Hampir tiga bulan lamanya binder ini tak kusentuh untuk sebuah catatan baru.
Hari-hari rupanya telah berjalan demikian lekas, bahkan aku belum sempat memilih kata yang kiranya pantas untuk mengawali ceritaku berikutnya. Sebetulnya pun ada banyak hal yang hendak kutuliskan, banyak pula kejadian yang barangkali kelak akan menjadi kenangan, hanya saja tangan ini belum juga menemukan waktu untuk menaruhnya menjadi sepotong kata-kata.
Aku tak ingin mengatakan bahwa kesibukanlah yang menjadi penyebabnya. Rasanya kalimat itu terlalu mudah untuk dijadikan alasan. Mungkin aku hanya terlalu lama membiarkan hari-hari berlalu tanpa sempat duduk sebentar untuk mengambil pena, lantas menuliskan apa yang ada dikepala.
Tapi, satu hal kiranya masih tetap sama.
Aku masih ingin menyebut diriku Poltak si pendongeng miskin itu. Gelar pena yang melekat pada nama ini, sebabnya malam ini setelah hampir tiga bulan tak menyapa,
aku kembali duduk dihadapan lembaran guretan ini. Untuk itu kepada mereka yang masih sudi membaca, aku ingin berkata terimakasih masih berada disini. Dan malam ini, mari kita bercerita lagi.
Sudah lebih sebulan aku berada di tanah Celebes ini. Tempat ini jadi dermaga ketiga persinggahan kapalku, setelah angin membawa layarku jauh mengarungi lautan luas. Sebelumnya Baganbatu telah lebih dahulu membuatku jatuh hati kepada suasana dan kehidupan disana. Sekarang aku berada di tanah Maleo, dan sejak awal aku sudah mulai bertanya dalam hati, kelak apa ya yang akan membuatku berat meninggalkan tanah ini lagi.
Satu hal yang paling kusyukuri dari perjalanan ini ialah kesempatan untuk memulai karya yang baru. Setelah sekian lama menjadi seorang freeport, berjalan ke sana kemari mencari tempat untuk menaruh tenaga dan pikiran, akhirnya angin membawaku pula sampai kesini. Aku tak berani mengatakan bahwa ini adalah buah dari kesabaran yang panjang. Rasanya terlalu besar perkara itu untuk kusebut sebagai hasil dari kesabaranku sendiri.
Aku pun tak berani mengatakan bahwa tempat ini merupakan jawaban dari doa-doaku sebelumnya, sebab sejujurnya aku tak pernah secara khusus meminta agar dibawa sampai ke tanah ini. Barangkali ada suatu maksud yang belum kupahami, tentang kehendak Yang Mahakuasa bekerja melalui jalan yang tak mampu kubaca.
Aku hanya tahu bahwa aku telah sampai, dan untuk sementara waktu tugasku sederhana saja, apalagi kalau bukan menjalani hari-hari ini dengan baik, mengerjakan apa yang dipercayakan kepadaku, belajar dari setiap orang yang kutemui, serta melihat kemana kiranya perjalanan ini akan membawaku pergi lagi.
Sedari awal perusahaan yang memanggilku kemari membuatku merasa dihargai. Sejak keberangkatan dari Pekanbaru sampai tiba di site, segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan sangat baik. Disini aku mendapat tempat tinggal yang nyaman untuk berteduh selama menjalani hari-hari perjuangan. Fasilitasnya tersedia dengan sangat baik, dan soal makanan, rasanya aku tak punya banyak alasan untuk mengeluhkan itu. Dapat jatah makan prasmanan tiga kali sehari, dan yang lebih menggembirakan lagi, makanannya enak-enak semua.
Barangkali soal makanan inilah yang paling cepat membuat seorang Poltak sepertiku merasa betah. Tentu aku tidak perlu lagi harus memikirkan uang indekost dan biaya makan sebagaimana dahulu ketika masih tinggal di Tembalang. Dulu perkara-perkara semacam itu harus dipikirkan setiap bulan. Sekarang semuanya telah disediakan. Tinggal kayakmana aku bisa bekerja dengan baik, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang udah diberikan ini. Kupikir pantas saja perusahaan ini banyak diminati oleh para Freeport Indonesia. Rupanya ya beginilah cara perusahaan menghargai para karyawannya.
Ada pula satu hal yang menurutku cukup istimewa. Setiap kurang lebih empat bulan, kami diberi kesempatan untuk family visit selama sekitar dua minggu lebih.
Urusan pulang pun dibuat sedemikian rupa sehingga karyawan dapat memilih penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia melalui bandara private milik perusahaan, dengan biaya perjalanan pulang-pergi yang ditanggung perusahaan pula. Jadi, ketika jadwal cuti tiba, kita bebas memilih tujuan penerbangan kemana saja, selama masih berada di wilayah NKRI. Sementara itu, setelah bekerja minimal tiga tahun, cakupan penerbangan yang bisa dipilih semakin luas, yaitu ke seluruh negara ASEAN hingga daratan Tiongkok.
Kalau mengingat semua itu, aku sungguh bersyukur sampai disini. Dikasih tempat untuk tinggal, tersedia makanan melimpah, dan ada pulak kesempatan untuk pulang menjenguk keluarga setelah beberapa bulan menjalani kehidupan di site.
Maka untuk sementara ini, aku ingin menikmati semuanya dengan sewajarnya saja. Menikmati kemudahan yang diberikan sambil tetap mengingat bahwa dibalik segala fasilitas itu ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Aku datang kemari untuk bekerja, belajar, dan menempa diri. Untuk itu semua, aku tak lupa bersyukur menjadi bagian dari keluarga Eternal Tsingshan ini, perusahaan yang namanya telah lama dikenal sebagai raksasa industri nikel dunia.
Okay, mari kita lupakan sejenak mengenai itu. Takutnya dikira pula nanti awak flexing jangg, padahal tak ada maksud seperti itu, aku hanya mengingat bagaimana kemurahan hati Tuhan, dengan belas kasih-Nya membawa orang sepertiku sampai ketempat ini. Kalau menoleh sedikit ke belakang, rasanya masih sulit dipercaya bagaimana perjalanan ini sampai sejauh ini. Dulu waktu di Semarang, awak hidup dengan segala keterbatasan yang ada, tak pernah tahu dimana kiranya perjalanan hidup ini akan berakhir.
Sampai kemudian angin itu benar-benar membawaku bertolak ke sini, ke tanah yang dahulu tak pernah ada dalam rencanaku, malah sekarang jadi tempat dimana aku memulai sebuah perjalanan yang baru. Tak banyak yang dapat kukatakan selain rasa syukur yang dalam.
 |
| Katedral Jakarta, sebelum berangkat ke site |
Aku masih ingat betapa sesaknya kurasa ketika harus meninggalkan mamak pada hari keberangkatanku ke tempat ini tempo hari. Sebelumnya dia begitu bahagia ketika aku bekerja di Baganbatu.
Baginya, sejauh apa pun aku bekerja, masih ada kemungkinan untuk pulang dengan mudah, jaraknya masih dapat ditempuh ketika rindu itu datang. Malah kali ini aku justru pergi semakin jauh, bahkan lebih jauh daripada sepuluh tahun terakhir yang kuhabiskan di Semarang.
Sebelum berangkat, aku bersimpuh di hadapannya. Kumohon restu atas langkah dan keputusanku. Tangannya yang sudah tua itu kuangkat perlahan, lalu kutompangkan diatas kepalaku. Aku ingin menerima restunya dengan cara yang sesederhana itu.
Keadaannya waktu itu belum benar-benar pulih. Dia baru saja melewati sakit yang menguras banyak tenaganya. Tubuhnya belum kembali kuat seperti dahulu. Melihatnya dalam keadaan demikian, tentu saja tidak mudah bagiku untuk melangkahkan kaki. Maka air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Terasa berat didalam dada ketika seorang anak harus meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu.
Aku tahu, dengan segenap kekuatan yang masih dimilikinya, mamak sedang belajar mengikhlaskanku pergi lagi. Mungkin itulah sebabnya dia tak turut mengantarkanku sampai ke teras rumah. Mamak hanya duduk dikursi tuanya dari dalam rumah seraya memandangiku ketika bergegas menuju taxi bandara yang sudah menunggu didepan. Dari kejauhan aku masih sempat melihatnya, hanya sebentar. Setelah itu segera kupalingkan pandangan.
Aku tak ingin menjadi rapuh karena melihat kesedihan yang mungkin sedang disimpannya di dalam rumah itu.
Aku tahu, kalau terlalu lama memandanginya langkahku mungkin akan terasa semakin berat. Akhirnya aku pergi meninggalkan rumah itu untuk kesekian kalinya. Hanya kali ini dengan jarak yang lebih jauh, dan teramat jauh lagi.
Tak pernah sebelumnya kurasakan kesedihan sedalam itu ketika harus meninggalkan mamak. Berat yang lain rasanya, karena kali ini aku pergi ketika keadaannya masih sakit dan lemah. Akan tetapi, aku tahu keputusan untuk berangkat ini pun membawa harapan yang mungkin selama ini diyakininya, bahwa anaknya harus sanggup berdiri diatas kakinya sendiri. Itulah yang selama ini diharapkannya dariku. Dengan melihatku mampu mengambil keputusan untuk bekerja, merantau, dan menjalani hidup dengan kekuatanku sendiri. Untuk itu, semogalah langkah ini kelak menjadi jawaban yang baik atas doa-doanya. Aminnn
Pada akhirnya aku tiba juga di site ini dengan selamat. Sebelumnya aku harus tinggal selama empat hari di Jakarta untuk menyelesaikan beberapa prosedur sebelum akhirnya diberangkatkan ke area site. Empat hari itu ternyata tak hanya kuisi dengan urusan pekerjaan. Ditengah segala persiapan, aku masih sempat mencuri banyak waktu untuk bersua dengan beberapa kawan lama.
 |
| Didepan Bundaran HI |
Ada si Romo Wirandus yang begitu excited menanti perjumpaan kami. Ada pula si Atik Boru Garingging yang sempat mengirim pesan lewat WhatsApp, mengajak bertemu barang sebentar saja. Tak ketinggalan pula si Krisna, sang voorhanger Cililitan, yang dengan heppot-nya datang menjumpaiku di hotel dekat bandara daerah Tangerang itu. Rasanya menyenangkan sekali, ditengah perjalanan yang cukup panjang, masih ada wajah-wajah lama yang menyempatkan diri datang sekadar untuk duduk bercerita, dan melepas rindu.
Aku sempat menghubungi adekku Riska Sikongkong. Sayang waktunya belum cukup longgar untuk kami bisa bertemu muka. Malam itu dia hanya menyampaikan harapannya lewat pesan singkat, semoga masih ada kesempatan untuk berjumpa dilain waktu, begitu katanya.
IMIP. Nama itu terus berputar dikepalaku selama penerbangan dari Jakarta menuju bandara privat perusahaan. Perjalanannya cukup panjang, dan entah mengapa aku tidak juga dapat memejamkan mata dengan tenang. Pikiran ini malah sibuk membayangkan seperti apa kiranya tanah yang sebentar lagi akan kuinjak itu.
Seperti apa tempatnya, orang-orangnya, pekerjaannya, dan kehidupan yang akan kujalani disana. Banyak sekali yang berputar dikepala sampai aku sendiri tak tahu mana yang sebenarnya membuatku gelisah. Atau mungkin memang karena sejak dahulu aku kurang bersahabat dengan namanya pesawat. Setiap kali pesawat mulai meninggalkan landasan, selalu ada rasa waswas yang datang. Akan tetapi kali ini rasanya agak laen. Pikiranku terus tertuju kepada tempat yang hendak kutuju. Rasanya seperti orang yang sedang berdiri didepan pintu, lalu bertanya-tanya apa gerangan yang menunggu dibaliknya.
Pada penerbangan itu aku kembali mengingat perjalanan hidup yang sudah kulewati. Dunia telah banyak membentukku. Ada banyak hal yang pernah membuatku jatuh, membuatku bingung, membuatku harus belajar berdiri lagi dengan tertatih-tatih. Rasanya pengalaman-pengalaman itu sudah cukup menjadi bekal untuk menghadapi apa pun yang akan kutemui nanti. Aku pun teringat sama mamak. Restunya sudah kubawaserta bersamaku. Kalau restu itu sudah ada, rasanya tak pantas lagi aku menyimpan gentar terlalu lama didalam dada.
Aku sudah berangkat. Maka aku akan terus berjalan. Tak akan mundur walau selangkah. Meski kelak perjalanan ini menuntut darah, keringat, dan air mata, biarlah semuanya menjadi bagian dari perjuangan. Begitulah suara yang perlahan tumbuh didalam diriku selama pesawat terus melaju menuju tanah Maleo ini.
Dan semakin dekat pesawat itu kepada tujuannya, semakin besar pula keinginanku untuk segera menapakkan kaki di tanah perjuanganku yang baru itu.
Setibanya di site smelter nikel terbesar di dunia itu, aku disambut oleh beberapa orang yang sudah lebih dahulu kukenal. Mereka adalah teman seperjuangan ketika masih sama-sama menjadi mahasiswa FEB UNDIP tempo dulu, dia Lek Leonardo Butarbutar, Jarti Ardo Purba, dan Bang Frans Rajagukguk.
 |
| dari kiri : Bang Frans, Lae Leonardo BB, M. Fahri Silalahi, yang take photo Ardo di Cafetaria site— Smelter kawasan Utara |
Sebenarnya ada banyak sekali anak UNDIP di tempat ini. Akan tetapi, ketiga orang ini mempunyai tempat yang khusus dalam perjalanan hidupku sebelumnya. Mereka bukan sekadar kawan satu almamaterku, banyak perjalanan yang pernah kami lewati bersama dimasa lalu, banyak pula cerita masa kuliah yang membuat hubungan itu terasa lebih dekat daripada sekadar nama UNDIP itu sendiri.
Ardo bahkan sempat terkejut ketika tiba-tiba melihatku berdiri tepat didepan pintu kamarnya di mess I. Barangkali dalam pikirannya aku masih berada jauh ditempat lain. Dia sempat terdiam dan seperti tak percaya kalau aku benar-benar sudah sampai di site. Sementara Leo sudah lebih dahulu mengetahui kedatanganku.
Kami memang sudah beberapa kali berkomunikasi sebelumnya. Bahkan boleh dikatakan, salah satu alasan yang membuatku akhirnya berani mengambil keputusan untuk hijrah ke tempat ini adalah karena dorongan dan sarannya.
Disamping itu semua ada pula si Fahri Silalahi. Dia sama sepertiku menjadi orang baru di tempat ini. Kami sama-sama sedang belajar mengenal dunia kecil yang penuh dengan suasana ala Tiongkok ini. Bedanya, tempat kerja dan mess kami berada di kawasan yang berbeda. Fahri berada di bagian selatan, sementara aku menempati kawasan sebelah utara. Meski begitu, Fahri rupanya tidak merasa jarak itu sebagai perkara besar. Dia selalu datang ke utara. Katanya, selain bisa ikut berjamaah bersama umat yang lainnya, dia juga punya satu alasan lain yang cukup jujur, soal makanan di kantin VIP Indonesia yang memang lebih melimpah, dan dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada itu.
 |
| Aku, Fahri dan Irak di Kantin VIP Indonesia kawasan Utara |
Kantin itu sebenarnya lebih diperuntukkan bagi mereka yang sudah berada di level supervisor. si Fahri tampaknya tak terlalu mau memikirkan perkara itu. Baginya, selama masih ada tempat untuk duduk dan makanan yang bisa disantap, perkara siapa yang punya jatah bisa dipikirkan belakangan. Lagipula, dia punya pembelaan sendiri. Katanya, helmnya memang berwarna kuning, tetapi jiwanya merah. Maka jadilah Fahri, helm kuning rasa helm merah. Aku ga tau dari siapa dia mendapatkan kata-kata itu, semoga saja bukan dari aku. Karena aku yang lebih dulu berani menembus batas itu. Apakah dia terinspirasi dari itu, akupun tak tahu. Yang pasti kami berdua adalah sama-sama pengolah handal yang memanfaatkan momentum.
 |
Salah satu menu makanan yang selalu ku jabjabi setiap 3x sehari |
Setelah resmi bergabung di site, perlahan-lahan aku mulai menyelidiki tempat ini. Aku perhatikan jalan-jalannya, gedung-gedungnya, letak kantor, mess, gedung olahraga, supermarket, gedung restoran, gedung Karaoke TV, kantin, dan tempat-tempat lain yang kiranya akan sering kudatangi. Rasanya perlu juga mengenal medan lebih dahulu, supaya kelak kalau ada sesuatu yang harus kukerjakan atau kudatangi, aku tak seperti orang yang baru turun dari kapal lalu bingung mencari jalan.
Kantorku berada di GA 1, lantai tiga, ruang 308. Dari mess tempatku tinggal, jaraknya hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Dekat sekali. Setiap pagi aku cukup berjalan sebentar, dan sampailah di kantor. Urusan tempat tinggal ini sebenarnya sempat membuatku sedikit waswas pada awalnya. Mula-mula aku ditempatkan di Mess C, yang letaknya cukup jauh dan berada di bagian atas. Kalau setiap hari harus berjalan dari sana menuju kantor, rasanya lumayan juga tenaga yang harus disisihkan.
 |
| Kawasan Mess Utara |
Untunglah ada Lae Leonardo Butarbutar. Dia membantu melobi pengurus mess supaya aku dapat dipindahkan ke Mess I. Pada akhirnya aku mendapat tempat di mess yang sama dengan Lae Leo dan Ardo. Tentu aku menjadi lega waktu mengetahui bahwa tempat tinggalku sekarang hanya beberapa menit dari kantor. Setidaknya untuk perkara jalan kaki setiap pagi, aku tak perlu membuatnya menjadi persoalan.
Hari pertama masuk kerja rasanya perlu sekali kucatat didalam binder ini. Kelak, ketika cerita-cerita berikutnya sudah semakin panjang, catatan kecil ini akan menjadi pengingat dari mana semuanya bermula. Sebab setiap perjalanan yang panjang selalu mempunyai satu hari pertama, dan bagiku hari itu adalah 7 September.
Pihak HRD sebelumnya telah memberitahukan bahwa pukul 08.30 aku akan dijemput oleh admin Departemen Finance. Aku pun sudah menunggu sejak pagi di ruang tunggu Gedung E. Setengah jam berlalu, kemudian satu jam, dan akhirnya lebih dari satu jam pula aku duduk menunggu. Sampai akhirnya datang seorang perempuan muda, kalau kulihat sekilas sepertinya dia keturunan Tionghoa.
“Roy dari Finance?” tanyanya.
“Iya, betul Bu,” jawabku.
Dia kemudian memperkenalkan diri. Namanya Sunatacia, biasa dipanggil Ibu Suna, admin Departemen Finance, lalu mengajakku berjalan dari ruang tunggu Gedung E menuju GA 1. Dalam perjalanan itu aku sempat berkata, “Bu, mohon bimbingannya ya.” Dia tertawa kecil. Katanya, dia hanya admin dan kelak bukan orang yang akan bekerja bersamaku dalam satu tim Finance. Dari situ aku baru mengerti bahwa orang yang akan membimbing dan bekerja bersamaku nanti tentu akan kutemui ditempat lain.
Sesampainya di GA 1, Ibu Suna mengantarkanku menuju ruang 308 di lantai tiga. Begitu masuk, aku melihat sebuah ruangan yang cukup besar dan luas.
Warna putih dan abu-abu mendominasi ruangan. Banyak orang bekerja di dalamnya, masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Ibu Suna kemudian mengarahkanku kepada seorang laki-laki keturunan Tionghoa asal Singkawang. Namanya Pak Erickson. Setelah berbicara sebentar, aku baru tahu bahwa beliau adalah foreman-ku selama berada disini.
Pak Erickson kemudian memintaku duduk tandem disebelah seorang perempuan muda yang mengenakan jilbab panjang. Namanya Kak Nadia Nurhafifah. Kak Nadia menyambutku dengan baik. Dari perkenalan yang sederhana itu, aku kemudian mengetahui bahwa dia pula yang bersedia menjadi tentorku selama masa probation dan masa pendidikan yang akan kujalani.
Selain Kak Nadia, ada pula Pak Rendy Lambidju yang turut membimbing dan mengajariku. Mereka berdua merupakan satu tim kerja denganku disini. Karena itu, selama masa belajar dan penyesuaian ini aku ditandemkan kepada keduanya. Dari merekalah sedikit demi sedikit aku mulai mengenal pekerjaan yang kelak akan menjadi bagian dari hari-hariku di tempat ini.
Di ruangan itu ada pula Mas Robi. Beliau adalah alumni akuntansi undip tahun 2014 dan disini kedudukannya kurang lebih setingkat dengan foreman. Rupanya kami mempunyai beberapa persamaan. Sama-sama alumni undip, dan sama-sama masuk melalui program Management Trainee, atau yang biasa disebut CK di lingkungan Tsingshan ini. Bedanya, Mas Robi sudah lebih dahulu mengenal tempat ini dan segala seluk-beluk pekerjaannya.
Disebalahnya ada pula Sangmane Barnabas Tangdilintin, orang Toraja yang menurutku cukup kocak dan menyenangkan. Aku senang bercanda dengannya. Kepadanya kukatakan bahwa aku mempunyai ikatan khusus dengan orang Toraja. Cam Abbas menyambut perkataan itu dengan baik. Sejak itu, percakapan kami selalu saja mempunyai bahan untuk dijadikan tertawaan.
 |
| Ruang Kerja GA 1—308 Departemen Keuangan |
Di belakang meja Cam Abbas, ada pula Pak Ikmal Ramli. Aku lebih sering memanggilnya Pak Ramli saja. Padahal, nama Ramli itu sebenarnya nama ayahnya. Entah bagaimana ceritanya, aku sudah terlanjur memanggil begitu dan beliau pun tampaknya tak mempermasalahkannya.
Pak Ramli ini orangnya lucu, kocak, dan enak diajak bercanda. Jadi rasanya tidak sulit untuk cepat akrab dengannya. Begitu pula Pak Rendy, Pak Ramli, Mas Robi, dan Kak Nadia. Masing-masing mempunyai perangai dan kelucuannya sendiri-sendiri. Jadi karena itulah suasana kerja di ruangan ini tak pernah benar-benar sepi.
Selain orang-orang yang sudah kusebutkan tadi, ada pula beberapa karyawan lain yang statusnya sedikit berbeda dari kami. Mereka adalah para juru bicara Mandarin yang sekaligus merangkap sebagai akuntan atau asisten akuntan. Dalam tim kami ada Pak Jason, Kak Iria, dan Pak Erickson. Ketiganya sama-sama beretnis Tionghoa dan mempunyai tugas masing-masing dalam membantu pekerjaan tim.
Begitu aku memperhatikan semua pelan-pelan, sebagaimana seorang Poltak yang baru datang ke tempat baru dan gemar mengamati keadaan di sekelilingnya.
Setelah beberapa waktu berada disana, aku sampai pada satu kesimpulan, bahwa tim kami ini memang tim yang unik. Orang-orangnya dari latar belakang yang berbeda, mempunyai kebiasaan dan perangai masing-masing, ada saja bahan tertawaan, dan tentunya selalu ada sesuatu yang membuat hari kerja terasa lebih menyala.
 |
| Pertemuan perdana teman-teman seangkatan program Management Trainee Eternal Tsingshan Group Indonesia–IMIP |
Dalam perkara ini, aku berani berkata, bukan aku yang pandai membaur, merekalah yang sudi menaburkan diri kepadaku. Mereka membuka tempat bagiku diantara mereka, menerima kebodohanku, juga memberi waktu kepada seorang yang banyak tidak tahunya. Penerimaan semacam itu tak dapat dihitung dengan uang, apalagi dibayar dengan kata-kata.
 |
Di peninsula, Pulau Poloe dekat Wisma Tsingshan–kawasan Utara |
Kedatanganku membawa kebutaan terhadap pekerjaan ini. Banyak yang tak kupahami, tugas² itu terasa asing bagiku. Mereka lalu mengusahakan cahaya, sedikit demi sedikit, supaya aku mempunyai tuntunan untuk berjalan. Aku sadar belum mampu memberi banyak kepada mereka. Maka untuk sementara, biarlah doaku menjadi bagian yang dapat kuberikan.
 |
| Kebersamaan di Raha-raha lalampu' |
Demikian pun aku. Kalau nanti pada suatu waktu yang tak kuduga, kehangatan yang hari ini mereka berikan berubah menjadi dingin, aku harus berdamai dengan kemungkinan itu. Aku tak boleh kehilangan nyala hanya karena udara disekelilingku berubah. Aku harus menjadi bara yang tetap menyala dengan apa yang ada dalam diriku, bahkan ketika dingin telah merasuk sampai ke tulang sekalipun.
Seperti nasihat orangtua-tua dulu katanya, yang menggantungkan apinya pada kehangatan orang lain akan mudah padam ketika kehangatan itu pergi. Baiknya api tak perlu berdebat dengan dingin, ia hanya perlu tetap menyala. Nah, nasihat itulah yang selalu kuingat.
Selain segala yang sedang kujalani ditempat ini, ada satu hal lain yang turut kucari, yaitu rumah tempat jiwaku berpulang. Awalnya, lae Leo, Ardo dan, Bang Frans mengajakku ke gereja Oikumene milik perusahaan.
Disana umatnya cukup banyak. Gerejanya besar, tertata, dan sudah sangat modern. Aku bahkan sempat ikut bertugas sebagai singer. Aku bersyukur pernah berada disana, bernyanyi bersama umat dan mengambil bagian dalam peribadatan mereka.
 |
| Para Pelayan Ibadah Minggu di Gereja Oikumene IMIP |
Aku tak bermaksud membuat jarak.
Aku tak ingin perbedaan menjadi alasan untuk menjauh dari siapa pun. Aku hanya sedang mencari tempat dimana aku dapat menaruh seluruh gumulku sebagai seorang Katolik, tempat dimana aku dapat berdoa dengan cara kebiasaanku, menerima Ekaristi, dan merasakan kembali rumah tempatku berpulang.
Lantas aku menemukannya.
Sebuah gereja kecil yang letaknya tak terlalu jauh dari kawasan tempat kami tinggal. Memang aku harus keluar dari site terlebih dahulu untuk sampai kesana. Bagiku, itu bukan persoalan besar. Jaraknya hanya sekitar 4,5 kilometer. Empat setengah kilometer untuk menemukan tempat berpulang, kurasa bukanlah jarak yang pantas untuk dikeluhkan.
Gereja itu sangat sederhana. Bangunannya bahkan belum permanen. Tak ada kemegahan seperti yang biasa kulihat di gereja-gereja besar dikota sana. Kami masih duduk dikursi plastik dan kursi kayu panjang yang sudah lusuh dimakan waktu. Bentuknya jauh dari apa yang biasa disebut orang sebagai kursi gereja. Tapi, umatnya banyak sekali. Misanya pun diadakan dua kali dalam seminggu, dan setiap kali misa tetap saja orang-orang berdatangan hingga tempat duduk terasa kurang.
Gereja itu bernama Stasi Santo Yosef Pekerja.
Entah kebetulan atau memang entah bagaimana, nama itu rasanya begitu tepat bagi umat disana. Karena hampir seluruh umatnya adalah karyawan dan pekerja yang menggantungkan hari-harinya pada perusahaan smelter di kawasan ini.
Mereka perantau yang datang dari berbagai tempat membawa harapan, lelah, dan kerinduan kepada keluarga, ditengah perjuangan yang jauh dari rumah masing-masing. Maka Santo Yosef Pekerja terasa seperti pelindung yang dekat dengan kehidupan mereka.
 |
| Suasana saat komuni di Stasi St Yosef Pekerja Bahodopi |
Pertama kali aku memasukinya aku menarik napas panjang dan dalam hatiku berkata, akhirnya, aku kembali ke rumah tempatku berpulang ini. Pagi itu aku mengikuti misa disana. Malam harinya, aku kembali ikut ke gereja oikumene milik perusahaan itu.
Aku ingin tetap menjadi bagian dari kebersamaan mereka, begitu caraku menghargai orang-orang yang telah lebih dahulu menerimaku ditempat ini.
Tapi, aku pun tak ingin memaksakan diri. Kalau waktuku longgar, aku akan ikut membersamai. Kalau ada pekerjaan atau keadaan yang membuatku tidak dapat hadir, aku akan meminta izin dengan baik.
Sampai aku mulai terbiasa menjalani kehidupan di Kawasan smelter ini dengan segala rutinitasnya. Pagi sampai sore kuhabiskan di kantor. Lama-kelamaan, aku bahkan punya hitungan hari sendiri. Sehari yang seharusnya 24 jam, bagiku cukup dari pukul 08.00 sampai 17.30. Lewat dari itu bagiku hari sudah berganti, karna aku tak lagi harus sibuk memikirkan soal kerjaan, pokoknya dapat pukul 17.30 aku akan tiba-tiba amnesia soal kerjaan, selesai atau belum, harus dilanjutkan dihari berikutnya. Itulah enaknya ditempat kerjaku ini. Agaknya karena itulah pula hari-hari disini rasanya cepat berlalu. Tahu-tahu udah malam aja, tiba-tiba udah ganti hari aja, ya begitulah seterusnya.
Sedikit lagi, aku hampir lupa. Ini penting untuk kucatat disini, jadi sampai tulisan ini kubuat, aku masih belum punya meja kerja sendiri. Inilah salah satu hal yang sedikit menyulitkanku dalam menerima pelajaran, karena aku harus manginsolat hujai-hujon. Kadang dimeja SPV, kadang pulak dimeja foreman, mau kadang ditempat Pak Rendy, atau terkadang entah dimana lagi. Pokoknya, selama ada tempat untuk duduk, disitulah kupansolotkan diriku.
Meksi kek gitu, rasanya asyik-asyik saja sih. Apalagi, manajerku sendiri pun mengalami nasib yang sama. Dia juga belum punya meja kerja. Jadi, rasanya kurang etis juga kalau aku sampai mempersoalkan hal ini, sementara atasanku sendiri pun mengalami hal serupa.
Katanya, alasan aku dan manajer belum diberikan meja kerja karena kami akan pindah ke gedung baru yang lebih besar. Daripada harus mengeluarkan anggaran untuk meja yang nantinya mungkin tidak terpakai lagi, lebih baik menunggu sampai kepindahan itu terlaksana. Jadi, untuk sementara, sampai akhir atau awal November nanti, biarlah aku manginsolat ke sana kemari dulu. Sejujurnya, aku tak terlalu keberatan dengan keadaan ini.
Toh, ini hanya sementara. Selama gajiku tetap utuh setiap bulan, rasanya masih bisa kumaklumi itu semua. Hanya saja, aku harus mengakui bahwa keadaan ini sedikit menghambat proses belajarku dimasa-masa awal bekerja. Tapi, ga apa-apa.
Lain soal meja kerja tadi, adanya lagi yang membuatku agak kesulitan dalam belajar. Apalagi kalau bukan bahasa Mandarin itu. Semuanya serba Mandarin. Dokumen-dokumen keuangan, nota-nota, bahkan komputernya pun pake sistem berbahasa Mandarin pulak. Bayangkanla, pakai Excel berbahasa Inggris pun awak masih hosah-hosah, ini malah berhadapan dengan Excel ber-aksara China pula. Sayopp maa! Kadang aku sendiri pun bingung mau mulai belajar dari mana. Mau tak mau, harus awak pelajarilah pelan-pelan, meski terkadang kepala rasanya mau pecah melihat tulisan si Wong Fei Hung itu. Tapi, ya kekmana lagi namanya juga belajar. Gak mungkin pula semua harus langsung kupahami dalam sehari yakan.
Begitulah, disela urusan pekerjaan dan waktu berkumpul-kumpul sama kawan, aku mulai mengenal lebih jauh bagaimana sebenarnya pekerjaanku ini berjalan.
Rupanya tak melulu duduk di kantor berhadapan dengan komputer, mar ac² atau berkutat dengan dokumen-dokumen yang sebagian besar berbahasa Mandarin itu.
Setiap minggu, paling tidak satu kali, aku harus melakukan inspeksi. Kadang ke gudang persediaan, kadang ke Ferronickel untuk mengecek Batu Bara, Pasir Silika, Magnesia, Clay dan entah macam-macam material curah lainnya. Dari situ aku mulai sadar, ternyata untuk memahami pekerjaan ini, aku tak bisa hanya mengandalkan apa yang kulihat dilayar komputer atau yang kubaca dari dokumen. Sesekali memang harus turun sendiri, melihat barangnya, memahami kondisinya, dan pelan-pelan mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi di lapangan sana. Meskipun terkadang masih bingung, setidaknya aku mulai punya gambaran tentang pekerjaan yang sedang kupelajari ini.
 |
| Pengecekan perangkat keras untuk kebutuhan peleburan biji nikel di area Kontainer Kawasan Berikat area Selatan |
 |
| Inspeksi Rotary dryer, alat menurunkan kadar air biji nikel basah dari sekitar 35–40% menjadi sekitar 20% sebelum masuk ke proses kalsinasi dan peleburan |
Untungnya, belakangan ini aku udah mulai terbiasa. Memang kalau soal menyesuaikan diri udah makan-makanku itu dari dulu, bahkan untuk hal-hal yang terasa berat sekali pun, lama kelamaan pasti ada aja jalannya sampai aku mulai terbiasa dan jatuh suka. Memang awalnya buat pening, dan bikin minggot tujuh keliling, tapi setelah dijalani ternyata lebih seram dari yang kubayangkan. wkwkwk
Tapi okelah, lakoni aja dengan riang gembira, seperti nasihat mbok Sukarti dulu, Yen wani ijo wedi-wedi, Yen Wedi ojo wani-wani. Kalau berani jangan takut², kalau takut jangan sok berani, nah attar kek gitulah. Karena itulah aku putuskan untuk memilih berani. Apapun yang terjadi, dos na mangan indahan do sidea, heheh
Aku pun percaya kalau aku pasti bisa. Entah bagaimana pun caranya nanti, yang jelas aku percaya saja dulu. Karena, kalau dipikir-pikir, apa lagi modal yang kupunya selain kemauan belajar dan keyakinan, yakin kalau aku pasti bisa melewatinya. Karna aku belum tentu lebih pintar dari orang lain, juga belum tentu lebih cepat paham, tapi setidaknya aku tak mau menyerah hanya karena terasa sulit diawal. Itu ajanya modal yang kupunya. Percaya kalau aku pasti bisa, lantas kujalani semuanya pelan-pelan sampai benar-benar bisa. Toh, tak semua orang harus langsung pandai sejak hari pertama kan? iya kan??.
Barangkali karena semangat itulah, pada saat pertama kali mengikuti rapat mingguan bersama pimpinan, aku dengan penuh percaya diri menjadi orang pertama yang mempresentasikan laporan dalam bahasa Mandarin. Percaya dirinya bukan main. Entah dari mana datangnya keberanian itu. Dan tau apa yang terjadi... seisi ruangan tertawa ngakak mendengar aksen Mandarinku yang amsyonggg!!!.
Untungnya, manajerku tak ikut ketawak.
Beliau tetap memperhatikan laporanku sampai selesai, seakan-akan dia sedang mendengarkan presentasi yang paling serius pagi itu. Begitu aku mengakhiri presentasi, dia langsung bertepuk tangan dengan ceria. Orang-orang lain pun memang ikut bertepuk tangan dengan keras. Hanya saja, tepuk tangan mereka dibarengi senyum-senyum kambing yang membuatku sadar bahwa penyampaianku tadi memang cukup menghibur mereka. Sampai sekarang, aku masih ingat betul kejadian itu. Selasa, 15 September 2026, di ruang meeting 328. Tanggal, tempat, dan suasananya masih melekat dalam ingatanku. Entah bagi orang lain kejadian itu lucu-lucuan biasa, tapi bagiku, ada hal yang lebih penting daripada sekadar menjadi bahan tertawaan pagi itu.
Peristiwa ini menjadi pembuktian bagi diriku sendiri bahwa mentalku sudah teruji.
Aku berani maju meski kemampuan bahasa Mandarinku sangat amburadul. Aku berani tampil dihadapan para pimpinan meski ada kemungkinan ditertawakan. Dan memang betul aku ditertawakan. Tapi toh aku tetap menyelesaikan presentasiku sampai tuntas.
Bagiku itu cukup. Karena, siap tempur bukan berarti harus selalu menang-kan, apalagi harus terlihat pintar. Kadang-kadang, siap tempur itu ya berani maju dulu dengan segala kekurangan kita, bahkan harus siap menahan malu ketika harus ditertawakan, tapi jangan lupa membawa pulang pelajaran untuk diperbaiki dikemudian hari.
Kalau harus berdarah-darah dulu, ya sudahlah, berdarah-darah saja. Yang penting jangan lari dari gelanggang.
Syukurnya, kejadian itu justru menjadi catatan penting bagiku. Menjadi cambuk keras biar aku semakin menggalakkan dapur pacuku. Aku tahu perjalananku masih panjang, bahasa Mandarin yang payah itu pun masih harus kupelajari, dan masih banyak hal yang belum kukuasai. Tapi setidaknya hari itu aku bukan orang yang gampang mundur hanya karena ditertawakan banyak orang.
Sampai suatu waktu, Manager Miao mengundang kami anak buahnya untuk makan malam bersama. Setelah makan besar, kami lanjut KTV-an sambil makan dan minum-minum lagi. Cerita dari kawan-kawan, katanya memang begitulah kebiasaan Manager Miao ini, dalam sebulan bisa dua sampai tiga kali mengundang untuk makan bersama, atau paling tidak meneraktir minuman setiap hari Jumat.
Nah waktu KTV itu, aku diajak nyanyi sama Manager Miao. Entah gimana ceritanya, seolah-olah dia tahu aja kalau aku suka bernyanyi. Lebih lucunya lagi, lagu yang dipilihnya kebetulan lagu yang aku tahu pulak, judulnya Ai Pia Cia E Ya. Tanpa banyak pikir, kami pun bernyanyi bersama dengan akrab.
 |
| Moment ketika aku dan Manager Miao bernyanyi bersama lagu Hokkien Ai Pia Cia e Ya |
 |
| KTV Bersama Manager Miao Xiaojun |
Waktu itu aku merasa seolah Manager Miao sedang menunjukkan sesuatu kepada teman-teman yang lain. Kalau anak yang kemarin mereka tertawai karna aksen Mandarinnya berantakan itu ternyata bisa juga bernyanyi lagu Hokkien dengan baik bersamanya. Aku tak tahu apakah memang itu maksudnya atau hanya perasaanku aja. Tapi yang jelas, malam itu terasa menyenangkan sekali, bisa nyanyi bersama dan dirangkul hangat sama beliau, sungguh ini adalah penerimaan yang menyentuh hati.
Dari semuanya, satu hal yang ingin kupesankan, bahwa hidup tak pernah menunggu kita untuk siap. Maka, belajarlah sambil berjalan, bertumbuhlah sambil tertatih. Yang paling menyedihkan bukanlah menjadi bodoh dihadapan orang lain, tapi merasa cukup pintar sampai-sampai tak lagi punya keberanian untuk belajar dan memperbaiki diri.
Aku harus merangkak memahami banyak hal, biarlah. Aku lebih rela dipermalukan karena sedang belajar, daripada kelak menyesal karena terlalu takut untuk mencoba. Kalau kuingat dulu gimana nasib kupertaruhkan di kehidupan yang luntang-lantung, semakin kusadari bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang tetap memilih berjalan ketika tak ada lagi alasan untuk berharap, harga diri diinjak keadaan, keyakinan diguncang kenyataan, dan tak seorang pun sudi bertepuk tangan.
Waktu tak akan memberi penghargaan kepada mereka yang sekadar ingin terlihat hebat, penghargaan itu akan dianugerahkan kepada mereka yang bersedia melewati kehinaan proses demi menjadi lebih baik.
Ahhh okeehlah, begitu dulu catatan pertama edisi Celebes. Terimakasih sudah berkenan membaca sampai selesai. Entah apa yang kelak akan kutuliskan lagi disini, kita lihat saja nanti. Sampai jumpa dicatatan berikutnya.
Salam dari Morowali–
Oktober 2026,
Poltak Pendongeng Miskin———
Komentar
Posting Komentar