak tunduk pada logika yang kuinginkan. Hidup berjalan di jalurnya sendiri, pada semesta yang terlalu luas untuk memuat harapanku yang kecil dan rapuh itu.

Dan ditengah semua itu, ada kesadaran yang terus bekerja menumbuhkan jaringan-jaringan halus di dalam pikiranku. Bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari pembenaran diluar sana, sementara kejujuran yang paling mendasar justru terkubur dalam diriku sendiri. Mata hati itu, yang katanya bisa melihat lebih dalam, justru sering kuabaikan, atau bahkan sengaja kutenggelamkan, karena apa yang terlihat disana terlalu sulit untuk kuterima.

Aku mulai curiga bahwa kelelahan yang kurasakan bukan hanya karena perjalanan ini yang terlalu panjang, tapi karena aku terus melawan sesuatu yang sebenarnya sudah ingin kuakui. 
Bahwa mungkin hidup ini memang tak akan pernah selesai dalam pengertian yang kuinginkan. Tak akan sampai pada satu titik dimana semuanya jelas dan terjawab. Hidupku pun nanti akan berhenti, itu pun bukan karena aku selesai memahaminya, tapi karena waktu memang berhenti untukku. 
Disitulah aku kembali pada kegelisahan yang sama, jika perjalanan ini tak pernah benar-benar menjanjikan apa-apa, jika menang dan kalah tak lagi bisa kupegang sebagai arah, lalu apa yang tersisa?

Mungkin hanya berjalan. Berjalan bukan karena aku sedang menuju pada kemenangan, berjalan karena aku masih hidup dan tak punya cara lain selain itu. Dan didalam langkah yang seperti itu, tanpa jaminan, dan tanpa kepastian. Akan tetap kulangkahkan. Meski harus kalah lagi dan lagi. 
Aku tak-kan malu untuk mengakuinya. 
Seindah apapun aku menyiapkan skenarionya tetap kusisakan ruang ikhlas dihati, bahwa hari esok memang diluar kendaliku. Agaknya seluruh perjalanan ini, sekeras dan sepahit apa pun itu, memang bukan sedang membawaku menjadi pemenang. Tapi sedang memaksaku melihat dengan jujur, tentang siapa aku ketika semua kekalahan itu menyerbu-ku tanpa ampun, dan siapa aku ketika kemungkinan untuk menang itu perlahan runtuh dihadapanku.




03 May 2026 
Biara Murti 127B Tembalang kota Semarang 



Poltak Pendongeng Miskin—


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung Part II | MAAF 🙏