Salam Maria 🕊



Orang-orang selalu membutuhkan satu bulan khusus untuk mengingat sesuatu yang seharusnya tak pernah mereka lupakan. Siapa itu, ya Bunda Maria. Para umat sering menyebutnya bulan May adalah bulan Maria. Mereka mendaraskan doa rosario yang diulang-ulang. 
Semua tampak khusyuk, tertib, dan benar. 
Tetapi kebenaran yang terlalu sering diulang, tanpa pernah benar-benar dihidupi, perlahan berubah menjadi kebiasaan yang kosong. 
Maria dipuji karena ketaatannya, itu yang selalu dikatakan. Namun ketaatan bukan sesuatu yang mudah dikagumi saat kita benar-benar menjalaninya. Ketaatan itu menuntut manusia berhenti memaksakan kehendaknya sendiri. Dan di situlah banyak orang mulai mundur pelan-pelan. 
Itulah sepenggal homili Pastor tarekat MSF petang itu. 

Beberapa hari sebelum 30 April itu, aku membaca dengan seksama pengumuman tentang misa pembukaan bulan Maria di Katedral Semarang. Aku menyimpan tanggal itu pada notes di ponselku. Semua itu bukan karena dorongan iman yang besar, hanya saja aku tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk mengabaikannya. 

Hari itu hujan turun deras sejak siang. Cukup deras untuk dijadikan pembenaran. Aku hampir tak jadi berangkat, dan seperti kebanyakan orang, aku sudah siap menyebut keraguanku sebagai tanda. Namun sekitar pukul empat sore, hujan itu berhenti. Memang Tak sepenuhnya reda, tetapi cukup untuk membungkam alasan yang tadi kubangun. Maka akupun berangkat.

Perjalanan dari biara ke katedral sekitar dua puluh menit. Tak ada yang istimewa. Aku tidak sedang menjadi siapa-siapa. Hanya pake sandal, kaos, dan jaket gunung. Tak ada upaya untuk terlihat lebih rohani dari yang sebenarnya. Sesampainya di gereja, umat masih sedikit. Aku duduk, menunggu, membaca sebentar, lalu lebih banyak diam. Begitulah nyatanya, bahwa keheningan seringkali lebih jujur daripada doa yang terlalu cepat diucapkan.

Misa dimulai tepat pukul enam. Seorang romo tamu memimpin. Tentu aku tak mengenalnya. Homili beliau berbicara tentang Maria. 
Bahwa Maria yang taat, Maria yang rendah hati, dan tentang kesediaannya menjadi teladan. 
Semua yang disampaikan benar. Tetapi seperti biasa kebenaran tidak selalu mengubah apa-apa jika hanya berhenti di telinga. Kita-kita ini terlalu sering lebih pandai mengangguk daripada menjalaninya.

Lain cerita, disebelahku ada pulak duduk seorang perempuan muda. Berpakaian sederhana. 
Putih diatas, hitam dibawah, bersepatu hitam, tapi tak berpita djingga, sementara rambutnya jatuh begitu saja. Aku tak benar-benar melihat wajahnya, hanya dari samping, dari ujung mata yang tak sengaja bekerja. Tapi karena itulah aku sedikit merasa terganggu. Karenanya aku sempat lupa kenapa aku datang. Lalu aku mengingatnya kembali, pelan-pelan kuluruskan, kalau aku datang bukan untuk itu. Tak semua yang indah harus diikuti, dan tak semua yang hadir itu harus diberi tempat didalam kepala. Maka aku biarkan dia tetap di sana, menjadi bagian dari ruang, bukan bagian dari pikiranku.

Misa berjalan seperti biasanya, dan ketika salam damai tiba, dia menoleh, tersenyum, dan berkata, “salam damai Kristus.” Aku membalasnya. Sesederhana itu. Dan memang seharusnya sesederhana itu, tak perlu ditambahkan apa-apa, dan tak perlu dibawa kemana-mana.

Tapi terus terang, bulan Maria memang selalu begitu. Datang tak hanya mengingatkan pada satu nama, tapi pada banyak hal yang pernah disematkan didalam nama itu. Dan aku, tanpa banyak pilihan, jujur saja, kembali mengingat satu Maria yang lainnya. Maria yang satu ini tak pernah didaraskan dalam doa rosario, apalagi untuk disebut dalam Litaniae Sanctorum, tak pula dinyanyikan dalam lagu-lagu gereja. Tapi entah kenapa, dia tetap hadir diantara doa-doa itu. 

Aku masih sering mengucapkan, “Santa Maria, doakanlah kami.” Dan disela-selanya, aku sering menambahkan satu permohonan yang menghujam jiwa,

Mariaaa, doakanlah aku. 

Dengan air mata yang tertahan, aku menyadari kalau doa-ku itu tak tahu kemana harus pergi. 
Permohonan itu hanya mencoba mencari jalan menuju sesuatu yang pernah tinggal didalam hatiku begitu lama. 

Kenyataannya. Maria sudah pergi. Pergi begitu saja.

Walaupun ada yang tak ikut pergi bersamanya. 
Itu tentang cara Maria membuatku melihat dunia, ataupun caranya yang diam-diam mengubah banyak hal tanpa pernah mengatakannya. 

itu masih tertinggal.

Dan mungkin akan tetap tinggal.

Bahkan ketika aku sendiri tak lagi tahu bagaimana cara menjelaskannya.  

Dalam doaku itu, aku sering memanggil satu nama, tetapi yang datang selalu dua. Yang satu tinggal dalam doa-doa yang diajarkan Gereja. Sementara yang satunya lagi tinggal dalam kenangan Jiwa. Aku tak tahu sejak kapan keduanya mulai saling mendekat, mungkin sejak aku kehilangan satu di antaranya. Setiap kali aku berkata, doakanlah kami, ada bagian dari diriku yang selalu menyimpang. Menyimpang karena malah mencari satu wajah yang tak lagi bisa kutemui, menyimpang karena menyebut satu nama yang tak lagi pernah disebut oleh sesiapa. 

Aku tak pernah berani membedakan keduanya dalam doa. Biarlah mereka berdiri di tempat yang sama, meskipun aku tahu, yang satu tak-kan mungkin menjawab,

dan yang satu lagi…

Tak pernah benar-benar kutahu bagaimana cara mendengarnya.

Maka tersentaklah aku dalam lamunan, berpikir. Mungkin doa memang begitu, tak selalu sampai ke langit, bisa jadi hanya berputar-putar didalam dada, mencari-cari seseorang yang sudah tidak ada, yang tak-kan pernah ada. Seperti halnya doaku ini: 


Salam Mariaaa, 

Mariaaa aku gak tahu harus memulai dari mana, karena sejak kau pergi, semua awal terasa seperti terlambat. Meski begitu aku akan tetap menuliskan namamu, bersikeras mengirim doa ini ke alamat yang telah lama kosong itu, seraya berharap mungkin ada keajaiban yang membuatnya sampai disana.  

Aku mengirimkan kata-kata ini ke tempat yang tak-akan bisa kutunjuk di peta mana pun. Orang-orang menyebutmu berada di keabadian. Mereka berkata kau tenang di sana, berada dalam terang yang tak lagi mengenal luka. Aku ingin mempercayainya, Maria, sungguh... aku ingin mempercayainya. 
Tapi setiap kali aku mencoba melakukan itu, yang kembali kepadaku justru kekacauan yang semakin tajam, sadar bahwa kau benar-benar telah pergi ke tempat yang tak akan pernah bisa kujangkau lagi. Kesadaran itu yang semakin menghancurkanku.

Doa ini, Maria, seperti surat yang tersesat di antara langit dan bumi. Ku naik-kan dengan harapan, lalu jatuh kembali dengan kenyataan. Doa ini kembali kepadaku, membawa satu jawaban yang tak bisa pernah kuterima, bahwa tak ada lagi jalan untuk menyapamu seperti dulu. Tak ada lagi ruang di mana aku bisa mendengar suaramu memanggil namaku.

Aku mencoba mengingatmu dengan cara yang baik. Aku mencoba menyebut namamu tanpa hancur. Tapi setiap kenangan selalu datang utuh, tak pernah setengah-setengah. Lintasan pikiran itu membawa kembali caramu tertawa, caramu diam, juga cara kehadiranmu. Dan justru karena semuanya datang begitu lengkap itu, aku semakin sadar bahwa yang hilang dariku bukan hanya tubuhmu, melainkan satu bagian dari hidup yang tak bisa digantikan lagi. 

Aku sering berbicara kepadamu dalam diam. Meskipun kutahu kau tak-kan pernah bisa mendengarnya, dan aku tak tahu lagi ke mana harus membawa semua ini. Dunia tetap berjalan seperti biasa, orang-orang tetap berbicara, hari-hari pun tetap berganti. Tapi didalam diriku, ada sesuatu yang berhenti bergerak, bersamaan dengan terhentinya waktu-mu. 

Aku berusaha optimis mengatakan pada diriku sendiri bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya. Tetapi waktu tak pernah bisa menyembuhkannya, Maria... Waktu hanya mengajarkanku bagaimana hidup dengan luka yang sama setiap hari, tanpa benar-benar memperbaikinya. Waktu mengajarkanku bagaimana tersenyum diluar, sementara didalam, ada yang terus memanggil namamu tanpa pernah mendapat jawaban. Sungguh Mariaa, itu terasa bagai pukulan yang paling berat. 

Aku hanya mulai menerima, dengan cara yang paling menyakitkan, bahwa mencintaimu yang telah tiada ini bukanlah tentang melepaskanmu, aku akan terus membawamu kemana pun aku pergi, dan aku tak-kan pernah bisa meletakkanmu kembali di tempat semula, dimana saat aku belum mengenalmu dahulu.  

Jika doa ini tak pernah sampai kepadamu, maka biarlah ini tetap menjadi milikku, Mariaaa... Biarlah ini tinggal di dalam dada sebagai sesuatu yang tidak selesai, dan tak akan pernah selesai. Doa ini akan terus hidup meskipun tak lagi memiliki arah. Karena mungkin, satu-satunya cara aku bisa tetap dekat denganmu sekarang adalah dengan tak berhenti memanggil namamu, meskipun aku tahu, kau tak-kan pernah menjawab dengan cara yang sama lagi.

Mariaaa...

Jika ditempatmu sekarang ada cara untuk melihat kembali ke dunia yang pernah kau tinggali ini, lihatlah aku sebentar saja... aku tak minta supaya kau mengasihani aku. Bukan. Hanya untuk kau ketahui bahwa aku masih di sini, masih mencoba memahami bagaimana cara hidup setelah kehilanganmu. Kalau benar-benar tak ada jalan antara aku dan kau lagi, maka terimalah ini sebagai hal terakhir yang bisa kulakukan, aku tetap mencintaimu, bahkan dalam jarak yang tak mungkin ditembus oleh apa pun juga. 
Doa ini mungkin tak akan pernah sampai, Maria... Doa ini akan terus kembali kepadaku, menjadi pengingat yang tak pernah lelah bahwa aku pernah memiliki sesuatu yang begitu berarti, dan kehilangannya dengan cara yang tak pernah benar-benar bisa untuk kuterima.

Jika dari tempatmu sekarang masih ada cara untuk melihatku kebawah, melihat kearah dunia yang pernah kita pijak bersama ini, dan kau menemukan aku masih seperti ini, janganlah bersedih Maria. Aku tahu keadaanku tidak baik-baik saja. Aku tahu ada bagian dari diriku yang masih tertinggal di hari kepergianmu. Kalaupun mungkin, jika kau bisa merasakannya, dan itu akan membuatmu ingin kembali, atau setidaknya ingin menghiburku seperti dulu lagi.

Jangan!!!... 

Biarkan semua ini jadi bagianku saja. Karena jika kehilangan ini harus dimiliki oleh seseorang, biarlah aku yang melakukannya. Bukan kau, yang sekarang sudah berada ditempat yang tak lagi mengenal luka seperti ini.


Mariaaa,

Aku juga ingin meminta maaf karena belum bisa datang ke pusaramu. Bukan karena aku melupakanmu.

Itu tak pernah!!!..

Aku hanya belum cukup kuat untuk berdiri di sana, dihadapan tanah yang akan memaksaku mengakui satu hal yang selama ini masih coba kutunda, bahwa kau benar-benar sudah tak ada di dunia yang bisa kusentuh ini. Aku takut pada diam yang akan kutemui disana. Aku takut pada kenyataan bahwa tak ada lagi yang bisa kujawab, dan tak ada lagi yang bisa menjawabku disana. 

Tapi dengarlah ini, Maria 
meskipun aku tahu kata-kata ini tak akan sampai kepadamu seperti dulu, aku akan datang. Bukan hari ini. Mungkin juga bukan dalam waktu dekat. Tapi suatu hari nanti, ketika aku sudah cukup berani untuk tak lagi lari dari kenyataan itu, aku akan berdiri disana. Di tanah yang telah kusumpahkan menjadi rumah itu. Tanah yang menyimpanmu, tanah yang perlahan juga menjadi rumah bagi ingatanku tentangmu. Sebabnya ketika aku akhirnya datang, aku tak akan membawa banyak kata. Karena aku tahu, tak ada lagi kalimat yang cukup untuk menjelaskan semua ini. Mungkin aku hanya akan diam Maria. Atau memanggil pelan namamu sekali saja, untuk memastikan kalau aku benar-benar pernah mengenal seorang Maria yang kehilangannya mengubah seluruh duniaku. 

Mariaaa, 

Jika ditempatmu sekarang ada kedamaian, jangan biarkan kesedihanku merusaknya. Jangan ikut bersedih karena aku belum selesai menerima kepergianmu. Jangan ikut menangis hanya karena aku masih berjalan dengan kehilangan ini didalam dada. Jangan kembali hanya karena aku masih memanggilmu. Jangan menoleh hanya karena aku belum selesai. 
Aku memang belum bisa merelakanmu Mariaa, dan aku tak mau berbohong tentang itu. Tapi biarlah aku yang belajar berjalan sendiri disini, dengan semua yang pernah kau tinggalkan didalam diriku.
Cukup kau ada disana tenang dan, tanpa beban yang pernah kita rasakan disini.

Aku akan tetap disini, belajar pelan-pelan, bagaimana caranya hidup dengan satu kenyataan yang belum pernah benar-benar bisa kuterima. Bahwa aku pernah memilikimu...dan kehilangan-mu tidak pernah sesederhana kata mati. Kematian hanyalah tidur panjang, maka bermimpilah kau Mariaaa. Jika pun suatu saat nanti waktu mempertemukan kita dalam cara yang tak lagi dipisahkan oleh kehilangan, aku tak akan banyak bertanya. Aku hanya ingin tahu satu hal, bahwa apa yang pernah ada diantara kita, tidak sia-sia. Maka sebab itu. Beristirahatlah dengan tenang, Mariaaa. 
Aku akan tetap menyebut namamu, dan akan terus mengingatnya, bahwa aku pernah mencintaimu sedalam ini. 🤍  



Setelah doaku malam itu selesai tanpa amin, Rosario hitamku itu kugenggam erat. Aku tak tahu kapan tepatnya aku berhenti berdoa dengan iman, dan mulai berdoa dengan putus asa. Dua tahun aku memanggil nama itu, berharap setidaknya ada satu retakan kecil di keheningan yang menyapaku. Tapi tak ada. Tak pernah ada. Kematian itu benar-benar final, bukan hanya mengambil tubuhnya, tapi juga menghapus kemungkinan bahwa dia masih bisa menyentuh hidupku, walau hanya sebagai bayang-bayang yang halus. Karna itulah, aku semakin yakin, bahwa selama ini aku hanya berbicara dengan kekosongan.



Tapi malam itu, ketika doa itu selesai, aku berdiri. Masih memegang Rosario hitam itu. Satu-satunya benda yang terasa seperti sisa. Sisa dari iman, sisa dari harapan, sisa dari yang tersisa, dan sisa dari sesuatu yang dulu kupikir masih bisa kupelihara.

Rosario itu terputus saat aku akan mengalungkannya. 

Semuanya terlepas. Butir-butir hitam itu jatuh ke lantai, terpencar, berlari ke arah yang berbeda-beda, seolah tak ingin lagi menjadi satu kesatuan. Aku melihatnya jatuh, dan untuk sesaat waktu terasa berhenti. Aku membeku. Karena untuk pertama kalinya, sesuatu yang diluar diriku memperagakan dengan tepat apa yang terjadi didalam bathinku sejak Maria pergi.

Putus... 

Rotap!!!... Sarsar!!!...Matangtang!!!...

Aku bertanya dengan sisa keberanian yang ada, 

Apa maksudnya ini?

Apa ini tanda?

Apa ini cara yang paling pelan untuk mengatakan bahwa aku harus berhenti menggenggam sesuatu yang sudah tak ada? Bahwa doa-doaku selama ini hanyalah usaha menolak kenyataan yang terlalu keras untuk diterima? Bahwa Maria, yang sangat kucintai itu tak lagi berada di wilayah yang bisa kupanggil, sekeras apa pun aku menyebut namanya?

Ataukah ini lebih kejam dari itu?

Bahwa malah tak ada pesan sama sekali.

Bahwa bahkan momen seintim ini pun tak membawa arti apa-apa. Bahwa Rosario itu putus bukan untuk memberitahuku sesuatu, tapi justru untuk memperlihatkan bahwa tak ada yang tersisa untuk diberitahukan. Tak ada tanda. Tidak ada yang bisa kuterima sebagai penghiburan.

Hanya Rotap!!!...

Kalaupun mungkin itu adalah pesan dari alam bawah sadarku. Pesan ini terlalu dramatik untuk merobek-ku. Bahwa seperti untaian Rosario itu, aku telah lama memaksakan sesuatu yang sebenarnya sudah tak lagi utuh. Aku terus merangkainya dalam doa, berharap dia tetap menjadi satu, padahal sejak hari kematian itu, semuanya sudah tercerai-berai. 
Dan aku menolak mengakuinya... 

Aku ingin percaya bahwa masih ada hubungan yang tersisa. Bahwa ada benang tak terlihat yang masih menghubungkan aku dengan Maria. 
Tapi sungguh malam itu, benang yang kuyakini tadi seolah dipertontonkan dalam bentuk yang paling nyata. Dia rapuh, tipis, lalu… putus tanpa aba-aba.

Aku berdiri di sana, menahan sesak didada. 
Sadar kalau kesedihan rasanya sudah terlalu sering kugunakan, bahkan sedih itu sampai kehilangan bentuknya. Sekarang yang ada hanya satu perasaan yang sulit dijelaskan, aku dipaksa menatap kenyataan tanpa bisa lagi menutup mata. Bahwa Maria telah pergi. Benar-benar pergi. Meski malam itu, aku masih memungut butir-butir yang jatuh, seperti orang bodoh yang berharap bisa menyusunnya kembali, padahal jauh dikedalaman, 
aku tahu, yang putus malam itu bukan hanya Rosario hitam itu. Tapi juga sesuatu yang selama ini kupertahankan mati-matian agar tak ikut runtuh bersama kepergiannya.

Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu— 🕊



Biara Murti, 01 May 2026 
Aku—Poltak Pendongeng Miskin 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya 🕊

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Anggii boru payung Part II | MAAF 🙏