Postingan

Diantara pusara dan pasar, antara kereta dan doa

Diantara Pusara dan Pasar, Antara Kereta dan Doa Bagiku Ini upaya diam-diam untuk menjahit luka yang tak pernah benar-benar sembuh, antara nama besar yang disingkirkan dan suara ibu yang tak henti memanggil pulang.  Di dalam kereta menuju Solo, yang kuharapkan bukan sekadar tiba di stasiun, tapi mungkin, bertemu dengan seseorang yang bisa memberiku arah. Entah itu seorang oppung yang dikuburkan dalam sunyi sejarah, atau seorang ibu yang duduk di kursi sebelah menyampaikan nasihat yang terdengar seperti restu. Cerita ini adalah catatan patah dari perjalanan kecil yang tak diminta untuk disebut penting, tapi bagiku, ini adalah cara satu-satunya untuk pulang. Pulang pada sejarah yang ditinggalkan. Pulang pada Ibu. Pulang pada diri sendiri. M alam itu, 22 Juli, lewat sedikit dari pukul delapan malam, aku mengirim pesan pada Riska, adikku tondi tondi ni abg. Hanya dengan satu kalimat pembuka,  “Kongg, besok ada acaramu nang?” Aku menyapanya seperti biasa, dengan panggilan yang hang...

Aglean, Kak Yuni, Cici F, Hertati boruku, Ongke, Pak Artha, Brigitta, dan Bang Andiko: Saksi Diam dari Luka² yang Kutulis

Kalau dirimang-rimangi, memang ada banyak hal yang tak pernah bisa kita peluk hanya dengan tangan, tapi barangkali kita mampu rasakan hingga jauh ke dasar dada. Salah satunya adalah... KEHADIRAN . Tulisan-tulisan yang kutorehkan di binder ini lahir bukan dari keindahan, timbul dari luka yang tak bisa ditidurkan. Aku tidak bermaksud ingin mengajari siapa pun, hanya karena aku takut meledak oleh kesunyian yang terlalu lama meng-karat. Namun siapa sangka, di balik layar dan sunyi internet, ada orang-orang yang membaca. Singgah, bukan sekadar lewat. Bukan sekadar menatap, tapi menyimak dengan hati.  Tulisan ini penghormatan kecil bagi mereka para sahabat tak bernama yang diam-diam menjadi rumah bagi kata-kataku yang rapuh. Mereka, yang tak pernah lewat tanpa membaca. Maka inilah tulisanku untuk kalian. Ini bukan sebagai penutup dari semua cerita, cuma sebagai tanda, bahwa aku melihatmu, aku mengingatmu, dan aku menulis ini untukmu. “ Aglean, Kak Yuni, Cici Franika, Hertati Boruku, Ongk...

Si Tulang Freeport: “Datang Tanpa Oleh-Oleh, Pergi Tanpa Kenang-Kenangan”

Si Tulang Freeport: “Datang Tanpa Oleh-Oleh, Pergi Tanpa Kenang-Kenangan” (Catatan singkat dari pertemuan yang terburu-buru, oleh Poltak si pendongeng miskin) “Horas...!!!” Begitulah aku membuka pintu rumah tua di perempatan jalan itu. Sejenak kulihat bangunan itu tampak rapuh di mataku, tapi di dalamnya tersimpan ribuan kenangan yang tak lapuk oleh waktu. “ Bahh, na ro do lae!” seru seseorang dari dalam. Itu suara Lae Amani El Tamba, yang masih saja berseloroh seperti dulu. Tak lama, anak-anak berlarian menyalamiku, tangan kecil mereka menggenggam erat tanganku. Ada dua puluhan jumlahnya cucu-cucu dari namboru kami, Op Prando boru, yang telah pergi setahun lalu. Aku datang terlambat, bahkan untuk sekadar melihat wajahnya yang terakhir. Di dapur, tanpa banyak kata, Ito Nai Paima sudah menyeduh kopi hitam untukku. Ia istri dari Lae Riwal, si bungsu di rumah itu, yang baru saja menikah tiga hari lalu. Aku pun tak sempat hadir di hari bahagia mereka. “Selamat berbahagia da ito,” ucapku...

Langkah Sunyi Seekor Petarung

Sementara langit sore melukis dirinya di atas atap biara Murti ini, aku masih duduk sendiri di ujung kasur tua yang lusuh, masih mendengar suara angin merambat pelan, seperti bisikan ibu yang menyuruhku pulang, lembut dan penuh desakan. Aku tak menjawab. Bukan karena aku tak ingin pulang, bukan karena hatiku telah dingin oleh kota, hanya karena ada sesuatu yang belum selesai dalam diriku sendiri. Dan aku tak ingin pulang dengan hati yang masih compang-camping. Sejak dinyatakan lulus dari Undip, dari kota perjuangan yang telah menyeka peluh dan air mata, aku menetap di sudut kota ini. Bukan kota besar. Tapi cukup sepi untuk membuatku mengenal kembali suara nafasku sendiri. Di ruang biara ini, hari-hari berganti tanpa kejutan. Pagi datang seperti biasa, membawa matahari yang sayu. Dan malam datang pelan-pelan, seperti kenangan yang tak pernah hilang. Orangtuaku, dari kampung jauh di tanah yang subur, terus bertanya, “Kapan kau pulang, Nak? Di sana apa yang kau cari?” Aku hanya tersenyum ...

Anggii boru payung Part III: Sejauh Jalan Menuju Lupa

Sore itu, jalan raya tidak begitu padat. Langit mendung seolah menimbang apakah perlu menangis atau cukup mendung saja. Di tengah perjalanan menuju Nasmoco, handphone-ku bergetar pelan, mengusik diam yang sejak tadi kutumpangi. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari adikku di Sumatra.  Gambar tangkapan layar. Anggi.  Ia duduk bersama seorang pria, tersenyum. Senyum pria itu teduh. Tampak seperti seseorang yang sudah lama mengenal damai, atau setidaknya bisa membuat seseorang percaya bahwa damai itu mungkin. Mungkin, dialah lelaki yang kini menggenggam tangan Anggi, yang dulu sempat kugenggam namun terlepas karena sebab yang bahkan hingga kini tak seluruhnya kupahami. Adikku, dengan gaya khasnya yang setengah menggoda dan setengah menyindir, menulis, “Bangg... lihat ini haa. Dia aja udah dapat penggantimu. Kau kok lalap kek gitu-gitu aja?” Disertai emot ketawa. Kubalas dengan pendek, “Wahh, puji Tuhan. Turut mendoakan yang terbaik.” Tapi sebenarnya, siapa yang benar-benar tulus saat ...

Catatan Kuda Liar #2: “Pesan Cinta dari sudut Parkiran Biara Murti ”

 AKU DAN KUDA LIAR #2: “Pesan Cinta dari sudut Parkiran Biara Murti” Oleh Poltak, si pendongeng miskin yang tak berwawasan Sudah hampir sebulan, kuda liarku terdiam di sudut parkiran Biara Murti ini. Ia tidak lagi meringkik di pagi hari, tidak lagi menggelitik telingaku dengan dengungan tuanya yang khas, tak lagi membawaku menjelajahi kota dengan angin yang mengusap pelipis dan kenangan yang jatuh satu-satu dari langit malam. Dan setiap aku membuka pintu kamar kecilku, entah mengapa, selalu kutemui dia di sana. Diam. Lusuh. Tapi penuh makna. Seperti patung kenangan yang tak meminta untuk dikenang, namun hadir tanpa perlu diundang. Dia ada, bukan hanya sebagai benda, tapi sebagai tubuh yang dahulu pernah bersamaku menanggung beban. Seperti tubuh yang mengerti luka, tapi tak pernah mengeluh. Aku menyebutnya kuda liar bukan pula karena dia buas, cuma karena dia bebas. Bebas dari gengsi, bebas dari aturan kesempurnaan. Dia tak muda lagi, dan aku pun demikian. Mungkin itu sebabnya kami ...

Empati yang diharamkan, [Membunuh Rasa]| Menguliti Kekosongan Stoik

Empati yang diharamkan, [Membunuh Rasa]| Menguliti Kekosongan Stoik Di atas sebuah kapal kayu tua yang berderak pelan menyusuri perairan Danau Toba, dari Tigaras menuju Simanindo, aku duduk diam. Langit seperti terselip dalam genangan air raksasa itu. Tenang. Datar. Sunyi. Angin menyentuh wajahku seperti tangan seorang ibu yang sedang meninabobokan kesedihan. Tapi justru di saat seperti inilah, aku melihat ketabahan yang tak utuh, dan kekosongan yang menyaru sebagai kebijaksanaan. Aku duduk di bangku kayu, sedikit menjauh dari keramaian, dan memandangi air danau yang tak berkedip. Diam. Datar. Seolah ingin membuktikan pada dunia bahwa semua bisa dihadapi dengan tenang, jika kita cukup tabah. Tapi betulkah ketenangan selalu berarti kebijaksanaan? Di antara deretan bangku penumpang, para pedagang kecil berkeliling, menawarkan jeruk, minuman dingin, dan potong-potong kue kampung dalam plastik yang mulai kusam. Wajah mereka menua bukan karena usia, tapi karena terlalu sering ditolak. Terla...

Ambia dekkk: “Adik yang Kupilih”

Ambia dekkk: “Adik yang Kupilih” Sepotong surat untuk adekku Egi.  Beginilah cara diamku tetap mengasihimu, bahkan ketika kau tak lagi menoleh, untuk itu perlu kau ketahui bahwa kasih tak melulu bersuara, dan tulisan ini adalah buktinya.   Di kehidupan yang tak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata ini, aku menyimpan satu nama didalam dada, dan aku menemukan, adekku Egi Maulana Risky Damanik. Tak sekandung atau pun sedarah, tapi sejak hari pertama mengenalnya lima tahun lalu, sesuatu dalam diriku perlahan memanggilnya, ambia dekk... Aku mengingatnya bukan sebagai luka, akan tetapi sesuatu yang pernah hidup dan belum sepenuhnya mati. Kami lahir tidak dari rahim yang sama.  Tapi sejak langkah-langkahnya tiba di kota ini, dan matanya mencari tempat bernama rumah, hatiku diam-diam membuka pintu. Mungkin karena aku tak punya adik lelaki, maka ketika dia datang seperti embun yang lambat-lambat mengendap dipagi buta, aku tahu…aku menerimanya bukan sebagai tamu, tapi sebagai b...

Antara aku dan aku

ANTARA AKU DAN AKU  Tulisanku ini hanya ingin menjadi selembar bantal bagi siapa saja yang kepalanya terlalu berat menampung keraguan, ketakutan, dan segala hal yang tak selesai. OVERTHINKING , kata orang, dan juga kata adekku, Riska tondii ni abang. Ya begitu katanya...tapi bagiku, itu adalah bentuk lain dari rindu yang belum punya nama. Rindu kepada hidup yang sederhana. Rindu kepada tidur yang lelas dan damai. Juga rindu kepada diam yang tak perlu pertanggungjawaban. Aku tidak menulis ini untuk mereka yang kuat.  Aku menulis untuk mereka yang duduk sendirian pukul dua pagi, yang membuka lembaran kosong bukan untuk berkarya, tapi sekadar ingin merasa ditemani oleh seseorang yang tak akan menghakimi. Jika kau pernah merasa bahwa isi kepalamu adalah penjara, dan kau adalah narapidana yang juga sekaligus sipirnya, maka tulisan ini untukmu. Selamat membaca. Semoga, di antara kalimat ini, kau menemukan jeda untuk bernapas, meski hanya sebentar. Poltak pendongeng miskin, di Biara ...

Di Tepi KEGILAAN

Okay jadi begini ceritaku sore ini, biar kutarik lebih dalam ke palung-palung yang lebih sepi. TENTANG KEWARASAN DAN KEGILAAN.  Kewarasan dalam sistem ini bukan lagi soal stabilitas batin, tapi soal kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial dan ekonomi. Mereka yang bisa menahan tangis di kantor, tetap hadir di pertemuan meski hatinya kosong, dianggap KUAT . Padahal di dalam, jiwa mereka sudah remuk. Sementara GILA di sini bukan sekadar kondisi klinis, tapi simbol dari melawan standar palsu, menolak pura-pura, dan berani hidup sesuai ritme batin sendiri, meski dianggap aneh, gagal, atau bahkan kehilangan tempat di masyarakat.  Jadi, apa benar menjadi waras adalah satu-satunya cara bertahan? Atau justru itu adalah bentuk kekerasan sistemik paling halus?  Jadi Kek gini, sore itu dalam suasana hujan yang dingin, aku duduk berteduh di emperan toko yang katanya sudah tutup sejak pandemi. Tak ada pekerjaan, tak ada panggilan. Hanya ada aku, hujan dan suara kendaraan le...

KEHENINGAN: Pelukan Sunyi, Tempat Terakhir yang tidak Menghakimi

Aku berbaring di dada keheningan, karena hanya dia yang bisa mendengar napas gugupku tanpa menyuruhku tenang. KEHENINGAN: Pelukan Sunyi, Tempat Terakhir yang tidak Menghakimi  Ku pikir…jangan-jangan yang disebut suara hati itu cuma suara orang kalah yang tetap nekat ingin menang padahal semua bukti sudah bilang, “Udah, nyerah aja, boyy”.  Tapi aku tak tahu cara menyerah yang elegan. Kalau menyerah cuma jadi alasan untuk TIDAK BERHARAP , bukankah itu cuma bentuk KEMATIAN pelan-pelan yang DISAMARKAN dengan senyuman?, dan seperti dalam lagu itu,  aku pun bertanya, “Haruskah aku menyerah melawan kebisingan?” ya itu kebisingan batin. Jeritan jiwa yang menggumpal dalam tanda tanya.  Sering aku merasa iri pada burung. Dia bisa terbang bebas, tak harus menjelaskan pada siapa pun ke mana tujuannya. Dia menyanyi, tanpa perlu validasi dari panggung atau penonton. Aku sudah mencoba mendaki semua bukit. Bukit janji manis orang-orang. Bukit kerja keras yang katanya tidak mengkhi...

Mungkin Aku Sudah Sampai, Tapi Tak Pernah Tahu di Mana

“Mungkin Aku Sudah Sampai, Tapi Tak Pernah Tahu Di Mana” Nyaris menjadi desah terakhir, aku yang sudah terlalu lama berjalan, lupa arah pulang, lupa siapa diriku, dan lupa mengapa aku mulai. Saat-saat terberat di tahun 2021-2023  Ketika aku belum banyak tahu, hidup ini kuanggap seperti meneguk air dari tempayan tua.  Cukup segar, dan tak pernah kusangka akan habis.  Aku hidup seperti bocah kampung yang bermain dilumpur kotor, tak peduli apapun.  Kupikir menjadi manusia hanya soal menghirup udara dan menghembuskannya kembali. Sesederhana itu. Sesering itulah aku salah paham, tanpa pernah belajar cara menahan napas di tengah kenyataan. Aku berjalan tanpa alasan, karena segala sesuatu seolah menanti untuk ditertawakan. Kupikir luka bisa diobati dengan tidur, dan kehilangan bisa diganti dengan es krim dua rasa. Aku tak tahu bahwa waktu bisa mencuri semuanya tanpa suara.  Tapi itu sebelum aku kenal yang namanya GELORA . Ah gelora... gelombang yang tak bisa kutebak uj...

Ritme: Pasar yang riuh, Gereja yang sunyi

Aku mengukir cerita, dengan sentuhan sisi terdalam kehidupan sehari-hari, yang mengalir dengan renungan lirih, menggambarkan hidup sebagaimana adanya, sederhana, namun tak pernah kehilangan makna. oleh Poltak sipendongeng miskin yang tak berwawasan  Ritme yang Tak Tertulis: Pasar yang riuh, Gereja yang sunyi  Hari itu ulangtahun adikku Riska, sihetel kami yang sudah berumur 22 tahun katanya. Tak ada lilin baru di atas kue, tak ada dekorasi warna-warni seperti dalam gambar di etalase toko roti. Hanya ada syukur yang sunyi, ada doa yang diam-diam mengalir seperti air kecil di sela bebatuan. Kami rayakan dengan sederhana, secukupnya saja, karena hidup pun kadang tak memberi lebih dari itu. Aku, Romo Wirandus, Aglean, dan Dorc. Entah siapa yang menggagas, tapi tiba-tiba saja kami sudah memacu motor menuju Goa Maria Kerep di Ambarawa. Motor kami melaju seperti pelan-pelan menyusuri sunyi, menyisiri waktu yang masih pekat dan sepi. “Santai-santai aja ya guru”, begitu kata si romo wi...

Catatan si kuda Liar #1: Berjalan Tanpa Rem, Berdoa Tanpa Naskah

“AKU DAN KUDA LIAR”  Tak ada yang luar biasa pagi itu, hanya jalan sepi, udara dingin, dan aku di atas motor tua. di sana, pelajaran hidup menepi tanpa suara. Kuda liarku mogok. Tapi yang paling mengejutkan, aku tak ikut rusak bersamanya. oleh Poltak sipendongeng miskin yang tak berwawasan  Seperti biasa Langit belum sempurna membuka tirai cahayanya, aku berjalan menuju rumah, ya rumah yang telah kuputuskan menjadi tempatku berpulang. Jam tanganku berbisik, “04.15”. Jalanan masih lengang, hanya suara ban sepeda motor dan nyanyian angin yang menggoda dedaunan menemani langkahku. Tiba-tiba, kuda liarku meringkik tak tenang. Rantainya terlepas seperti ingin bebas dari kendali. Remnya patah, pedalnya copot seperti menyerah pada perjalanan. Dan aku?, aku tertawa kecil… Aku takluk pada kerusakan itu, tidak dengan keluhan, namun  PENERIMAAN . Aku turunkan kaki, kuberi napas pada mesin yang megap-megap, dan perlahan, aku pasang kembali rantai itu dengan tangan telanjang. Kupasang...

Anggii boru payung Part II | MAAF 🙏

“Maaf yang Tak Pernah Sampai” Di balik barisan kata ini, aku mencoba merangkai ulang puing-puing hati, menuliskan maaf yang tak pernah sempat sampai. Untuk Anggi, yang pernah aku cintai dengan hebatnya, dan kini hanya tinggal dalam ingatan yang memilukan. |kelanjutan dari Anggi boru payung, ketika waktu memaksa lupa  Jika ada dua jenis kehilangan dalam hidup ini. kehilangan karena takdir, dan kehilangan karena diam yang terlalu panjang. Yaa, aku mengalami yang kedua. Dan diamku, seperti batu hitam di dasar sungai, tetap menetap di sana, tak pernah sempat diterapungkan oleh kata maaf. Ada kesedihan yang tidak menangis. Ia hanya duduk diam di sudut hati, menggigil, dan menatap dunia seperti seorang anak yang ditinggal di stasiun yang salah, tak tahu harus pulang ke mana. Dan begitulah aku… sejak kau pergi.  Anggi, Aku menulis ini bukan untuk mengulang kesedihan. Aku tahu, kesedihan yang dikuliti berulang hanya akan membusuk. Tapi barangkali, dengan menulis ini, aku bisa memulai ...

Kalau Hidup Adalah Lomba, Mungkin Kita Semua Pelari yang Salah Jalur

Ehh... tunggu bentar, jadi ini adalah tulisan ngawur yang meyakinkan, lucu yang menyakitkan, dan tanpa sengaja bisa jadi kontemplatif. Mari kita lihat dari sisi eksistensial,  mengapa manusia begitu fanatik mengejar “ TUJUAN ”, bahkan saat hidupnya sendiri tak pernah dia definisikan dengan jujur. Jadi kek gini, aku curiga ada yang salah dengan hidup ini sejak pertama kali kita diajari berdoa sambil meletakkan harapan di luar diri kita.  Kita diajari mengejar BERKAT , bukan MENGOLAH keberadaan. Diajari berlari menuju kesuksesan, bukan BERDIALOG dengan kebahagiaan.  Diajari menjadi lebih baik dari yang lain, bukan LEBIH JUJUR DENGAN DIRI SENDIRI. Kau tahu. sialnya, semua itu dibungkus rapi dalam kata-kata motivasi. Dalam seminar mahal, dalam spanduk murahan, dan dalam status WhatsApp kakak-kakak gereja. Tanpa sadar, kita semua jadi pelari. Lari dari rasa cukup. Mungkin lari dari keheningan. Atau bahkan lari dari pertanyaan, “Apa sebenarnya yang aku kejar ini?” Beberapa or...