Obor hatiku yang remang
![]() |
| Dainang br Soembajak |
“Ai maraha do ham in???...”
“Ehee baenma, asal biar ada ajalah kegiatan, senang aja liat cabe-cabeku ini ramos marbuah...” Jawabnya santai dari seberang sana.
Itulah awal percakapan kami waktu aku nge-video call mamak sore kemarin.
Diangkatnya memang VC-ku tadi, tapi bukannya bilang hallo apa kabar atau apa kek. Malah kek ngevlog gitu pulak dia. Dipamerkannya tommat, cabe sama semua suan-suanannya yang ada dibelakang rumah. Katanya udah banyak hasil panennya dari cabe yang ditanaminya itu. Padahal dia hanya menanam pake media tanah diatas pot, gak langsung ke bumi. Tapi hasilnya bagus. Cabe-cabenya merah semua, tommatnya pun mulai banyak yang masak.
“Ehee kalau untuk yang mau ku makannya mending kubeli aja ke pasar, tapikan bukan karna itu. Melihat tanam-tanaman kita berbuah subur ada ketenangan tersendiri, rasanya sebahagia itu.” kata mamak kami sambil mulai nunjukkan wajahnya di depan video call kami tadi.
Memang mamak kami ini type orang yang gak bisa diam. Ada ada aja ulahnya. Katanya kalau dia diam-diam aja bisa pendek umur katanya dia nanti. Entah dari manalah teorinya itu. Tapi ya memang gitulah dia.
Jadi memang itulah kegiatannya setiap hari. Selain sesekali pergi mendatangi undangan-undangan pesta ulaon adat. Itupun seringnya dia tak suka berlama-lama disana.
“Yaa kalau diundang datang awak. Seperlunya aja.” katanya.
Mamak kami ini memang orang yang gak suka basa basi. Orangnya tembak langsung. Tap tap tapp... gitu. Dirumah pun dia gak suka kumpul-kumpul sama ibu-ibu lingkungan. Katanya hanya 10 menitnya obrolan Inang-inang itu yang sehat, sisanya nanti udah bergunjing, karna itu dia gak suka kumpul sama ibu-ibu. Bahkan di pesta pun dia gak suka duduk dengan rombongan ibu-ibu. Duduk dikelompok bapak-bapak pulaknya dia, atau kadang kaum lansia yang lain.
“Lebih sehat disitu. Terhindar dari dosa.” katanya.
Ya memang begitulah mamak kami, si Oppung Windy boru itu.
Kami memang tak sering bisa komunikasi, karna mamak kami ini sibuknya minta ampun. Selain itu dia juga tak selalu pegang hape. Tapi sekalinya kami telponan bisa sampai 4 jam tanpa henti.
Jadikan karna kami tadi membahas soal cabe-cabe mamak yang lagi ramos marbuah itu, entah macam mana tiba-tiba obrolan kami pun nyasar ke cerita tentang kawannya.
Mamak kami ini punya teman Br Simbolon. Marparibanlah mereka kalau di adat, karna sama-sama boru ni Parna.
“Kemarin datang gan dia kerumah martandang,” kata mamak kami sore itu di VC. “Ya tentu ku sambut dong dengan baik.”
Memang sebelumnya Boru Simbolon ini ada hutang sama mamak kami. Gak banyakl sebenarnya. Dan mamak pun katanya gak pernah menagih.
“Aku pun tak pernah mau memintanya,” katanya santai.
Tapi si Boru Simbolon ini rupanya sharing sendiri yang menjelaskan soal hutang itu ke mamak. Kadang katanya hasil panennya lagi gak bagus. Kadang kebunnya kurang berhasil. Makanya belum bisa bayar hutang. Begitulah terus ceritanya sampai berbulan-bulan. Padahal mamak kami sendiri gak pernah menyinggung soal uang itu.
Sampai akhirnya datanglah Boru Simbolon ini martandang ke rumah kami. Dilihatnyalah pekarangan belakang rumah yang sempit itu, yang penuh pot cabe, tommat, terong, sama suan-suanan mamak kami lainnya. Dilihatnya juga deretan cabe di rooftop atas rumah. Katanya sampai heran dia melihat semuanya tumbuh subur begitu.
“Ai bagak bagak ma suan suanan mon Oppung Windy, ai songon dia do dibaen ho manuan on?” katanya sama mamak.
“Ibatu na pir do hu suan i anggii, alai ala ias rohaku uli sude tubu suan-suananhi dibaen Tuhantta i,” Jawab mamak kami.
Habis itu mamak kami malah nyeletuk lagi sambil ketawa kecil waktu cerita sama ku tadi.
“Ai ho attong, holanna mangoto-otoi do karejom, sai didokho dang bagak hasil panenmu, bah gabe sega ma sude tutu.”
Begitulah mamak kami. Kalau ngomong memang langsung ke inti. Gak pandai diputar-putar.
“Ya apa adanya ajalah,” katanya lagi sama ku. “Ga usah banyak kali cingkunek. Biasa-biasa ajalah. Kalau hitam bilang hitam, kalau putih bilang putih. Ga usah banyak sandiwara. Kan jadi susah sendiri dianya.”
Dan seperti biasa, dia menyampaikan semua itu dengan santai. Ibarat cuma cerita ringan disore hari. Sambil sesekali masih mengarahkan kamera hapenya ke cabe-cabe merahnya yang bergantungan lebat di pot-pot kecil belakang rumah itu.
“Bapak kemana mak?” tanyaku bermanuver,
“Keluar tadi, ada katanya urusannya,” jawab mamak santai.
Nah bapak kami ini memang udah lama pensiun. Dari tahun 2011 kalau gak salah. Jadi sekarang kerjanya ya kalau kata mamak, menikmati hidup.
Selalu ada aja petualangannya. Meskipun udah usia lanjut, tapi energinya masih luar biasa. Bahkan kata mamak, sampai sekarang pun masih sanggup dia berkendara ribuan kilometer sendiri. Kadang kami pun heran lihatnya. Macam gak habis-habis tenaganya.
“Kemarinkan kami HWA ke 41 tahun,” kata mamak tiba-tiba. “Tapi lupa pulak si Bos itu. Entah cemmana.”
Aku langsung ketawa mendengarnya.
“Ya maklumlah mak, bapak-bapak kan ga begitu excited sama seremoni-seremoni kek gitu. Makanya dia ga ingat. Jangan-jangan ulang tahunnya pun dia udah lupa.” jawabku.
“Itulah daa...” kata mamak sambil ikut ketawa kecil.
“Karna itunya pas sore-sore kukasih tumpeng nasi kuning samanya. Kami potong berdua. Tarsonggot dia, bisa-bisanya dia ga ingat apa-apa.”
“Sampai kusalam dia,” lanjut mamak bercerita. “Ku bilang, diingot ho do tanggal piga sonari?”
“Kaget dia.”
“Ya kubilang, ditanggal inilah kau jemput aku. Ditanggal inilah kau bawa aku untuk pertama kalinya masuk ke keluargamu. Ditanggal inilah kita mengikrarkan janji. Kau ingat?”
“Coba kau ingat-ingat lagi. Sudah 41 tahun aku menemanimu, mengiringi hari-harimu, mendampingi ambisimu, menemanimu menemukan cita-citamu.”
“Masih kau ingat, gimana kita memulai semuanya sampai bisa kayak gini?”
“Pernahnya kau berpikir sekali aja selama 41 tahun ini apa aku bahagia mendampingimu?”
“Itulah kubilang sama bapakmu,” kata mamak sambil ketawa kecil diujung telepon.
“Nangis dia kubuat.”
“Iya kenapa kok mamak tanya kek gitu pulak?” tanyaku sambil ketawa kecil mendengar cerita tadi. Mamak pun langsung menjawab santai.
“Ya biar tau aja dia, kalau selama puluhan tahun ini perlunya saling memeriksa hati, meskipun udah 41 tahun kami hidup sama.” katanya.
“Maka kalau ditanya aku bahagia apa ngga, jujur aja perasaanku gado-gado.” katanya sambil ketawa kecil.
“Terlalu naif kalau kubilang mamak bahagia. Terlalu kejam pula kalau kubilang nggak.”
Kekgitulah mungkin kenyataan paling jujur dari sebuah pernikahan panjang.
“Yang pasti,” lanjut mamak lagi, “Mari berusaha untuk saling membahagiakan.”
“Kalau mengingat kek mana keras kepalanya bapakmu ini, udah pengen kulagakan kepalanya itu sama batu sana.”
Aku langsung ketawa besar mendengarnya. Memang khas kali omongan mamak kami ini.
“Tapi ya itulah...” lanjutnya pelan. “Dianya aku, akunya dia.”
Entah kenapa, kalimat sederhana itu rasanya lebih dalam dari banyak nasihat cinta yang pernah kudengar. Karna memang pada akhirnya, hubungan yang panjang bukan bertahan karna dua orang selalu bahagia. Tapi karna setelah sekian banyak kecewa, marah, dan lelah, mereka Bapak-mamakku tetap memilih untuk melihat dirinya sendiri didalam diri pasangannya. Dianya aku. Akunya dia.
Habis panjang kali lebar dia bercerita soal Hwa atau cabe-cabenya itu, tiba-tiba langsung dipotongnya lagi pembicaraan kami.
“Mau bilang apanya kau maka kau VC aku sore ini?” katanya.
Baru sekarang ditanya bahh, pikirku.
Kujawablah pelan sambil ketawa, “Nggak ada mak... pengen aja aku dengar suara mamak. Kalau udah kudengar ge, tenanglah hatiku. Jadi kek mana pun beratnya hari yang kulewati, anggo domma hu tangarlah suaramu ai, malasma tong uhurku.”
Langsung ketawa besarlah mamak kami itu dari ujung sana.
“Hahahahaaa... alo pah, alo... sehatnya kau?” lanjutnya.
“Puji Tuhan selalu sehat, selalu sejahtera mak,” kataku.
“Ciahh... anggoo sejahtera ma nini da berarti lang dong be na hurang ai,” jawab mamak sambil ketawa lagi.
“Iyalah ge mak. Ai apalah lagi yang kurang. Sehat sampai hari ini udah luar biasa itu daa,” kataku menjawab tawanya.
Tak lama habis ketawa-ketawa tadi, mendadak berubah pelan kalilah nada suara Mamakku ini bertanya.
“Maaf ya amang... udah kek mana soal kerjaanmu? Masih freeport kau?” tanyanya hati-hati kali. Sopannya itu loh, seolah takut salah bertanya.
“Masih mak... ya gitulah. Kalau pas ada job bisalah ada kerjaan, seringannya nggak ada pulak. Jadi ya gitulah, munre. Mangan muttut renge,” jawabku ringan, mencoba ketawa kecil supaya jangan terasa berat kali.
“Iyalah... memang sesulit itu sekarang cari kerja...” Katanya pelan.
Habis itu suara mamak mendadak berubah. Tak setegas biasanya.
Akupun terdiam.
Mamak masih terus bicara dari ujung sana.
“Begitulah seorang ibu amang, anakku..., lungun do hu hilala, ai aha ma naing tahi ni Tuhani nanaing pasahatonna tu ho haduan, pola ingkon mangae ho anakku...”
Entah kenapa, bagian itu yang paling susah kutahan dari semua percakapan sore tadi. Itu yang membuat dadaku makin sesak. Aku pun akhirnya tak sanggup lagi menjawabnya. Hanya air mataku yang menetes pelan tanpa suara.
“Kalau mamak boleh kasih pesan, buatlah batasannya amang. Ayo pikirkanlah rencana lain, biar ga terbuang percuma umurmu lalap disana-sana aja. Umur segini, kerja atau belum kerja aku menikahlah, gitu ge buat amang...”
Begitulah kata mamak sore itu. Pelan kali nadanya. Sama sekali gak memaksa. Tapi masuk kali ke hati. Aku pun langsung membela diriku pelan-pelan.
“Kurang PD nya laki-laki mendekati perempuan lo mak, kalau awak masih pengangguran...” kataku,
“Nggak harus segera menikah maksudku amang,” jawab mamak. “Tapi yang kumaksud disitu bukalah hatimu untuk kesana. Takutku ga bisa aku lagi mendampingi kau. Kalau kulihat-lihat kondisiku ini, paling kuat aku tahan 3–4 tahun lagi. Jadi pikkiri ma amang, unang mangapian tondiM isogot haduan kalau ga sempat tappe kau nanti mamak lihat. Apa ga sedih kau?”
Hening kali rasanya waktu mamak bilang itu. Biasanya dia ngomong ceplas-ceplos, penuh tawa. Tapi sore itu entah kenapa suara mamak terasa tua kali ditelingaku.
“Udah pasti lungun pangahap lo mak... tapi ga bisa tarjua rencana Tuhan itu. Memang harus dialaminya itu juga. Karna itu sehat ma ham, ulang borit-boritan. Panjang umurlah mamak ya mak, biar ada selalu temanku, pangaduaduanku. Doakanlah omak sai adanya nanti jalannya kesana, kupikirkan pun pesan mamak ini...”Jawabku pelan meyakinkannya.
“Iyalah... tetaplah semangat ya mang. Yakinnya aku samamu.” Suaranya pelan dari ujung sana.
“Ikhlaskanlah hatimu entah jalan yang kayak apapun yang kau lalui. Nikmati aja. Nikmati dititik tertidak enak itu, dititik maksimalnya, di paling pahitnya. Ingkon pasomalonmu do manggagat duhut. Kalau pahit jangan trus kau buang, begitupun kalau manis jangan terus kau telan. Ikhlaskan lidahmu menikmati semua rasa itu dititik tertingginya da, anakku...”
Kutahan biar jangan kedengaran berubah suaraku. Tapi anggo iluhku lalaplah saimarabur, mendengar suara mamakku ini.
“Sebagai anak, lape dong na boi tarbahen au laho pasangaphon ham, begitupun bapak. Lape tarbaen au mambalos ganup dear layak ni ham sadokah na manggoluh au mak...” jawabku pelan.
“Sabarlah mamak yaa... jujur aja omak, ku tahankan pun marhaccit-haccit disini ga ada yang lain hanya berharap satu hari nanti bisa tarbaen aku yang terbaik pasangapkon mamak, membahagiakan mamak. Selebihnya itu, terkait untuk diriku sendiri lang porlu be ai bakku...”
Mamak pun langsung menyela pelan.
“Ehee anggo songon au do anakku, sehatlah ko ijai, tetap jadi orang baik, ulang mambaen ulah, ma sukkup ai bakku.”
Tambahnya lagi,
“Anggo au do bahat do pasu-pasu ni Tuhan jaloonku, lang hurangan au. Homa, tak pernah kami berharap apapun dari kalian anak-anakku, tentang pengabdian apapun itu. Age sama abangmu Pak Windy gitunya tong kubilang.”
Entah kenapa makin hancur kalilah hatiku mendengar mamak ngomong gitu.
“Ase lungun do pangahap lo mak... mamak bilang belum tentu kuat 3–4 tahun ini, aha pe lape tarbaen au mak. Sedikitpun ga ada yang bisa kubuat tandani ham maranakhon au...”
Langsung dipotong mamak omonganku itu.
“Ehh jangan gitu muncungmu. Hanya karna kau masih pengangguran sekarang, kau pikir kau udah jadi semalang itu?”
“Harga do ho bakku anakku. Tondiku. Urat ni pusu pusukku. Marmalu ma tondimu pah, anak na bujur do hoo.” katanya lembut kali.
“Pori matei pe au holi, lang hu solsoli, anggo sadokah goluhku martuah do au, adong ho, dong hanima anak-anakku na mangkaholongi au.”
Aku pun terdiam lama setelah mendengar kata-kata itu. Memang begitulah seorang ibu. Kayak mamak kami ini, tak pandai menyusun kata-kata indah. Tapi sekalinya ngomong, langsung menghantam bagian paling dalam dari hati awak.
“Terus kek manalah mak... kalau ternyata hape aku ga pernah jadi orang yang berhasil? Kek mana kalau nyatanya aku nggak jadi siapa-siapa seperti yang mamak harapkan, ga ada yang bisa mamak banggakan dari aku,” tanyaku pelan sore itu.
“Apa mamak akan merasa jadi orangtua yang gagal?”
Jawabnya santai,
“Apasih ukuran berhasil itu?” katanya.
“Ai ningun jadi aha gatni ho ase jadi jolma na berhasil ho? Amang, kau ga harus jadi seperti orang lain baru kau menyebut dirimu berhasil.”
“Dan aku pun sebagai orangtua, ga pernah mendesain supaya kau harus jadi seperti yang ada dalam pikiranku baru kusebut kau berhasil. Itu ga pernah sama sekali.”
“Tiap-tiap orang punya jalannya. Jangan kau jalan ditempat yang bukan rutemu amang. Kau boleh saja baca peta yang bukan punyamu, tapi dari awal peta itu nggak akan menghantarkan kau ketujuanmu. Memang, kenyataannya waktu memaksa kita untuk putar haluan meninggalkan apa yang sejak awal kita impikan tadi, tapi apa artinya itu semua kalau kau sampai tapi bukan ditujuanmu semula?”
“Dan biar kau tau, entah seperti apapun orang menyebutnya, bagiku, berhasil ataupun tidak... kau tetap anakku. Karna untukmulah aku rela memohon supaya Tuhan panjangkan umurku, aku selalu berharap bisa mangiring-iringimu. Tapi betapa hancurnyalah hatiku ditelan rasa bersalah yang tak ada obatnya, kalau hilang semangat juangmu, hanya karena sementara ini kau merasa hidup tak pernah berpihak untukmu. Kau ingat itu!!!.”
Mamak malah ketawa kecil mendengar pertanyaanku tadi.
“Ah sudahlah itu. Aku ga mau merusak serunya obrolan kita ini hanya karna kau takut disebut jadi orang yang gagal.” katanya santai kali.
“Age gagal kau sebagaimana cara dunia ini menilaimu. Anggo bakku harga do tong ho bapa. Biar seluruh dunia menghakimimu, aku yang tau. Janah pitah au dassa na boi mangidah ai, putih do ganupan baimataku aha na golap bani pangidahni ganup jolma in.”
“Hahhh tahee... betapa beruntungnyalah aku dilahirkan boru Saragih kami yang hebat ini,” kataku sambil ketawa kecil, sambil menahan air mata.
“Sehatlah mamak ya makkk... Ga bisa kubayangkan kek manalah hancurnya aku nanti kalau mamak udah ga ada.”
“Iya... Sehat pe au, karna kau yang minta.” jawab mamak lembut.
“Aku pun masih penasaran apa yang sebetulnya yang sudah Tuhan siapkan untukmu didepan sana. Ayo amang, majulah terus.”
“Iya mak... Pos uhurmu...” jawabku meyakinkan.
“Haa okelah mang, pas baru datang Gawei ini.”
Begitu katanya.
Ujungnya mamak pun menutup panggilan video sore itu. Rupanya pas kali momentnya, karna Atturang Oppung Betty datang bertamu ke rumah. Pas kali memang. Tak ada yang menggantung dari percakapan kami tadi. Semuanya selesai di titik yang pas. Dan pas pulak pardatangnya Oppung Betty itu, jadi mamak bisa langsung sibuk menyambut tamunya seperti biasa. Pasti mereka berdua mau marbatu mahjong Siamese. Ga kenal waktu nanti mereka itu. Bisa sampai malam. Ya gimana... mamak kami kan sekarang udah ga banyak kegiatan lagi.
Pernah juga kubilang biar pahoppunya si Windy tinggal sama dia aja dirumah, biar ada yang ngerepotin dia disana. Tapi tak mau pulak boru kami itu. Jadi terpaksalah mamak yang lebih sering main ke Jambi mengunjungi mereka.
Nah masalahnya, mamak kami ini udah ga kuat lagi sebenarnya perjalanan jauh. Asal namanya jalan jauh pasti malas kali dia. Pinggangnya mulai sakit katanya, badannya pun udah gampang capek.
Cuma anehnya, kalau urusan marsuan-suanan itu, age sampai ke lantai dua kuat dia ngederek pot-pot besarnya itu. Awak pun heran lihatnya. Rela pulak dia beli media tanah, beli pupuk, beli obat-obat tani, beli pot baru. Padahal kalau dihitung-hitung, harga semua yang dibelinya itu udah lebih mahal dari hasil panen yang bisa dipetiknya. Tapi ya kek mana... memang bukan soal untung rugi itu katanya. Soal kesenangannya itunya gan...
Bahkan demi cabe sama tommatnya itu, rela pulak mamak kami ini ikut pelatihan tani sama gapoktan. Cuma biar makin pandai dia marcabe martommat katanya. Padahal kalau dipikir-pikir, ga ada basic petaninya sama sekali mamak kami itu. Dari jaman oppungnya pun bukan keluarga petani. Tapi entah apalah yang buat dia bisa sesuka itu melihat kehidupan dari tumbuhan-tumbuhan kecil itu tadi.
Senang kali dia kalau lihat ada bunga cabe mulai keluar. Lebih senang lagi kalau buahnya mulai merah bergantungan. Kadang sampai difotonya satu-satu. Dikirimnya ke kami. Macam bangga kali dia.
Karna itulah pernah iseng-iseng kubilang sama mamak.
“Mak, pulang kampung aja lah ke Samosir. Biar disana mamak menikmati hari tua sambil manapu kopi, atau entah marmahan Horbo.”
Kupikir cocok kali dia tinggal disana. Udara dingin, halaman luas, bisa menanam apa aja sesukanya. Tapi gak mau katanya dia.
Semakin kupikirkan, semakin kusadari pula kalau manusia sebenarnya bisa hancur bukan hanya karna bagai-bagai kehilangan, misal kehilangan pekerjaan, atau kehilangan masa depan, atau kehilangan-kehilangan lainnya. Tapi kehilangan sesuatu untuk dirawat atau kehilangan sesuatu untuk ditunggu tumbuhnya, sebetulnya itulah yang paling sadis daya rusaknya. Karena ada bagian dalam diri manusia itu yang membutuhkan rasa dibutuhkan oleh kehidupan. Karna itu, waktu mamak kami sibuk menyiram cabe, memindahkan pot, ataupun membersihkan daun yang menguning, mungkin yang sedang diselamatkannya bukan tanaman itu. Tapi dirinya sendiri. Jiwanya sendiri. Biar jangan sampai mengering perlahan tanpa dia sadari.
Itulah makanya mungkin banyak orang tua susah untuk benar-benar menikmati masa pensiun. Karna setelah sekian lama hidup mereka dipenuhi kesibukan, mendadak dunia menjadi terlalu sepi. Anak-anak pergi merantau. Rumah mulai lengang. Pelayanan gereja pun selesai. Pesta-pesta pun tak lagi menarik untuk didatangi lama-lama. Dan pada titik tertentu, manusia mulai berhadapan dengan satu pertanyaan yang sangat reflektif. Setelah semuanya selesai, sekarang aku hidup untuk apa lagi?
Mungkin mamak kami menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sederhana sekali. Dengan cabe-cabenya. Dengan tommatnya. Dengan bawang Bataknya, Dengan Uttei Mukkurnya. Juga dengan pot-pot yang dijejerkannya di rooftop rumah itu. Itu semua seolah mengasitahu, kalau dia si-mamak kami ini, masih ada, bahkan masih bisa berkarya.
Aku bahkan mulai merasa, jangan-jangan itulah bentuk paling dewasa dari menerima hidup. Bukan lagi sibuk menuntut dunia supaya sesuai keinginan kita. Tapi mulai belajar mencintai apa yang ada di depan mata dengan sepenuh hati. Menyiramnya. Menjaganya. Menunggunya tumbuh. Walaupun kita tau suatu hari nanti semua itu pun akan layu juga.
Menjadi manusia memang bukan soal seberapa banyak yang berhasil kita kuasai. Tapi mari kita renungkan, sudah seberapa tuluskah kita mampu merawat sesuatu selama kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Karna juga pada akhirnya, manusia yang hatinya masih sanggup mengasihi, masih sanggup menunggu proses, dan masih sanggup bersukacita melihat kehidupan kecil lahir dari hal yang sederhana, dia adalah manusia yang jiwanya belum mati.

Komentar
Posting Komentar