A New Day Has Come
“Roy, posisimu sekarang dimana?” tanya seseorang dari seberang.
“Masih di Semarang.”
“Kekmana? Ada apa?”
“Wah, kukira kau sudah di Sumatra.”
Setelah Zoom selesai, Egi datang menghampiriku.
“Mahua gan ai bang?” tanyanya.
“Lang mahua. Urusan horja don”.
Jawabanku singkat aja. Soalnya memang belum pasti dan belum jelas juga. Aku lalu bilang sama dia,
“Dek, mungkin lang boi dokah hu hasomani be ho. Pori tongon saut on, sidokahan tanggal sapuluh lima ningun das ma au i Sumatera.”
Dia diam.
Aku melanjutkan, “Makani, ningun jorei ma on lobei baen hita. Sanggah ijon pe au, nasagogohku hubaen mangurupi ganupan. Jadi, beres ma lobei lakkah awal on ase boi ma na botoh lakkah selanjutni da dek.”
Egi mengangguk pelan.
Tak lama kemudian dia bilang, “Ayolah, Bang. Kita ke kantin dulu.”
Di kantin itu kami ngobrol cukup lama. Kami menyusun lagi apa saja yang harus dikerjakan, mana yang lebih dulu diselesaikan, atau mana yang bisa ditunda. Obrolan kami sederhana. Tentang tanggung jawab, bahwa ada waktu yang tinggal sedikit, dan itu tidak boleh ditawar lagi. Selesai dari sana aku diantarnya pulang ke biara.
Sebenarnya beberapa waktu sebelumnya aku sudah menjual sepeda motorku, yang biasa kusebut si-Kuda Liar. Banyak orang mungkin mengira aku menjualnya karena mau pulang ke Sumatera.
Bukan.
Motor itu memang sudah lama mati. Lagipula waktu itu rencanaku cuma mau pindah dari Biara Murti ke tempat lain. Sama sekali belum terpikir kalau ternyata yang akan kutinggalkan bukan cuma biara, tapi juga Kota Semarang tercinta ini.
“Tongonnya naing paling lambat tanggal lima belas aku harus sudah di Sumatera?”
Ahhh entahlah.
Baru belakangan kusadari, rupanya itu sedang menjadi hari-hari terakhirku di Semarang. Lucunya, waktu itu aku sendiri belum benar-benar menyadarinya.
Aku sama sekali enggak pernah menyangka, ternyata sepuluh hari terakhirku di Semarang justru menjadi hari-hari yang paling padat. Hampir setiap hari ada saja yang kami kerjakan. Ada urusan yang harus diselesaikan, ada barang yang harus dibereskan, ada orang-orang yang harus kutemui.
Di dalam hati, aku masih terus bertanya.
“Betul nggak ya aku benar-benar harus pulang sebelum tanggal lima belas ini?” Pertanyaan itu terus berulang.
Aku kembali bilang sama adekku Egi.
“Dek, fix sebelum tanggal lima belas aku harus sudah pulang. On lang kemungkinan be. Domma perintah.”
Kami mulai menghitung segala sesuatunya. Aku memutuskan naik kereta dulu ke Jakarta supaya lebih hemat. Dari Jakarta baru lanjut naik pesawat ke Pekanbaru. Kalau tidak salah, tiket pesawatku hari Sabtu tanggal dua belas.
Egi bertanya sambil makan siang.
“Domma gatni ipesan ham tiketmu?”
“Lape daa...”
“Tapi nai ma rencanani dek.”
Begitulah jawabku.
Sesudah makan aku bilang lagi.
“Dek, etah lobei mamboli kardus tah.”
“Tahh bang.” Jawabnya sigap.
Begitulah Egi. Hampir kemana pun aku pergi, dia selalu bersedia menemani.
Kami berhenti di sebuah toko kelontong. Aku membeli dua kardus bekas rokok Gudang Garam. Harganya lima belas ribu satu kardus. Dua kardus berarti tiga puluh ribu. Kubayar pakai Kris, lalu kami langsung kembali ke biara.
Sampai di kamar, aku mulai membereskan semuanya. Baju-baju kulipat satu per satu. Barang-barang yang masih kupikir akan kupakai di Sumatra kumasukkan ke dalam kardus. Dua kardus itu nantinya akan kukirim lewat JNT Cargo supaya barang bawaanku di pesawat tidak terlalu banyak. Lumayankan menghemat biaya bagasi.
Ada juga barang-barang yang akhirnya kutinggalkan.
Kipas angin. Meja. Kursi. Beberapa kabel. Sepatu. Buku-buku. Barang pecah belah. Barang-barang mendaki. Dan banyak benda yang selama bertahun-tahun menemaniku hidup di Semarang. Semuanya kutitipkan kepada adik-adik dan teman-teman. Meja beserta kursinya kutitipkan kepada Roynat. Barang-barang yang lain juga kubagikan kepada mereka yang sekiranya membutuhkan.
Hari Rabu, sebelum badminton, aku meminta Egi, Yudi, Rafael, Jeremy, Roynat, dan Joel untuk menemaniku mengantar dua kardus itu ke JNT Cargo. Mereka langsung ikut.
Setelah urusan cargo selesai, sore harinya kami lanjut badminton seperti biasanya. Begitulah hari-hari itu berjalan.
Rabu.
Kamis.
Lalu tibalah hari Jumat.
Hari Jumat sudah kusiapkan sejak jauh-jauh hari. Aku tahu, malam itu aku harus berpamitan di gereja. Jadwalnya sudah kususun. Egi juga sudah tahu semuanya. Bahkan dia meminjamkan motornya supaya aku lebih mudah ke mana-mana.
Sebelum ke gereja problematik itu, aku lebih dulu pergi ke BSB. Aku berpamitan dulu ke keluarga nanggi Hakim. Hampir seharian aku disana markombur-kombur. Sampai malamnya aku berangkat ke GKPS Semarang untuk mengikuti sermon.
Begitu sampai, Jos sang ketua langsung menghampiriku.
“Bang, tolong abang yang jadi moderator malam ini yaa bangg.”
Aku langsung mengingatkan dia.
“Minggu lalu kan udah kubilang. Mulai sekarang kau aja yang jadi moderator. Aku enggak bisa lagi.”
Jos tersenyum.
“Bang... sekali ini aja. Terakhir kali.”
Dia memang sudah tahu aku akan pulang tanggal duabelas. Waktu kuberitahu beberapa hari sebelumnya, dia sempat terdiam cukup lama. Mungkin sama seperti yang lain, dia juga tidak menyangka semuanya berlangsung secepat itu.
Malam itu sermon berjalan seperti biasanya. Ruangan penuh. Pemuda yang datang malah lebih banyak daripada biasanya. Aku sendiri tak paham kenapa malam itu terasa lebih ramai. Barangkali hanya kebetulan. Barangkali memang Tuhan sedang mengumpulkan kami untuk satu perjumpaan terakhir. Pikirku santai.
Aku memimpin jalannya sermon seperti malam-malam sebelumnya.
Moderator.
Sesi tanya jawab.
Sharing.
Diskusi.
Tidak ada yang berbeda.
Sampai akhirnya seluruh rangkaian selesai. Pimpinan Majelis Jemaat, Sy. Rms Siallagan, mempersilahkanku untuk martading hata. Malam itu aku tidak menangis. Bukan karena hatiku keras. Aku hanya merasa, tidak semua perpisahan harus dibayar dengan air mata.
Aku mulai bercerita dari awal. Tentang sembilan tahun yang lalu ketika pertama kali datang ke Semarang. Tentang seorang anak muda yang datang dari Sumatra tanpa mengenal siapa-siapa. Tentang bagaimana GKPS Semarang menerima orang asing menjadi bagian dari keluarga mereka. Sembilan tahun ternyata berlalu begitu saja.
Di dalam waktu selama itu ada banyak cerita yang kami lalui bersama. Ada sukacita. Ada perbedaan pendapat. Ada kekeliruan yang mungkin pernah kulakukan. Malam itu aku meminta maaf kepada semuanya.
Kupikir setelah aku selesai berbicara, acara juga akan selesai.
Ternyata aku keliru. Satu per satu para majelis berdiri. Mereka juga sudah menyiapkan kata-kata perpisahan untukku.
Dimulai dari setiap kategorial.
Inang.
Bapa.
Sekolah Minggu.
Majelis Jemaat.
Sampai pengurus Namaposo.
Saat itu aku baru benar-benar merasakan, sembilan tahun ternyata bukan waktu yang sebentar. Tanpa kusadari, aku bukan lagi sekadar seorang perantau yang pernah singgah disini. Aku telah menjadi bagian dari mereka.
Malam itu hampir semua orang terkejut. Mereka bilang kepulanganku terlalu tiba-tiba. Seperti tarolos. Terlalu cepat. Seolah-olah ada keadaan darurat dikampung halaman. Aku mengerti kenapa mereka berpikir begitu. Karena aku sendiri pun masih sedang berusaha menerima semuanya.
Aku tak bilang ke mereka kalau aku pulang karena sudah diterima bekerja. Aku hanya menyampaikan satu alasan yang memang keluar dari hatiku. Bahwa aku mau pulang menemani orang tua. Itu memang benar.
Kalau dipikir-pikir lagi, memang itulah alasan yang paling besar. Aku menerima pekerjaan itu bukan semata-mata karena pekerjaannya. Aku menerimanya karena penempatannya dekat dengan rumah. Setelah sekian lama merantau, aku ingin lebih sering bersama bapak dan mamak. Terutama bersama mamaku, si-Oppung Windy boru Soembajak kami.
Setelah mendengar itu, tidak ada lagi yang bertanya. Mereka langsung mengerti. Lalu satu per satu mulai berdiri. Aku masih ingat wajah mereka malam itu. Adek²ku namaposo ada,
Jos.
Juan Naga.
Novi Girsang.
Widya Saragih.
Ingrid Saragih.
Yesia Purba.
Melin Reskiana Purba.
Naomi Maranatha Saragih.
Febby Blesnia bocil.
Moreno Saragih.
Chelsy Purba.
Hotnami Persatuan Sinaga
Inang Vikar Rovina Br. Silalahi
juga didampingi St. Jonnerdi Saragih
Mereka berdiri bergantian, dan masing-masing mulai bercerita, tentang pertama kali kami bertemu. Tentang hari-hari yang pernah kami lewati bersama. Tentang hal-hal kecil yang aku sendiri sudah lupa, tetapi ternyata mereka masih menyimpannya di dalam ingatan. Dan,
Satu demi satu berbicara.
Satu demi satu pula air mata mulai jatuh.
Jos, yang selama ini kukenal cukup kuat memimpin Namaposo, beberapa kali berhenti berbicara. Kata-katanya tertahan. Dia berusaha melanjutkan, tapi dia tak sanggup.
Moreno juga begitu. Ketua PAB itu bahkan menangis sesenggukan ketika menyampaikan kata perpisahannya.
Lalu Widya.
Aku langsung teringat satu kejadian beberapa tahun sebelumnya. Tahun 2023 aku pernah mengerjai mereka. Aku bilang akan pulang ke Sumatra dan tidak kembali lagi ke Semarang. Ternyata Widya menangis sungguhan waktu itu. Bahkan dia sempat meminta satu kaos dariku sebagai kenang-kenangan.
Dan malam ini, cerita itu benar-benar terjadi.
Dia kembali menangis.
Aku sengaja tak melihat ke arahnya.
Aku takut.
Bukan pada air matanya.
Aku takut kalau melihat dia menangis, aku ikut tidak sanggup menahan diriku sendiri.
Tiba-tiba suaranya keras memanggil.
“Bang... tengok ke sini!!!...”
Aku langsung menjawab sambil tersenyum.
"Enggak mau aku...."
Kalau aku menoleh, mungkin aku juga akan menangis. Maka, biarlah malam itu mereka saja yang melihat air matanya masing-masing. Aku memilih menyimpannya didalam hati.
Sementara acara perpisahan masih berlangsung, anak-anak Pemuda Berbahaya sudah menunggu di tempat nongkrong. Ada si-Aglen juga yang membersamai mereka disana. Karena acara di gereja tidak kunjung selesai, mereka akhirnya pindah ke BurEat, ke Mulawarman.
Acara perpisahan di gereja memang berlangsung lama. Hampir pukul sebelas malam baru selesai. Aku sendiri tidak menyangka, sebuah ucapan pamit bisa memakan waktu selama itu.
Waktu terus berjalan. Sekitar pukul setengah dua dini hari aku berdiri. Dengan perasaan yang tidak enak, aku pamit. Mereka semua mengangguk. Tidak ada yang menahan.
Pertahananku benar-benar runtuh ketika aku memeluk adekku Egi.
Kupeluk dia erat sekali.
Entah berapa lama.
Aku hanya berpesan supaya dia tetap menjaga dirinya, tetap menyelesaikan apa yang sudah kami mulai. Banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi rasanya semuanya sudah cukup terwakili oleh pelukan itu.
Egi juga menangis.
Melihat dia menangis, semakin tidak sanggup aku membendung air mataku.
Sesudah itu, kupeluk semuanya. Tidak ada yang terlewat. Teman-teman. Adik-adik. Bapak Sy Rahmanson Siallagan. Bow mamak Krismawan, juga Kela Krismawan. Masing-masing kupeluk sebagai ucapan terimakasih atas kebersamaan yang kami jalani selama ini. Siapa sangka, Stasiun Tawang akan menjadi tempat pertemuan terakhir kami sebelum aku meninggalkan Semarang.
Aku segera menyeka air mata.
Tas kuangkat ke pundak.
Lalu aku berjalan memasuki peron.
Beberapa adik-adik masih sempat mengeluarkan telepon genggam. Mereka merekam keberangkatanku dan meminta kata-kata terakhir.
Aku melambaikan tangan. Tidak banyak yang bisa kuucapkan lagi.
Aku terus berjalan. Mereka perlahan tertinggal di belakang, sampai akhirnya tidak lagi terlihat.
Aku naik ke Kereta Argo Sindoro. Gerbong paling belakang.
Kucari tempat dudukku.
Kutaruh tas.
Kupasang headset.
Sebelum berangkat dari Semarang, aku sudah menghubungi seorang sahabat lama.
Romo Wirandus Marupa Munthe, SJ
Seorang Jesuit.
Beliau bilang akan menungguku di Gambir.
Benar saja.
Ketika aku turun dari kereta, beliau sudah lebih dulu berada di lantai satu.
Aku langsung mencarinya.
Begitu bertemu, rasanya seperti bertemu saudara yang sudah lama tidak bersua. Beliau langsung mengambil ranselku.
“Sini biar aku aja yang bawa, Guru.”
Beban di pundakku langsung terasa lebih ringan.
“Ayo kita makan dulu Guru.”
“Makan ke mana, Mo?”
“Ke Senen.” Katanya,
Aku hanya mengangguk.
Aku memang tak paham tempat-tempat makan di Jakarta. Jadi aku mengikuti saja ke mana beliau mengajak.
Kami keluar dari stasiun.
Lalu naik Transjakarta.
“Guru harus kam coba naik Transjakarta. Biar tahu rasanya kek manaa,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut tertawa.
Sepanjang perjalanan kami bercerita. Tentang Semarang. Tentang kepulanganku. Tentang kehidupan. Tentang rekrutmen pekerjaannya. Dan rarat entah ketentang-tentang apa deba itu, akupun sudah lupa.
Yang pasti sesampainya di Senen, kami makan di sebuah lapo. Makanannya sederhana. Rasanya enak.
Sambil makan, si-Romo bertanya dengan nada serius.
“Guru, kenapa akhirnya kam pulang? Kukiranya masih akan lama di Semarang.”
Aku menjelaskan apa adanya. Bahwa ada pekerjaan yang menungguku di Sumatera. Aku juga bilang, kalau aku ingin lebih dekat dengan orang tua.
Beliau mengangguk pelan. Katanya,
“Syukurlah. Bagus itu guru.”
Jawaban yang sederhana, tetapi membuat hatiku semakin mantap dengan keputusan yang kuambil.
Sesudah makan aku berkata kepadanya.
“Mo, mumpung aku di Jakarta ini, antarkan aku ke Katedral ya. Selama ini awak cuma lewat aja. Belum pernah masuk.”
“Woh ayo, Guru.” katanya dengan antusias.
Kami naik Maxim menuju Gereja Katedral. Begitu sampai, beliau mengajakku berkeliling. Kami masuk ke museum. Bertemu beberapa suster.
Lucunya, beberapa dari mereka memandang Romo Wirandus seperti seorang pastor.
Aku hanya tersenyum. Soalnya ini bukan hal baru, dari dulu itu. Memang pembawaannya sudah seperti imam.
Sesampainya di pool Damri, kami berhenti.
Aku menggenggam erat tangan beliau,
“Mo, sampai ketemu lagi diwaktu yang baik.”
Beliau tersenyum.
“Inggihhh, Guru.”
Aku naik ke dalam bus.
Bus Damri itu perlahan meninggalkan Gambir. Membawaku menuju Bandara Soekarno-Hatta. Perjalananku pulang ke Sumatra masih panjang. Akan tetapi, di dalam hati, aku merasa satu bab kehidupanku di Semarang telah benar-benar SELESAI.
Dan, aku pulanggg... dari rantau
Bapak keluar menyambut.
“Bah, cuma segini barangmu?”
“Iya, Pak.”
“Yang lain mana?”
“Sudah kukirim kemaren pakai JNT Cargo Pak. Mungkin besok atau lusa sampailah.” Sesudah itu aku menyalami beliau. Lalu masuk ke dalam rumah. Di sana mamak sudah menunggu. Oppung Windy Boru.
Kupeluk mereka satu per satu.
Rasanya aneh. Baru beberapa jam yang lalu aku masih berada di Semarang. Sekarang aku sudah berdiri lagi di rumah tempat aku dibesarkan ini. Malam itu kami tidak banyak bercerita. Mereka tahu aku lelah. Mamak menyuruhku langsung naik ke kamar untuk beristirahat. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Rumah kembali sunyi. Aku akhirnya tertidur. Perjalanan panjang itu benar-benar telah membawaku pulang.
Mamak mulai khawatir.
“Jangan-jangan zonk lagi.”
Aku hanya tersenyum.
“Enggak apa-apa Mak. Kalau memang belum jadi, berarti belum rezeki kita.” Entah kenapa, waktu itu aku benar-benar tenang. Mungkin karena terlalu sering mengalami kegagalan. Sampai akhirnya aku belajar bahwa tidak semua hal harus dipaksa menjadi milik kita.
Seminggu kemudian aku diminta menjalani medical check-up di klinik yang bekerja sama dengan perusahaan. Puji Tuhan, semua hasilnya baik. Tidak ada masalah.
Sebelumnya aku memang sempat mencari tahu kisaran gajinya lewat internet. Bahkan saat interview aku juga sempat bertanya. Waktu itu mereka hanya menjawab, nanti bagian Head Office yang akan menjelaskan. Barulah hari itu semuanya menjadi jelas. Dan ternyata, lebih besar daripada yang kubayangkan.
Aku bersyukur.
Bukan semata-mata karena angkanya.
Bersyukur karena akhirnya ada sebuah kepastian setelah sekian lama hidup dalam ketidakpastian sebagai Freeport sejati. Kabar itu langsung kuceritakan kepada mamak. Beliau ikut senang. Wajahnya jauh lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.
Lalu Pimpinan menyampaikan penempatanku, di Kabupaten Rokan Hilir, tepatnya Bagan Batu. Aku sempat terdiam. Bagan Batu bukan tempat yang asing bagiku. Hanya saja, jaraknya cukup jauh dari rumah. Kalau naik motor bisa memakan waktu sekitar tiga jam. Belum lagi harus melewati Jalan Lintas Sumatra yang tidak selalu bersahabat. Meski begitu, aku menerimanya dengan tenang.
Sore harinya aku bercerita kepada mamak.
“Mak, aku ditempatkan di Bagan Batu.”
si-Mamak langsung kaget.
“Loh... bukan di Duri?”
“Bukan.”
Kulihat wajahnya sedikit cemas.
Aku segera menjelaskan.
“Enggak apa-apa, Mak. Di sana sudah disediakan tempat tinggal. Perusahaan ngasih rumah untuk kami.” Mendengar itu, mamak mulai tenang.
Beberapa hari kemudian aku pun berangkat. Semua barang keperluan kubawa. Aku meninggalkan rumah lagi. Meninggalkan mamak lagi. Dan aku marmanda-manda lagi. Tapi, kali ini bukan untuk merantau sebagai seorang mahasiswa. Aku berangkat sebagai seorang pekerja. Membawa amanah dan harapan mereka.
Bagan Batu bukan kota yang asing bagiku. Dan, di sanalah aku membuka kembali lembaran yang baru. Sama halnya ketika pertama kalinya aku membuka kisah di Kota Semarang sembilan tahun yang lalu.
Begitu juga dengan makanannya. Ada banyak rasa yang selama ini kurindukan. Banyak masakan yang sulit kutemukan selama tinggal di Semarang. Di sini, semuanya seperti kembali akrab di lidahku. Mungkin karena itu aku tidak butuh waktu lama untuk mencintai tempat ini.
Selama bertahun-tahun aku mengira seorang perantau sedang mencari tempat untuk pulang. Ternyata dugaanku keliru. Seorang perantau sedang belajar menerima bahwa rumah dapat tumbuh dimana saja, selama masih ada orang-orang yang menyambut kepulangannya dan mendoakan kepergiannya. Aku menemukannya di Semarang. Aku menemukannya lagi ketika kembali memeluk bapak dan mamakku. Hari ini aku menemukannya sekali lagi di Bagan Batu yang beberapa waktu lalu masih asing bagiku.
Aku tak tahu kemana langkah ini akan dibawa sesudah Bagan Batu. Barangkali masih ada kota-kota lain yang sedang menungguku. Masih ada pertemuan yang belum terjadi. Masih ada perpisahan yang belum bisa kuhindari. Semua itu tak lagi membuatku gelisah. Aku pernah hidup sembilan tahun di sebuah kota yang awalnya tidak kukenali, lalu menangis ketika harus meninggalkannya. Hari ini aku kembali memulai dari sebuah kota lain, dengan hati yang lebih tenang daripada sebelumnya.
Dulu namanya Semarang, hari ini namanya Bagan Batu, dan entah esok akan bernama apa lagi. Aku tidak lagi ingin mendahului arah angin. Aku hanya ingin berjalan dengan langkah yang jujur, mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabku, menjaga orang-orang yang Tuhan percayakan kepadaku, dan mensyukuri setiap kota yang bersedia menerimaku sebagai tamu. Sebab itu, bilamana suatu hari nanti aku kembali harus mengangkat ransel dan berpamitan lagi, semoga aku tetap mampu melangkah dengan hati yang sama, hati yang tahu bahwa setiap perpisahan selalu menyimpan sebuah permulaan, dan setiap permulaan selalu membawaku pulang kepada diri sendiri. Akupun tidak lagi bertanya mengapa jalan hidupku harus berbelok ke sini. Aku sadar, ada kalanya menerima jauh lebih menenangkan daripada terus mencari alasan. Kita yang penuh noda ini harus belajar berdiri, membuka dada seluas-luasnya, lalu mempercayakan layar kepada angin yang selama ini tidak kita sadari lebih tahu ke pantai mana kita seharusnya berlabuh.
Komentar
Posting Komentar