Aglean, Kak Yuni, Cici F, Hertati boruku, Ongke, Pak Artha, Brigitta, dan Bang Andiko: Saksi Diam dari Luka² yang Kutulis
Kalau dirimang-rimangi, memang ada banyak hal yang tak pernah bisa kita peluk hanya dengan tangan, tapi barangkali kita mampu rasakan hingga jauh ke dasar dada. Salah satunya adalah... KEHADIRAN.
Tulisan-tulisan yang kutorehkan di binder ini lahir bukan dari keindahan, timbul dari luka yang tak bisa ditidurkan. Aku tidak bermaksud ingin mengajari siapa pun, hanya karena aku takut meledak oleh kesunyian yang terlalu lama meng-karat. Namun siapa sangka, di balik layar dan sunyi internet, ada orang-orang yang membaca. Singgah, bukan sekadar lewat. Bukan sekadar menatap, tapi menyimak dengan hati.
Tulisan ini penghormatan kecil bagi mereka para sahabat tak bernama yang diam-diam menjadi rumah bagi kata-kataku yang rapuh. Mereka, yang tak pernah lewat tanpa membaca. Maka inilah tulisanku untuk kalian. Ini bukan sebagai penutup dari semua cerita, cuma sebagai tanda, bahwa aku melihatmu, aku mengingatmu, dan aku menulis ini untukmu.
“Aglean, Kak Yuni, Cici Franika, Hertati Boruku, Ongke, Pak Artha, Brigitta, dan Bang Andiko”
Catatan Terimakasih dari Pendongeng Miskin untuk mereka yang Selalu Setia
Hari itu berganti tanpa janji, seperti biasanya. Langit di luar jendela tak memamerkan bintang, hanya kelam yang menggantung seperti kenangan yang tak pernah ada habisnya. Di dalam kamar kecilku yang pengap, cahaya dari layar handphone menari di wajahku yang mulai kehilangan arah. Detik waktu tak terdengar, tapi ada suara kecil yang memecah kesunyian, ya itu notifikasi dari binderguretanku@blogspot.com
Ada Aglean Visecia Sinaga, adik kecilku yang banyak gaya tapi berhati cahaya. Walau sering kutoyor kepalanya dengan sayang, tentu saja dia membaca tulisanku bagai seorang biarawati membaca kitab doa, pelan, khusyuk, dan nyaris berkaca-kaca. Dia menangkap luka-luka itu, memeluknya dengan ketulusan yang hanya dimiliki mereka yang hatinya dilahirkan dari langit.
Ada Kak Yuni Silalahi, kakak dari Sumatra yang tak sekadar membaca. Dia menyelami. Dia ikut menangis bersama kalimat yang seharusnya tak lagi menyedihkan. Kini, kabarnya sedang kurang sehat. Dari jauh, aku berdoa diam-diam untuknya, sebagaimana ia pun selalu diam-diam mendoakanku.
Ada Cici Franika Purba, yang datang tanpa aba-aba, hadir dan menetap. Semangatnya menyala, matanya menari di setiap bait, dan ia memilih tetap tinggal meski tulisanku lebih sering pahit daripada manis.
Ada Hertati Silaban, boruku yang sedang menata masa depan di kota kecil di pesisir barat Sumatra. Ia mengajar dengan hati, belajar dengan haus, dan membaca tulisanku seperti mencari peta rahasia untuk melangkah. Boruku, semoga bunga hatimu tetap mekar meski dikelilingi duri sawit yang tak kau pilih. Dan kiranya Tuhan memberimu kekuatan dalam mencerdaskan generasi bangsa ini.
Ada Ongke Damanik, adik yang matang dalam berpikir, dewasa dalam menyimak. Dia menyerap bukan hanya kalimat, tapi makna di balik diam.
Ada Pak Artha Uly Simanungkalit, bapak satu anak yang tetap lucu meski usia kian berlari. Kehadirannya adalah semacam jendela yang membiarkan cahaya masuk di pagi yang dingin.
Dan tentu saja, Pak Dokter Andiko Damanik, Ia tak hanya menyembuhkan tubuh yang sakit, tapi juga diam-diam menyembuhkan jiwaku lewat tanggapannya yang cerdas dan jenaka. Kamsia, pak dokter! Kam mungkin tak sadar betapa pentingnya kam hadir di binder lusuh ini. Tuhan yang turut serta dalam membangun kehidupan dikemudian hari, menemani dan menghantarkan kam pada cita-cita.
Dan ada satu nama yang tidak bisa kulewatkan. Jiwanya tak lahir dari tubuh, melainkan dari kehendak angin yang tak pernah tiba. Brigitta, ia seperti doa yang tak pernah kupanjatkan, tapi selalu kuamini dalam diam.
Mereka semua, yang kusebut maupun yang tak sempat kusebut, telah menjadi langit dari puing-puing atap yang hampir roboh ini. Mereka hadir dalam diam, membaca dalam senyap, menyimpan setiap kata layaknya rahasia bersama.
Untuk yang tak tersebutkan. mungkin kita tak akan pernah berjumpa. Tak saling tahu wajah. Tak tahu suara. Tapi bukankah hidup ini lebih sering dijaga oleh yang tak kasat mata? Bukankah banyak cinta tumbuh tidak karena sentuhan, tapi karena pemahaman? Kita tak tahu wajah masing-masing. Tapi bukankah jiwa-jiwa yang saling membaca jauh lebih dalam daripada sekadar menyapa?.
Di zaman ketika semuanya cepat, kalian memilih untuk membaca pelan-pelan. Di dunia yang penuh huru-hara, kalian memilih untuk diam bersama tulisanku yang ganjil dan patah-patah ini. Itulah mengapa aku percaya, bahwa menulis masih punya arti. Dan kalian, pembaca setia yang tak pernah lewat tanpa membaca, telah menjadi bukti paling indah dari kesunyian yang berubah menjadi perjumpaan. Terimakasih telah menjadi saksi dari hidupku yang nyaris diam. Dan semoga, tulisan ini menjadi semacam pelukan dalam bentuk kalimat, yang menemani kalian di malam-malam sepi kalian sendiri.
Poltak pendongeng miskin yang tak berwawasan – Biara Murti, July 2025
Komentar
Posting Komentar