Postingan

Romo Wirandus | Kronik Salah Kaprah di Goa Maria

Cerita ini bermula dari ajakan yang terdengar biasa² saja. Akan tetapi, seperti banyak hal dalam hidup, yang sederhana seringkali menyimpan kejutan di dalamnya.  Kami berangkat dengan niat menghadiri misa pembukaan bulan Rosario, tapi pulang dengan membawa kisah yang tak pernah kami duga, kisah tentang panggilan singkat “Mooo” yang menimbulkan salah paham berkepanjangan, hingga temanku Wirandus M Munthe nyaris benar-benar dianggap sebagai seorang pastor.  Yang masih membuatku heran hingga kini adalah bagaimana orang-orang bisa begitu yakin bahwa Romo Wirandus benar-benar seorang pastor. Apakah karena pembawaannya yang tenang dan suaranya yang mantap? Ataukah memang ada semacam aura yang memancar dari dirinya, membuat siapa pun yang melihat percaya begitu saja? Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya kehadirannya memang memantulkan kesan seorang gembala umat, meski sesungguhnya ia hanya awam yang kerap aku panggil singkat, “Mooo.” Mungkin, di situlah letak indahnya sebuah perjal...

Sepucuk Surat dari Tembalang

Suatu waktu dalam hidup seorang pemuda, ketika pena dan kertas menjadi satu-satunya jalan untuk menyampaikan rasa. Malam yang lengang seringkali mengantarkanku pada kenangan itu, saat wajahmu masih terjaga dalam ingatan, seakan engkau baru saja melintas di hadapanku. Di meja kayu yang mulai rapuh ini, kutuliskan kalimat demi kalimat dengan hati yang tak pernah lelah menyimpan namamu. Setiap huruf yang ditorehkan adalah bagian dari diriku, bagian dari hari-hari yang pernah kita lalui bersama di tanah rantau ini. Di sela desir angin yang menyusup melalui jendela, aku menaruh harap agar surat ini dapat menyampaikan betapa dalamnya makna kebersamaan itu bagiku. Inilah caraku menjaga kenangan, menjaga bayanganmu, menjaga segala yang pernah singgah dan tinggal di ruang hidupku. Tembalang, pada suatu sore yang teduh Teruntuk adinda Brigitta br Simbolon yang terkasih, Semoga ketika surat ini tiba, dirimu berada dalam lindungan kasih Tuhan, sehat raga dan tenteram jiwa, serta tiada kekuranga...

Warisan Dendam Oppung Windy Doli

Seperti sedang membuka lembar catatan lama, Setiap huruf adalah pintu kecil menuju pada kenangan yang tidak selalu ingin aku datangi, namun di situlah aku menemukan wajah ayahku yang keras, juga luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Di keluarga kami pernah ada pertengkaran yang begitu panjang, begitu melelahkan, sehingga maut pun tidak mampu mendamaikannya. Aku menulis sebagai anak, yang hanya bisa menyaksikan dari jauh bagaimana seorang ayah dan abangnya saling berpaling. Aku tumbuh dengan perasaan ganjil setiap kali mendengar nama Mula Harapan disebut. Abangkandung ayahku itu bukan sekadar sosok Bapatua diujung marga. Dia adalah bayangan masa lalu, cerita yang selalu hadir dengan nada berat di bibir ayahku. Aku mendengar kisahnya sejak kecil, kadang dengan amarah, kadang dengan diam. Sejak kecil aku mendengar nama itu. Bagiku ia bukan hanya seorang bapatua, juga sebagai bayangan yang jarang hadir dengan ramah. Kisah-kisah yang kuterima lebih banyak tentang pertikaian, bukan pelu...

Mimpi: Terikat pada senyap, Berputar di antara kemungkinan

Saya kerap merasa kisah yang datang lewat mimpi bukanlah sekadar mimpi. Ia hadir tanpa alasan, membawa suasana yang sukar saya letakkan dalam bahasa. Bak sebuah catatan yang diselipkan begitu saja, tanpa pengantar dan tanpa penutup, namun menyisakan jejak yang sulit saya hapus. Dalam mimpi itu saya berada di sebuah desa yang asing sekaligus akrab, rumah-rumah sederhana berdiri di lereng pegunungan, udara tipis menyentuh kulit, dan wajah-wajah yang seakan mengenal saya, padahal saya tidak tahu siapa mereka. Ketika terbangun, bayangan itu tidak hilang. Ia menempel pada kesadaran, membuat saya terus bertanya apakah ada sesuatu yang sedang memanggil saya pulang. Kata “ pulang ” itu sendiri menggantung, tidak menunjuk ke tempat tertentu, tidak mengarah ke masa lalu atau masa depan, hanya berdiri sebagai tanda yang mengusik.  Saya tidak tahu dari mana kisah ini bermula, seolah ia tumbuh begitu saja di antara retakan waktu yang tak bisa saya jamah. Yang tersisa hanyalah perasaan seperti m...

Mamakku dan Tintin Bolah Rotannya

Setiap keluarga pasti ada menyimpan kisah yang tak pernah dicatat dalam buku sejarah, mungkin diwariskan dalam bisik-bisik, dalam obrolan di meja makan, atau dalam ingatan yang tak lekang oleh waktu. Seperti kisah cinta ibu dan bapak saya adalah salah satunya, sebuah cerita tentang janji yang terikat pada seutas cincin, tentang hati yang patah, tentang keberanian untuk memilih, dan tentang restu yang akhirnya memenangkan hati.  Tidak ada yang lebih getir daripada cinta yang dikhianati janji, dan tidak ada yang lebih indah daripada cinta yang berani diperjuangkan. Kisah ini adalah tentang keduanya, tentang seorang pemuda bermarga Purba yang harus menelan kepedihan, perihal sebuah cincin yang kembali tanpa makna, dan tentang seorang ayah yang datang dari jauh untuk membuktikan ketulusan hatinya. Dari luka, lahirlah restu. Dari perpisahan, lahirlah keluarga.  Jadi beginilah kisahnya ku tuliskan, yang bukan hanya tentang cinta ibu dan bapak saya, juga tentang bagaimana aku bisa ad...

Anggi boru Payung Part TERAKHIR : Tamat

Gambar
Beginilah catatan dari seorang yang kalah, kalah melawan waktu, kalah mempertahankan cinta, dan hampir kalah melawan dirinya sendiri.  Saat hari-hari ketika aku merasa hidup ini bukan lagi sesuatu yang mesti diperjuangkan dengan gairah, sebatas dijalani dengan tenaga yang tersisa, aku bagaikan seorang pengembara yang kehilangan arah di tengah padang tandus, berjalan hanya karena kaki masih bisa melangkah, tanpa tahu kemana tujuan akhirnya.  Tulisan ini bukan untuk mencari simpati dari siapa pun, bukan pula untuk menegakkan kepalaku di hadapan dunia dan berkata bahwa aku tabah, sebab kenyataannya tidak demikian. Aku menulis semata-mata agar aku sendiri tidak lenyap ditelan sunyi yang setiap malam datang dan mencengkeram dadaku, agar aku masih bisa mendengar suaraku sendiri di tengah riuh dunia yang terasa semakin jauh. Karena jika aku berhenti menulis, jika aku berhenti menumpahkan segala yang menyesakkan di dada ke dalam kata-kata, barangkali aku benar-benar sudah mati jauh se...

Diantara pusara dan pasar, antara kereta dan doa

Diantara Pusara dan Pasar, Antara Kereta dan Doa Bagiku Ini upaya diam-diam untuk menjahit luka yang tak pernah benar-benar sembuh, antara nama besar yang disingkirkan dan suara ibu yang tak henti memanggil pulang.  Di dalam kereta menuju Solo, yang kuharapkan bukan sekadar tiba di stasiun, tapi mungkin, bertemu dengan seseorang yang bisa memberiku arah. Entah itu seorang oppung yang dikuburkan dalam sunyi sejarah, atau seorang ibu yang duduk di kursi sebelah menyampaikan nasihat yang terdengar seperti restu. Cerita ini adalah catatan patah dari perjalanan kecil yang tak diminta untuk disebut penting, tapi bagiku, ini adalah cara satu-satunya untuk pulang. Pulang pada sejarah yang ditinggalkan. Pulang pada Ibu. Pulang pada diri sendiri. M alam itu, 22 Juli, lewat sedikit dari pukul delapan malam, aku mengirim pesan pada Riska, adikku tondi tondi ni abg. Hanya dengan satu kalimat pembuka,  “Kongg, besok ada acaramu nang?” Aku menyapanya seperti biasa, dengan panggilan yang hang...

Aglean, Kak Yuni, Cici F, Hertati boruku, Ongke, Pak Artha, Brigitta, dan Bang Andiko: Saksi Diam dari Luka² yang Kutulis

Kalau dirimang-rimangi, memang ada banyak hal yang tak pernah bisa kita peluk hanya dengan tangan, tapi barangkali kita mampu rasakan hingga jauh ke dasar dada. Salah satunya adalah... KEHADIRAN . Tulisan-tulisan yang kutorehkan di binder ini lahir bukan dari keindahan, timbul dari luka yang tak bisa ditidurkan. Aku tidak bermaksud ingin mengajari siapa pun, hanya karena aku takut meledak oleh kesunyian yang terlalu lama meng-karat. Namun siapa sangka, di balik layar dan sunyi internet, ada orang-orang yang membaca. Singgah, bukan sekadar lewat. Bukan sekadar menatap, tapi menyimak dengan hati.  Tulisan ini penghormatan kecil bagi mereka para sahabat tak bernama yang diam-diam menjadi rumah bagi kata-kataku yang rapuh. Mereka, yang tak pernah lewat tanpa membaca. Maka inilah tulisanku untuk kalian. Ini bukan sebagai penutup dari semua cerita, cuma sebagai tanda, bahwa aku melihatmu, aku mengingatmu, dan aku menulis ini untukmu. “ Aglean, Kak Yuni, Cici Franika, Hertati Boruku, Ongk...