Catatan Terakhir si-Kuda Liar


Bahkan seonggok besi tua itu pun rupanya tahu kapan waktunya dia berhenti ikut mengiringi perjalananku. Mati dan, dia tak minta diperbaiki lagi. 


“Mas, uang kost bulan depan naik ya jadi 625.”

“Siap ibu, terimakasih informasinya.”

Tau kalau uang kost bulan depan naik jadi 625, aku pun makin mantap untuk meninggalkan biara murti yang sudah hampir 9 tahun kutinggali ini. Sanggup pulak rupanya ibu kepala biara kami ini menaikkan uang sewa ke awak yang penghuni lama. Makanya kuanggap ada dua gondangnya kenapa dinaikkannya uang sewa itu. Pertama, memang karna pengen untung lebih banyak. Kedua, ya mungkin memang ada niat mau mengusir awak pelan-pelan. Soalnya udah terlalu lama juga awak tinggal disini. Kupikirkan matang-matang maksudnya itu. Makanya pelan-pelan mulai kubereskan barang-barangku. Buku-buku, kertas-kertas lama, perabotan, mading, sama barang-barang lain mulai kubongkar satu-satu. Termasuk niat untuk menjual si kuda liarku ini.

Langsunglah kutawarkan ke orang-orang dari marketplace di Facebook. Ternyata ada juga yang mau beli, meskipun tawaran harganya ngeri kali. Tapi tetap kupertimbangkan juga tawarannya itu. Soalnya si kuda liarku ini memang udah setahun lebih tak bisa hidup lagi. surat-suratnya pun tak lengkap. Wajar ajalah kalau ditawar nggak ngotak begitu. Sayang juga kulihat dia diam di parkiran, berdebu kek gitu, ban kempes, macam sama-sama capek kami rupanya. Dulu ke mana-mana selalu kupake. Panas hujan, pagi malam, dia juga yang ngantar awak ke mana-mana. Sekarang malah sama-sama diam pulak kami. 


“Om, coba kirim photonya.”

Langsung kukirimlah fotonya.

Gak lama kemudian dibalasnya lagi,

“Wah saya hanya berani bayar 600 om kalau begitu. Surat-suratnya juga ga ada semua.”


“Ya sudah ga apa-apa ambil aja pak. Sekalian juga buku-buku saya ada ini satu almari yang mau saya jual ke jenengan. Kalau buku berapa sekilonya pak?”

“Buku 1500 om. Kalau omnya punya kipas, atau hape-hape bekas yang udah rusak juga tak ambil kok om.”

Langsung kuingat ada kipas rusak yang dari dulu cuma jadi penghias sudut kamar ini.

“Oh iya, saya ada kipas rusak satu pak. ntar sekalian angkut aja deh semuanya ya.”

“Okay siap om, nanti sore tak jemput ya om.”

“Injjih pak, mohon dikabarken saja njjih,” kataku.


Singkatnya, si kuda liar akhirnya laku terjual 600 ribu. Sementara buku-bukuku cuma dapat 58 kilo. semuanya langsung diuangkan sama bapak tukang rosok tadi.

Tanpa banyak drama, kulepas juga kepergian si kuda liar itu. Sedikit pun tak ada sedih dihatiku. Memang dari awal aku sudah mantap mau menjualnya. Soalnya terlalu banyak kenangan yang kami lewati sama-sama, dan terus terang aku malas mengingat semuanya itu lagi. Walaupun rasanya kayak ada yang janggal, tapi kuanggap ajalah ini awal dari cerita baru.

Tinggal nunggu pindah dari biara inilah awak. Sekalian nanti kuwariskan dulu kursi, meja, sama sebagian buku yang tak kujual itu ke adek-adekku. Lumayanlah, daripada nanti diborong lagi sama tukang rosok kiloan. Kasihan juga buku-buku itu. Dulu susah payah awak belinya, sampe rela tak makan enak demi satu dua buku, yang kupikir bisa mengubah hidup awak ini. Ternyata ujung-ujungnya cuma ditimbang juganya jadi kiloan. Ya begitulah dulu. 

Seminggatnya si kuda liar dari parkiran biara ini, aku yakin ibu kepala biara itu pasti udah tau kalau itu pertanda awak juga mau pindahan dari biara murti ini. Makin longgarlah attong jadinya parkiran itu. Jadi lapanglah, biasanya si kuda liar tegak di kotak ujung, persis depan pintu kamarku. Sekarang udah kosonglah attong. 

Kalau balek lagi kebelakang, riwayat persahabatanku sama si kuda liar ini sebetulnya ga begitu lama. Cuma dimulai dari tahun 2019. Waktu itu abangku marga Damanik, Lando namanya, dialah yang mewariskan kuda liar itu ke aku. 
Dia tau awak ga ada motor, kemana-mana susah. Jadi pas se-tamatnya dia, dikasihnyalah motor itu ke aku. Dan waktu itu tak ada surat-surat apa pun yang ditinggalkannya. Hanya nyawa si kuda liar itu ajanya yang ada. Ya tentu dengan hati yang bergembira kuterimalah warisan itu. Jadi ada lah jalan-jalanku kemana pun, termasuk ke partandangan.

Aku pun tak pernah malu menunggangi si kuda liar ini ke partandangan. Ga tau kalau cewek-cewek yang kutandangi dulu merasa malu atau nggak lihat awak datang naik motor itu. Yang pasti aku selalu percaya diri menungganginya. Apalagi kalau udah lewat tanjakan gombel. Langsung ku kipas pake gigi 3, dan enteng kali si kuda itu mendaki. Macam tak ada beban hidupnya.

Sayang beribu sayang memang diakhir hayatnya, makin banyak penyakit si kuda liar ini. Rem putuslah, kopling cepat habislah, gigi tarik auslah, macam-macamlah tahe. Sampai akhirnya tak pernah lagi dia bisa hidup. Dan lucunya, parmatinya pun bukan waktu kupake di jalan trus lanjar mogok mendadak, bukan. Mati diam-diamnya dia. Tak bersuara. Pelan-pelan dia kehilangan daya hidupnya. Awak pun ga sadar. sampai suatu hari kucoba mangengkol masinnya, ternyata udah kaku. udah kekunci dari dalam. Udah gem rupanya. Maka selesailah riwayat si kuda liar.

Makanya diawal tadi kubilang malas mengingat semua kenangan sama si kuda liar ini. Karena memang pahit kalau diingat lagi. Bukan berarti aku mau mengkhianati cerita yang pernah terjadi itu. Memang semua nyata adanya, dan emang pernah kulewati. Tapi ya sudahlah, udah kunggap juga selesai semuanya. Soalnya kalau mengingat si kuda liar ini, mau tak mau pasti tersangkut juga ke kisah cinta masa lalu awak. nah, karena itulah kubilang malas tadi. Nama si kawan itu, sama semua kenangan yang ditinggalkannya, sebenarnya udah lama kubuang jauh-jauh ke ujung dunia. Setidaknya begitu yang selalu kuyakinkan ke diriku sendiri. Cuma ya kek gitulah, kalau kulihat kuda liarku itu teringat pulaknya awak lagi sama dia. Memang hanya teringat ajanya nian, nggak ada perasaan apapun lagi.  

Perasaan sedih terjualnya si kuda liar ini langsung pulaknya ku-konversi jadi perasaan yang membahagiakan. Ya selain awak dapat uang juga sih. Tapi dihati terdalam, kulepaskan dia macam melepas penyakit. Membuangnya jauh-jauh. Sangat berharap pepatah lama itu benar adanya, tentang patah tumbuh, hilang berganti. Esa hilang, dua terbilang. Bukan berarti awak kejam, habis manis sepah dibuang. Bukan begitu. 

Cuma ya kek gitulah cara awak bertahan. kuubah energinya jadi rasa optimistis. Kupikir, mungkin perginya si kuda liar ini nanti pelan-pelan akan terganti juga sama kuda liar yang baru. Haa attar… kira-kira begitulah jalan pikiranku. Awak cobanya tetap optimis attong, meskipun kenyataan hidup lebih sering memukul mundur daripada mendorong maju. Tetap aja kucoba menulis cerita baru, meskipun lembarannya sendiri rasanya belum ada di tanganku. 

Mungkin masih dikirim kurir di perjalanan. Atau malah kertasnya masih berbentuk bubur kayu, belum dicetak pabrik. Ga apa-apa. Tetap aja kutulis dulu ceritanya. Nanti kalau lembarannya datang, tinggal kupindahkan saja semuanya. Kalau pun untuk sementara ini awak cuma bisa nulis di atas tanah basah, yang sewaktu-waktu bisa aja hilang dihapus hujan, ya biarlah. Setidaknya awak masih menulis. Masih percaya kalau hidup ini belum selesai. dan masih cukup keras kepala untuk terus berharap, meskipun berkali-kali dibuat kalah sama kenyataan. 

Cukup sekian. Tak usah panjang-panjang. Terimakasih yang tak terhingga untuk bang Lando sudah mewariskan si Kuda Liar. Terimakasih untuk Kuda Liar yang sudah mau untuk kuwarisi. 


Catatan terakhir si Kuda Liar—
Biara Murti, 17 Mei 2026 

Aku, Poltak Pendongeng miskin———


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum dan sesudahnya ๐Ÿ•Š

Untukmu, disana—

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat